"Namaku Dr Upadi. Dandanku sangat cepat. Kudengar perempuan lain lama sekali kalau berdandan. Lebih lama dari Perang Diponegoro...
Ya, tak perlu waktu lama bagiku untuk berdandan. Tapi perlu waktu lama bagi laki-laki untuk menemukanku...
Karena manusia pada dasarnya rindu ketukan. Aku tak kuasa memenuhi kerinduan itu ketika para pejantan tengkurap menggagahiku, meniduri nada-nada dalam tubuhku. Tubuhku hanya berketuk. Tak bernada. Kutelentangkan ketukan itu tanpa tudung saji, kupersembahkan bagi mereka yang hidup seiseng anak-anak tangga yang terus beranak-pinak ketika ditapaki. Sayang sekali aku mengendus bau kebencian pada setiap pencinta alam yang mendaki tangga di tubuhku. Mereka tak suka tangga yang terus-menerus tumbuh lebih tinggi dari ubun-ubunnya."
Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".
Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
Satu karya feomenal lagi dari Sujiwo Tejo. Dalam buku ini, ia berhasil mengeksploitasi sosok dari seorang Drupadi. Tokoh di pewayangan Mahabharata yang berperan menjadi istri dari kelima orang Pandawa. Sebagaimana yang kita tahu, Drupadi adalah penggambaran dari seorang wanita yang kerap menjadi 'objek' atau benda pertaruhan. Ketika itu, kelima Pandawa bersaudara ini sedang bermain dadu dengan para punggawa Kurawa. Ketika kesepakatan berjalan bahwa yang menang akan mendapatkan Drupadi, Pandawa menang. Kurawa yang tidak terima kemudian menghukumnya dengan menarik selendang yang dipakai Drupadi hingga nyaris telanjang.
Atas persetujuan Ibu para Pandawa, Dewi Kunti, Pandawa memboyongnya hingga ke negara Ngamarta yang dipimpin oleh si sulung Yudhistira. Di sinilah cerita dimulai, Drupadi kerap digambarkan sebagai wanita yang tegar dan bermuka tebal. Bukan, bukan make-upnya yang tebal. Tapi penggambaran bagaimana seorang wanita yang ditakdirkan menjalankan hidup sebagai poliandri. Bersuamikan lima ksatria yang gagah perkasa, Sujiwo Tejo menggambarkan benar bagaimana kehidupan di luar kamar hingga di atas ranjang Drupadi. Sangat eksplisit sehingga mengajak pembaca menjadi orang ketiga dalam permainan cinta Dewi yang kerap disamakan cirinya dengan Kresna tersebut.
Penggambarannya juga cukup humanis. Memang tidak lepas dari asal muasalnya dari cerita wayang. Namun ia ditautkan dengan kehidupan manusia modern sekarang ini. Gaya khas Sujiwo Tejo sebagaimana di buku-buku lainnya. Kendati buku ini berbeda model sudut pandang cerita dan penokohan dibandingkan dengan buku karyanya yang lain (misalkan seperti Rahvayana), namun novel yang bagian tulisannya mencapai 279 halaman dapat membuka atmosfer yang penuh dengan nafsu, baik amarah, lawamah, dan mutmainah. Ketiganya dieksploitasi dalam buku yang diterbitkan oleh Tejo Laras Madya ini. Selamat menikmati!
“Ya, tak perlu waktu lama bagiku untuk berdandan. Tapi perlu waktu lama bagi laki-laki untuk menemukanku…”
Buat saya, cara Sujiwo Tejo mengintepretasikan Drupadi dalam buku ini, sebagaimana saat ia mengintepretasikan Shinta dalam Rahvayana 1 & 2, menuntut kita untuk berfikir ulang dan mengenal para tokoh perempuan tersebut lebih dalam sebelum menyematkan penilaian terhadap sosok mereka. Para perempuan yang selama ini hanya dianggap sebagai pemanis cerita, nyatanya punya peran besar yang seringkali disamarkan.
PERINGATAN! Yang menganggap sensualitas wanita adalah barang haram, sebaiknya tidak membaca buku ini. Yang menganggap obrolan seputar ranjang oleh wanita merupakan hal yang tabu, sebaiknya juga tidak membaca buku ini.
Lalu siapa yang sebaiknya membaca? Yang memandang Drupadi bukan sekadar satu perempuan yang dibagi untuk lima laki-laki. Yang melihat Drupadi lebih dari sekadar korban judi. Yang menilai Drupadi tak hanya sebagai pemandu sorak pada perang Baratayuda.
Berlabel novel tapi isinya lebih mirip esai. Dipenuhi jalinan kalimat indah yang maknanya gagal aku tangkap. Dari skala 0-10 (IQ melati - IQ berbintang), kemampuanku memahami apa yang penulis hendak sampaikan berada di angka -3.
Mungkin harus baca ulang tapi aku terlalu malas. Mending tak hibahkan saja bukunya. Ada yang mau?
Mbah Tejo menuturkan bagaimana perempuan seharusnya bersikap melalui tokoh bernama Drupadi. Drupadi adalah istri dari Pandawa, Sang Poliandris yang tidak keberatan dengan Poligami. Mungkin itu yang ingin Mbah Tejo sampaikan, Jika setuju dengan Poligami seharusnya tidak keberatan dengan Poliandri. Kata-kata mengalun merdu, serasa mendengar Mbah Tejo mendalang. Mungkin agak susah dicerna karena gaya bercerita yang berlompatan ke sana-sini tapi jangan bingung, cukup ikuti alurnya dan kalian akan merasa baik-baik saja. Meski pun sebenarnya tidak baik-baik saja. Aku merasa beruntung memiliki buku ini karena sudah tidak dicetak lagi.