“A real man trusts you and advises you. He doesn’t try to invade your personal space or inquire you about everything you do.” (hal. 70)
“Pria gentle itu tidak banyak bicara, apalagi membicarakan hal yang tidak penting. Honesty is his middle name and he will make it obvious through his actions.” (hal. 71)
“Aku nggak nyari pasangan yang sempurna. Menikah bukan Cuma buat seneng-seneng aja, kan?” (hal. 170)
“Kita nggak akan pernah bisa memilih lahir dari orang tua seperti apa, tapi kita bisa memilih untuk menjadi orang tua seperti apa.” (hal. 251)
“Menikah bukan hanya tentang cinta, tapi juga tentang saling memahami dan berbagi.” (hal. 268)
Kisah tentang cinta pertama dan jodoh memang sangat populer dan disukai ketika diangkat dalam sebuah novel romance. Demikian pula dengan kisah cinta Almira dan Akradani ini. Yang menjadi daya tarik lain dari novel ini adalah profesi para tokoh utama yang terbilang jarang diangkat dalam novel romance. Mira yang seorang guru bimbingan konseling dan Akradani yang seorang polisi sekaligus penyidik di BNN. Dilan Andra Wiratama, kakak laki-laki Almira, beserta teman-temannya: Wira, Tora, dan Roy juga anggota kepolisian. Kisah masing-masing tokoh tersebut bersama pasangan masing-masing yang nggak jarang dibumbui kelucuandan keseruan juga menambah daya pikat novel ini. Saya juga salut dengan kepiawaian Kak Alnira dalam menulis alur dan plot sehingga dua profesi yang sekilas jauh bertentangan ini menjumpai keterkaitan dalam keseharian para tokoh tanpa ada kesan dipaksakan.
Karakter Almira yang sedikit tomboi dengan kemampuan bela dirinya namun perlahan berproses menjadi lebih feminin, plus sifat perhatian dan cerewetnya juga kuat dan konsisten dari awal hingga akhir cerita. Sedangkan Akradani yang secara tabiat sedikit bicara, agak terkesan misterius, namun penyayang dan perhatian pada orang-orang terdekat, digambarkan tetap menyisakan ketidaksempurnaan lewat insiden masa lalu. Saya suka penggambaran karakter-karakter yang manusiawi dan dekat dengan kehidupan nyata seperti ini. Kita jadi bisa bercermin dari mereka. Almira dan Akradani pun menjadi saling melengkapi dan chemistry yang terbangun antara keduanya sangat terasa.
Cerita yang dikisahkan menggunakan sudut pandang orang pertama—Almira—ini memiliki alur yang relatif cepat. Penulis juga menyisipkan nuansa lokalitas berupa kuliner dan adat budaya Jambi dan Palembang. Hal ini sesuai penggambaran kedua tokoh utama yang meskipun tinggal di Jakarta tapi berasal dari daerah. Banyak dialog dan adegan romantis sekaligus lucu sehingga saya tak kuasa menahan diri untuk tertawa mengikuti kisah Mira dan Dani. Selain mengundang tawa dan baper dengan keromantisan Mira-Dani, saya juga merasakan kesedihan dan kekecewaan ketika sampai pada konflik keluarga Akradani. Mengingatkan kita akan makna sebuah keluarga dan berdamai dengan takdir dan masa lalu. Pada akhirnya, tak ada manusia yang sempurna, pun dalam mencari pasangan hidup tak mungkin mencari kesempurnaan. Semua berproses, termasuk dalam sebuah pernikahan. Adanya saling memahami dan melengkapilah yang kemudian menjadikan pernikahan bahagia dan cinta yang dibangunlah yang sempurna. Sebuah novel yang sarat pesan kehidupan dan cinta, disampaikan dengan cara yang manis, ringan, dan menghibur. Surely recommended.
“Hidup tanpamu itu bagaikan burung yang kehilangan satu sayapnya, bisa hidup tapi tak bisa terbang.”