Digarap dalam rentang waktu tiga belas tahun, delapan cerita dalam kumpulan ini dipetik Lu Xun dari dongeng-dongeng dan legenda Cina kuno, lalu ditulis ulang dalam gayanya yang khas dengan imbuhan-imbuhan baru.
Dengan memadukan realisme dan romantisisme, Lu Xun “memakai barang lama untuk membuat satir dari masa kini.” Cerita-cerita indah yang kerap jenaka dan sarkastis, menampakkan semangat jiwa penulisnya yang militan dan bergelora.
“Lu Xun adalah suara bangsa dan rakyatnya. Ia adalah perwujudan dari kebangkitan jiwa yang penuh dengan harapan-harapan mulia bagi manusia. Ia bukan cuma berharap; ia menempuh metode yang paling baik dan paling tepat—kesusastraan—dalam perjuangan mewujudkan cita-citanya.” — Pramoedya Ananta Toer, pidato pada Konferensi Peringatan 20 Tahun Wafatnya Lu Xun (1956)
“Lu Xun adalah penulis terbesar yang pernah dihasilkan Asia pada abad kedua puluh.” — Kenzaburō Ōe, peraih Hadiah Nobel Sastra 1994
Lu Xun (鲁迅) or Lu Hsün (Wade-Giles), was the pen name of Zhou Shuren (September 25, 1881 – October 19, 1936), a leading figure of modern Chinese literature. Writing in Vernacular Chinese as well as Classical Chinese, Lu Xun was a novelist, editor, translator, literary critic, essayist, and poet. In the 1930s he became the titular head of the League of Left-Wing Writers in Shanghai.
For the Traditional Chinese profile: here. For the Simplified Chinese profile: 鲁迅
Agak lumayan berat sebetulnya untuk menyelesaikan membaca kumpulan cerpen ini, terutama di bagian-bagian awal yang menurut saya begitu banyak fragmen yang dimasukkan dalam tiap-tiap paragrafnya. Belum lagi proses untuk mengingat nama-nama tokoh yang memang kurang familiar, yang untungnya saja dibantu dengan anotasi yang ditambahkan oleh penerjemahnya. Namun memasuki dua pertiga pertama mulai dapat dinikmati dengan baik, pun lama-kelamaan menjadi amat menyenangkan membaca kumpulan cerpen Lu Xun ini. Saya kira, inilah karya sastra Tiongkok yang pertama kalinya saya baca meski dalam versi terjemahan bahasa Indonesia. Cerpen favorit saya adalah "Menempa Pedang", yang rasanya memang benar-benar kuat dan mengandung teknik penceritaan yang luar biasa, meski ujungnya membuat saya benar-benar bergidik tidak tahan dengan penggambarannya. Namun saya kira cerpen yang ini yang amat representatif, menggambarkan kritik sosial Lu Xun, dan tentu saja kepiawaiannya memadukan legenda dan mitologi Tiongkok kuno dengan amat sempurna dan relevan dengan kondisi zamannya ketika cerpen ini ditulis.
Pujian-pujian yang diberikan kepada sang penulis adalah yang pertama membuatku tertarik membaca buku ini. Di blurbnya saja ada PAT dan Kenzaburo Oe, sedangkan di negara asalnya ia mendapat gelar 'orang suci'. Jadi gak kuranglah kalau aku berharap banyak pada kumcer ini.
Cerpen pertama yg membuka kumpulan cerita ini adalah Menambal Langit. Sebuah retelling dongeng penciptaan dunia, yang oleh Lu Xun dipuntir menjadi sebuah kisah jenaka manusia-manusia "kerdil" yang tak sengaja diciptakan sang dewi. Alamak, ternyata dari saat tercipta saja manusia sudah berulah segala macam, bikin pusing penciptanya. Dongeng penuh metafora dan sedikit filosofi ala Freud, mengejutkan sekaligus menyegarkan, membuatku semakin tertarik membaca cerpen-cerpen selanjutnya.
Dari delapan cerpen di sini, favoritku adalah Memetik Pakis. Sebuah legenda sejarah di jaman 3 kerajaan Tiongkok kuno yang dipuntir ke kiri ke kanan, mentertawakan kesaklekan dua bersaudara Boyi dan Shuqi yang berakhir kematian sia-sia. Sindiran menohok yang membungkus bahasa "seni demi seni".
Cerpen terakhir di kumcer ini, Membangkitkan yang Mati, ditulis dalam bentuk petikan drama. Mengungkap kesombongan seorang filsuf kondang Zhuangzi memanggil dewa dan membangkitkan sesosok tengkorak, yang ternyata malah bikin runyam. Moral of the story: sudahlah kawan, meski kau sakti mandraguna, jangan main-main dengan takdir hidup dan mati seseorang.
Secara keseluruhan, aku lumayan suka dengan pov cerpen-cerpen di sini. Kejenakaan (dan keusilan) penulis dalam merepresentasikan dongeng dan legenda lawas menjadikannya segar kembali, sekaligus telak menyindir keadaan-keadaan yang terjadi di dunia modern ini. Selain itu, kudos buat penerjemah yang mampu menangkap esensi cerita dan mempermudah pembaca memahaminya dengan catatan-catatan kaki yang diberikan. Sangat bagus dan membantu. Keren!
Ini kali pertama saya membaca epos dari Cina atau pun kisah-kisah lainnya. Buku ini mampu membawa saya menuju atmosfir Cina kuno dengan cerpen-cerpennya yang bertemakan demikian, namun tetap mudah dipahami karena bahasa yang digunangan cenderung ringan dan mudah dimengerti.
Untuk gaya bahasa terjemahannya sendiri saya sangat menyukainya, karena saya banyak menemukan kosakata-kosakata baru yang selama ini saya tidak tahu bahwa kata itu bisa digunakan untuk gambaran suatu kejadian atau hal dalam Bahasa Indonesia.
Buku yang sangat saya sarankan untuk dibaca apabila pembaca menyukai kisah-kisah klasik, epos, atau pun cerita kuno, namun tidak mau terjebak dalam gaya penceritaan yang sulit dimengerti.
Saya pikir, anda tidak bisa melewatkan buku ini sebagai salah satu buku yang wajib untuk dibaca, setidaknya minimal sekali dalam seumur hidup anda. Setidaknya, untuk bisa mereguk setitik ilmu dari buku Lu Xun yang satu ini. Ada 3 epos yang sangat saya sukai: Menambal Langit, Memetik Pakis, dan Meninggalkan Gerbang. Tetapi jika harus dipilah dari ketiga nya, maka akan keluar satu cerita yang sangat menyejukkan apalagi ditempatkan sebagai pembuka, yaitu Menambal Langit. Gaya penulisan yang konsisten, syarat akan metafor, sinisme, dan satire serta tidak ketinggalan ajaran moral khas kesusastraan Tiongkok menjadi nilai lebih dari Lu Xun. Dan tidak ketinggalan alih bahasa dari Tonny Mustika, saya kira sama sekali tidak mereduksi roh dari buku ini. Dan perlu kredit khusus untuk sang penerjemah.
Kisah Lama Tutur Baru, menanti untuk segera dibaca.
Ini cerita penuh filosofis, kadang satir. Direkomendasikan oleh kawan, "kamu wajib baca buku ini, minimal sekali seumur hidup" begitu pesannya. Tiap kali bertemu pasti ditanya sudah baca belum. Akhirnya kelakon juga aku baca.
Aku paling menyukai cerita bab Menolak Kekerasan. Saat membaca ini tokoh Mozi mengingatkan lakon Krisna dalam cerita wayang Mahabarata, taktiknya yang cerdas, bicaranya luwes, dan mampu mempengaruhi orang-orang disekitarnya.
Membaca Kisah Lama Tutur Baru ibarat menyelami sumur zaman yang tak pernah kering. Lu Xun tidak sekadar merangkai ulang dongeng-dongeng klasik, tetapi menusukkan jarum kritik ke dalam jantung mitos. Ia mengubah legenda yang sakral menjadi cermin retak yang memantulkan ironi zaman: korupsi, kemunafikan, dan absurditas manusia modern. Di tangan Lu Xun, kisah-kisah kuno seperti Nüwa Menambal Langit atau Pemanah Yi bukan lagi sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan senjata satir yang menusuk balik realitas.
Antara Mitos dan Kritik Sosial
Dalam Kisah Pemanah Yi, misalnya, Lu Xun mengisahkan Yi—sang pemanah legendaris—yang gagap menghadapi dunia tanpa monster untuk dibunuh. Setelah membasmi semua makhluk mitos, Yi justru terjebak dalam rutinitas membosankan: berburu burung pipit untuk mengisi perut istrinya, Chang’e. Di sini, Lu Xun menertawakan heroisme yang kehilangan arah, sekaligus menyindir manusia modern yang terpenjara dalam kesia-siaan. Chang’e, yang dalam legenda melarikan diri ke bulan karena kecewa, diubah menjadi simbol kejenuhan akan romantisme yang palsu.
Sebenarnya cerita-cerita rakyat Tiongkok yang dituturkan Lu Xun ini punya makna yang sangat mendalam, sayang sekali versi terjemahannya terasa agak kurang dapat mengekspresikan gaya penceritaan Lu Xun, jadinya ada beberapa bagian yang saya agak kesulitan memahaminya.