Dari pendengaran pertama, aku langsung membencinya.
Ah ya, omong-omong, mungkin kalian tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali. Tapi, nama 'Arka' sendiri artinya 'matahari'. Sedangkan 'Candra' memiliki makna 'bulan'. Bukan berarti dia tambah aku sama dengan jodoh. Karena matahari dan bulan tidak akan pernah bisa bersatu.
Pertemuanku dengan Si Matahari tidak akan pernah berakhir tenang, kurasa. Sejak awal, aku dan dia sama-sama terjerat benang merah yang tak kunjung terurai. Semakin aku akrab dengannya, malah semakin banyak masalah yang muncul.
Update: Saya coba baca lagi dan pendapat saya masih sama. Terlalu bertele-tele, terlalu trivial sehingga plot sesungguhnya jadi tertutupi, lelah membacanya. Mood, tone, vibe ceritanya belum tahu mau gimana. Tokoh gurunya sekilas banget padahal banyak yang disebut. Terlalu bejubel nama-nama tokoh yang selewat saja. Plus saya masih tidak bisa simpati dengan tokoh utamanya. Jadi mau mengikuti nasibnya sampai akhir buku juga rasanya gimana gitu, kayak nggak ada perubahan apa-apa. Seandainya dipangkas jadi lebih efektif dan diganti sudut pandangnya, ide cerita yang sudah menarik ini mungkin bisa lebih nyaman dibaca. Kalau premisnya coming-of-age atau self-discovery ya dimaklumi jika banyak senandika pendapat pribadi, tapi karena blurb-nya menjanjikan penyelidikan misteri, rasanya menonjolkan plot yang fast paced akan lebih tepat.
Mungkin ini saatnya saya beralih ke bacaan lain... seenggaknya udah tahu garis besar isi buku ini gimana. Sekian.
•
DNF. Sederhananya, novel ini akan jauh lebih menarik jika diceritakan lewat sudut pandang orang ketiga alih-alih orang pertama (dan banyak pula, dengan suara yang serupa). Halamannya cukup tebal, sampai tiga ratusan, dan spasinya lumayan padat. Itu juga jadi alasan mengapa saya menunda menyelesaikannya secara urut. Tadi saya bacanya dari awal, ke akhir, lalu ke tengah, dan biasanya saya baca dengan cara begitu untuk buku yang narasinya panjang-panjang tapi belum menggerakkan saya untuk mengikuti kisahnya.
Isu kedua saya adalah tokohnya yang belum membuat saya simpati. Masih nyambung dengan sudut pandang, alasan lain kenapa PoV 3 lebih cocok digunakan cerita ini adalah karena saya sering menemukan 'kebocoran' seolah si narator tahu segala. Candra nggak kenal siapa Arka, tapi kenapa dia repot-repot tahu arti nama Arka (plus arti nama belakangnya pula)? Kecuali Candra digambarkan senang cerita pewayangan, bisa Bahasa Sanskerta, atau seenggaknya pernah dengar seseorang bilang begitu. Sifat Candra yang holier-than-thou juga benar-benar mengganggu. I'm seriously angered now. Jana-nya Revered Back jadi kelihatan mendingan dibanding Candra. Biar saya jabarkan alasannya.
Satu, dia merasa I'm not like the other girls. Duh. Hari gini? Di zamannya women empower women? Mungkin ini terlihat appealing beberapa dekade lalu. Oke deh, Candra memang special snowflake, nggak sadar dirinya cantik, jago bertarung, indifferent. Tapi apa dia juga harus meledek temannya sendiri sampai dikatain idiot segala? Padahal temannya cuma bercanda receh? Terus kamu anak pintar yang tingkat literasinya tinggi, gitu? Kalau gitu kenapa nyebut pelukis The Scream painting aja salah, bukannya Edward Munch malah Van Gogh? Van Gogh itu pelukis post-impresionis, sedangkan Edward Munch beraliran ekspresionis. Dari objeknya aja udah beda. How is that for you, a so-called proud IPS girl who mocks IPA students, yet this info is coming from an ex IPA student?
