Itulah mengapa hidup Randu tidak pernah baik-baik saja sejak hari ia kehilangan Rindu. Sampai suatu hari Nadi hadir dan melihat kekeliruan tersebut dalam diri Randu. Nadi mencoba mengembalikan pandangan-pandangan Randu tentang kesalahan di masa lalu, tentang hujan, bahkan tentang kehidupan. Nadi ingin Randu kembali percaya bahwa hujan bukan penyebab kepergian seseorang. Bahwa tidak semua yang terjadi saat hujan turun adalah salah hujan. Sebab hujan sendiri pun tidak pernah meminta dijatuhkan. Ia jatuh ke bumi karena permintaan orang-orang yang ingin menangis, tetapi tidak ingin sendirian.
Nggak semua hal yang terjadi saat hujan turun adalah sepenuhnya salah hujan. Maksud gue begini, ada beberapa hal yang terjadi saat hujan turun, sebenarnya murni karena kesalahan kita. Tapi, untuk mencari pemakluman dari orang-orang sekitar, kita memilih menjadikan hujan sebagai alasan.” –halaman 63 Dari awal ceritanya udah menarik banget, karena pembaca seolah sedang mendengarkan setiap tokohnya bercerita secara langsung. Ide ceritanya sederhana, ekseskusinya bagus dengan gaya bercerita yang asyik. Aku menemukan banyak sekali kalimat-kalimat menarik, terutama dari Pak Tua. Novel ini terdiri dari enam bagian, dan tiap bagian diceritakan dari POV yang berbeda. Kadang POV1 dan POV3. Perbedaan POV1 dari tiap tokohnya sangat terasa.
Cerita ini lebih dari sekedar apa yang aku sampaikan. Ada banyak ‘rahasia’ dan konflik dari masa lalu Nadi. Di awal alurnya agak lambat karena banyak memberikan gambaran kehidupan tokoh. Memasuki halaman keseratus, baru deh muncul konflik sehingga alur selanjutnya jadi agak cepat dan terburu-buru. Menurutku kalaupun menambah beberapa halaman lagi kayaknya nggak masalah karena endingnya bisa dikembangkan menjadi lebih greget lagi hehe..
Nama penulis ini seperti tidak asing bagi saya. Setelah beberapa kali mencoba untuk menerka-nerka, saya baru ingat kalo tidak salah, saya pernah membaca salah satu tulisannya di buku Love Live Lonely, kumpulan cerita dari banyak penulis di Makassar, terbitan MIB. Pantas saja.
Pertama, saya ingin menyarankan untuk Ummu, agar lain kali mencari editor yang lebih mumpuni dari buku ini. Saya menemukan banyak kesalahan editing dalam buku ini. Mulai dari typo dan yang paling parah sudut pandang antar tokoh yang tertukar. Antara tokoh 'Gue' dan 'Randu'. (Hal 91)
Kedua, membaca Bukan Salah Hujan seperti mengikuti alur cerita yang dilihat dari kacamata film/ skenario film. Visualisasi ceritanya mudah dibayangkan. Beberapa deskripsi adegannya juga mengandung gagasan yang kuat dari penulis. Mungkin ini sama dengan pemikiran yang dititipkan penulis kepada salah satu tokohnya melalui Lepaw :
"Cerita fiksi adalah cara halus buat nyampein kritik maupun pendapat dalam suatu hal" "Memang seperti itulah seharusnya suatu cerita fiksi, mengkiritik secara halus dan menyampaikan pendapat dengan merdu."
Ketiga, saya menyukai kompleksitas karakter yang ada di dalam Bukan Salah Hujan. Penggalian setiap karakternya cukup dalam. Mulai dari Rindu, Nadi, Randu, Pak Tua, dan tentunya Yoga. Bab yang paling menarik perhatian saya adalah bab 'Sebentar Saja'. Disitu saya tidak menyangka bahwa penulis akan memberikan ruang untuk Yoga berbicara. Dengan gaya bercerita yang cukup menarik, seakan-akan sadar akan pembacanya.
Keempat, jika mengingat cerita dalam buku ini. Saya akan menganggap bahwa cerita ini berangkat dari dua objek. Yaitu ; Hujan dan Hotdog. Pesan yang ingin disampaikan dalam buku ini bisa dibilang dilatar belakangi oleh suasana Hujan. Sedangkan ekspresi yang lebih mendominasi menurut saya adalah Hotdog. Sayangnya, walaupun menjadi kata yang mendominasi, Hotdog tidak lebih hanya tempelan yang tidak memiliki esensi.
