Jump to ratings and reviews
Rate this book

Nyonya Perca

Rate this book
Malam tak pernah mati di tempat itu. Gelap itu seutuhnya di dalam sarcofagusku. Aku dengar dengkur di luar batu belahku yang mulai membuka perlahan seperti kerang mutiara. Rembulan bulat ganjil memantulkan cahaya putih yang tak berguna bagi penerangan, tetapi jauh lebih baik daripada tadi. Makhluk itu berbaring disana. Makhluk itu tak tampak seperti sebentuk makhluk. Ia tampak seperti seonggok potongan kain perca sampah yang dekil!

Aku keluar pelan-pelan, lalu lari sekencang-kencangnya. Cahaya dari kejauhan itu mulai mendekat saat kudengar raung amarah dari suara yang kini tak asing buat telingaku.

***

Berikan setumpuk kertas ke Jia, maka ia akan langsung menulis cerita dengan ide-ide cemerlang yang tidak biasa, dengan cara penuturan yang begitu deskriptif. Cobalah membaca 'Perkara Mengirim Senja' dan 'Nyonya Perca', endingnya sungguh tak terduga. Mengirim sinyal "wow" di otak saya. Coba saja membaca semuanya, anda pasti akan mengerti.
-- gina tasya, sekretaris, blogger iseng, pengrajin musiman –

10.000 orang pernah punya impian selagi mereka kanak-kanak
1.000 orang menyimpan impian tersebut dengan rapi di relung-relung hati mereka hingga dewasa
100 orang memutuskan untuk mengejar impiannya
10 orang akhirnya berhasil membuat impian tersebut jadi nyata dan mungkin hanya
1 orang yang dapat menginspirasikan orang lain untuk terus mengejar impian mereka dengan caranya sendiri.

Jia Effendie adalah 1 orang tersebut bagi saya.
- syanthy c. salim, lawyer, a thinker, a life writer, a fulltime dreamer -

Kalau dalam kehidupan nyata orang sering dipermainkan realitas, Jia justru mempermainkan realitas dalam cerpen-cerpennya. Selain cerita-cerita percintaan yang (sering) lucu, ada bau-bau “dark fantasy”, ‘surrealis’, bahkan supernatural, tapi tetap saja tersajikan dengan gaya chiklit.
- slamet widodo, pembaca buku, pekerja televisi -

Cerita-cerita pendek karya Jia ini begitu menggoda untuk dinikmati. Kesegaran yang mencerminkan kemudaan penulisanya, jalinan kalimat yang mengalir tajam dan memikat, serta kejutan-kejutan kecil yang senantiasa menanti di setiap akhir ceritanya menjanjikan sebuah petualangan membaca yang menyenangkan.
-berliani m. nugrahani, penerjemah The Kite Runner dan Middlesex-

Jia, seorang yang hampir saja Gemini, bertutur dalam berbagai bentuk dan fantasi. Menyandang black belt dalam autis, membuat Jia mampu berkelana dari skenario satu ke lainnya secara simultan. Ibarat klorofil yang memerlukan matahari, Jia butuh menulis. Persis seperti yang terungkap dalam cerpennya ketika diminta berhenti menulis, ”Nggak bisa, aku bisa mati!”
-ahmad ulya, gemini yang (tentu saja) tulen, Presiden Direktur voltras travel-

200 pages, Paperback

First published June 1, 2008

Loading...
Loading...

About the author

Jia Effendie

30 books94 followers
Jia Effendie lahir di Garut tanggal 21 Juni. Senang menulis fiksi sejak SMP. Cerpen pertamanya yang dimuat adalah “Fla Je’t Aime” di majalah Aneka Yess! tahun 1999. Sejak itu, karya cerpen dan puisinya dimuat di berbagai media nasional dan lokal di Indonesia. Pada tahun 2008, Jia menerbitkan kumpulan cerpen Nyonya Perca.

Tahun 2010, cerpennya yang berjudul Mera Berbie terpilih menjadi salah satu cerita yang dijadikan FTV dalam rangka ulang tahun SCTV yang kedua puluh: Sinema 20 Wajah Indonesia dengan judul Susuk Barbie. Kumpulan cerpen keduanya, Ya Lyublyu Tebya, terbit bulan Oktober 2010. Buku Jia yang lain adalah Menuai Sajak di Kebun Raya Bersama Sapardi Djoko Damono (2011), Empat Elemen (2011), Kaki Mimpi (2011), Cerita Sahabat (Gramedia Pustaka Utama, 2011), Perkara Mengirim Senja (Penerbit Serambi, 2012), dan Cerita Sahabat 2: Asmara Dini Hari (Gramedia Pustaka Utama, 2012), Singgah (Gramedia Pustaka Utama, 2013), Glenn Fredly 20 (Entermedia, 2015), dan After Office Hours (Pastel Books, 2016).

http://soundcloud.com/jiaeffendie | http://jiaeffendie.wordpress.com| jiaeffendie@gmail.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (9%)
4 stars
7 (63%)
3 stars
2 (18%)
2 stars
1 (9%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Jia.
Author 30 books94 followers
Read
December 30, 2010
V A R I E T Y.
that's definitely the benefit i got by reading this book :)

berisi delapan belas cerpen dengan ambience yang berbeda-beda, dari chicklit ala remaja yang begitu ringan, cerita cinta surealis sampai ke drama pesakitan dengan twist yang begitu berani di akhirnya.
sepertinya agak sulit membayangkan bahwa semua cerita ini ditulis oleh satu orang, lebih karena perbedaan ambience yang cukup ekstrim dari beberapa cerpen yang ada di dalamnya.

