Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tanah Air yang Hilang

Rate this book
Buku ini mengumpulkan cerita 19 orang Indonesia yang terpaksa kehilangan tanah air dan tinggal di berbagai sudut Eropa. Mereka berkelana menyeberangi berbagai batas negara dalam ketakutan, tanpa paspor, untuk menghindari pengejaran yang dilancarkan oleh sebuah rezim yang bertahta berdasawarsa lamanya. Ketika mendapat suaka di negara baru, mereka lega. Ketika pulang ke Indonesia, mereka menggunakan paspor negara lain. Pada sebentuk hati yang sudah berpuluh tahun kehilangan tanah air, tanpa paspor yang dulu dipegang ketika meninggalkan Indonesia, pulang adalah heroisme yang datang berulang-ulang sampai akhir hayat.

Mereka sudah menjadi warga negara lain, tetapi Indonesia tetaplah tanah air mereka.

Kami tak punya kewarganegaraan. Inilah nasib yang kita tidak nyana. Padahal, posisi kita jelas. Kita setia dan cinta tanah air dengan tujuan kembali ke Indonesia untuk menyumbangkan sesuai dengan kemampuan kami masing-masing bagi kemajuan Indonesia. (hlm. 120)

Betul, walau sebagai seorang yang terhalang pulang saya mendapat pengetahuan, bisa berbahasa Albania, bisa melihat dunia, tapi apa yang bisa saya sumbangkan untuk Indonesia? Itulah soalnya. (hlm. 211)

Tujuan kami Indonesia, Bung! Bukan Belanda! Pulang untuk membangun Indonesia. Kami akhirnya tinggal di sini karena situasi yang tidak memungkinkan kami pulang pada waktu itu. (hlm. 267)

344 pages, Paperback

First published August 14, 2017

18 people are currently reading
195 people want to read

About the author

Martin Aleida

25 books19 followers
Martin Aleida adalah seorang sastrawan yang lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, pada 1943. Nama aslinya adalah Nurlan.

Martin mengawali karirnya sebagai wartawan di harian Zaman Baru. Profesi inilah yang mengantarkannya ke penjara, ditangkap oleh Orde Baru karena koran tersebut diterbitkan oleh Lembaga Kesenian Rakyat.

Menempuh studi lingustik di Georgetown University, Washingotn D.C, Amerika Serikat, Martin pernah bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah media massa, diantaranya Majalah Tempo di Jakarta. Kini, ia aktif sebagai anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2009 – 2012.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
45 (42%)
4 stars
45 (42%)
3 stars
12 (11%)
2 stars
3 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for Willy Alfarius.
95 reviews9 followers
August 5, 2020
Usaha yang cukup luar biasa dari Martin Aleida untuk menemui secara langsung sekian belas eksil Indonesia yang ada di Eropa. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa pulang ke Tanah Air; paspornya dicabut menyusul pecahnya G30S 1965. Padahal mereka adalah para mahasiswa yang dikirim Sukarno untuk belajar ke luar negeri, yang kelak ketika mereka kembali akan menjadi para pemikir serta perancang pembangunan negara ini. Gejolak politik memaksa mereka untuk tetap bertahan, klayapan kalau dalam istilah Gus Dur, sepanjang puluhan tahun berikutnya, beberapa bahkan meninggal di negeri orang. Orde Baru tentu menjadi gerombolan yang mesti bertanggung jawab atas semua ini.

Sebuah kisah dan tragedi pahit yang didokumentasikan dengan baik oleh Martin, meski belum seluruhnya dapat direkam dan dituliskan. Satu kisah yang menjadi favorit saya adalah dari Farida Ishaja, perempuan eksil asal Medan yang kisah hidupnya paling epic di sini menurutku. Bayangkan, ia dikirim ke Vietnam pada 1964 untuk kuliah sejarah di sana. Setahun kemudian pecahlah tragedi yang membuat ia tak dapat pulang ke Tanah Air. Dalam waktu bersamaan juga pecah Perang Vietnam di mana ia mesti berlindung (dan akhirnya ikut bergerilya) melawan tentara Amerika Serikat, bertahan hidup masuk-keluar hutan untuk berperang disambi tetap belajar di universitas darurat yang didirikan di barak persembunyian. Kerennya, bapaknya melarang ia pulang dan menyuruhnya bergabung dengan pasukan pembebasan Vietnam. Perang berakhir, lantas ia terdampar dan akhirnya menetap di Belanda hingga kini sebagai seorang eksil. Getir. Namun mengasyikkan, juga membakar jiwa-jiwa yang berani melawan!