Kelima, cukup menarik lompatan-lompatan point of view yang sudah berani di eksplor dengan baik. Penulis dengan lihai tenggelam dari tokoh ke tokoh lain tanpa melupakan gaya berpikir tiap karakternya. Tanpa melupakan latar belakangnya. Dan tanpa melupakan hakikat cara berpikir laki-laki dan perempuan.
Keenam, saya ingin mengutip dialog favorit saya dalam buku ini :
"Cinta adalah tindakan. Ia kata kerja, bukan kiasan. Jika ada orang yang suaranya lebih besar ketika menyebut cinta daripada tindakannya dalam membuktikan cinta itu, maka orang itu harus bertanya pada dirinya lagi, benarkah yang ia rasa adalah cinta?"
Bukan Salah Hujan. Novel ini bikin aku kangen Indonesia banget sih. Jadi pengen muter” Jogja :)
Anyway, novel ini ditulis dari beberapa karakter. Jadi you’ll hear the voice from the MC, the love interest, and others. Misalnya bagian 1 suaranya main character, bagian 2 suaranya karakter lain. Trus setting waktunya juga now and then. Which makes it interesting and aku tuh suka sebenernya dengan format kayak gini. Lebih menarik. Tapi format kayak gini bisa Jadi tricky juga. Kalo ga di atur dengan baik, bisa buat pembaca kebingungan. This is what happened in this book. It switched time and characters without notice. So, I feel lost and a bit confused a bit. Saran, maybe it would be better Kalo Di tulis Di awal bab/bagian. Misal “Bab 2 -Jakarta ke Jogja” “NADI” “Jakarta Sekarang”. Maybe something like that. Jadi clear buat pembaca kapan dan siapa yang lagi ngomong di buku :)
This book is quite a page turner. Pengen tau langsung apa sih yang terjadi. But, I think yang bikin aku a bit “huh?” Adalah the main thing dari cerita ini, which is hotdog. Our main character Nadi, cinta banget sama hotdog. So, yeah.. selain hujan, hotdog juga jadi tema utama Di buku ini. Which is not a bad thing. I just wish it would have had a deeper reasons and meaning. (You’ll know what I mean once you read it). Penulis juga sedikit muter” in some scene when explaining something. As a whole the idea of the story is pretty good! :)
The ending.... aaahhh.... Si penulis bikin deg”an. But I adore the ending sih. Cukup lucu dan bikin senyum” sendiri :) It’s kind of sweet!
All in all, walaupun transisinya kadang bikin bingung, tapi transisinya ga ribet kog :) I like the book. But I know it could be better. Also, I hope yang jadi editor buku ini lebih teliti lagi, karena I believe this book would have been much better as well.
Menurut aku buku nya lucu bangeett, masalah nya engga terlalu kompleks tapi tetep seruu. Aku juga suka gimana setiap karakter di kasih tau isi hati nyaa, kasar nya “suara rakyat di dengar.” hehe
Nadi. Namanya keren😭 Harusnya tuh ya si Yoga Atau Randu Atau Rama ngomong. “Nadi, memang kamu bukan nadi yang berdeyut di tangan ku. Tapi kamu selalu membuat nadi ku berdenyut seolah bahagia dekat dengan mu.” EYAK tapi aku team Yoga sih🙏❤️
Nadi pemikiranya juga sama sama keren, sama kayak Pak Tua. Walau suka ganti-ganti pekerjaan, aku yakin Nadi melakukan semua dengan baikk. Mau deh kenalan sama Nadi. Pak Tua. Kalo aja beneran ada sosok kayak Pak Tua di hidup aku. Pasti asik deh, dapet masukan yang memang masuk akal dan enak di dengar. Pak Tua juga kerenn. Seorang orang tua, guru, sekaligus dokter yang hebat. Mantap pak😭 Pak Tua juga udah jaga Nadi di bantu Mbok Iyem kayak anak sendiri. Jadi sayang🥲❤️ Randu. Ish emosian. Lagian ya, kenapa coba nurutin ngebut?! Aga laen. Tapi gapapa. Dia ‘lumayan’ pinter dan pekerja keras. Semoga dia baik deh ke Nadi, ga ke Rindu doang. YOGAAA❤️ Yoga walau aku lebih muda dari kamu sama aku aja mau engga? Yoga lucu deh karakter nya. Mau kerja di usia yang banyak anak belum mau kerja dan membantu. Trus asik lagi. Walau dia mendem perasaan ke Nadi sampe di bentak bentak 2 pihak, dia tetep sabar sangking sayang 😭❤️
Hehe. Overall cerita nya seruu. Semoga Kak Ummuchan bisa sukses jadi penulisnyaa. Aku tunggu kalo ada karya baru❤️
"Kehilangan selalu bisa memberi dua hal; jika tidak mengajarimu menjadi lebih baik, maka kau akan terus terpuruk." -Halaman 132-
Tidak semua hal yang terjadi saat hujan turun adalah salah hujan. Ada beberapa hal yang terjadi saat hujan sebenarnya murni kesalahan manusia itu sendiri. Namun, terkadang kita memilih menjadikan hujan sebagai alasan untuk sebagai pemakluman. Setidaknya itu yang Randu pikirkan. Dulu. Sebelum sebuah kejadian mengambil salah satu hal paling berharga dalam hidupnya dan itu terjadi--menurutnya--karena hujan.
