Jump to ratings and reviews
Rate this book

Cerita Eyang

Rate this book
Di rumah, aku memanggil nenekku, Eyang, dan ini cerita tentangnya. Tentang bagaimana Eyang suka bernyanyi, menghitung piring, dan berteriak jika lampu gelap; juga tentang bagaimana ia sering ingin dimanja seperti Adik. Aku bingung. Kata Ibu, Eyang itu sama seperti aku, “sama-sama istimewa, dengan cara yang berbeda.”

Istimewa? Berbeda? Maksudnya apa? Cara tahunya bagaimana? Aku mau cari tahu, kamu mau ikut?

Cerita Eyang diinspirasi dari salah satu anggota keluarga Referika yang berkebutuhan khusus.

Karya ini ditulis untuk merayakan perbedaan dan keistimewaan dalam keluarga; bahwa perbedaan itu bukan sesuatu yang harus ditakuti tetapi justru harus dipeluk erat-erat.

Paperback

Published January 30, 2019

22 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (28%)
4 stars
17 (68%)
3 stars
1 (4%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Safara.
413 reviews69 followers
May 27, 2021
"Eyang punya banyak daster bunga-bunga. Kalau Hari Raya tiba, itu waktunya ia pakai dan pamerkan daster-dasternya."

Sebagai seseorang yang bersuku Jawa, aku juga memanggil nenekku dengan sebutan Eyang. Yangti Mami (untuk nenek dari mamaku) dan Yangti Ibu (untuk nenek dari papaku). Sejak aku kecil hingga sebelum menikah, hampir setiap tahun kami mudik ke Surabaya. Hal ini berubah karena satu bulan setelah aku menikah, pandemi tiba.

Sebagai cucu yang tidak tinggal satu kota dengan para eyang, hubungan kami cukup baik. Aku sering menelpon dan SMS, bahkan Yangti Mami sempat bisa menggunakan aplikasi chat Whatssapp. Aku selalu bilang kepada Yangti Mami, aku ingin beliau hadir di hari pernikahanku. Yangti Mami sangat sehat, selalu ikut pengajian dengan tetangganya. Namun suatu hari, Yangti mendadak jatuh sakit selama tiga bulan dan akhirnya berpulang Maret 2019, dua bulan sebelum aku dilamar.

Membaca buku ini mengingatkan kenangaknya bersama Yangti Mami. Setiap kali aku mudik, aku selalu membawa pulang
- angpau
- makanan dari parsel
- daster, jilbab, atau pakaian lainnya
- sisa kue lebaran
- dan masih banyak lagi
bahkan sampai aku dewasa dan sudah bekerja. Selama Yangti Mami dirawat di rumah sakit, aku juga berusaha datang kesana, dengan uang tabunganku sebagai freelancer, karena aku takut menyesal.

Walaupun mungkin buku bergambar ini lebih fokus kepada memperkenalkan anggota keluarga dengan kebutuhan khusus, untukku buku ini lebih mengingatkanku kepada kenangan sederhana bersama Eyang. Tidak semua orang memiliki kenangan bersama Eyang, mungkin karena mereka sudah berpulang lebih dulu atau tinggal di kota yang jauh jaraknya. It's like, I want to visit her grave after reading this book.

It is the power of illustrated book. Two thumbs up!
Profile Image for moonyphase.
50 reviews3 followers
September 2, 2022
Heart-warming yet so thoughtful for children book huhu cry lovit
Profile Image for Weni yuanita.
93 reviews1 follower
April 13, 2019
Ditulis menggunakan sudut pandang dari seorang anak kecil " Aku" yang merupakan cucu dari Eyang , saya diperlihatkan bahwa perbedaan itu sempat membuat " Aku " bingung dan bahkan takut, tapi cara Ayah dan Ibu menjelaskan ,membuat " Aku " mencoba memahami kenapa Eyang berbeda.⁣⁣
⁣⁣
Suka..suka dan suka, ceritanya sederhana tapi mempunyai pesan yang kuat kalau perbedaan itu istimewa dan seharusnya kita tidak boleh merasa takut, ditambah dengan ilustrasinya yang menarik , buku ini sekarang menjadi salah satu buku anak favorit saya. ⁣⁣
⁣⁣
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.