Jump to ratings and reviews
Rate this book

Indonesia 2045: Pemikiran Terbaik Putra-Putri Bangsa untuk Ibu Pertiwi

Rate this book
"Aku pasti mengabdi!" Kalimat itulah yang selalu bergema dalam diri para penerima beasiswa LPDP. Kesempatan besar telah diberikan oleh pemerintah Indonesia tentu tak boleh disia-siakan. Dan, kontribusi pemikiran menjadi salah satu jalan pengabdian. Saat ini, Indonesia tengah berlari menuju posisi penting di kancah internasional. Misi besar itu akan diwujudkan dalam "Indonesia Emas 2045". Melalui misi tersebut, dalam buku ini, para peraih beasiswa LPDP menuangkan gagasan besarnya dalam berbagai bidang. Melalui esai-esai kritis dan penuh inovasi inilah, mereka berusaha membangun Indonesia sebagai negara membanggakan bagi generasi anak cucu kita kelak.

"Isi buku ini sejalan dengan cita-cita pendiri Republik Indonesia, yaitu mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan beradab. Indonesia membutuhkan ide, inovasi, ambisi, kepercayaan diri seperti yang digambarkan dalam buku ini untuk menjadi sebuah bangsa yang besar, mandiri, dan berdaulat pada 2045." - Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia

"Menginsipirasi para calon pemimpin masa depan dalam membangun Indonesia." - Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia

444 pages, Paperback

Published January 1, 2018

3 people are currently reading
19 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
3 (75%)
3 stars
1 (25%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
136 reviews82 followers
July 27, 2019
SUARA-SUARA OPTIMIS MENUJU INDONESIA 2045

Ide pembentukan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)―yang saat ini berada di bawah Kementerian Keuangan RI―untuk memanfaatkan Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN) mulai dirintis pada tahun 2010. Secara bersamaan, pada tahun 2010 itu, para investor dunia mulai menemukan Indonesia: sebuah negara yang mulai memiliki GDP per kapita $3.000 dollar. GDP sebesar itu memperlihatkan kemampuan yang bagus untuk membeli mobil dan peralatan elektronik berkualitas tinggi, rumah, atau bahkan mobil atau rumah kedua. Di luar itu, tren konsumsi pembelian alat komunikasi dan tiket pesawat terbang di Indonesia meningkat. Di waktu yang sama cadangan devisa naik ke tingkat yang belum pernah terjadi—lalu orang-orang mulai mengerti kenapa mereka mesti melihat, bukan sekedar melirik, Indonesia. Mungkin nama Indonesia mulai terlihat jelas sebab di belahan lain, Eropa dan Amerika memburuk. Setahun setelah Indonesia memiliki GDP per kapita $3.000 dollar, agen pemeringkat Fitch dan Moody’s menaikkan status Indonesia ke investment grade. Jim O’Neill dari Goldman Sachs, yang meski malu-malu untuk memasukkan Indonesia ke dalam BRIC (label yang diciptakannya pada tahun 2001), melihat Indonesia sebagai pasar yang tumbuh dan memiliki produktivitas tinggi. Bandul dunia berayun ke Indonesia.

Optimisme atas pertumbuhan Indonesia dibarengi dengan pembicaraan mengenai “bonus demografi” di masa depan. Pada masa-masa tahun 2020-2040, Indonesia diperkirakan memiliki kelompok usia produktif yang lebih banyak dari kelompok usia senja dan anak-anak. Pemuda akan jadi sentral. Tapi bukan itu yang menjadi soal. Kini perdagangan bebas memungkinan seorang kenalan Vietnam membuka usaha tambal ban di Jawa, atau seorang kenalan dari Thailand berkompetisi dengan saya di sebuah perusahaan multinasional di negeri ini. Dari situ persaingan mendapat tempat di dunia kerja menjadi semakin berat. Saya mungkin akan kalah—hanya akan jadi perajin bordir dari Tasik, atau karyawan pabrik peniti, atau menjadi gelandangan. Kalau itu banyak terjadi (semoga tidak), kita akan bicara tentang manusia kalah Indonesia yang tinggal di balik tembok yang lapuk, ditemani sawang dan debu.

