Api itu semakin membesar dan lidah-lidahnya yang tertiup angin malam meliuk-liuk menyerupai lengan-lengan. Sebuah wajah terbentuk dalam api yang menjilat-jilat, menoleh ke arah Ratri.
“Katakan, apa kau bersedia menjadi tumbal atas dendammu yang kesumat itu?”
Ratri mengerjap. Api itu baru saja berbicara padanya. Suara serak, berat, dan berkeletak api itu tertuju padanya.
“Banaspati….” Ratri berbisik, tak menyangka akan bertemu dengan makhluk itu di hutan ini, ketika dirinya berada di ambang maut.
“Aku tidak bertanya dua kali.” Banaspati kembali berkata.
Ratri mengangguk. “Aku bersedia,” ujarnya.
Jika dewa tak menolongnya, meski dia harus bersekutu dengan iblis, gandarwa, jim perayangan, atau setan terkutuk mana pun, Ratri tak peduli. Saat ini, tujuan Ratri hanya satu: membasmi binatang rendahan…, setan paling terkutuk yang berwujud manusia. Dan, untuk itu, dia harus hidup. Benar, dan, untuk memuluskan tujannya itu, Ratri tak keberatan meski dia harus menjadi tumbal.
***
Dalam dokumen, tertulis nama Yunita Yohana. Namun, dipanggil Mega karena memang ini namanya sejak lahir. Seseorang yang baru belajar menulis, yang hanya bermodal nekat dan bismillah. Ibu satu anak ini sangat menyukai dongeng dan sering disebut “salah zaman” karena menyukai fiksi historis dan dangdut lawas Rhoma Irama.
Pernah menjadi editor di sebuah majalah lokal di Blitar yang bertemakan pendidikan dan budaya, membuat Mega semakin menyukai kisah-kisah bertema sejarah dan budaya. Kini, perempuan ini tengah (sok) sibuk dengan kegiatan hariannya seperti menulis, merajut, sesekali menjadi freelance editor, dan yang terutama… momong si kecil Aryadikara yang semakin lincah.
Kritik dan saran dapat dilayangkan ke laman fesbuk Mega Yohana atau melalui email ke yohanazone@gmail.com.
Sebenarnya secara pribadi, saya kurang menyukai genre fiksi sejarah. Akan tetapi ketika membaca Bara Kesumat pertama kali dalam versi Wattpad, saya tidak bisa menghentikan untuk tidak membaca kelanjutannya. Lalu entah dengan cara apa, saya malah jadi suka dan mulai melirik genre ini. Mungkin saja karena ternyata novel ini bukan ‘murni’ bergenre itu, sehingga mampu mengajak secara lembut—tanpa terpaksa—untuk menjadi pecinta fiksi sejarah itu sendiri. Menurut penulisnya, novel ini bergenre historical fantasy romance. Saya menganggap ini merupakan bagian dari kecerdasan penulis untuk tidak mengentalkan rasa ‘sejarahnya’ sehingga siapa pun bisa menikmatinya—mengingat genre ini kurang populer di Indonesia. Akan tetapi bukan berarti cita rasa histori menjadi kabur, malah justru bisa berjalan beriringan secara sempurna dengan kadar yang seimbang. Penggabungan ketiga genre itu bermain sesuai perannya masing-masing, menghasilkan efek yang sama sekali baru bagi pembaca. Tidak hanya sekadar fantasi yang menyuguhkan imajinasi-imajiasai di luar nalar. Tidak pun juga hanya menyajikan roman-roman yang terkadang menjemukan. Dan bukan pula hanya terkantuk-kantuk menyimak sejarah atau—sebaliknya—kelelahan menyaksikan pertempuran-pertempuran antar pendekar. Sudah bisa dibayangkan ketika ketiganya berpadu? LUAR BIASA, kata yang bisa menggambarkannya. Kisah ini berawal dari dendam Kalyana Ratri kepada bramacorah-bramacorah yang telah membunuh orang tua dan memperkosa dirinya. Atas dendam itu, dia mengikat perjanjian dengan kaum Banaspati. Kisah cinta antar dua makhluk beda dunia itu tercipta, bahkan sebelum bara dendam di hati Ratri itu ada. Kehadiran Wira, pemuda lain yang bergitu mempesona, mengalihkan perhatian dan mengaduk perasaan pembaca. Siapa Wira itu? Baca saja sendiri. Saya tidak akan membocorkan karena itulah keseruan yang paling puncak menurut saya dibanding ketika Ratri berhasil merobek-robek dada pemerkosanya. Sungguh kisah penuh darah dan pembalasan dendam dengan ending yang bertolak belakang. Jika dibandingkan dengan versi wattpad, versi terbit ini lebih detail dalam deskripsi. Ditambah lagi tampaknya penulis memang handal dalam persoalan deskripsi. Dialog-dialog yang dimunculkan pun kuat. Cocok untuk disematkan di masing-masing karakter yang juga sudah tercipta kuat. Meskipun ada perubahan dalam plot—di wattpad plot-nya melompat, di versi buku plot runut—tapi tetap saja ini kisah yang seru. Sebenarnya saya lebih menyukai dengan plot awal seperti di wattpad. Tapi, ini hanya masalah selera. Sebuah review harus adil. Pemaparan kekurangan novel juga perlu demi perbaikan. Saya agak terganggu dengan pengulangan deskripsi terutama untuk menjelaskan karakter (makhluk berkobar, wanita berajah sulur bakung, dan yang semacamnya) dalam jarak yang relative dekat. Hal ini membuat saya sebagai pembaca, menggeram, “Iya, aku tahu! Udah tahuuu!” Hanya itu, selebihnya sempurna! Recommended untuk yang tidak suka sejarah. Dijamin jadi suka. Dan, tentu saja masih tetap bermutu bagi yang benar-benar pecinta fiksi sejarah. Yang ini tidak akan mengecewakanmu!