Lalu, ada Nadi, seorang editor yg gedung kantornya tepat di seberang kios hotdog milik Randu. Baginya, tak ada hotdog yg seenak milik Randu. Namun, tiba2 saja suatu hari ia mendapati kios itu tutup tanpa alasan yg jelas.
Novel ini bercerita ttg banyak hal. Terpuruk, berjuang, bangkit, kepercayaan, keluarga, dan tentu saja tentang hati. Lewat Nadi, Pak Tua, juga Yoga, Randu belajar banyak hal. Bahwa Rindu bukan satu-satunya hal yang ia punya di dunia ini. Bahwa membenci bukan salah satu cara untuk menyembuhkan lukamu. Bahwa hidupmu bukan hanya berputar pada 'kemarin', tapi juga untuk hari ini dan besok.
Kebetulan sekali membaca buku ini saat sdh memasuki musim penghujan. Haha. Bacanya jadi penasaran sama rasa hotdog dan tentu saja suasana Jogja. Hanya satu hal yg mengganjal saat membaca buku ini, yaitu penggunaan sudut pandang yg berpindah.
Jujur pas selesai baca ini novel tuh aku bingung sama endingnya. Antara bingung sama "hah gini aja endingnya" karena bener-bener endingnya tuh cuma gitu aja gitu loh kek bener2 bukan ending. Trus sayang aja sih padahal sinopsisnya tuh bagus dan kurangnya novel ini tuh perpindahan POVnya tuh gak dikasih keterangan kek misal "Randu, kemudian baru narasi" jadi agak sedikit bingung sewaktu tiba-tiba enak-enak baca kemudian POVnya ke switch gitu.
Menurutku, Bukan Salah Hujan adalah buku bergenre romance dan slice of life yang sangat ringan dibaca, karena gaya bicara pada narasinya mudah dipahami pakai bahasa sehari-hari (sometimes agak gaul) dan plot ceritanya juga gak yang berliku-liku, walaupun yaa ternyata personally kurang puas sih karena nggak terlalu menguraikan konfliknya dan judul 'bukan salah hujan' ini nggak terlalu menggambarkan isinya
buku ini ku pinjem dari temen, aku suka bangett. berkali-kali baca buku ini yang paling ku inget itu pas si nadi ketemu bapaknya sehabis ziarah dari makam ibunya, itu mewek bngt 😔😔😔😔 selain itu juga yang paling sering ku ulang baca-baca nya tuh di ending setelah dia pulang dari jakarta sama mantannya (?) itu bikin dada ku sesek 4,2/5⭐⭐
i enjoyed this book so much. sebagai orang yang gak suka sama hujan , setelah baca ini aku jadi lebih terbuka. emang bukan salah hujan atas apa yang terjadi , emang bukan salah hujan juga kenapa dia turun🤍
bagi aku, novel ini cukup "sederhana". penggambaran karakternya cukup jelas, dan menurutku cara alur di novel ini berjalan tuh santai dan enak dinikmati.
dengan awal yang sedikit riuh, tapi dibalut beberapa momen manis sampai akhirnya ketemu akhir yang memuaskan.