Jump to ratings and reviews
Rate this book

BEREBUT MAKAN: Politik Baru Pangan

Rate this book
BEREBUT MAKAN melacak sejarah sistem pangan dunia dan penyebab dari gejolak mutakhir pasar bahan pangan. Sementara itu, sediaan dan pasokan pangan semakin menyusut, dan media massa kian heboh dengan apa yang mereka sebut sebagai ‘Krisis Pangan Dunia’. Buku ini mengungkap banyak fakta di sebalik semua gonjang-ganjing sistem pangan dunia yang cenderung kian mengarah pada kekacauan dan konflik. Namun, buku ini juga menawarkan harapan besar dan saran tindakan-tindakan yang dapat dilakukan ke arah suatu sistem pangan dunia yang lebih adil dan lebih berkelanjutan.

BEREBUT MAKAN: Politik Baru Pangan/ Roem Topatimasang (Trans.)/ INSISTPress, 2017. Diterjemahkan dari: Paul McMahon, Feeding Frenzy: The New Politics of Food, London: Profile Books, 2013.

370 pages, Paperback

First published January 1, 2013

9 people are currently reading
16 people want to read

About the author

Roem Topatimasang

57 books35 followers
ROEM TOPATIMASANG, sempat menjadi mahasiswa di IKIP Bandung (1976-1980), itupun lebih banyak dihabiskannya ikut diskusi di luar ruang kuliah dan unjuk-rasa di jalanan, sampai masuk tahanan militer (1978-1979) dan akhirnya dipecat sebagai mahasiswa karena nekad menjabat sebagai Ketua Presidium Dewan Mahasiswa yang resmi dinyatakan sebagai ‘organisasi terlarang’ saat itu oleh kebijakan depolitisasi kampus (Normalisasi Kehidupan Kampus, NKK). Setelah aktif sebagai relawan di banyak organisasi non-pemerintah (ORNOP) di Jakarta dan Bandung (1983-1988), dan setelah melakukan serangkaian eksperimen pendidikan politik kritis di beberapa pedesaan Jawa Barat dan Tengah (1988-1989), dia ‘mengasingkan diri’ di bagian timur Indonesia --Timor, Papua, Maluku (1990-1996). Di sana, dia lebih memusatkan kegiatannya pada pengorganisasian masyarakat lokal melalui program-program pendidikan kerakyatan (popular education), sambil tetap terlibat dalam rangkaian proses-proses pengorganisasian rakyat di pedalaman Sumatera Utara, Sarawak, Semenanjung Malaysia, Thailand Utara, Cambodia, dan Vietnam.

Sampai sekarang, masih aktif memproduksi video dokumenter dan esei-esei visual untuk pendidikan masyarakat dan advokasi kebijakan, khusunya di tingkat lokal kabupaten dan desa. Selain itu, merintis dan mengembangkan kampus-kampus ‘Sekolah Rakyat’ di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Kesibukan lainnya adalah sebagai fasilitator pada program-program pelatihan, redaktur Jurnal Wacana, serta menyunting dan menulis buku-buku terbitan INSISTPress Yogyakarta.

Roem Topatimasang juga dikenal sebagai: penulis, penerjemah, dan penyunting buku-buku sosial transformatif.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (75%)
4 stars
1 (6%)
3 stars
2 (12%)
2 stars
1 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Deny Permana.
19 reviews1 follower
June 20, 2021
Yang mau tahu bagaimana dunia ini berjalan untuk memberi makan seluruh manusia (seharusnya) itu dikendalikan oleh perusahaan multinasional yg oleh mereka bisa seenaknya saja harga menjadi fluktuatif, dari buku ini belajar juga bahwa sistem ekonomi kapitalistik saat ini sangat tidak adil, dan tidak stabil. Buku ini wajib dibaca sih, rekomended deh...
Profile Image for Achmad.
Author 26 books10 followers
Read
June 21, 2018
"Pada aras yang paling dasar, buku ini mengurai potensi biofisika dari planet bumi kita--jumlah luasan lahan, air, energi, dan sumberdaya alam lainnya yang tersedia. Ini adalah pokok bahasan ilmu pengetahuan alam (hard sciences). Tetapi, bukan berarti karena kita mampu menghasilkan bahan pangan dalam jumlah yang cukup, maka semua orang akan bisa makan. Keamanan pangan ditentukan bukan hanya oleh seberapa banyak bahan pangan yang tersedia, tetapi juga oleh apakah orang-orang memiliki saluran untuk bisa memperolehnya. Karena itu, jawaban yang sebenarnya akan tergantung pada aspek-aspek sosial, ekonomi, dan politik dari sistem pangan dunia.

Menelaah krisis sekarang, pada masa kelangkaan nisbi pangan, kita kini berada pada satu masa penuh persaingan ketat. Buku ini menyingkap pertarungan sengit perebutan bahan pangan yang kini terjadi di seluruh penjuru dunia.

Buku ini mengungkap bagaimana negara-negara mengakali perdagangan dan menimbun surplus hasil pertanian, hingga mengakibatkan kelaparan di negara-negara lain; bagaimana para pemilik modal yang rakus mengacaukan pasar dengan cara mempertaruhkan uang mereka pada apa saja; bagaimana perusahaan-perusahaan swasta berlomba mengamankan rantai pasokan bahan pangan sebelum pesaing mereka merebutnya; bagaimana satu barisan panjang pemburu mumpung (fortune-hunters) dan pembuat kebijakan saling berlomba mencaplok lahan-lahan pertanian di negara-negara miskin layakya penjajah zaman dulu. Persoalan pangan pun menjadi isu geopolitik yang kian signifikan.

Kecenderaungan itu berlanjut terus dan kian mengarah pada skenario mimpi buruk penghisapan, kelaparan, dan konflik.

Buku ini juga memetakan suatu pandangan alternatif pilihan jalan masa depan pangan. Pilihan jalan itu coba mengatasi pertentangan-pertentangan seperti pertanian organik vs. rekayasa genetika, pertanian kecil keluarga vs. pertanian komersial skala besar, perdagangan bebas vs. subsidi pemerintah. Pilihan jalan manakah yang akan ditempuh dunia? Jawabannya menjadi urusan para politisi, para jenderal, petani, pemodal, konsumen, tak terkecuali petani-petani yang kini menyaksikan berdirinya pagar-pagar baja mengilap mengelilingi lahan pertanian mereka.

Ya, sistem pangan dunia memang ditandai oleh ketidakadilan, ketimpangan, dan sekeranjang penuh kekacau-balauan ekonomi. Mungkin memang tak dapat lagi disangkal bahwa sistem pangan dunia tidak akan mampu berkelanjutan. Dua bab selanjutnya akan menjelaskan bagaimana keadaan sebenarnya."

--disadur dari Pendahuluan--
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.