Ada banyak kisah lain yang tak kalah haru, juga berani, dalam buku ini (ada 17 cerita seluruhnya). Lengkapnya silakan baca sendiri. Yang jelas, buku ini menjadi sebuah peringatan, juga pengingat, bahwa negara ini belum benar-benar menyelesaikan bebannya di masa lalu, termasuk pada mereka yang terhalang, tidak bisa pulang ke tanah tumpah darahnya.

Martin Aleida. Tanah Air yang Hilang. (Jakarta: Kompas, 2017). xviii+326 hlm.
Profile Image for Abiyasha.
Author 3 books14 followers
May 3, 2018
Tanah Air Yang Hilang adalah jenis buku yang wajib dibaca generasi muda yang nggak perlu mengalami kepahitan dan kekejaman rezim Orde Baru. Sembilan belas cerita para eksil '65 ini akan membuka mata banyak orang, saya jelas termasuk, bahwa nggak peduli sudah berapa puluh taun tinggal di negara orang dan jadi warga negara asing, bagi mereka, Indonesia tetaplah tanah air, nggak peduli dengan apa yang negara kita udah lakukan ke mereka.

Cerita mereka juga menyadarkan saya bahwa tragedi '65 bukanlah semata-mata karena satu partai yang kemunculannya dilarang, bahkan sampai sekarang, stigma masih melekat pada partai itu. Banyak dari para eksil ini yang bahkan nggak terlibat secara langsung dalam politik tapi terkena imbasnya. Satu yang paling bikin saya sedih adalah ketika mereka dipaksa memilih untuk mendukung pemerintahan Soeharto atau tetap setia pada Soekarno. Bagaimana bisa sebuah negara melakukan hal itu kepada warga negaranya?

Negara kita masih punya begitu banyak PR jika menyangkut tentang pelanggaran HAM. Saya nggak tahu kapan (jika memang suatu saat terjadi) tapi saya berharap sejarah yang selama ini sengaja disembunyikan akan muncul ke permukaan. Saya ingin kita belajar dan peduli pada sejarah kelam bangsa ini agar nggak terulang lagi. These stories are both heartbreaking and inspiring. Buat saya, 19 eksil beserta ratusan lainnya yang nggak terdokumentasi oleh buku ini adalah pahlawan. Keberanian mereka perlu diacungi jempol dan sudah seharusnya kita malu karena mereka tetaplah menganggap Indonesia sebagai tanah air.
Profile Image for melmarian.
401 reviews136 followers
September 20, 2022
Membaca dan menelusuri buku-buku sejarah terkait peristiwa 1965 bagiku ngeri-ngeri sedap, dan lebih banyak ngerinya. Aku takut akan segala emosi yang timbul saat sedang dan setelah membaca. Juga, banyak dari buku-buku 1965 susah dicari dan harganya bikin nangis.

Tanah Air Yang Hilang disusun oleh wartawan Martin Aleida, berisi kumpulan kisah dan kesaksian (dari tangan pertama) para eksil yang terbuang dari tanah air karena dicurigai mempunyai keterlibatan dengan PKI. Banyak di antara mereka malah tidak punya kecenderungan politik kiri sama sekali, hanya "kebetulan" dikirim belajar oleh Presiden Soekarno ke negara-negara Eropa Barat. Tahun 1965 tiba-tiba situasi politik di Indonesia berubah drastis dan Jenderal Soeharto mengambil tampuk pimpinan, dan kemudian mahasiswa-mahasiswa ini harus melalui screening yang intinya menanyakan apakah mereka mendukung Orde Baru atau tidak. Mereka yang memutuskan setia pada Presiden Soekarno paspornya dicabut, berstatus stateless dan harus mencari suaka.

Dalam lubuk hati orang-orang terbuang ini, Indonesia masih tetap tanah air, meski mereka tidak bisa pulang ke sana.

