What do you think?


Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850-1940
Dengan perangkat konseptual tentang formasi sosial dan cara berproduksi, Kuntowijoyo menganalisis struktur masyarakat tradisional Madura dan perkembangannya dalam kurun waktu 1850 sampai dengan 1940. Sebagai satuan ekohistorikal, keunikan Madura adalah bentukan ekologi tegal yang khas, yang berbeda dari, misalnya, ekologi sawah di Jawa. Tipe ekologi tegal itu membentuk pola permukiman yang terpencar, besarnya migrasi ke luar daerah, struktur dan organisasi sosial ekonomi, kepribadian orang Madura yang 'individual centered', dan kepemimpinan politik di tangan ulama. Pendek kata, ekologi tegal telah membentuk sejarah Madura secara menyeluruh, yakni sejarah dengan tema pokok tarik-menarik kekuatan politkm antara ulama lokal dan pemerintah. Kajian semacam ini penting bagi akademisi, pengamat sosial, teknokrat, para pengambil kebijakan, dan siapa pun yang tertarik sejarah sosial. Sebab, pengetahuan tentang latar sejarah sosial suatu masyarakat sangatlah dibutuhkan untuk memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul dalam gelombang perubahan sosial kita di peralihan abad ini.
715 pages, Hardcover
First published November 1, 2002
About the author
Kuntowijoyo
52 books134 followersKuntowijoyo was born at Sanden, Bantul, Yogyakarta. He graduated from UGM as historian and received his post-graduated at American History by The University of Connecticut in year 1974, and gained his Ph.D. of history from Columbia University in year 1980.
His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said.
His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".
His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said.
His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Want to Read
December 12, 2017Thankyou Gramedia I've got 50% discount from IDR 200.000 into IDR 100.000! Happy Harbolnas Day! Now i'm waiting for it is being delivered to my house! >_<
August 3, 2017
Dalam jagad sastra Indonesia, nama Kuntowijoyo sudah bukan nama yang asing lagi. Namanya melejit lewat sejumlah novelnya yang masyhur, seperti novel 'Khotbah di Atas Bukit" dan kumcer "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga'. Cerpen-cerpen karyanya pun banyak yang memenangkan penghargaan sastra. Tetapi, produktivitasnya tidak berhenti di sini. Sastrawan ini juga merambah dunia nonfiksi dengan menulis sejumlah karya yang sangat berbobot dan masih digunakan sebagai referensi hingga sekarang. Salah satunya adalah buku 'Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura' ini. Buku ini sendiri merupakan terjemahan dari disertasinya dari Universitas Columbia pada tahun 1980 untuk memperoleh gelar Ph. D dalam studi sejarah.
Sebagai sebuah karya disertasi yang dibukukan, sudah bisa ditebak bahwa isinya pun tidak bisa jauh dari ragam bahasa penelitian yang resmi. Kuntowijoyo sendiri mengambil fokus pada perubahan sosial yang dialami dan mempengaruhi masyarakat Madura pada kurun masa 1850 - 1940. Sebagai sebuah hasil penelitian juga yang menjadikan buku ini begitu terperinci dalam mengulas aspek-aspek yang turut mempengaruhi perubahan sosial masyarakat Madura, terutama pengaruh alam dan sejarahnya. Kuntowijoyo begitu detail sekaligus total dalam disertasinya ini. Hampir-hampir seluruh bidang kehidupan masyarakat Madura dipaparkan dengan sedemikian terperinci. Dan karena sifatnya sebagai sebuah hasil penelitian, maka bisa dipastikan kalau karya dan data di dalam buku ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Salah satu yang menarik dalam buku ini adalah kultur pertanian tanah di Madura yang bercorak tanah tegalan dengan tanaman-tanaman lahan kering seperti tebu dan tembakau. Ketika harga dua komoditas ini melejit, Pemerintah Kolonial Belanda memerintahkan penanaman tebu dan tembakau secara besar-besaran di Madura sehingga lahan tanaman pangan pun tergusur. Ketika jumlah padi lahan basah sedikit, dan maish tergusur untuk penanaman temu dan tembakau, maka tanaman pangan pun semakin langka. Akibatnya, kelaparan pun melanda. Peristiwa inilah yang kemudian mendorong pecahnya pemberontakan petani pada abad ke-19. Fakta-fakta lain yang turut disinggung di buku ini di antaranya bagaimana sejarahnya Madura menjadi dikenal sebagai pulau garam. Juga, mengapa masyarakat Madura sangat kental dengan kultur NU. Sebuah buku yang akan sangat bermanfaat bagi para pemerhati, pelaku, dan pengamat budaya serta sejarah masyarakat Madura.
