Kegadisan telah lama menjadi dongeng yang saya tinggalkan.
Saya bukan tak mencoba berhenti menyentuh barang-barang haram itu, tetapi mereka begitu kuat mencengkeram saya.
Kedua tangan yang telah membunuh, masih mungkinkah Engkau ampuni?
Gusti Allah, saya ingin mati!
Lima belas remaja putri dan putra dengan masa lalu kelam, menerima undangan misterius untuk menetap di Pesantren Impian. Sebuah tempat rehabilitasi di sebuah pulau yang bahkan tak tercantum di dalam peta. Seharusnya sederhana. Siapa menduga bahwa berbagai kejadian menegangkan kemudian terjadi?
Pemerkosaan yang menimpa gadis bernama Rini hingga harus menanggung kehamilan yang tak dikehendaki. Tragedi yang menyisakan teka-teki, sebab bayang kegelapan terlalu sempurna menutupi wajah lelaki biadab yang melakukannya.
Kisah cinta yang tertunda, misteri si Gadis yang dicari-cari polisi, bahkan peristiwa pembunuhan! Lalu, rahasia apa yang disembunyikan Teungku Budiman?
Jiwa-jiwa yang putus asa. Mampukah Pesantren Impian menjadi jembatan hidayah bagi hati yang sebelumnya tak pernah merindukan surga?
***
T-O-P B-G-T. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan novel ini. Saya sendiri merasakan ketegangan yang luar biasa ketika membaca buku ini sambil menebak teka-teki di dalamnya. Benar-benar tidak memberikan celah bagi pembaca untuk merasa bosan sebelum menamatkannya. (Sarwendah)
***
Asma Nadia rapi banget menyembunyikan identitas Si Gadis. Saya sampai diskusi sama temen untuk menebak siapa Si Gadis itu. Alurnya nggak ketebak tapi justru membuat buku ini semakin seru. Menegangkan banget. (Maryam Hakim)
Asma Nadia Education: Bogor Agricultural University (IPB, 1991) Home FAX: +622177820859 email: asma.nadia@gmail.com
Working Experiences: I was working as a CEO of Fatahillah Bina Alfikri Publications, and Lingkar Pena Publishing House, before starting AsmaNadia Publishing House (2008)
Writing residencies: in South Korea, held by Korean literature translation institute (2006) & and in Switzerland held by Le Chateau de Lavigny (2009)
Writing Workshop: - Conducting a creative writing (novel), Held by Republika News Paper, 2011 - Writing workshop instructor for (novel) participants from Brunei, Singapore, Indonesia, Malaysia, held by South East Asia Literary Council (MASTERA), July, 2011 - Conduct a writing workshop for Indonesia Migrant Workers in Hongkong (2004,2008, 2011), and for Indonesian students in Cairo, Egypt (2001, 2008), and University of Malaysia. - Giving a creative writing workshop for Indonesian’s students in Tokyo, Fukuoka, Nagoya, Kyoto (November 2009). - Giving writing workshop in Manchester; Indonesia Permanent Mission in Geneve; Indonesian Embassy in Rome, and for Indonesian students in Berlin (2009) - Held a writing workshop with Caroline Phillips, a Germany writer, in World Book Day 2008
Performance: - Performing two poems for educational dvd (Indonesian Language Center) 2011. - Public reading: (poem) in welcoming Palestine’s writers in Seoul, 2006; - Public reading short story in Geneve 2009, Performing monologue in Mizan Publishing Anniversary 2008, Ode Kampung Gathering in Rumah Dunia, etc.