"Tanah air itu apa?"
"Tanah air? Indonesia tetap tanah airku. Biar digebukin saya tetap wong jowo. Saya tetap Indonesia. Soalnya bukan di mana Anda hidup, tetapi bagaimana Anda hidup. Untuk apa Anda hidup. Ada orang yang di tanah air sendiri, tetapi tidak merasa seperti bertanah air. Ngumpet-ngumpet. Dan mereka berpikir kalau di luar negeri itu enak. Tidak begitu." (Soejono Soegeng Pangestu)

"Kalau ke Indonesia, Bung lukiskan itu sebagai pulang atau apa?"
"Tidak sebagai pulang lagi, tetapi sebagai kunjungan. Saya tak punya tempat ke mana saya pulang. Di sini juga begitu... Berangkat, ya, ke mana-mana..." (Waruno Mahdi)

Salah satu kisah paling mencengangkan adalah kisah Farida Ishaja yang dikirim belajar ke Vietnam tahun 1964, tapi malah terjebak dalam kecamuk perang Vietnam dan mati-matian harus mempertahankan hidup; masuk lubang di tanah kalau ada bom, mencari makanan di dalam hutan.
Sarmadji, sampai masa senja memutuskan tidak berkeluarga, dan bahagia hidup dalam rumah sempit yang diisinya dengan ribuan buku. Dari Wenni Santoso kita mendapatkan kisah pedih seorang istri yang mendampingi suami sampai ajal menjemput.

Kisah-kisah ini pedih, tapi juga penuh harapan. Mereka tidak menyesali semua yang terjadi, bahkan harus kehilangan tanah airpun tidak mereka sesali.
"Begitulah hidup saya: terdampar tetapi ada momen-momen bercahaya. Hidup saya memang sengsara, tetapi terkadang ada cahaya, ada cahaya di dalamnya." (I Ketut Putera)

Aku menutup lembar terakhir buku ini dengan sejuta pertanyaan. Pasalnya, ayahku juga termasuk salah satu mahasiswa yang diberangkatkan ke Uni Soviet tahun 1963. Beliau pulang ke Indonesia tahun 1968 dan menikah dengan ibu tahun 1972. Apakah waktu itu ia juga melalui screening? Apakah waktu itu ia menunjukkan dukungan terhadap Orde Baru (entah sungguh-sungguh atau untuk cari aman)? Aku bertanya pada ibuku dan beliau menjawab tidak ada masalah saat kepulangan ayah dari Soviet. Aku tidak bisa bertanya langsung pada beliau untuk menuntaskan keingintahuanku, karena beliau sudah meninggal tahun 2011. Tapi, jika beliau mengambil pilihan lain waktu itu, atau ada sesuatu yang terjadi, maka aku tidak akan ada hari ini...


Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
August 19, 2017
Kalau pernah membaca buku Kembang-Kembang Genjerkarya Fransisca Ria Susanti, atau Anak-Anak Bom Atom kita akan merasakan kesedihan sekaligus kekuatan serba tidak mungkin yang dimiliki oleh korban. Kalau dalam buku ini, ialah mereka yang ketika masa pergantian pemimpin orde lama ke orde baru, terjebak dalam polemik status eksil. Mereka terjebak di luar negeri ketika g30s meledak di Indonesia, sedangkan orang-orang dalam buku secara langsung atau tidak berkaitan dengan negara-negara yang berhubungan erat dengan paham komunis. Mau tidak mau, mereka secara langsung bersifaat stateless. Dicekal, dikejar, bahkan paspor mereka disita.

Namun, menyedihkannya tidak semua orang dalam buku ini adalah mereka yang memang berafiliasi dengan paham komunis atau sub organisasi PKI. Beberapa bahkan hanyalah mendapat kesempatan tugas belajar ke luar negeri atas perintah Soekarno. Dan ketika Soeharto naik, mereka tidak mau mengakui orde baru. Karena mereka diperintah dan diberangkatkan oleh Soekarno. Maka loyalitasnya hanya untuk Soekarno.

dan nyesek.