. “Kidung jati sajatining urip, Labuhane ajar ambekdharma, Surya ratri nyakseake, Sumber driyane ngelmu, Ingkang rumeksa ing penggalih, Lakuning barat anuju gegana iku, Yeku kang sun ajar gamblang, Sebab angin iku kang mutawatiri, Mula bisa a ngemban.” —Kidung Bajra Samirana—
“Aku akan mengucapkannya terlebih dahulu. Dengan mengucapkan sumpah ini, kau menjadi tumbal atas dendammu. Tak ada jalan mundur bagimu. Karena setelah sumpah terucap, selamanya aku akan terikat denganmu dan kau terikat denganku. Dan, tak ada yang dapat memutus ikatan sumpah ini kecuali kematian. Kematianmu, atau kemusnahanku. Apakah kau menerima semua ini, Ratri?”
Ratri berdiri menatap Runjung Alas, “Ya, aku menerimanya.”
Maka, senja itu ketika matahari terbenam dan membakar kaki langit dengan jingg membara, Ratri mengucap sumpahnya. Sapa Pati. Sumpah Mati. . . Berawal dari kemalangan yang menimpa Ratri dan keluarganya. Menyebabkan dia harus mengikat perjanjian sapa pati dengan sosok banaspati untuk membalas dendam pada bramacorah-bramacorah terkutuk.
Kalyana Ratri, gadis lima belas warsa yang harus menerima nasib pahit. Dia harus kehilangan kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya di bunuh oleh bramacorah-bramacorah dengan cara yang sadis. Tidak berhenti di situ, Ratri pun harus menerima perlakuan asusila. Dia diperkosa oleh bramacorah-bramacorah tersebut.
Dengan bantuan sang banaspati, Ratri membalaskan dendamnya pada para bramcorah tersebut. Kematian harus dibalas dengan kematian. Dendam harus dituntaskan. . . Berlabel sebagai novel dengan genre historical fantasy romance membuatku penasaran pingin baca dong. Jadi ketika @ibuk.id mengadakan program gratis baca pada tanggal 29 Februari kemarin, aku memutuskan untuk meminjam novel ‘Bara Kesumat’ ini.
. Menurutku.. novel ini lumayan. Kenapa aku bilang lumayan, karena kurang begitu greget. Ini menurut sudut pandanganku ya.. Aku kurang puas dibagian penyelesaian konfliknya, pun juga endingnya. Bagiku terlalu datar, dan mungkin terkesan terlalu buru-buru untuk menyelesaikan cerita. . . Tapi di luar itu semua, masih bisa dinikmatin kok—saat baca novel ini, berasa lagi nonton film kolosal. So, buat kalian yang suka dengan bacaan berbau jadul, dan beraroma sejarah.. Coba baca novel ini.. 😊 Happy reading... 🤗
Novel ini langsung mengentak di bagian awal. Ketika kau melihat seorang manusia, wanita, diperlakukan secara tidak manusia oleh sekelompok bramacorah! Kau pasti marah. Dirasuki dendam! Nah, itulah letak kejahatan penulisnya di sini. Dia memberikan sebuah dendam kepada pembaca yang padahal dendam itu tidak ada sangkut pautnya dengan diri si pembaca. Singkatnya, pembaca dibuat terbawa suasana. Satu kata dari saya untuk Banaspati: TERKUTUK! Sedangkan kepada tokoh Kalyana Ratri, korban, saya merasa bimbang. Terlalu rumit bagi saya menilai Ratri. Di satu sisi saya merasa kasihan padanya, di sisi yang lain saya juga ingin mengutukinya. Betapa tolol dia itu! Ah, terserahlah lo, deh. Pusing gua. Biang keroknya adalah si penulis!
Ya, saya suka dan puas sekali dengan penggambaran yang dilakukan penulis. Begitu lugas. Hidup. Lincah. Dan, saya sangat merekomendasikan novel ini untuk para sutradara mengangkatnya menjadi tayangan kolosal. Sebab, maaf jika berlebihan, saya rasa sutradara akan banyak terbantu dalam proses penggarapannya. Deskripsinya baik. Kemasan (ceritanya) sudah kolosal. Setiap adegannya hidup, bahkan untuk adegan laganya. Pemetaan plotnya baik. Kalau dalam istilah perfilman, sinematografinya itu dapat. Rapi. Iya, menurut saya, novel ini memakai semacam sinematografi.