Awards and honors: 1. Istana Kedua (The Second Palace), the best Islamic Indonesia novel, 2008 2. Derai Sunyi (Silent Tear, a novel), won a prize from MASTERA (South East Asia Literary Council), as the best participant in 10 years MASTERA, 2005. 3. PREH (A Waiting), play writing published by The Jakarta Art Council, honored as the best script in Indonesian’s Women Playwrights 2005 4. Mizan Award for the best fiction writer in 20 Years Mizan (one of Indonesian’s biggest publishers) 5. Asma Nadia profile was put as one of the 100 distinguished women publishers, writers and researchers in Indonesia, compiled by well-known literary critic Korrie Layun Rampan, 2001. 7. Rembulan di Mata Ibu (The Moon in the Mother’s Eye, short stories collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2001 9. Dialog Dua Layar (Two Screen’s Dialogue, a short story collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2002 10. 101 Dating, a novel, won the Adikarya IKAPI Award, 2005 11. The most influential writer 2010, awarded by Republika News Paper 14. BISA Award for helping Indonesia Migrants Workers who wants to be writers (held by Be Indonesia Smart and Active Hongkong) 15. Super Woman MAG Award 2010 16. One of ten most mompreneurship 2010, by Parents Guide Magazine
Summary of translations of work into other languages: 1. Abang Apa Salahku (published by PTS Millennia SDN.BHD 2009) 2. Di dunia ada surga (published by PTS Millennia SDN.BHD 2009) 3. Anggun (published by PTS Millennia SDN.BHD 2010) 4. Cinta di hujung sejadah (published by PTS Millennia SDN.BHD 2011) 5. Ammanige Haj Bayake (Emak Longs to Take The hajj), NAVAKARNATAKA PUBLICATIONS PVT. LTD, 2010 (in south indian language/Kannada)
Dari awal aura thriller dan misteri sudah begitu terpancar dengan adegan yang melompat-lompat (meski ternyata tetap linear) dan point of view berbagai karakter yang bisa berpindah-pindah dengan cepat. Kasus pertama dibeberkan, pembunuhan seorang lelaki hidung belang di hotel oleh seorang gadis yang sampai menjelang halaman terakhir pun terus disembunyikan dengan rapi.
Cerita berpindah pada Rini, seorang gadis lain yang baru sadar setelah percobaan bunuh diri gara-gara diperkosa sampai hamil. Gadis ini lalu dikirim ke sebuah pesantren oleh keluarganya agar bisa menenangkan diri.
Lalu ada seorang gadis model pecandu narkoba, Sissy, yang berniat tobat dan pergi ke pesantren dengan ditemani oleh kakak angkatnya, Inong.
***
Gadis pembunuh yang identitasnya ditutupi itu lalu pergi ke Pesantren Impian di sebuah pulau di ujung Aceh, Lhok Jeumpa. Pulau pribadi milik seorang milyarder bernama Teuku Budiman yang didedikasikan untuk menjadi lokasi sebuah pesantren rehabilitasi bagi orang-orang yang tadinya hidup bergelimang maksiat. Lima belas gadis diundang oleh pemilik pesantren untuk tinggal di sana selama setahun. Ternyata di antara para gadis itu ada seorang polwan yang tengah menyamar demi misi menangkap gadis.
Identitas Teuku Budiman ini sendiri juga dirahasiakan. Dia jarang tampil di media. Memiliki seorang pengacara muda andal bernama Umar yang selalu menemaninya ke mana-mana. Para gadis pesantren itu pun penasaran dengan rupa sang milyarder. Kemudian diperlihatkan sudut pandang masa lalu seorang lelaki (yang diperlihatkan sebagai sudut pandang sang Teuku) mantan pemilik perkebunan ganja yang berniat menghapus masa lalunya.
***
Dari awal jalinan kisahnya sudah menegangkan dan rapi. Benar-benar rasa karya yang berbeda dari karya-karya Asma Nadia yang kubaca selama ini. Satu demi satu kehidupan para gadis itu dikuak. Membuat kita bersama-sama menebak-nebak siapa di antara mereka yang sebenarnya adalah jati diri si Gadis.
Kemudian terjadi insiden di pesantren silih berganti dan saling menyambung membentuk rantai misteri yang menegangkan. Awalnya ada santri yang kumat overdosis dan ketahuan menyelundupkan putaw ke pesantren. Mereka mendapatkannya dari seorang santri lain yang rupanya adalah mantan pengedar yang tengah melarikan diri dari bandar. Lalu seorang santri lain dibunuh. Rini dikejar-kejar oleh lelaki pemerkosanya. Sangat menegangkan.
***
Hanya saja, sayangnya sebagaimana kelemahan dari buku-buku novel beratmosfer religi islami karya kebanyakan anggota FLP lainnya, novel ini pun terlalu mengandalkan pola deus ex machina sebagai penyelesaian masalah. Rahasia novel kebanyakan dikuak oleh narasi, bukan oleh aksi para karakternya. Meski adegan klimaks disajikan dengan begitu mencekam, tetap saja akhirnya sebagian besar penjahat dikalahkan oleh "hukuman dari Tuhan". Semua solusi seolah diberikan begitu saja di akhir buku demi tercapainya target happy ending. Peran tokoh sang polwan yang menyamar jadi santri sebagai sosok detektif di sini sayangnya tidak dimaksimalkan.