Rezim memang kejam.
Profile Image for Andi.
11 reviews
February 2, 2018
I really recommend this book to fellow Indonesians. It tells stories about 19 political and non-political exiles who fled to Russia, China, European countries, and Vietnam, avoiding the cruel regime. Their loyalty towards Soekarno, who commanded them to study abroad in Peking and some communist countries in Europe, resulted them stateless, losing their nationality. Being separated from their families, long adventures to find shelters, changed their names (so that they are not traced), some exiles faced deadly mental stress and guilt (because they cannot take care of their sons and daughters). One exile, found committed to suicide by jumping from the 5th floor of an apartment in NL, in his hand found a handful of indonesian sands wrapped in white cloth, written "Tanah Airku Indonesia" (means: My homeland Indonesia). Tragic, the wounded-guilt that can never be vanished.
There is another story tells about an exile who had paranoia for the rest of his life. Had girlfriends who were always sent by the state as a spy. Reminded me that 1984 by Goerge Orwell under Soeharto's regime was real.
Written by Martin Aleida is a journalist, came and introducing the book to the fellow Intl. master students in Asien-Afrika Institut and telling his adventure around Europe in recording exiles stories in his late 80.
Almost 2 decades after the fall of Soeharto regime, they are back and still alive, able to share their witnesses, that they were afraid to tell. (They were threatened to tell stories, that will costs the life of their family members who still remained in Indonesia).
It made me start to think, who would judge that communism is bad now? Knowing the mass killing that happened, do we just go ahead in development and not realising our shame? How bad the story had been and what we do is just closing our eyes and ears. It would be even more shameful in our generation if we really are ignoring this.
Reading this will help to get another perspective of the history that have been manipulated.
Profile Image for Maddy.
106 reviews3 followers
September 21, 2024
Hampir selalu berkaca-kaca setiap membaca kata per kata yang ditulis dari sesi berbincang singkat dengan 19 eksil yang dirangkum dalam satu buku ini.

Ada satu bagian yang cukup menohok dan membekas bahkan setelah selesai membaca, di bagian Dari Bali Tidak Menari tapi Perang mengenai sesi bincang dengan Ketut Rahendra:

"Bagaimana perasaan Bung?" (Penulis bertanya kepada Ketut Rahendra setelah beliau bercerita mengenai proses mendapatkan kewarganegaraan lain setelah menjadi stateless)
"Saya tidak gembira. Tidak punya perasaan apa-apa. Karena terpaksa. Menyesal. Kok saya terpaksa menjadi warga negara Belanda."


Bagian ini jadi menarik buat saya karena sepanjang buku, semua eksil ditanyakan hal yang kurang lebih sama "Apakah pernah menyesal?" dan jawaban berbeda muncul di bagian cerita Ketut Rahendra. Saat itu saya berpikir "Ternyata ada juga yang menyesali jalan hidup yang dipilihnya, mungkinkah akan ambil jalan berbeda jika di beri kesempatan?".

Tapi pemikiran itu berhenti tak jauh dari situ, beberapa halaman selanjutnya, di bagian penutup cerita Ketut Rahendra, beliau menyampaikan pernyataan final:

"Sampai ke balik dunia, ke Kuba, ikut Vietnam Utara dalam Perang Vietnam, menyerahkan diri pada Belanda, perang lagi di dalam keluarga. Kalau tak teguh tentu menyesali hidup."
"Tidak. Ini sudah risiko pilihan hidup saya."


Saya rasa akan selalu ada ruang untuk berandai-andai, "Bagaimana seandainya saya tidak memilih jalan ini, melainkan yang itu pada waktu itu? Akankah hidup lebih baik bagi saya, bagi orang-orang di sekitar saya?". Namun pada akhirnya, semua yang terlibat rasanya sama-sama tahu konsekuensi dari sikap dan aksi yang telah diambil serta tentunya tidak pernah ada penyesalan telah berpegang teguh pada nilai dan ideologi yang dipercayainya.

Ikut terkesan dengan perjuangan hidup para eksil dalam mencari suaka ke berbagai negara yang mau menerima mereka; sia-sia menjalani studi yang bahkan mungkin tidak bisa dipakai untuk bekerja karena ijazahnya tidak diakui; keselamatan diri dan orang terdekat terancam karena pergolakan politik baik di dalam maupun luar negeri; terhambat untuk kembali ke tanah air hingga dicabut kewarganegaraannya dan tidak pernah punya kesempatan untuk benar-benar bisa pulang ke tanah kelahirannya, Indonesia.