●●●
Buku Indonesia 2045: Pemikiran Terbaik Putra-Putri Bangsa untuk Ibu Pertiwi ini menampilkan kontribusi intelektual dari 44 pemuda penerima beasiswa LPDP dalam menyambut pertumbuhan Indonesia yang terus meningkat dan bonus demografi tersebut. Sebagai penerima beasiswa pemerintah, para awardee memiliki kewajiban untuk mengabdi dan berbagi strategi untuk menganalisis berbagai potensi di segala bidang dalam mewujudkan Visi Indonesia 2045. Sesuai dengan strategi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional RI, Visi Indonesia 2045 meliputi empat pilar utama, yaitu pembangunan sumber daya manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, serta ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.

Melihat tema yang diangkat, buku ini menampilkan isu yang cukup komprehensif. Buku Indonesia 2045 terbagi dalam sembilan bagian: penguatan ekonomi (terdapat 7 tulisan), membangun manusia Indonesia (4 tulisan), inovasi medis dan kesehatan (7 tulisan), perlindungan hewan dan lingkungan (3 tulisan), membangun dari desa (2 tulisan), berdaulat pangan dan pertanian (7 tulisan), bahasa dan pendidikan (9 tulisan), energi (2 tulisan), serta sektor maritim dan geografis (3 tulisan). Sebagai suplemen penyemangat, tim penyusun buku juga memberikan tips-tips memperoleh beasiswa LPDP.

Dalam membaca persoalan, para penulis yang memiliki berbagai latar belakang berbeda cenderung mengidentifikasi dua hal utama. Pertama, dengan memaparkan data-data terbaru, para penulis menganalisis posisi Indonesia saat ini. Di bidang penguatan ekonomi, misalnya, Nia Kurniati dalam tulisan Strategi Pengembangan Kewirausahaan, Syarat Mutlak Menduduki Lima Besar Perekonomian Dunia menyoroti peran kewirausahaan. Pada tahun 2017, menurut data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Indonesia hanya memiliki wirausahawan sebesar 3,1% dari total 250 juta lebih penduduk (hal. 44). Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia atau Jepang, yang memiliki masing-masing 5% dan 10% jumlah penduduk yang menekuni bidang kewirausahaan. Padahal, Fajar Sulistyaningsih dalam tulisan Penguatan UMKM sebagai Tulang Punggung Perekonomian Indonesia Melalui Pendidikan Kewirausahaan mengamati bahwa UMKM menyumbangkan 60,34% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 97,22% tenaga kerja di Indonesia (hal. 37).

Di bidang medis dan kesehatan, Afina Rachma Sulistyaning dalam tulisan Menekan Angka Kejadian Obesitas pada Anak Usia 5-12 Tahun dengan Sistem “Traffic Lights” pada Makanan menggarisbawahi obesitas pada anak yang saat ini menjadi tren global, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Data World Health Organization (WHO) tahun 2017 menunjukkan peningkatan 30 juta penderita obesitas pada anak tahun 1990 menjadi 42 juta anak pada tahun 2013. Di Indonesia, menurut data Kementerian Kesehatan RI, penderita berat badan berlebih dan obesitas anak berusia 6-14 tahun berjumah 15,9% pada tahun 2007, dan meningkat menjadi 18,8% pada tahun 2013 (hal. 103). Di bidang energi, Andreas Diga Pratama lewat tulisannya Pemanfaatan Panas Bumi di Indonesia memaparkan potensi energi panas bumi di Indonesia yang mencapai 29.215 GW, sementara kita baru memanfaatkan sekitar 1.500 MW (hal. 307).

Kedua, para penulis menawarkan strategi atau jalan yang bisa kita tempuh ke depan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Untuk menunjang ekonomi masyarakat, Fajar Sulistyaning menekankan pada pendidikan bisnis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang terlibat UMKM. Sementara itu, Nia Kurniati melihat perubahan paradigma dari pendekatan sosial ke pendekatan bisnis sebagai strategi yang krusial. Melalui pendekatan bisnis, wirausahawan diberikan ruang berinovasi dan melebarkan sayap sampai ke tahap ekspor. Untuk menekan obesitas pada anak, Afina Rachma Sulistyaning menyarankan agar para produsen makanan memberi label warna di setiap kemasan, seperti kode warnah hijau, kuning, dan merah sebagai representasi kandungan kalori rendah, sedang, dan tinggi. Andreas Diga Pratama menawarkan pemanfaatan tenaga panas bumi yang tentu akan berguna untuk Indonesia 2045, terutama ketika minyak, gas, dan batubara diperkirakan semakin menyusut. Pengelolaan pembangkit panas bumi yang tepat menjadi kunci agar eksplorasi yang dilakukan pemerintah tidak mencemari lingkungan dan mengganggu aktivitas warga sekitar.

