Ekspektasi awal, endingnya bakal indah bagi Sofia karena tipikal pertentangan antara orang tua dan perjuangan mimpi biasanya punya hasil akhir pilihan orang tua yang kalah. But, no. Sebenarnya lebih dari itu. Aku suka akhirnya begitu bagi Sofia, tapi agak merasa kurang dengan bagian paling akhir.
Oke, pertama, ini bagus. Narasinya enak dibaca, dialognya juga bisa dibedakan "voice"-nya. Karakter-karakternya juga jelas dan yang paling kelihatan khas adalah Sofia. Bukannya karakter Romi lantas abu2 sih, dia juga oke, tapi pengakuannya soal Kikan itu bikin kesel. 😅
Kedua, terlalu banyak kata berulang di satu kalimat bahkan paragraf. Ada juga kalimat yang intinya sama diulang lagi dengan kemasan berbeda. Jadi, lumayan bikin risih.
Ketiga, Kikan itu karakter jahat. I mean, kupikir bakal banyak drama, ternyata enggak. Dia ini berpotensi, sih, jadi antagonis di antara mereka (selain bokapnya Sofia), tapi kurang dimaksimalkan. Fakta beredar yang berurusan dengan Kikan akan dibalas dengan nggak mengenakkan, nggak dimaksimalkan di sini. Penulis memilih cut masalahnya begitu aja dengan bikin Sofia cuek. Udah. Sayang banget menurutku, hmmm.
Keempat, ending udah cakep, tuh. Aku udah sempat mikir bakal kasih 4 bintang, tapi terpaksa harus dipangkas karena entah kenapa tensi & emosinya anjlok drastis. Cita2 Sofia memang terpenuhi, tapi rasanya kosong gitu aja. Kayak dipotong, tapi bekasnya kasar.
So far, aku bisa enjoy sih sama ceritanya. Pertentangan mimpi orang tua dan mimpi pribadi yang masih menjadi perdebatan ini topik yang relate. Sebenarnya, eksekusi penulis di sini juga realistis, sih. Pencinta teenlit dengan tema tersebut bisa coba baca buku ini.