Sekian lama waktu berlalu, semua tampak tak lagi memiliki penyesalan, mungkin masih tersisa sedikit kekecewaan tapi sudah lebih legowo dan berserah pada keadaan. Dengan caranya masing-masing—meskipun sudah tidak tercatat sebagai Warga Negara Indonesia—mereka mengekspresikan kecintaan dan kerinduan mereka pada tanah air, lewat tanaman khas Indonesia yang ditanam di area tempat tinggal; hiasan khas daerah yang dipamerkan di sudut rumah; tumpukan-tumpukan buku perjuangan yang memenuhi seisi penjuru rumah; mendirikan restoran masakan Indonesia; mengajari dan memperkenalkan bahasa Indonesia kepada orang asing; menjadi penerjemah bahasa Indonesia dalam urusan diplomasi politik; dan semua upaya pekerjaan yang mereka lakukan sejauh ini, meskipun tampak kecil tetap berarti besar bagi Indonesia. Mimpi untuk membangun Indonesia masihlah tersimpan meski tak lagi berstatus warga negara dan tinggal nun jauh di negeri orang.

Presiden Indonesia sudah melemparkan janji manis dan secercah harapan bagi para eksil untuk bisa kembali ke tanah air dan memperoleh penyelesaian masalah yang adil, namun sayangnya sampai saat ini para eksil masih menjadi orang-orang klayaban dan penyelesaian masalah masih sangat jauh dari kata tuntas.

Negara berutang banyak pada mereka dan korban situasi politik lainnya.
Profile Image for Aditya Sattvika.
57 reviews
May 12, 2019
Buku ini adalah hasil wawancara Martin Aleida terhadap eksil indonesia yang kehilangan kewarganegaraan pasca tragedi 65
Banyak cerita pilu, dan getir yang disajikan
Bagaimana perjuangan anak bangsa yang berpuluh tahun klayaban tanpa tanah air yg dirampas oleh bengisnya rezim militer
Disini kita diajarkan kesetiaan dan idealisme baja, seperti jawaban seorang eksil yang ditanya mengenai persetujuannya terhadap Jendral Soeharto, "kami dikirim oleh presiden soekarno untuk belajar dan untuk mengabdikan ilmu di indonesia, dan kami hanya setia kepada soekarno" tanpa takut konsekuensi setelahnya

Buku ini ditulis dengan kalimat2 sastra kelas atas, sangat nikmat dibaca

sangat baik dibaca untuk generasi sekarang
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ihsan Ahmadi Atmoko.
7 reviews
March 12, 2024
Hasil wawancara dengan orang “klayaban” di Eropa ini sungguh memberikan gambaran tentang dampak G30S terhadap mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri. Mereka dikirim oleh Presiden Soekarno untuk belajar ke luar negeri agar nanti ilmunya dapat diaplikasikan untuk membangun Indonesia. Setelah pecahnya G30S, mereka dilakukan screening dengan inti pertanyaannya adalah “Pro-Soekarno atau Pro-Soeharto?” Banyak yang memilih untuk “Pro-Soekarno”, oleh karena itu passport mereka dicabut oleh pemerintah Indonesia dan menjadi eksil. Keadaan tersebut memaksa mereka untuk mencari suaka di beberapa negara Eropa. Banyak orang mengganggap kejadian ini sebagai terhapusnya satu generasi intelektual Indonesia.
Profile Image for Nugie.
59 reviews2 followers
January 12, 2024
Setelah G-30-S orang-orang ini dikumpulkan oleh Kedubes Indonesia dan diberi pilihan: Mendukung Pemerintahan Suharto atau tetap setia kepada Sukarno. Pilihan setia kepada Sukarno akhirnya membuat mereka klayaban di beberapa negara Eropa, dicabut paspornya dan kehilangan kewarganegaraan Indonesianya.

