Buku ini mengajak Anda untuk membuang jauh-jauh teori yang sebetulnya hanyalah khayalan tak berdasar. Dimulai dari fakta bahwa pemuda yang cukup kebutuhan jasmani dan rohaninya akan melewati masa mudanya dengan aman, tanpa gejolak tak karuan. Juga penyadaran bahwa dalam Islam tidak dikenal istilah remaja (al-muhariq) yang identik dengan kegoncangan dan krisis jati diri. Yang ada, istilah pemuda (syabab) yang lekat dengan semangat maju dan masa depan cerah.
Buku ini, saya pikir, berusaha dibawakan oleh penulis seilmiah mungkin dengan memaparkan berbagai riset untuk dibawa ke dalam konteks narasi penulis. Dengan melihat latar belakang penulis yang juga adalah praktisi di bidang pendidikan anak-remaja, saya pikir buku ini tidak diniatkan ditulis tanpa memiliki pijakan ilmiah yang baik. Hanya saja, ada hal-hal yang membuat saya terganggu dengan keilmiahan buku ini, seperti: 1. Menggunakan 'konspirasi' sebagai sebab-musabab suatu kondisi. Permasalahannya, konspirasi adalah pijakan yang goyah untuk suatu hal yang berbau ilmiah. Yang namanya konspirasi, bisa jadi benar terjadi tetapi kita sulit memiliki bukti yang kokoh untuk klaim itu. Dan hal ini, bagi saya, adalah cacat untuk sebuah narasi ilmiah. 2. Ada beberapa buku sejenis yang juga melakukan hal yang mirip, yaitu mengutip suatu referensi studi tidak dari tangan pertama. Misal, semua studi yang dilakukan oleh peneliti 'barat' dikutip dari buku lain yang diterbitkan juga di 'timur tengah' alih-alih mengutipnya langsung dari paper hasil studinya. Bahayanya mengutip dengan gaya seperti ini adalah, kita tidak melihat melalui bingkai penulis primer dan bisa jadi malah tergiring pada kesimpulan referensi sekunder yang tidak tepat. Hasilnnya adalah kesimpulan yang melenceng parah dari konteks studinya.
Bagaimanapun juga, buku ini patut dibaca bagi keluarga muslim sebagai sumber inspirasi dalam mendidik anak laki-laki. Mengingat penulis berasal dari timur tengah yang melihat dari kacamata masyarakatnya, narasi penulis mungkin saja tidak sesuai dengan kondisi keluarga Indonesia. Tetapi tentu saja banyak hal yang bisa kita jadikan inspirasi :)
Awalnya saya pikir buku ini diperuntukkan bagi orang tua yang mengasuh anak laki-laki, namun ternyata untuk anak perempuanpun juga relevan. Dan satu lagi, disini tak hanya di bahas peran keluarga (orang tua) dalam mendidik anak, namun lebih jauh juga peran masjid sebagai pusat peradaban untuk pemuda.
Barangkali ada beberapa hal yang belum ada atau jarang bisa dipraktekkan di Indonesia, seperti perkemahan dengan pengenalan thdp perang dan peralatan2 yg bisa digunakan. Kalau bisa diwujudkan, tentu sangat bagus. Oh iya, perkemahan disini menurut penulis adalah sebagai penyaluran energi para remaja agar tidak terkena krisis (remaja identik dgn krisis dan kenakalan, menurut penulis ini karena banyak hal salah satunya krn energi para pemuda yang tidak tersalurkan dengan baik).
Saya rasa selain bisa menjadi panduan untuk orang tua mendidik anak (usia 5-belasan tahun), juga bisa menjadi panduan bagi pengurus2 masjid untuk melakukan kegiatan kepemudaan, memperhatikan para pemuda, membinanya untuk perbaikan masyarakat Islam dan masyarakat pada umumnya. Barakallahu fiikum.