Okay you can see how mad I am haha.
(Perdebatan IPA-IPS juga sebaiknya jangan dibawa-bawa lagi. Not cool)
Tapi saya belum mau berhenti. Candra literally mocking teman dekatnya sendiri yang lagi di toilet dengan bilang, 'Kenapa sih kebanyakan cewek suka ke toilet?' Mungkin karena mereka manusia beradab yang buang air pada tempatnya? Senang banget kayaknya si Candra ini menghakimi orang bahkan yang nggak salah apa-apa kayak petugas perpus aja dikatain Mata Empat 😡 Tadinya saya mau tahan-tahan biar baca sampai selesai, jadi saya tahu apakah karakter menyebalkannya ini berkembang dan jadi lebih baik, tapi ternyata saya belum sanggup haha. Dan ini baru Candranya loh, belum ke Arka.
Masih soal si tokoh utama cewek, meski ~katanya~ dia suka baca dsb, ketika ada yang tampaknya lebih pintar dari dia, seharusnya kan menghargai. Ini malah merendahkan diri sendiri. Cth: 'Rumus? Dari SMP? Aku bahkan lupa tadi pagi sarapan apa'. Habis itu pake ngejelasin 'Yang tadi cuma menggambarkan seberapa bodoh aku dalam matematika dan bukannya aku betulan lupa sarapan apa'. Jadi sebetulnya karakter dia maunya gimana?! Seolah belum cukup annoying, reaksi, sikap, dan perasaan Candra terhadap kakaknya dijelaskan begitu saja. Nggak ada kaget, marah, sedih, takut, ya... lempeng aja kakaknya kabur. Lempeng aja pas kakaknya ditanyain temannya, bukannya sakit hati karena luka lamanya dibuka, atau kangen karena udah lama nggak ketemu, atau gimana. Jadi terkesan kurang realistis. Buat latar SMA, percakapan, sampai latar Malangnya memang bagus. Tapi bagaimana para tokohnya bersikap terhadap konflik yang ada yang menurut saya tidak seperti yang semestinya terjadi.
Arka juga meski nggak segitunya banget. Suaranya persis suara Candra, jadi saya nggak bisa bedainnya. Mana ada tokoh lain juga, Dika Ratna dll., yang dapat porsi, dan tetap penyampaiannya seperti itu.
Isu ketiga, konfliknya. Who in the right mind wants to hire unprofessional high schooler for a risky, dangerous case?!?! Mana masih di bawah umur pula. Udah dikasih amanah besar, eh si Candra malah banyak omong pas pengintaian. Pas ketemu kakaknya juga seketika jadi centil (?) Pokoknya pas bagian itu jadi kerasa makin nggak realistis. Ini BNN loh, masa sebercanda itu sama kasus besar?
Dan sebetulnya, saya lebih tertarik pergolakan batin Candra dan Arka yang kakaknya sama-sama kabur, sehingga mereka berinisiatif mencari. Itu juga kalau bantuan dari pihak berwajib sudah dirasa buntu dan lama. Ini, tahu-tahu dijadikan detektif (?) Saya nggak ngerti. Karakter Candra yang cuek dan tomboy sebetulnya bisa disambungin ke perasaannya terhadap kakaknya yang terlibat kasus, tapi sejauh ini saya lihat nggak ada pengaruh apa-apanya.
Oh ya, pasien rehab narkotika juga disebut Candra sebagai kriminal. Entah betul entah keliru, tapi saya merasa kurang tepat aja. Lain dengan kurir atau pengedar. Memakai narkotika memang melanggar hukum, tapi bukan berarti pelakunya dicap kriminal yang konotasinya ancaman.
Ya, segitu saja dulu. Semoga nanti ada perkembangan dan akhirnya saya bisa memutuskan seperti apa kesan saya terhadap buku ini. Rant over for now LOL.
Wuah, jujur aku nggak nyangka kalau buku ini bakal sebagus ini. Karena genre-nya teenlit, aku nggak mau berekspetasi yang muluk-muluk. Tapi rupanya aku malah suka banget sama buku ini.
Secara garis besar buku ini menceritakan tentang sekelompok anak-anak SMA yang sengaja dilibatkan dalam kelompok rahasia bentukan orangtua mereka untuk menangkap dalang di balik kasus-kasus yang sudah ditutup oleh polisi.
Ceritanya Candra ini benci setengah mampus sama Arka. Candra, si Mak Lampir pentolan 10 IPS 2 yang dikenal sebagai cewek paling badung di sekolah, sangat kontras dengan Arka yang pintar, tampan, dan merupakan penghuni kelas 10 IPA. Yang ngebuat Candra benci itu karena Arka seorang playboy yang suka tebar pesona. Namun mereka mau-tak-mau harus dekat karena sebuah kasus yang sama-sama menyeret kakak mereka.
Nah, sebetulnya alur kasusnya sendiri sudah sangat familier buat aku, karena mirip-mirip dengan yang biasa aku baca di komik Detective Conan atau serial detektif lainnya. Yang ngebuat aku ngasih apresiasi lebih adalah si penulis ini sendiri. Mengingat belakangan ini banyak penulis belia yang usianya masih belasan menulis cerita dewasa, aku seneng banget ternyata masih ada penulis belia yang menulis sesuai dengan usianya. So, bagiku ini perlu banget dapat apresiasi.
Balik ke bukunya. Porsi yang disuguhkan di sini bagiku pas. Jadi walau fokus ceritanya ala detektif-detektifan, keseharian para remaja yang masih duduk di bangku SMA ini tak lantas ditinggalkan. Banyak scene yang bikin tegang dan penasaran, tapi semua itu diimbangi dengan para karakternya yang gokil abis. Di awal-awal aja aku udah dibikin ngakak sama tingkahnya Candra ini. Lalu ada bagian yang membahas soal perbandingan antara kelas IPA dan IPS. Aku suka banget. Karena apa? Yang dijabarkan penulis itu benar adanya. Kenapa sih kok IPA selalu dipandang lebih tinggi daripada IPS? Yah, aku dulu penghuni kelas IPA dan merasakan banget bagaimana seisi sekolah mendewakan kelas itu. Padahal IPA atau IPS bukan soal pintar nggak pintar, tapi soal pilihan dan juga keahlian. So, stop bilang IPA lebih baik daripada IPS. Oke?
Setting lokasi berada di Lawang, Kab. Malang. Nggak usah diragukan kerasa banget Malangnya. Dari suasana hingga bahasa yang digunakan. Aku tahu soalnya pernah tinggal di Malang juga, hehe....
Karakter-karakternya kuat meski rata-rata gokil.
Oh ya, scene video boneka gajah buatan bokapnya Candra itu menurutku nggak perlu. Dihilangkan juga nggak ngaruh kayaknya. Aku masih nemu typo dalam level yang masih termaafkan.
Quote favorit: "Rokok bisa jadi pintu untuk mengarahkan orang mencoba sesuatu yang lebih." - h. 362.
Ekspektasiku ke penerbit yang sekaliber Elex Media ini kayaknya agak ketinggian. Entah editornya yang terlalu lembek atau gimana, tapi aku bacanya novel ini kayak cerita Wattpad aja. Gaya bahasanya, penataan kalimat, sampai inti cerita dan alur juga. Well, wajar sih karena ini buku pertama penulisnya.
Kereeen! Suka banget. Imajinasiku dapet banget. Sampe bingung mau tim Arka-Candra atau Braja-Candra wkwk. Lebih ga nyangka Braja yang ternyata anaknya ‘Ayah’ sih daripada Safira yang ternyata anaknya si ‘akar’.
Pertama kali baca ini dulu bangeeet di wattpad. Terus kemaren waktu ngubek-ngubek ipusnas justru nemu buku ini dan akhirnya dibaca. Aku nyaris lupa betapa aku suka karakter cewek badas macam Candra. Dulu sebelum baca ini, ada karakter cewek badas lain yang aku suka. Erika Guruh dan Putri Badai dari Omen series.
Karakter Candra di sini beda kok sama Erika. Mungkin kalau duel, Candra masih kalah dibanding Erika. Tapi, bagian itu justru bikin Candra berasa lebih nyata dibanding Erika. Tapi, nggak menutup kemungkinan juga kalo nggak ada sosok cewek badas macam Erika di dunia nyata.
Oke, fokus bahas buku ini. Aku suka perumpamaan soal Arka Candra sebagai matahari dan bulan. Cuman karena mereka sama-sama ada di langit, nggak berarti mereka bisa sama-sama. Jujur aja, dibanding OTP Arka-Candra, aku justru milih OTP Braja-Candra. Soalnya karakter Braja mirip sama karakter Raka. Bedanya, Raka gengsinya keterlaluan.
Buku ini tamat, tapi rasanya masih banyak yang ngganjel. Soal sosok ayah Candra yang tampaknya masih serba misterius (ini udah dijelasin sebenernya tapi aku masih kepo kenapa Candra nggak penasaran dan nyari tahu), hubungan Arka-Candra yang menggantung, dan sosok perempuan yang muncul nemuin Safira.
Yang ngganjel itu sebenernya lebih ke pendapat pribadiku sih. Penggunaan POV banyak orang itu selalu seru buatku tapi di saat yang sama juga riskan. Aku beberapa kali nggak memperhatiin soal itu sampai kemudian bingung dan ngulang baca. Tapi, penulis bikin kita bisa ngerasaiin perbedaan dari beragam pov yang disajikan. Bikin kita sebagai pembaca punya banyak pandangan soal cerita ini.
Anyway, It's a good story. Salah satu buku dari wattpad yang aku rekomendasikan buat dibaca karena cerita emang sebagus itu. Bukan karena jumlah pembacanya yang banyak.
Pertama kali membaca cerita karya kak Lia di wattpad, dan jatuh cinta. Ada 3x baca cerita ini kalau nggak salah di wattpad. Pas jadi buku, dan baca, ada beberapa scene yang memang sedikit diubah agar tidak terlalu bertele-tele . . Kisah antara Abi dan Lita yang sama-sama gengsi dan jaim bikin cerita ini jadi berwarna. Perjalanan mereka tak singkat. Proses untuk dapat membuka hati, menerima satu sama lain, proses pendewasaan diri, banyak hal yang membuat kisah Abi dan Lita menjadi menarik dan mendapat tempat tersendiri di hati pembaca . . Kalau kamu ada rasa, ada hati, jangan disimpan, jangan dipendam, ungkapkan. Jangan bikin orang bertanya-tanya dengan apa yang kamu rasakan. Kemudian buatlah pasanganmu nyaman dengan kehadiranmu. Tak perlu menjadi orang lain, cukup menjadi diri sendiri. Beberapa pesan yang coba disampaikan di cerita ini . . Buat kamu yang suka dengan kisah romance berbalut sedikit komedi, kamu harus baca novel ini. Recomended buat kamu baca di hari libur ini
Salah satu novel bagus yang kubaca di wattpad. Gak hanya romance yang kebanyakan jadi sorotan, tapi juga ada action, humor, dan pembahasan tentang narkoba yang jadi topik utama di novel ini.
Menurutku karakter-karakter tokohnya sudah cukup konsisten dari awal sampai akhir (Candra), ada yang berkembang juga (Arka, Ratna), tapi ada beberapa tokoh yang terkesan agak nge-bland dengan cerita sehingga tidak terlalu tersorot. Alurnya juga udah rapiiii banget, gak ada yang terasa janggal kecuali bagian endingnya yang gantung wkwkwk. Sebel aku, ada lanjutannya kan? Harus ada ya. /dibuang.
Btw, yang paling kusuka dari novel ini adalah gaya bahasanya yang unik dan punya ciri khas tersendiri. Suka banget penggambaran bagian Candra sama temen-temennya di IPS 2 ngobrol ngalor ngidul, nuansa anak-anak bandel kedaerahannya kerasa banget 😂😂😂