As globalization continues to gather momentum, the contact between business people from other countries is becoming more and more frequent. The more national boundaries a company crosses, the greater the scope for misunderstanding and conflict. To succeed internationally, it is essential to be able to break the barriers of culture, language and set patterns of thinking.
The second edition of Bridging the Culture Gap , written by two of Canning's most experienced trainers, is a distillation of many years' work and is based on the real-life business situations of their international clients. You'll find out how to interpret the party line, communicate with style, get your message across, be sensitive to other cultures, and ultimately, win the deal. This fully updated new edition also includes a new chapter on making yourself understood in English.
Packed with fascinating cases, cultural awareness scales, communication style tests and practical tips, this lively guide will help anyone - of any nationality - to become a better communicator. Whether you're planning to give a presentation to a cross-cultural group or about to negotiate with an overseas client, Bridging the Culture Gap will ensure that your cultural awareness antennae are well tuned.
Although a bit dated in places, this book offers a great primary on how to communicate with fellow business people around the world, complete with specific examples. Besides being a useful tool on the job and in work-related meetings, this is also a great resources for writers trying to develop authentic characters from cultures other than their own.
A lot of things have changed internationally. The basics of communication do remain the same and are well detailed in the book. The take away lessons could have been sharper. However, kudos to the real examples.
Judul: Bridging the culture gap - Komunikasi lintas budaya Penulis: Penny Carte & Chris Fox Penerbit: PT Indeks Dimensi: xix + 217 hlm, 2006 ISBN: 979 683 788 9
Globalisasi banyak membuat perusahaan melampaui batas nasional yang akhirnya mempertemukan pelaku bisnis dengan ragam budaya yang berbeda. Hal itu membuat banyak sekali peluang untuk terjadinya kesalahpahaman dan konflik saat berkomunikasi. Untuk sukses secara internasional, sangat penting bagi para pebisnis untuk mengetahui apa saja hambatan-hambatan budaya, bahasa, dan pola pikir rekan kerjanya. Buku ini ditulis oleh dua orang pelatih yang paling berpengalaman dari Canning--perusahaan konsultansi internasional. Mereka membaginya menjadi tujuh bab, yaitu "Menginterpretasikan kebijakan kantor pusat", "Mengetahui posisi Anda", "Tahu batas", "Tata krama", "Melakukan presentasi", "Melakukan transaksi", dan "Mengenali diri Anda sendiri".
Dikemas dengan kasus-kasus menarik, skala kesadaran budaya, tes gaya komunikasi, dan tips-tips praktis, buku ini memudahkan pembaca untuk memahami dan berusaha menjadi komunikator yang lebih baik. Gaya bahasanya pun tak terasa kaku sebagaimana textbook umumnya. Saya merasa sedang membaca cerita alih-alih belajar ilmu komunikasi.
Menarik sekali mendapati bahwa hubungan antar manusia, komunikasi, waktu, kebenaran dan arti hidup di suatu negara yang dianggap bermoral, bisa jadi dianggap tidak bermoral di negara lainnya. Memacu diri untuk keunggulan diri sendiri bahkan dianggap sebuah tindakan sombong dan memecah belah di di Skandinavia dan Australia. Hingga mereka memiliki "Hukum Jante" dan "Tall Poppy Syndrome", di mana yang tertinggilah yang paling mudah diserang. Beragam ilustrasi perbedaan budaya yang disajikan dalam buku ini, menyadarkan saya bahwa tidak ada kebenaran absolut, semua bergantung pada situasi dan kondisi. Benarlah pepatah "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Akan tetapi bila kesulitan memahami semua budaya dalam waktu singkat, kembalikan pada hati Anda dan perasaan bagaimana Anda ingin diperlakukan secara manusiawi. Tentu saja bahasa tubuh memegang peranan besar dalam setiap pertemuan setelah verbal dan lisan.
Sayangnya, contoh yang banyak disampaikan berkisar pada negara Amerika, Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, Arab, Swedia, Meksiko yang hampir kebanyakan berasal dari benua Eropa dan Amerika, hanya Jepang dan Arab yang mewakili sedikit budaya ketimuran. Penulis sendiri mengakui bahwa hal ini terjadi disebabkan dunia manajemen sendiri masih berkiblat pada Amerika. Sehingga kebanyakan tips komunikasi yang digunakan pun berasal dari gaya komunikasi dan budaya Amerika. Meski penulis berdua berasal dari Inggris.
Saya apresiasi 4 dari 5 untuk buku ini.
"Tidak ada penulis yang bisa sepenuhnya objektif membahas masalah perbedaan budaya. Anda sebagai pembaca juga tidak dapat sepenuhnya bersikap objektif. Cara Anda menafsirkan tulisan kami juga akan dipengaruhi latar belakang budaya Anda." (Hlm. Xvii)
"Bagaimana pun besarnya perbedaan budaya yang ada, rekan bisnis Anda adalah manusia biasa yang memiliki kebutuhan dasar yang sama dan perasaan seperti Anda. Perbuatan yang tampaknya sepele tapi mencerminkan kebaikan hati, empati, dan perhatian dapat memberi pengaruh yang terkadang lebih besar dalam menjaga hubungan baik dibandingkan dengan hadiah-hadiah yang mahal." (Hlm. 73)
"Sudut pandang seseorang selain memengaruhi bagaimana mereka berperilaku, juga akan memengaruhi bagaimana mereka menafsirkan perilaku Anda." (Hlm. 163)