***
Terkuaknya identitas Gadis memang sungguh tak terduga. Namun, rasanya masih ada banyak hal yang tak melegakan di sini. Seperti bagaimana sang "Teuku Budiman" bisa memilih para santri untuk berhijrah ke pesantrennya? Apalagi kebanyakan dari mereka tampaknya memiliki latar belakang yang sangat kelam. Acakkah? Tapi kalau dibilang acak juga nggak semua santri punya latar belakang yang parah seperti jadi pengedar yang dikejar-kejar bandar narkoba, sih. Seperti dari sekian banyak pecandu narkoba, kenapa yang dipilih malah Santi dan Sinta?
Juga penjelasan soal bagaimana sang "Teuku Budiman" bisa mengenal dan memperhatikan sepak-terjang Gadis sedemikian rupa, kurang sekali. Sehingga chemistry mereka tak terasa mendalam bahkan sampai ending.
Habis ini aku pingin nonton filmnya. Mungkin aja visualisasi jalinan adegan di layarnya jauh lebih rapi.
Bagian yang paling berkesan buatku justru bagaimana para tokohnya, gadis-gadis bermasa lalu kelam ini digambarkan begitu tabah dan tegar dalam menghadapi maut yang membayang di depan mata. Padahal, jenis cara kematian yang mengadang sudah jelas bakal mengerikan. Kematian justru digambarkan sebagai sebuah kepastian yang indah bagi para hamba yang bertaubat dan berusaha kembali ke jalan yang lurus. Nuansa seperti ini yang jarang didapat dari novel-novel genre thriller murni yang lain, baik terjemahan maupun lokal.
Tentunya akan lebih baik jika kedalaman nilai seperti ini juga diimbangi dengan plot yang lebih utuh tanpa plot hole, dan tidak terlalu mengandalkan pada konsep pertolongan Tuhan atau deus ex machina. Artinya biarkan para tokohnya yang berjibaku dalam usaha melepaskan diri dari ketegangan-ketegangan yang mencekam, sambil terus berzikir mengingat Tuhan. Sehingga solusi yang ada pun diperlihatkan atas hasil ketawwakalan para tokohnya, tidak ujug-ujug. Yang ujug-ujug pun sebaiknya ada penjelasan logis dan terstruktur juga. Andai saja novel ini lebih tebal, yah.
Secara konstruksi cerita sih keren banget--saya kagum Mbak Asma Nadia bisa meramu tiga lapis kasus sedemikian rupa hingga menimbulkan ketegangan akibat adanya prasangka dalam prasangka. Apalagi Mbak Asma bisa mempertahankan rasa penasaran pembaca sampai akhir, dengan menyembunyikan identitas si Gadis dan pemerkosa Rini. Di sisi lain, saya kurang bisa menikmati gaya ceritanya. Terlalu... melompat-lompat. Kurang "dalam". Walaupun bukan berarti nggak enak dibaca. Kalau saya baca buku ini zaman tahun 2000-an, pasti saya suka banget, sebagaimana saya suka novel-novel remaja Islami DAR! Mizan yang booming kala itu. Tapi ketika dibaca sekarang, hmmm... mungkin karena saya sudah tumbuh dewasa ya, jadi ada peningkatan tuntutan.
Awalnya, saya sangat excited karena berhasil menemukan novel thriller lain di perpustakaan saya. Karena, saya bosan dengan novel romance yang numpuk di perpus. Akhirnya, saya menemukan buku ini dan membacanya dan tamat dalam satu hari. Saya hanya bisa menganga lebar dengan plot twist yang disajikan penulis di akhir cerita. Jujur saja, saya speechless.
Saya selalu ngira kalau pesantren itu tempat yang penuh kebaikan dan sangat damai. Tapi ternyata, ada serangkaian kejahatan yang terjadi di sini dan bikin saya deg-degan. Apalagi, saya memutar otak dan berpikir keras untuk menemukan identitas si Gadis yang sejak awal disembunyikan penulis.
Memang menyenangkan, thriller dan misterinya dapet. Apalagi plot twist nya yang bikin wow. Plot twist nya cukup menohok, dan saya langsung teringat dengan foreshadowing yang ditebarkan penulis sepanjang cerita, hanya saja saya ga menyadarinya.
