Aku bukanlah peminat tegar kepada Soekarno, tetapi karya ini boleh dikatakan antara karya terbaik dan terpenting Soekarno, yang harus dimiliki, dibaca dan ditelaah tentang keterbukaan wawasan politik beliau yang berani mensintesakan antara Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Disebabkan (mungkin) perkataan Komunisme agak taboo, maka ianya ditukar kepada Marxisme. Jika ikut konsep asal/awal, ianya adalah Nasakom (Nasionalisme, Agama dan Komunisme). Dalam buku ini juga Bung Karno menyebutkan tentang perjuangan Sayyid Jamaludin Afghani, Pan-Islamisme, bahkan Sosialisme Islam. Ini antara sesuatu yang menarik untuk dibincangkan. Jika ditelaah lebih lanjut, kita boleh mengesan susur galurnya dari pemikiran guru politiknya, iaitu H.O.S Tjokroaminoto, iaitu otak dan orang penting pada Sarekat Islam yang menghasilkan buku Islam dan Sosialisme.
Berkali-kali juga Bung Karno menyebutkan tentang Sosialisme Islam dan menyerukan persatuan antara Marxist-Muslim. Dan teks nipis ini juga seharusnya dibaca bersekali dengan konteks Indonesia yang pada masa itu baru sahaja berdirinya republik baru, pasca penjajahan.
Sekali lagi saya dibuat kagum oleh bung Karno. Tulisannya sangat memukul pemahaman saya. Menurut saya, Bung Karno berusaha mensintesiskan antara Nasionalisme, Islam dan Marxisme jadi satu kesatuan. Hal tersebut pada akhirnya terjadi saat Bung Karno mencetuskan ide Nasakom pada tahun 1960-an. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk semua kalangan. Dan jangan lupa "Semua pembaca sedunia, bersatulah! "
Buku kecil yang membahas 3 idologi yang berbeda menurut kacamata bung karno. Ideologi yang berbeda itu nasionalisme, marxisme dan islamisme. Banyak orang yang menganggap ketiga ideology tersebut berbeda, dan tidak memiliki korelasi antara satu sama lain, bahkan ada salah satu ideology yang dianggap berbahaya bagi bangsa kita (marxisme). Nasionalisme sendiri ideologi yang berangkat dari kebangga’an terhadap bangsa dan negaranya. Islamisme sendiri sesuai dengan namanya, ideologi yang berlandaskan agama islam. Dan marxisme yang masih banyak yang menganggap ideology yang sarat dengan penggulingan pemerintahan, yang sebenarnya merupakan ideology yang justru menjunjung tinggi kesetaraan setiap manusia. Dari kacamata bung Karno ketiga ideologi ini memiliki korelasi satu sama lain. Di dalam buku ini kita bisa mendapatkan pencerahan mengenai setiap ideologi, khususnya ideologi marxisme yang selama ini banyak orang salah kaprah mengenai ideologi ini.
Dengan membaca tulisan bung Karno ini diharapkan bisa memperkaya pengetahuan kita dan menambah prespektif kita, agar kita tidak menjadi manusia yang hanya terkungkung pada satu ideologi tertentu. Prespektif yang luas menjadikan kita sebagai manusia yang lebih toleran dengan perbedaan yang ada, di Negara kita yang plural.
Pada satu masa, istilah nasionalisme, islamisme, dan komunisme (Nasakom) menjadi jargon politik yang berusaha merangkul tiga ideologi besar politik. Tiga ideologi yang sekilas terlihat berseberangan satu sama lain, tetapi ketika ditelaah lebih substansial, ternyata saling mendukung dan terkait erat. Namun, situasi politik kemudian membuat satu ideologi lainnya, komunisme, dianggap tidak hanya sebagai hantu, tetapi juga iblis yang harus dimusnahkan.
Lalu, bagaimana istilah nasakom ini muncul dan seperti apa wujudnya? Soekarno muda menuliskan ide tersebut di media Suluh Indonesia Muda pada tahun 1926. Hampir 100 tahun kemudian, tulisan itu masih bisa dibaca di buku ini, Nasionalisme, Islamisme, Marxisme: Pikiran-pikiran Soekarno Muda.
Buku ini merangkum opini-opini politik Soekarno pada tahun 1922-1940an yang dimuat di berbagai media. Ada 19 tulisan yang terserak, tetapi dihubungkan oleh tiga topik besar tersebut. Dia menjadi landasan Soekarno pada saat itu, dan barangkali, juga gerakan Indonesia sebelum kemerdekaan. Oleh karena itu, tulisan-tulisan ini terasa seperti barang antik. Sesuatu yang sudah tua, tetapi tetap saja menarik untuk dinikmati.
Bagi saya ini seperti sebuah jurnal dari pada buku, atau bisa saja kita sebut dengan buku saku karna memang jumlah halamannya yang sedikit dan terbilang tipis. Namun, dari jumlah halaman yang sedikit itu ternyata banyak kiranya hal-hal yang saya pelajari tentang apa yang judul buku ini tampilkan. Buku tipis yang dapat mempertebal pengetahuanmu akan sejarah. Bagoes! 👍🏻
Dengan membaca tulisan ini, saya dapat membayangkan tugas berat yang dialami oleh para pendiri bangsa pada saat itu untuk menyatukan berbagai perbedaan paham. Perbedaan ini adalah penghambat bagi persatuan bangsa, dan kemerdekaan Hindia Belanda dari imperalisme dan kolonialisme. Soekarno, melalui curah pikirannya ini, membayangkan persatuan itu akan muncul. Tulisan ini mengandung semacam idealisme, namun Soekarno mengupasnya secara historis dan gagasan untuk mengikis keraguan yang mungkin muncul. Dapatkah Anda banyangkan paham Islamisme menyatu dengan Marxisme? Syarat apakah yang memungkinkan nasionalisme yang sangat kontekstual dan lokal dapat menerima paham internasionalisme, seperti Pan-Islamisme dan komunisme? Menemukan titik temu antara paham-paham tersebut tidak mudah. Namun, Soekarno berhasil melakukannya.