Sebagai sebuah karya disertasi yang dibukukan, sudah bisa ditebak bahwa isinya pun tidak bisa jauh dari ragam bahasa penelitian yang resmi. Kuntowijoyo sendiri mengambil fokus pada perubahan sosial yang dialami dan mempengaruhi masyarakat Madura pada kurun masa 1850 - 1940. Sebagai sebuah hasil penelitian juga yang menjadikan buku ini begitu terperinci dalam mengulas aspek-aspek yang turut mempengaruhi perubahan sosial masyarakat Madura, terutama pengaruh alam dan sejarahnya. Kuntowijoyo begitu detail sekaligus total dalam disertasinya ini. Hampir-hampir seluruh bidang kehidupan masyarakat Madura dipaparkan dengan sedemikian terperinci. Dan karena sifatnya sebagai sebuah hasil penelitian, maka bisa dipastikan kalau karya dan data di dalam buku ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Salah satu yang menarik dalam buku ini adalah kultur pertanian tanah di Madura yang bercorak tanah tegalan dengan tanaman-tanaman lahan kering seperti tebu dan tembakau. Ketika harga dua komoditas ini melejit, Pemerintah Kolonial Belanda memerintahkan penanaman tebu dan tembakau secara besar-besaran di Madura sehingga lahan tanaman pangan pun tergusur. Ketika jumlah padi lahan basah sedikit, dan maish tergusur untuk penanaman temu dan tembakau, maka tanaman pangan pun semakin langka. Akibatnya, kelaparan pun melanda. Peristiwa inilah yang kemudian mendorong pecahnya pemberontakan petani pada abad ke-19. Fakta-fakta lain yang turut disinggung di buku ini di antaranya bagaimana sejarahnya Madura menjadi dikenal sebagai pulau garam. Juga, mengapa masyarakat Madura sangat kental dengan kultur NU. Sebuah buku yang akan sangat bermanfaat bagi para pemerhati, pelaku, dan pengamat budaya serta sejarah masyarakat Madura.
April 4, 2018
Sebagai seorang keturunan etnis Madura, saya rasa buku ini cukup memaparkan kehidupan masyarakat yang sangat terpengaruh dengan ekologi itu dengan baik. Berbagai aspek mulai dari ekologi -baik fisik dan sosial- dibahas secara rinci. Data-data yang diberikan juga mudah dipahami dan sangat mendukung dengan narasi-narasi yang disampaikan.
Sayangnya Kuntowijoyo dalam buku ini tidak menggunakan penulisan bahasa Madura yang sesuai, sehingga bagi pembaca yang melek terhadap literasi penulisan bahasa Madura menjadi bingung. Karena selain istilah-istilah tersebut sudah jarang atau tidak dipakai di zaman sekarang, penulisan bahasa Madura yang tidak sesuai sangat mengubah arti.
Namun secara umum, buku ini patut dibaca bagi penikmat sejarah, sebuah catatan lengkap historiografi salah satu etnis di Indonesia.
Sayangnya Kuntowijoyo dalam buku ini tidak menggunakan penulisan bahasa Madura yang sesuai, sehingga bagi pembaca yang melek terhadap literasi penulisan bahasa Madura menjadi bingung. Karena selain istilah-istilah tersebut sudah jarang atau tidak dipakai di zaman sekarang, penulisan bahasa Madura yang tidak sesuai sangat mengubah arti.
Namun secara umum, buku ini patut dibaca bagi penikmat sejarah, sebuah catatan lengkap historiografi salah satu etnis di Indonesia.
December 29, 2025
Mantap nih
Read
March 11, 2019saya ingin membaca dan ingin mempelajari tentang perubahan sosial
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 5 of 5 reviews