Honesty, saya suka novel ini yang misterinya dapet dan thriller nya cukup seru. Tapi, kekurangannya, action nya kurang dapet dan kurang sreg. Untuk ukuran cerita thriller, adegan kekerasannya masih agak terlalu "baik". Yah... karena novel ini ga menunjukkan kekerasannya secara eksplisit juga. Sementara novel thriller yang kebanyakan saya baca itu berbau gore semua. Tapi jujur... saya ga terlalu mempermasalahkan itu. Intinya, saya puas karena telah membaca novel ini dan saya menutup buku dengan tidak bisa berkata apa-apa karena plot twist nya yang sangat... Begitulah pokoknya :v
Rumah kebaikan selalu mendapat ujian. Tangan-tangan keji yang menebar teror dan kejahatan.
—
Kisah lima belas remaja putra dan putri (nggak semuanya remaja, sih) dengan masa lalu kelam, menerima undangan misterius untuk menetap di Pesantren Impian. Sebuah tempat rehabilitasi di sebuah pulau yang bahkan tak tercantum di dalam peta.
Titik fokus cerita ada di asrama putri. Dari awal pembaca sudah diajak berteka-teki menebak tokoh si Gadis dan pemerkosa Rini. Penulis begitu rapi menyembunyikan identitas mereka dan membuat kecohan (bener gak sih istilahnya) yang bisa membuat pembaca mengira tokoh lain. Saya pun tertantang untuk menebak dengan benar sebelum identitas mereka dibongkar. Beruntung saya belum menonton film maupun membaca spoiler-spoiler yang beredar di internet sebab keasyikan membaca novel ini akan berkurang drastis.
Meski disembunyikan dengan rapi, sang penulis juga menyisipkan clue-clue yang jika pembaca teliti akan menebak dengan benar. Saya bisa menebak pria yang memperkosa Rini ketika ia diusir dari rumah dan mulai bisa mengetahui identitas si Gadis saat Eni membuat daftar orang yang dicurigai.
Jalan ceritanya seru dan menegangkan. Hal yang agak mengganggu bagi saya ketika hampir semua tokoh wanita disebut gadis. Termasuk yang sudah punya anak.
Siapa sangka sebuah buku menjadi menyeramkan? Siapa yang mengira sebuah buku mampu memainkan perasaan pembacanya? Siapa yang bisa menebak siapakah pelauku dan dalangnya? Buku Pesantren Impian ini menegangkan 😵💫😵💫 Penuh intrik dan teka teki Bingung dan bertanya-tanya "Siapa gadis itu sebenarnya? Benarkah dia datangnya?" 🌼 Review dari saya sederhana, Saya baca buku ini ga berhenti dari halaman pertama. Isi buku ini terlalu rumit kalau dibaca sambil sambil. Harus fokus dan mendesain membaca nya Maklum saja, saya pencinta alur detektif, horor dan sesuatu yg misterius Sehingga sangat sulit buat saya untuk keluar dan menunda membaca tiap halaman. 🌼 Mbak Asma, kok bisa ya... Cuma bisa bilang se-keren itulah buku ini 👏👏 Kalian harus baca bagi pecinta misterius, horor dan detektif Karena alurnya gak ketebak sama sekali
Saya sangat menggebu-gebu ketika membaca buku ini Misteri, pertanyaan, dan teka teki terkait pelaku pembunuhan juga sangat apik. Apalagi dalam buku ini penulis menggunakan beragam sudut pandang yang membuat kita sebagai pembaca sulit menebak siapa itu siapa. Yaa, karena yang jadi pertanyaan bukan hanya siapa pelaku pembunuhan, tapi siapa pelaku dalam kisah yang lain dan kejadian yang kemudian bermunculannya, bahkan kita mungkin akan terkecoh dengan beberapa tokoh yang ada. Yang saya suka dari tulisan Bunda Asma, bahasanya tidak terlalu berat tapi tidak terlalu ringan. Cocok untuk remaja-dewasa Selamat membaca
dari awal liat cover buku ini udah mikirnya kalo buku ini pasti romance gitu, pasti bakal menye-menye ah, eh ternyata geela Bagus bat. ternyata genrenya thriller donk!
misterinya bnr bnr membuat pertanyaan banget, penulis cerdas bat nyampaiin masalah yang dialami tokoh tokoh disini, beberapa part kadang bikin merinding juga sih.
plot twist yang gak nyangka banget (haha lebay), kirain itu endingnya bakal A ternyata kejadiannya B, super amazing pokoknya.. telat banget kayaknya baru baca sekarang, jadi pengen liat filmnya juga.
