Mbok Jamu berselendang ungu itu menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang yang datang dan pergi membeli dagangannya. Bukan karena rambut hitam kehijauannya, lereng keningnya yang bening, atau kecantikannya yang tiada tara. Para pria menjadi platinum member jamunya karena Mbok Jamu pintar memosisikan diri sebagai konco wingking. Perempuan yang posisinya selangkah di belakang pria?
Tunggu dulu, arti dari istilah itu baru tepat jika kita memandang hidup secara linear. Padahal, hidup ini berputar bagai Cokro Manggilingan. Ia di belakang, tapi sejatinya juga berada di depan karena takdir siklus. Itulah keistimewaan Mbok Jamu.
Orang-orang di sekitarnya memang tak pernah peka membaca pertanda. Berbeda dengan Sabdo Palon dan Budak Angon, dua makhluk spiritual dari Majapahit dan Pajajaran yang selalu mengikuti Mbok Jamu dalam senyap. Mereka yakin, Mbok Jamu bukanlah perempuan biasa. Dirinya pastilah putri raja yang menitis ke raga rakyat biasa. Meski terlihat tak berkuasa, ia mampu menjadi penentu kemenangan dalam kompetisi pilpres tahun kapan pun.
Sekarang ... mari saksikan bersama, ke mata angin manakah Jangka Jayabaya dan Uga Wangsit Siliwangi, kedua ramalan akbar Jawa dan Sunda yang untuk kali pertamanya dihimpun dalam sebuah kitab, menemui takdirnya dalam cinta Mbok Jamu?
Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".
Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
Buku ini bukan cuma soal makhluk spiritual Jawa (Sabdo Palon) dan Sunda (Budak Angon) yang merecoki masa depan seorang Mbok Jamu. Tapi juga soal inspirasi, budaya, berita, fakta, hingga topik paling genting: politik dan ke(warga)negaraan.
Isinya padat dengan kasus juga isu yang pernah dan sedang viral belakangan ini. Kita dituntut untuk melihat segala hal dari sudut yang sering luput dipilih. Lalu digiring untuk menertawai kebodohan dan/atau kemirisan dari semua kericuhan tersebut.
Semua itu dikemas dengan gaya penceritaan khas dalang. Bumbu kebudayaan, sejarah, juga dongeng masa lalu sangat kental di dalamnya. Hingga kadang perlu IQ tinggi untuk menusuri benang merah yang tersirat pun tersurat. Jadi yang IQ-nya masih melati, sebaiknya segera di-upgrade. :')
Membaca buku karya President Jancukers berarti telah dengan suka rela dicerahkan cara berpikirnya. Bahwa seringkali kita melihat sesuatu tidak secara menyeluruh. Bahwa tak ada yang pasti, tak perlu ada yang ditakuti, dan yang abadi bagi emak-emak hanyalah diskon. Heuheuheuu
bingung kenapa aku dulu kepikiran beli buku ini dan membacanya. semakin ingin memahami isi buku ini semakin aku merasa IQ ku ini masih melati. heuheuheu . membacanya seperti menyimak bagian limbukan pada pewayangan. yaiyalah, lha penulisnya dalang. banyak berisi berita-cerita menarik tentang negara dan sindiran pada pelakunya. format seperti cerita guyon ini membuatnya jadi lebih menarik dan gak bikin spaneng. spaneng karena kelakuan para pelakunya ya, kalau memahami isi bukunya sih masih sama saja sulitnya. heuheuheu . beberapa bagian ada yang membuat tertawa karena tahu maksudnya, sebagian besar membuat "eh, piye maksud e, iki?" mungkin nanti akan dibaca lagi dan semoga bisa lebih paham. setidaknya buku ini jadi pengingat peristiwa-peristiwa tidak masuk akal apa yang dilakukan penguasa.
Ini buku sempet aku tunda haha. Mencoba membaca buku yang pake analogi wayang sekarang ini dan yaa agak gak ngerti sih, harus baca lebih dari sekali biar ngerti kalimatnya. Nah di buku ini cukup unik kisahnya sabdo palon, budak angon, dan mbok jamu. Dikemas lucu tapi cukup satir juga.