Buku ini mengisahkan sebagian dari Orang Indonesia yang terpaksa kehilangan tanah airnya dan berpindah kewarganegaraan. Meskipun sudah berpindah kewarganegaraan, tetapi Indonesia tetaplah tanah air mereka. Tanah air yang diambil secara paksa dari mereka yang mencintainya, sebagaimana cinta mereka kepada Bung Karno sebuah pilihan yang membuat mereka tersebar di beberapa negara Eropa.
Profile Image for Aginta.
7 reviews
July 22, 2019
I never wonder that back then in 1960s when everything was chaos in Indonesia, the same condition also confronted by Indonesian living abroad, even probably they faced a more misery live. Leaving their family, their motherland, begging for new nationality and so on. Thank's to this book which give me a glimps of how hard live was at that time. Yet, the"interview script" which mainly use in this book unfortunatelly never be my cup of tea when it comes to a book. So how about 3 out of 5?
Profile Image for Alessandro Manuel Rustanto Sitompul.
110 reviews3 followers
January 1, 2019
Sejujurnya miris, mendengar beberapa generasi millenial memilih tidak mau balik setelah lulus kuliah di luar negeri, ‘menghilangkan’ pengabdian pada bangsanya....berarti....mereka belum merasakan ‘kehilangan’ tanah air sebagaimana sosok-sosok inspiratif buku ini... yakin gak mau balik? Bacalah dan sebisa mungkin temui mereka!
Profile Image for Alvi Arifin.
18 reviews1 follower
April 25, 2023
Belajar banyak tentang kehidupan eksil di zaman orba. Yang selalu saya ingat, tidak semua orang yang dilarang pulang adalah orang yang pantas diperlakukan seperti itu. Mereka hanya mengikuti hati nurani mereka
Profile Image for ima.
20 reviews
November 1, 2024
as standard as an interview, great insight and experience but not coherent for each other stories but also connected so it feels confusing sometimes (the feeling when read a chapter is i think i knew him before but forget which one bcs too much name talked in this book)
Profile Image for tia.
239 reviews7 followers
February 19, 2024
Selalu menyentuh. Orang-orang hebat yang terpaksa kehilangan negerinya sendiri padahal impian mereka dan ruh hidup mereka ada di negeri yang bahkan ngeanggap mereka pun ngga sama sekali😭
Profile Image for Joshua.
62 reviews2 followers
September 8, 2018
Pertama kali saya mengenal nama Martin Aleida, ketika mengikuti perkembangan IPT 1965. Prosesnya dalam merampungkan buku ini kalau tidak salah sempat disinggung saat itu, dan akhirnya ketika buku ini muncul, tanpa keraguan saya buru.
Kumpulan cerita 19 eksil korban situasi politik Indonesia ini mengajak saya untuk merasakan kondisi panasnya situasi tersebut, serta perjuangan yang harus dihadapinya masing-masing. Dalam prosesnya, mereka dihadapkan pada pilihan-pilihan berikut konsekuensi yang akan menentukan masa depannya di tanah terasing. Mereka berangkat atas nama tugas negara, dan pilihan mereka berakhir atas nama loyalitas. Loyalitas pada identitas Indonesia yang begitu melekat dengan visi revolusi Soekarno saat itu.
Buku ini menangkap kehidupan para korban hari ini; keseharian, tanggapan tentang Indonesia hari ini, dan refleksi setelah melewati masa sulit itu. Saya mengaggumi kesanggupan dan niat bulat penulis untuk menemukan dan mengumpulkan kembali kisah-kisah manusia Indonesia yang terdampar dan tercecer di daerah yang begitu jauhnya.
Saya sangat merekomendasikan bagi para pembaca buku ini untuk melanjutkan menemukan sejarah dan fakta yang pernah dicoba dihapus, dengan membaca buku-buku yang berelasi kuat.
Berikut beberapa rekomendasi saya,
Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno
G30S dan Kejahatan Negara
Profile Image for fiana.
5 reviews
July 14, 2025
Menurut Samardji dari Stichting Perhimpunan Dokumentasi indonesia, hingga 2016 tercatat 130 eksil sudah meninggal dunia di Eropa Barat. Sekitar 30-an hilang tak tercatat.

Butuh 7 hari untuk membaca habis buku ini. Sangat emosional, para eksil memiliki pandangan politik yang berbeda dan keunikan perjalanan hidupnya masing-masing.

Terdapat perkataan dari salah satu eksil, Waruno Mahdi yang membekas di ingatan saya, "... sejak ibu saya harus pindah dari apartemennya ke panti jompo, saya tak bisa lagi mengatakan di mana rumah untuk pulang. Sampai Februari 1967, paspor saya menyebutkan bahwa rumah saya berada di Indonesia, sejak april 2000 dikatakan rumah saya itu di Jerman. Tetapi, di antara dua kurun waktu itu, pasporku sekalipun tak bisa mengatakannya kepadaku."
Displaying 1 - 19 of 19 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.