Overall, ceritanya bagus dan emang bikin kepo. belom nonton filmnya tapi katanya lebih menegangkan dibanding novelnya. untuk karakter si Gadis emang bener-bener nggak ketebak. saya udah mulai nebak saat si Eni (atau Evi ya, lupa, suka kebalik-balik) ngasih lihat ciri-ciri mereka. mungkin emang sengaja diarahin, di akhir saya bener-bener nganga dan pas balik ke catatan itu, ternyata dia bisa diperhitungkan! xD
Patut dicatat bahwa ini merupakan novel pertama Asma Nadia yang kubaca. Itupun sebetulnya karena dipicu rasa penasaran akan cerita asli dari film “Pesantren Impian”, thriller yang disutradarai peraih Piala Citra, Ifa Isfansyah. Film ini dibintangi oleh peraih piala Citra Prisia Nasution dan Dedi Sutomo, serta turut didukung oleh Fachri Albar, Dinda Kanya Dewi, dan Sita Nursanti. Alasannya, karena ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab oleh scenario film yang ditulis oleh Alim Sudio, dan berharap novelnya akan memberikan penjelasan.
Ternyata asumsiku keliru. Novel “Pesantren Impian” tidak sama dengan film adaptasinya. Praktis yang sama hanyalah nama-nama beberapa tokohnya, sementara konfliknya sangat berbeda. Versi film terasa lebih berdarah, sedangkan versi novelnya tak lebih dari cerita-cerita standar bertema reliji: kebenaran pasti menang dan pihak yang teraniaya akan menemukan kebahagiaan di akhir cerita. Tak ada yang istimewa dari novel ini, untuk tidak menyebutkan ceritanya amat sangat klise.
"Tak ada yang lebih buruk dari seseorang yang menemui Tuhannya dalam keadaan ingkar. Bukan akhir dari bilangan hari yang harus disesali, tetapi berapa banyak hari, kehidupan yang telah Allah karuniakan dan harus disyukuri" hal 250
tebakanku tentang siapa yang menghamili Rini dan siapa si gadis pembunuh seorang lelaki tambun di hotel Tiara medan itu benar.. hoyee.. ga sia2 nulis nama2 santriwati dan sdkit demi sdkit nyoret yang dinilai bukan si gadis XD *kurang kerjaan*.Heran kok ada yang review si gadis ga diungkap identitasnya sampai akhid. padahal jelas2 namanya disebut diakhir cerita. apa yang versi baru ini ada perubahan ya?
tentram rasanya melihat ukhuwah islamiyah yang terjalin antar santriwati meski mereka semua punya latar belakang gelap. meski dibalut dengan kisah misteri yang penuh teka teki, ceritanya sarat dengan syiar dakwah.. tentang ukhuwah, kepedulian sosial, hijrah dll.. novel mbak asma always recommended! denger2 bakal difilmkan.. must watch!!
Jadi siapa si gadis teh? Bener-bener penuh dengan teka-teki, sepanjang cerita bawaannya cuma nebak-nebak. Mulai dari siapa Umar, Teungku Budiman, lelaki yang menghamili Rini, para relawan yang ternyata salah satunya ada Bagus, orang yang disukai Rini, dan terakhir si gadis. Kalau divisualisasikan kayanya lebih cocok jadi sinetron, terlalu banyak konflik tapi berujung dalam satu solusi. Endingnya, nggak nyangka kalau ternyata Umar bakal kaya gitu.
Saya menyelesaikan novel ini dalam sekali duduk (berbaring tepatnya). Ini novel dengan genre berbeda dari yang biasanya ditulis oleh Asma Nadia. Sepanjang membaca menebak-nebak siapa Si Gadis yang identitasnya baru terang disebutkan di halaman terakhir. Beberapa misteri juga cukup menarik dan tidak disangka 'ternyata begitu'. Bahasanya mengalir dengan sangat baik, karena saya sanggup membacanya dari awal sampai akhir tanpa jeda yang lama.
