Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kun Fayakun #2

Saat Cinta Berhijrah

Rate this book
“Andai novel ini dibaca oleh para pendosa, niscaya akan sangat banyak dari mereka yang tersugesti kuat untuk berubah....”
Muhammad Masykur A.R. Said, pengarang best-seller novel Mukjizat Cinta dan Titian Nabi.

“Kalau ada award untuk kategori pengarang novel bernapas panjang, saya reko-mendasikan Andi Bombang sebagai penerimanya. Saya telah membaca novel pertamanya, Kun... Fayakun (2007), keduanya memiliki karakter yang sama: sama kuat alurnya, sama lebat konfliknya, dan sama-sama mengusung motivasi penuh tenaga untuk menuju hidup yang lebih positif. Andi Bombang kian memantapkan diri sebagai motivator handal melalui novel ini....”
Muhammad Makhdlori, pengarang best-seller Menyingkap Mukjizat Shalat Dhuha dan Bacalah Surat al-Waqi’ah, Maka Engkau akan Kaya!

“Pembaca novel ini akan terhipnotis oleh gedoran motivasinya, bahkan sekalipun Anda adalah seorang call girl, seperti Febi. Andi Bombang sangat bergelora dari segala sisi....”
Abidah El Khalieqy, sastrawan senior, Yogyakarta.

Febi yang kecantikan fisiknya memang luar biasa kian melambung sebagai “Gadis Haram” paling indah, mempesona, dan mendebarkan. Tapi, di atas segalanya, ia semakin ter-jungkal diterjang prahara dosa dan kegelapan jiwa. Secara ruhaniah, apalagi setelah berjumpa dengan Abah, ia tak percaya Tuhan tega mengharamkan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Ia memutuskan hijrah sepenuh jiwa, hidup, cinta, dan air mata untuk membangkitkan jati diri, kekuatan hati, dan kebahagiaan sejati. Ia berhijrah dengan energi jiwa dan ruhaninya, berhasilkah...?

468 pages, Paperback

First published July 1, 2008

Loading...
Loading...

