Bermula dari keprihatinan terhadap tindak kekerasan anak yang sudah memasuki tahap gawat darurat, sebuah organisasi berlabel Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) akhirnya terketuk hati. Mereka mewujudkan aksi keprihatinan melalui pelatihan-pelatihan dan penerbitan sebuah buku berjudul Sekolah Nir Kekerasan.
Buku ini ditulis para diaspora Indonesia. Di dalamnya diulas pengalaman praktis para orangtua dan pemerhati pendidikan. Para penulis bercerita tentang potret di belahan dunia, sekolah menjadi tempat menyenangkan dan aman bagi anak.
Saya teringat bagaimana saya mulai menyukai buku-buku bertemakan pendidikan pertama kali: melalui buku Indonesia Mengajar. Bagi saya, buku itu sangat menarik. Mengupas pendidikan tidak hanya dalam sudut pandang teoritis, namun juga dalam kehidupan nyata. Saya sangat kagum, bagaimana pengajar-pengajar muda itu berinteraksi dan menyelesaikan masalah dalam bahasan yang populer dan dari sudut pandang orang yang mungkin tidak memiliki latar belakang sebagai pendidik.
Begitu pula dengan buku ini.
Buku ini mengupas tentang pendidikan tanpa kekerasan diluar Indonesia dengan bahasan populer. Penulisnya yang tersebar di berbagai negara, menuliskan bagaimana anak-anak mereka belajar nilai-nilai dasar sebagai manusia dengan menarik. Sama seperti buku IM, yang membuat buku ini semakin menarik, sebagian penulisnya tidak memiliki latar belakang seorang guru. Itu berarti, mereka menjelaskan arti pendidikan tanpa perundungan (bullying) dari kacamata awam seperti saya.
Buku ini berfokus pada perundungan, yang mana menjadi problema populer di setiap negara. Di Australia misalnya, bahkan gerakan anti perundungan telah menjadi aksi nasional. Begitu pula kisah menarik di Inggris dan Norwegia. Ada bentuk-bentuk pengajaran yang meminimalisir potensi bullying. Begitu pula di Jepang. Meski negara ini memiliki catatan tingkat kekerasan yang cukup tinggi, namun negara itu terus mencoba upaya mengurangi bullying melalui gerakan-gerakan terstruktur. Di suatu bagian, ada juga penulis mulai menerapkan metode yang mereka pelajari di luar untuk diterapkan di Indonesia. Dan itu berhasil.
Tentu saja tidak semua nilai bisa diambil dari buku ini. Ada budaya-budaya yang mungkin bertentangan dengan kultur lokal, yang tidak bisa serta-merta diterapkan di sistem pendidikan Indonesia. Namun setidaknya, para penulis telah menuliskan hal-hal yang mereka pelajari diluar nusantara yang bisa menjadi inspirasi kita semua bagaimana cara mendidik tanpa melalui kekerasan.
Melalui buku ini, saya juga belajar banyak tentang teori pendidikan hingga fakta bahwa pengajaran tanpa kekerasan itu bukan tanggung jawab guru semata.
Saya salah satu orang yang mempercayai bahwa teladan terbaik adalah pengalaman. Buku ini berisi pengalaman-pengalaman orangtua maupun mahasiswa yang sedang studi di luar negeri dan menyekolahkan anaknya di sana. Banyak sekali hal positif yang bisa didapatkan dari buku ini, utamanya tentang program-program sekolah yang menyasar pada anti-bullying. Tak hanya itu, kita bisa melihat betapa sikap dan perilaku guru juga sama pentingnya dalam membentuk karakter siswa.
Sayang sekali ulasan mengenai pendidikan di negara Australia cukup banyak mendominasi, sehingga saya masih penasaran mengenai program sekolah di negara lainnya. Berharap ada jilid kedua yang membahas tentang pendidikan nir-kekerasan di lebih banyak negara.