Membaca berbagai isu yang dipaparkan membuat kita, atau setidaknya saya, sedikit khawatir. Sebab, persoalan-persoalan lama rupanya masih relevan. Sebagai contoh, tulisan Kiki Ekiawan Lamatungga berjudul Indonesia dan Zero Hunger. Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2015, sekitar 795 juta orang di seluruh dunia masih menderita kelaparan. Dari jumlah itu, Indonesia menyumbang angka 7,9% (hal. 186). Andrew William Tulle dalam Mikrobiologi Molekuler untuk Meningkatkan Penatalaksanaan Penyakit Infeksi juga menyebut infeksi difteri, penyakit campak, serta demam berdarah masih menjadi masalah besar di Indonesia (hal. 93). Relevansi kasus-kasus tersebut bisa jadi menunjukkan bahwa kita, ternyata, tidak sedang ke mana-mana. Atau barangkali kekhawatiran itu tidak sepenuhnya benar. Toh, Indonesia bisa bertahan dalam krisis ekonomi global 2008, berbeda dengan yang terjadi saat krisis ekonomi 1998. Ini menunjukkan ekonomi mikro kita tumbuh dan relatif lebih independen terhadap pengaruh ekonomi luar.

●●●
Selain isu-isu lama, buku Indonesia 2045 juga mengajak kita untuk mewaspadai isu global baru. Rika Rianty menulis tentang bunuh diri dalam Tiga Tahap Pencegahan Percobaan Bunuh Diri pada Remaja. Isu ini menarik karena pada zaman modern, angka kematian akibat bunuh diri lebih besar ketimbang akibat perang antarnegara. Pada tahun 2002, Yuval Noah Harari dalam Sapiens memaparkan data bahwa 741.000 orang mati akibat kekerasan antarmanusia, berbanding 873.000 orang yang mati akibat bunuh diri. Namun, meski mengajak kita untuk turut peduli, Rianty tidak menyinggung bahwa banyak remaja (dan orang tua) yang enggan untuk datang konseling karena malu dengan stereotip dianggap orang sakit jiwa.

Secara keseluruhan, pemikiran para penulis dalam Indonesia 2045 telah mewakili kontribusi intelektual untuk mengatasi isu atau persoalan mendasar di Indonesia. Mungkin karena keterbatasan halaman, tulisan-tulisan di dalamnya terkesan kurang mendalam. Meski demikian, kita bisa yakin bahwa Indonesia tidak akan kekurangan pakar di berbagai bidang yang diperlukan untuk menyambut bonus demografi tahun 2045. Banyaknya perempuan yang menyumbangkan idenya dalam buku ini juga menunjukkan bahwa perempuan mulai memegang peran penting untuk memajukan Indonesia. Dalam level kontribusi tertinggi, perempuan tidak kalah dengan laki-laki. Sebagai contoh, Menteri Keuangan Sri Mulyani yang turut memberi kata pengantar buku ini meraih penghargaan Menteri Terbaik Dunia dalam World Government Summit 2018 di Dubai, Uni Emirat Arab.

Tentu saja kita tidak perlu senang secara berlebihan dengan pujian negara-negara luar tentang pertumbuhan dan kemajuan Indonesia. Kita tidak boleh lupa bahwa pada tahun 1990-an Indonesia mendapat julukan sebagai Macan Asia, tapi tahun 1998 malah kolaps akibat krisis. Apa yang terjadi di masa itu merupakan pelajaran untuk lebih memantabkan apa yang akan kita lakukan dan memastikan apa yang tidak perlu lagi kita kerjakan. Buku Indonesia 2045 adalah salah satu ikhtiar untuk memastikan bahwa Indonesia tidak akan kehilangan arah.
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.