Kendala bagi saya hanyalah kesulitan menikmati cerita di bab-bab awal karena terlalu banyaknya tokoh dengan latar belakang dan konfliknya masing-masing. Apalagi sejak awal kita sudah diarahkan untuk menebak siapa si 'gadis'. 4 bintang untuk novel ini karena membuat saya baru bisa menebak siapa 'gadis' di dua halaman terakhir. =))
Kisah yang di awali dengan banyak teka-teki dan penuh dengan hikmah. Awalnya cukup tertarik waktu baca judul bukunya dan semakin penasaran setelah baca sinopsisnya. Ada beberapa hal yang bisa saya simpan dari buku ini, salah satunya adalah setiap orang pernah berbuat salah dan setiap orang boleh berubah, bertaubat, dan menjadi lebih baik lagi.
Okay jadi aku ingat baca ini cuma sekali baca pada saat malam hari! Waktu dimana untuk rebahan dan santai-santai diisi dengan baca novel ini. Ceritanya gak bikin bosen sampai tau-tau udah dilembar terakhir dan berujung, "Hah, udah tamat lagi aja? Seriusan ini?" Wkwkwkwk Aku baca sekali sekaligus langsung tamat guys! Ibarat baru buka sampul eh taunya udah dihalaman Tentang Penulis. Kocak!
Tidak tertebak. Dan aku suka. Buku ini kubaca dulu saat masih duduk di bangku SMP. Buku ini dipinjam teman dan tidak kembali. Alhamdulillah, ada cetak ulang. Tanpa pikir panjang, aku langsung membawanya pulang ketika bertemu di Togamas.
Nice twist, tapi sayang suasana menegangkan kurang terasa. Berharap Asma Nadia bakal nulis lebih banyak buku thriller seperti ini :) Ini resensi saya --> http://ruri-online.blogspot.com/2015/...
Sebenarnya saya sudah selesai membacanya cukup lama, tapi baru sempat memberi review sekarang. Satu kata buat buku ini: apik. Saya kira Mba Asma hanya bisa membuat buku tentang romansa, ternyata saya salah. Dengan latar belakang pesantren, saya tidak menyangka ceritanya bisa semisterius itu. Buku ini sudah keren, bahkan jika tanpa dibuatkan filmnya. Saya rasa sepertinya Mba Asma perlu membuat karya-karya yang 'out of the box' seperti ini lagi, lebih menantang dan menarik untuk dibaca, menurut saya, sih. Hehe~
Yuhuuuu selamat malam yang dingin dan sedang turun hujan, akhirnya kelar juga bacanya. Cerita yang berjudul Pesantren Impian di buka dengan tiga cuplikan peristiwa yang di alami tiga orang gadis yang kemudian mendapatkan undangan untuk menetap bersama para gadis lainnya di Pesantren yg merupakan tempat rehabilitasi yg terletak di sebuah pulau pedalaman Aceh. . .
Aku dari awal baca udah di buat penasaran sama sosok Si Gadis oleh kak AsmaNadia apalagi emang sebagian besar ceritanya berasal dari sudut pandang tokoh Si Gadis yg telah melakukan pembunuhan ini. (Sumpah di bikin gemes-penasaran haha). Sumpah baru pas di lembar terakhir identitas Si Gadis ini kebuka siapa dia, pas tau Hah??? Dia?? Sumpah, yang bener? What the... (dan langsung bacain ulang halaman" sebelumnya) mencoba mencari" clue yg mungkin menghubungkan. hahaha bener-bener nggak nyangka loh. . .
Ini novel begenre Drama, Crime-Thriller, Misteri plus di balut cerita religi pertama yang aku baca, sebelum-sebelumnya belum pernah baca genre ini kebanyakam fantasi atau romance sih jadi nggak tau mau ngebandinginnya sama apaan hehe. Sumpah kak Asma bener-bener hebat monorehkan cerita menegangkan yg menstimulus jantungku berdegub deg-degan dan membuatku betah untuk duduk berlama-lama karena penasaran kelanjutan cerita selanjutnya. Entah lah mungkin karena baru pertama kali baca genre ini jadi ketagihan pengen baca cerita genre crime-thrille misteri lainnya. Ternyata seru-menegangkan.
Pelajaran yang dapat aku petik dari cerita ini adalah bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan ke dua untuk menjalani hidup yang lebih baik dari kehidupan sebelumnya, sejelek apapun masa lalunya.