About the author

Andi Bombang

5 books35 followers
Andi Bombang (1970–2011). Ayahnya Bugis, ibunya Sunda. Masa kecil dilalui dengan penuh warna, antara lain pindah-pindah sekolah karena ayahnya sering berpindah tugas. Lulusan Institut Teknologi Bandung pada tahun 1995 kemudian bekerja sebagai wartawan. Tawaran bergabung dengan Gatra (kala itu Tempo barusan diberedel) terpaksa ditolak karena bersamaan dengan diterimanya dia di SDNP (Sustainable Development Networking Programme) di bawah UNESCO. Tidak lama di situ, beberapa bulan saja, kembali terdampar di sebuah grup perusahaan swasta nasional ternama. Merayap dari bawah, mulai dari Project Engineer sampai terakhir Operation Manager. Sepuluh tahun lebih, jenuh. Keluar, ceritanya mau wirausaha. Sambil itu, kembali menulis…. Kun Fayakun adalah novel perdananya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
46 (56%)
4 stars
20 (24%)
3 stars
9 (11%)
2 stars
5 (6%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Ēllã Erôrr.
1 review
Read
May 4, 2013
anak haram tidak pantas hidup d muka bumi ?? lah kenapa anaknya yg d salahkan ??? emang si anak mau gitu d lahirkan menyandang predikat anak haram. . .masalah halal dan haram dikembalikan semua kepada-Nya ^_^
4 reviews
Read
April 2, 2011
Tidak mudah hidup di bawah tekanan psikis macam Febi. Si gadis cantik nan mempesona ini tiada hentinya menyesali kelahirannya sebagai gadis haram. Apalagi setelah mendengar kabar tegas, “anak haram tidak pantas hidup di muka bumi”. Dia pun semakin merasa hina dan tak berguna. Bahkan dia berani membenci Tuhan karena ‘ketidakadilan-Nya’ telah menggariskannya terlahir ke alam fana dengan menanggung kutuk anak haram.
Berawal dari perkenalan yang terjadi secara kebetulan. Perkenalan Febi dengan Bu Endang telah membuka rahasia besar tentang Febi yang selama ini tersimpan rapi dan tak terungkap barang sedikitpun. Ternyata Febi anak haram. Karena secuil dogma yang membingungkan inilah Febi semakin terjungkal di terjang prahara dosa dan kegelapan jiwa. Febi yang lemah lembut tiba-tiba menjadi dingin dan liar. Kini, dia muak melihat orang tuanya di rumah. Semuanya palsu, semuanya bertopeng. Oleh sebab itulah, dia memilih hidup sendiri dari pada terus-terusan tersiksa melihat ayah dan ibunya. Ia meninggalkan keluarganya dan memilih hidup mandiri di kos.
Pada mulanya, kehidupannya di kos biasa-biasa saja. Namun setelah kedekatannya dengan salah seorang penghuni kos yang bernama Sri, dia pun berubah fikiran. Dia nekat menempuh jalan yang sama dengan Sri demi menemui bahagia karena dia melihat Sri menemukan bahagia disitu. Masa bodoh dengan komentar orang lain. Tak terkecuali nasihat dari sahabat karibnya, Rini dan Vina. Semuanya lewat begitu saja. Keputusannya sudah bulat meskipun, menurut banyak orang, profesi yang ditempuhnya sangatlah hina. Ia tak peduli. Apapun yang dilakukannya, toh ia tetap saja anak haram yang hina.
Seiring berjalannya waktu, kebahagiaan yang dicari tak juga ia temukan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Abah dan Haji Imron Japati. Sejak saat itu, ia memutuskan hijrah sepenuh jiwa, hidup, cinta, dan air mata untuk membangkitkan jati diri, kekuatan hati, dan kebahagiaan sejati. Dia berhijrah dengan energi jiwa dan ruhaninya.
Siapakah gerangan Bu Endang? Bagaimana dia bisa tahu semua tentang Febi? Dalam perjuangannya mencari kebahagiaan, jalan ‘hina’ apakah yang ditempuh Febi? Siapa pula Abah dan Haji Imron Japati? Berhasilkah perjuangan Febi dalam mencari bahagia?
Anda akan menemukan jawabannya di dalam novel “Saat Cinta Berhijrah” karya Andi Bombang ini. Penulis novel ‘Kun…Fayakun’ ini begitu cerdas mengemas novelnya dalam bahasa yang sederhana namun bergelora. Novel ini mengusung motivasi penuh tenaga untuk menuju hidup yang lebih positif. Novel ini layak dibaca oleh semua kalangan.
Profile Image for Kerlip Bintang.
167 reviews32 followers
October 21, 2008
Warji menikah dengan Warsih, Warsih berselingkuh dengan Rusman. Menikahlah mereka dan memiliki seorang putri yang bernama Desi.
Warsih janda Warji juga memiliki seorang putri bernama Ratih.

Cerita dimulai dengan alur masa kini, ketika Rusman menikahi putri tirinya yang bernama Ratih, dan lahirlah Febi. Febi si anak haram, merasa tak pantas hidup di muka bumi.
Halal keluar dari Halal, Haram keluar dari Haram.
Anak haram akan tetap selamanya menjadi haram dan tak pantas bersanding dengan - Nya di surga.
Kekecewaan terhadap-Nya dia alihkan hidupnya sebagai gadis panggilan yang terkenal seantero Bandung. Jalan hidup yang dia tempuh membuatnya berharap untuk mendapatkan kebahagiaan dunia yang dia cari. Karena sudah tentu kebahagian akhirat sudah tertutup rapat untuk seorang anak yang terlahir dari sebuah hubungan haram ayah tiri dan anak.

Buku yang tebalnya kurang lebih 500 halaman ini, tetap menarik lembar demi lembar ketika aku membacanya. Mungkin karena pilihan kalimat yang begitu mengalir adanya, membuat novel ini tetap hidup hingga tetes terakhir.

Aku kasih bintang 4 karena novel ini dibawah satu bintang dengan novel Andi Bombang terdahulu yang berjudul "Kun Fayakun" yang lebih sarat perjalanan ruhani sang preman Hardi Kobra. Meski di novel kedua ini, tokoh Hardi Kobra muncul sebagai tokoh yang menuntun Febi kembali kejalan Tuhan-Nya.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews