Tulisan dalam buku ini mulai membuka kembali lembaran-lembaran pergerakan perbukuan di Bandung pada periode tahun 2000-2009. Ketika itu pergerakan perbukuan di Bandung digairahkan oleh berdirinya toko-toko buku alternatif berbasis komunitas literasi
Dalam rentang waktu tersebut, marak sekali diskusi, pertemuan para penulis-toko buku-pembeli, beragam lokakarya perbukuan, hingga akhirnya kemudian banyak toko buku yang gulung tikar.
Kisah dan jejak para pegiat buku, toko buku, komunitas baca-tulis dan peristiwa-peristiwa unik di dalamnya sebagai suatu realita perbukuan di Bandung merupakan sesuatu yang menarik untuk dikaji. Mengambil analogi sebuah pohon, masa tanam hampir satu dasawarsa perbukuan masa itu dimulai dengan 'kultur tanah dan akar' literasi pascareformasi 98. Bertumbuhnya toko-toko dan kantong literasi didukung kebebasan berkumpul dan kemerdekaan mencari informasi, mesi dalam rentang waktu tersebut tercederai dengan satu peristiwa pembubaran secara sepihak diskusi di salah satu toko buku. Potret menanam pohon buku coba dikisahkan oleh Penulis dalam buku ini.
Buku yang membuatku menyadari bahwa...there's nothing new under the sun. Tidak ada hal yang sama sekali baru. Semuanya sudah pernah terjadi, dirasakan, dialami, dan diinisiasi oleh orang lain di bawah langit bumi ini.
Apalagi berbicara mengenai ekosistem literasi. Sebuah kenyataan yang sangat mengagetkan sekaligus membuatku bernostalgia, menyadari bahwa medio 2000an, terhitung ada 73 toko buku di Kota Bandung! Tujuh puluh tiga! Belum termasuk perpustakaan berbasiskan komunitas yang juga tak kalah seru dan ramai dalam mengadakan kolaborasi dan kegiatan. Terhitung, hanya tersisa kurang dari 10 dari daftar asli yang tercantum: 1. Gramedia 2. Pustakalana 3. Kineruku (dulu Rumah Buku) 4. Omuunium 5. TB. Hendra 6. Pitimoss 7. Pasar Buku Palasari 8. Periplus 9. Togamas
Sebuah fakta yang baru juga aku dapatkan dari buku ini, bahwa di medio 1950an, toko buku di Bandung pun berjumlah banyak. 63 toko!
Tapi apakah ini hanya soal berapa yang bertahan hidup? Menurutku tidak. Mereka yang pernah ada, mereka yang pernah hadir, besar kecilnya, semua sangat berharga. Ibarat maraton, setiap dari kita akan memberikan dan menyerahkan obornya. Bukan berarti kita menyerah dan keluar dari gelanggang, bisa jadi, kita memilih bertanding di tempat lain, atau, jika menyesuaikan dengan judul buku ini, memilih untuk menanam pohon lain di ladang yang lain.
Dan tidak pernah ada yang salah dengan itu. Berbahagialah dan berbangga hatilah kalian semua yang pernah memberi jejak, pernah menanam benih sekecil apapun, karena kita semua turut andil memperkuat akarnya.
--- Nothing new under the sun. Termasuk tantangannya, tapi ini membuatku bergidik, penuh harap, tetapi dengan rasa nostalgia yang jauh lebih besar. Rasa rindu akan riuhnya perpustakaan, toko buku, komunitas-komunitas serta pameran buku, membuatku mengulang perasaan tumbuh kembang sebagai anak SD-SMP & SMA dengan pengalaman literasi yang berbeda-beda.
Aku rindu taman bacaan sepupuku, TB Alvin namanya, berlokasi di Jl. Bali, berlogo kelinci (yang tentu dinamakan Alvin). Sepupuku berhasil menyulap ruang tamu rumah menjadi ruang baca komik yang setelah kupikir-pikir, agak bernuansa dark academia (karena di rumah Belanda). Di tengah-tengah sunyi dan sejuknya ruangan beratap tinggi khas rumah Belanda itu, aku menemukan keasyikan membaca buku komik dan majalah Donal Bebek serta Bobo.
Aku rindu taman bacaan kakakku, Ureshii namanya, juga berlokasi di Jl. Bali, yang didominasi dengan buku-buku Islami, didatangi kakak-kakak berjilbab panjang, lalu kemudian didatangi teman-teman SMAku sendiri. Aku yang waktu itu masih SMP, kadang menjadi pustakawan. Melayani pengembalian dan peminjaman buku sambil kerap lari ke belakang rumah untuk bertanya ke Ibuku jika ada hal yang aku kurang pahami. Aku menamatkan buku novel "serius" pertamaku di sini: Tetralogi Laskar Pelangi, yang adalah koleksi kakakku.
Aku rindu naik sepeda di kala senja tahun 2005 dan menemukan untuk pertama kalinya, sebuah perpustakaan kecil yang punya koleksi ajaib berupa ensiklopedi mini. Pustakalana namanya.
Aku rindu berjalan kaki, entah sehabis sekolah atau kala liburan, untuk mampir ke Pitimoss. Tempat di mana aku pertama kali mengumpulkan keberanian untuk bertanya ke Kakak pustakawannya: “Lagu Jepang apa yang diputar sekarang?”
Aku pun rindu mampir bersama teman ke pameran-pameran buku di Landmark. Mengunjungi dan menghirup udara yang penuh dengan buku-buku baru maupun lama. Keriuhan yang seru, mengira-ngira akan menemukan buku apa hari ini.
Aku rindu masa-masa itu, tak terbayangkan betapa serunya menjadi mahasiswa, menjadi orang dewasa, di medio 2000an awal. Aku iri sekaligus bersyukur, bahwa setidaknya aku sempat mengecap masa-masa itu.
--- Aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan sedikit perasaan optimistis, agar tidak terjebak dengan perasaan nostalgia yang mencengkeram.
Dengan munculnya perpustakaan-perpustakaan independen baru, komunitas-komunitas buku yang semakin menjamur, serta kemunculan toko-toko buku, akankah ini memantik renaisans literasi keempat (era kolonial, 1950an, 2000an & sekarang) di Bandung?
Semoga, dan semoga berhasil berwujud, tumbuh kembang menjadi sebuah ekosistem yang kokoh, kuat, dan mengakar: Sebuah hutan buku di Bandung.
Salam takzim dan hormatku pada teman-teman sesama pegiat literasi, pustakawan, komunitas baca, perpustakaan, toko buku, penerbit, penulis, kalian yang membaca buku dan membagikan pandangan, resensi, serta foto.
Serta tentunya, untuk Kang Deni Rachman. Senior pegiat literasi yang tak pernah berhenti membuatku terinspirasi.
Kenapa 2000-2009, dan bukan sampai belakangan ini saja--2018--ketika buku ini baru diterbitkan? Membaca blurb, baru kemudian saya pahami bahwa agaknya pada rentang waktu tersebut gerakan perbukuan di Bandung lagi bergairah-gairahnya. Tahun 2000 tidak lama setelah 1998--tumbangnya Orde Baru, dimulainya reformasi yang notabene era kebebasan informasi. Sumber informasi ya di antaranya buku. Adapun 2009 agaknya merupakan titik ketika gerakan perbukuan surut, paling tidak saya menemukan dalam buku ini bahwa pada sekitar tahun itu toko buku alternatif Das Mutterland tutup usaha sedangkan Rumah Buku berganti nama menjadi Kineruku. Tadinya Kineruku merupakan nama untuk divisi film di Rumah Buku. Film merupakan alternatif bagi yang tidak suka membaca buku atau suka keduanya. Tetapi, tampaknya kebanyakan orang memang lebih suka menonton daripada membaca, enggak sih? Sehingga, seolah-olah, perubahan nama tersebut menegaskan fenomena itu--bahwa "Kine" lebih menonjol daripada "Buku". Wallahualam.
Rentang 2000-2009 yang ternyata masa bergairahnya gerakan perbukuan di Bandung rupanya berarti personal bagi saya. Dalam rentang tersebut terjadi perkembangan diri saya dari pra-ABG menjadi dewasa muda, yang sebagian besar di antaranya dihabiskan di Bandung. Pada masa tersebut teringat oleh saya betapa Mama mendukung hobi membaca saya dengan membawakan kliping-kliping cerpen dari perpustakaan sekolah tempatnya mengajar, mengajak saya ke pameran dan toko buku--baik Gramedia maupun Palasari--dan membiarkan saya membeli sebanyak-banyaknya buku yang saya mau, bahkan ketika SMA saya rutin diberikan sejumlah uang khusus untuk jajan buku. Pada masa itu pula saya menyadari gairah saya terhadap kepenulisan: saya mulai rajin menulis catatan harian, saya bergabung dengan Klub Jurnalistik Pelajar di Pusdai, saya menulis cerita serial dan novel bersama teman-teman sekolah saya, saya membeli banyak novel serta buku tentang kepenulisan untuk meluaskan wawasan saya, dan pada akhirnya menentukan bahwa saya ingin menjadi pengarang.
Maka, mengetahui bahwa pada saat yang bersamaan dengan kegairahan saya terhadap dunia literasi ternyata di dunia luar juga terjadi gerakan dengan semangat yang sama namun dalam skala jauh lebih luas merupakan hal menakjubkan. Seolah-olah aktivitas kecil saya sebenarnya sekadar resonansi dari suatu gerakan yang tidak saja semarak pada masa itu, tetapi juga merentang hingga jauh ke belakang sebab sejak masa kolonial Bandung tempat saya lahir dan dibesarkan telah menjadi kota buku. Malah lewat buku ini saya baru mengetahui bahwa gedung Landmark yang biasa dijadikan tempat pameran buku itu dulunya memang toko buku G. C. T. Van Dorp & Co., seolah-olah ikon gedung tersebut sebagai gudangnya buku hendak dipertahankan meskipun sekarang hanya sekitar dua kali setahun. Tidak mengherankan, memang dari Bandung banyak lahir penulis kreatif seperti Dewi Lestari, Pidi Baiq, Adhitya Mulya, Icha Rahmanti, dan seterusnya.
Sebenarnya, pada masa itu bukannya saya tidak mengetahui adanya ruang-ruang tersebut di luar sana. Sedikit informasi tentang Tobucil, Rumah Buku, dan semacamnya sesekali saya temukan di suplemen Belia Pikiran Rakyat. Namun tidak terbayangkan untuk bergabung dengan dunia yang luas itu. Saya hanyalah pelajar SMP/SMA yang kuper, sementara gerakan tersebut agaknya diramaikan oleh orang-orang yang seusia saya kini (akhir dua puluhan-awal tiga puluhan). Ada gap lumayan jauh, dan, biasalah, namanya juga remaja tanggung, banyak segan.
Biarpun begitu, tetap saja, buku ini seperti kumpulan arsip lawas yang setelah bertahun-tahun dibiarkan berdebu baru kemudian disunting untuk diterbitkan. Sebagian wawancara bertanda dilakukan pada tahun 2007-2008, atau sekitar itu. Sebagiannya lagi tidak bertanda tahun berapa pun. Mengetahui bahwa Kang Deni ternyata pernah menjadi kontributor Matabaca pada rentang waktu tersebut, mungkinkah sebagian isi buku ini sebenarnya merupakan kumpulan artikel beliau yang pernah dimuat di majalah itu?
Buku ini tetap berarti sebagai suatu catatan sejarah, jika hendak bernostalgia atau menghidupkan kembali Bandung pada masa itu, khususnya dalam gairah literasinya, khususnya lagi dalam aktivitas membaca buku. Toh aktivitas literasi bukan hanya membaca buku. Dalam kronik di beberapa lembar terakhir buku ini memang disebutkan juga adanya workshop-workshop kepenulisan. Namun artikel-artikel yang lebih panjang yang mendahului kronik dalam buku ini hanya tentang tokoh-tokoh perbukuan, toko-toko buku alternatif, serta klub-klub buku, dan tidak sampai mencakup tentang kepenulisan atau sepertinya akan terlalu luas. Seandainya saja ada seri lain dari buku ini tetapi khusus tentang geliat klub-klub dan kursus-kursus kepenulisan di Bandung, dan mungkin tokoh-tokoh penulisnya juga, dari masa itu--dari Bandung Kota Buku menjadi Bandung Kota Penulis, hehe.
Buku ini berisi 26 tulisan yang bisa dibagi dalam 3 tema utama yaitu Toko Buku alternatif dan komunitas baca, perpustakaan, dan pelaku perbukuan. Dimulai dengan tulisan berjudul Bandung dan Buku, penulis merilis daftar toko buku yang pernah ada di tahun 1954 dan toko-toko buku umum dan alternatif di Bandung tahun 2000-2009. Tidak hanya berupa daftar toko buku, penulis juga menulis profil toko-toko buku alternatif berbasis komunitas buku
Pada tulisan berjudul Bandung Kota Buku yang terlupakan kita memperoleh informasi bahwa pada awal abad ke-20 Bandung terukir dalam sejarah sebagai kota berbasis percetakan. Di masa itu tercatat ada dua pecetakan milik pribumi Bandung, salah satu diantaranya adalah Toko Tjitak Affandi (1930) dan sat percetakan milik Indo-Eropa bernama G. Kolff & Co.
Sedangkan toko-toko buku yang terkenal saat itu antara lain toko buku Prawirawinata, toko buku Pribumi pertama di Jalan Oude Hospitalweeg (sekarang Lembong), toko buku Van Drop (sekarang Landmark) di jl Braga, Toko Buku Visser dan Vorkink di jalan Asia Afrika. Selain itu kota Bandung di tahun 1924 juga dilengkapi dengan Perpustakaan "Centralle Bibliotheek" di area Gedung Sate yang memiliki buku tehnik dan umum terlengkap kedua setelah perpustakaan pusat di Batavia. Di. Perpustakaan ini kabarnya tersimpan buku antik karya Georf Ebenhard Rumph yang hanya dicetak 3 ekslempar saja.
Untuk pelaku perbukuan di Bandung penulis menyuguhkan hasil wawancaranya dengan nama-nama yang tidak asing di kalangan dunia literasi Bandung yang ikut membuat pohon buku di Bandung semakin membesar antara lain Ajip Rosidi, Haryoto Kunto (penulis legendaris buku--buku Bandung), Tarlen Handayani (Tobucil) yang bisa dikatakan sebagai perintis toko buku alternatif di Bandung, Bilven 'Sandalista' Gultom (Ultimus), Didin Tulus sang legenda pameran buku yang selalu berkiprah di setiap pameran buku di Bandung, Dadi Pakar (penggagas pemeran buku IKAPI pertama di Bandung), Soeria Disastra (penggerak sastra Tionghoa di Bandung), dll.
Selain pelaku buku ada juga profil tentang perpustakaan dan toko buku alternatif, toko buku online, dan komunitas buku yang melegenda baik yang saat ini sudah tidak ada maupun yang masih bertahan antara lain Rumah Buku (sekarang Kinereku), Das Mutterland yang fokus pada karya sastra Jerman, Ommunium yang menggabungkan antara toko buku dan distro, Klab Membaca Pramodedya, dll.
Beberapa pameran dan kegiatan perbukuan juga diulas di buku ini antara lain pemeran dan festival buku Stock Buku Bandung (5-8 Juni 2006), pasar buku Sabuga (7-14 Okt 2006), Books Day Out (2009) dll. Selain itu ada juga laporan pandangan mata penulis ketika terjadi peristiwa pembubaran Diskusi Filsafat Marxisme di toko Buku Ultimus pada 14 Desember 2006 yang kebetulan saat itu penulis bersama rekannya hadir di lokasi.
Sebagai penutup buku ini diakhiri dengan Kronik Buku di Bandung 2000-2009 yang mendata aktifitas perbukuan dan literasi di Bandung misalnya pameran, diskusi, worskop, peluncuran buku hingga peristiwa kebakaran pasar buku Palasari Bandung dan pembubaran diskusi filsafat Marxisme di Toko Buku Ultimus Bandung.
Sebagai sebuah buku yang merekam jejak dunia buku dan komunitas buku di Bandung dari awal bertumbuhnya hingga mencapai puncaknya selama satu dasawarsa buku ini patut diapresiasi karena buku ini menggambarkan bagaimana suasana perbukuan pada masa itu.
Membaca Pohon Buku di Bandung membawa saya bernostalgia antara tahun 2005-2008 ketika saya sedang gemar-gemarnya menjelajah toko buku alternatif. Di toko buku-toko buku alternatif itulah saya juga belajar menulis, berjejaring, berkegiatan, dan membuat beberapa event.
Dari buku ini saya tahu apa yang menjadi cikal-bakal tumbuhnya toko buku alternatif, siapa saja pionirnya, toko buku mana yang masih bertahan, dan kemundurannya. Sayangnya kurang tergambar penyebab kemunduran toko buku alternatif dan bagaimana sebagian darinya mampu bertahan hingga sekarang.