Perkara Mengirim Senja - saya langsung bisa mengerti arti cerpen satu ini, sebelum membaca cerpen berikutnya yang merupakan gambaran nyata metafora yang tergambar pada cerpen Perkara Mengirim Senja ini. a bit abstract, but in the same way, quite subtle.

Kupu-Kupu - saya sukses berkelana ke alam surealis dalam perjalanan saya di atas bis kota menuju kantor, ada sesuatu yang menyihir saya di dalam cerpen ini. meski cerpen ini tidak memiliki aliran alur cerita yang wajar, tapi saya menikmati kesempatan yang diberikan untuk imajinasi berkelana liar kesana- kemari

Dapur Waktu dan Menikah - Jia bermain-main dengan alur yang maju-mundur, serta adegan-adegan yang melompat-lompat, memberikan tantangan tambahan bagi pembacanya untuk lebih menyimak untuk dapat mengerti keindahan ceritanya. But I really love reading Menikah :)

Souvenir, Bulan Madu, Nyonya Perca, Rumah - Jia bermain-main dengan keliaran manusia yang diam-diam akan selalu tertarik dengan drama pesakitan - yang diwarnai naluri terjahat manusia dan hal mistis dan tak dapat dijelaskan oleh rasio.
Bisa jadi saya diam-diam termasuk pesakitan, secara saya (diam-diam) menikmati sekali membaca cerpen-cerpen yang termasuk kategori ini .. hehehehe.

Dongeng Petani dan Bidadari - fairy tale, with a twist. menjual mimpi seperti dongeng pada umumnya, namun juga sekaligus menghantamkan benak kepada realita.

Kalau ada yang kurang dari buku kumpulan cerpen ini, adalah penggunaan beberapa istilah yang terasa begitu modern, atau mungkin terlalu teknis, sehingga terasa kurang menyatu dengan ambience yang sedang dibina.

Selain itu penggunaan variasi dalam font penulisan yang terlalu seragam juga sedikit mengurangi aksen setiap cerpen, yang bisa jadi akan terasa lebih dramatis dengan permainan jenis huruf.


Feeling like giving a treat for your minds?
Then you should read Nyonya Perca. Hehehehehhee.
ditunggu second edition dengan layout dan tampilan huruf yang lebih keren ya, Jia, ;)

http://citra.multiply.com
Profile Image for Meisiska Vemilia.
56 reviews9 followers
October 21, 2008
Salah satu karya debutan yang layak digelari: b.e.r.b.a.k.a.t (beserta 4 bintang).


Membaca cerpen-cerpen karya nona Jia ini, terkadang mengajak fantasi kita menari-nari, mencari tahu apa maunya sang cerita, tanpa harus lupa untuk merasakan nikmatnya permainan kata, hingga sampailah pada akhir cerita yang kita tidak akan bisa menebak.
Bahkan menebak maksudnya sekalipun. Haha ....sungguh mempermainkan.
Tempting enough, jeung! *siyal ;p


Melalui cerpen Perkara Mengirim Senja, Kupu-kupu, Nyonya Perca, dan Jantung Dalam Kotak, fantasi kita akan dibawa liar. Tidak perlu berpikir, ikuti saja, dan nikmati. Lalu ada cerpen Rumah dan Putus yang dipapar lebih nyata dan lugas. Atau Ritus Putus Asa? ----datang darimana ya bu, idenya :D


Mungkin karena ini project independent, secara editing memang masih ada beberapa yg mesti dirapikan lagi. (dan itu gunanya khan kenal oknum editor gramedia di mp? –a.k.a aldebaran ;p). Lalu perjalanan waktu akan membuat karakter tulisan semakin kuat. Saya rasa, inilah adik kelasnya Dee, Ayu Utami atau Djenar Maesa, dan beberapa kesempatan berikutnya akan membuat sang penulis naik kelas.


Dan hayukkk....jangan ragu buat masukin ke gramedia ya!
Cayo Jie!!
Profile Image for Agus Dwi R.
137 reviews8 followers
August 7, 2014
Kumpulan cerpen khas Jia yg isinya aneh2. Surrealis, mencampuradukkan cerita yg bertema cinta dengan khayalan2 yang sadis. Entah apakah kiasan2 yg digunakan memiliki arti tertentu, atau memang tidak perlu diartikan.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews