pastikan anda sedikit memahami tentang hermeneutika ketika akan membaca buku ini, jika tidak anda akan mengalami hal yang sama dengan saya. Mengulang-ulang membaca, membalik beberapa halaman yang telah dibaca sebelumnya, sehingga membaca buku ini jadi terasa lama ... :D
Da-sein dan Mitda-sein.
Buku yang sebenarnya adalah thesis penulis ini membahas bagaimana sebuah foto akan menjadi hanya sebuah gambar (benda) tak berarti, jika Sobyek-yang-Melihat tidak memaknai, bukankah sesuatu (benda) itu dianggap "ada" jika bermakna.
Sedari awal sampai akhir dalam buku ini, akan banyak dijumpai kata Da-Sein dan Mitda-sein dan parahnya saya tak benar-benar paham apa maksud keduanya sampai bacaan sampai mencapai 48 %. Meski begitu pemahaman saya tak lebih dari 20 % saja.
Sobyek-yang-Memotret dan Sobyek-yang-Memandang
Buku ini berisi puluhan pendapat para fotografer tentang bagaimana fotografer sebagai Sobyek-yang-Memotret memaknai foto (benda) hasil karyanya.
Sebut saja Paul Caponigro, Duane Michale, Augus Sander dan banyak lainnya, termasuk Kassian Chepas (fotografer pertama dari kalangan pribumi).
Satu hal yang menarik adalah kutipan " Fotografer mati setelah fotonya jadi " (hal. 123)
Akhirnya ...
Saya tak bisa menulis lebih banyak lagi, selain pemahaman saya yang kurang, juga karena saya belum selesai membaca buku ini. Suatu saat pasti akan saya selesaikan buku keren karya Seno ini ... :)