Hanya yang saya rasa kurang sreg itu... deskripsi untuk sebutan tokohnya itu... bikin bosan. Berulang-ulang. Mabuk saya. Misal menyebut Madin, berulang kali ia disebut lelaki berewok, sangar, anak buah Juragan Darwo, padahal sebelum-sebelumnya sudah seringkali ia disebut begitu. Kalau sekali dua kali, bolehlah, sebagai pengingat akan karakteristik si tokoh. Begitu juga dengan tokoh-tokoh lainnya. Walaupun ada yang sebutannya cukup bervariasi (misal si Runjung Alas yang punya banyak nama), tapi adakalanya penulis semacam lengah, paten memakai satu sapaan pada paragraf yang rapat; pemuda banaspati...pemuda banaspati... Ya, saran saya, pakai nama saja sudah cukup, mengingat sebelumnya pembaca sudah khatam akan predikat mereka.
Saat menemukan Bara Kesumat sebenarnya setelah bosan dengan bacaan gangster dan romantikanya, serta bilionare dengan setelah petualangannya.. 😁 dan setelah membaca dua bab dari bara kesumat saya langsung gak bisa berhenti. Secara saya lama gak baca novel koyo sandang segala pertarungan ya sejak wiro saling gak terbit lagi 😂 ituuuu sudah lamaaaa sekali bacanya.. Membaca Bara Kesumat membuat aku terhanyut dengan semua tokoh didalamnya. Sampai jatuh cinta sama tokoh Runjung Alas 😘 meskipun fiksi namun mampu membuat kita mempercayai bahwa semu itu nyata di masa lalu. Rekomen banget bagi siapapun yang ingin membaca novel romantis tapi setingan kerajaan dan perkelahian dengan ilmu tingkat tinggi 😊😍 Gak sabar menanti sekuel Bara Kesumat.. JANGAN LAMA LAMA YAAA... 😁
Senang pas tau usul saya nambahin keterangan gimana Ratri dan Runjung Alas bisa nginep di rumah Nyai Paksi diterima penulis. Senang romance cuma antara Ratri dan Runjung Alas, gak ada pihak ketiga. Ceritanya runut dan lebih detil dari versi wattpad. Sebagai penyuka cerita ala Kho Ping Hoo, saya sangat menikmati novel ini.
Bagian gak sregnya menurut saya ada di ending (mudah2an gak spoiler), jauh banget dari bayangan. Manusia dan bangsa lelembut rasanya gimanaaa gitu. (meski fiksi tetap gak sreg)
Pertama kalinya baca fikhis lagi, aku menemukan adanya 'taste' baru dari buku ini. Terutama, setelah vakumnya genre ini dalam ranah literasi kita. Benar-benar seperti bernostalgia dengan sederetan judul yang pernah menghiasi layar perak maupun emas, serta menjadi rangkaian cerbung di beberapa media cetak skala daerah hingga nasional. Jika kalian rindu akan kenangan cerita drama kolosal sejarah, maka memasukkan Bara Kesumat ke daftar baca kalian adalah opsi yang tepat.
keren ceritanya luar biasa, karena memang genre seperti ini masih jarang di Indonesia. versi Wattapad nya aku belum baca, cerita ini ibaratnya seperti air hujan di musim kemarau, ha ha ha kalau yang sudah bosan dengan kisah romance yang sudah pada umumnya coba baca cerita ini. banyak hal yang ditawarkan dari cerita ini. review lengkap ada di blog juga -->>> https://vaaridapunya.blogspot.co.id/2...
Buku ini dibuka dengan sangat menegangkan! Saya beneran ga suka baca yang begitu, apalagi membayangkannya!!! Saya sebagai perempuan ngeri sih, apalagi saya orangnya penakutkan... makin jadi aja tuh......
Tapi di satu sisi, saya ga bisa lepas. Dengan sabar membaca halaman demi halaman karena disinilah semua bermula.
Gaya penulisannya saya suka, soalnya cocok-cocok saja. Alurnya maju dan cepat, perkembangan karakternya juga suka. Ratri walau pun sudah berubah perangainya tapi sisi manis gadis 15 tahunnya masih dapet feel-nya di beberapa bagian.
Dua hal yang saya sayangkan adalah pertama, tidak ada pencantuman rating umur di belakang bukunya, dengan pembukaan bab yang begitu kayaknya bahakan untuk anak SMP atau SMA pun agak kurang cocok. Buat saya loh ya...
Kedua, kurang tebel hehehe. Proses balas dendam Ratri itu kurang panjang dan menyakitkan. Saya sih inginnya setiap orang kebagian jatah gitu.... Lebih puas rasanya.
Plot twist, ada sih. Lumayan bikin kaget juga, karena tidak menyangka akan dibawa ke sanan ceritanya. Dengan tokoh itu pula.
Saya harap semoga ke depannya, makin banyak novel Indonesia yang seperti ini.