Mandala Parawansa, tentara satuan khusus TNI AD ini punya misi khusus, membongkar jaringan kasino terbesar di Asia Tenggara. Dia tak menyangka misi tersebut berbalik menyerang dirinya. Malah Mandala yang dijebak. Mandala bukan tentara biasa. Sedikit saja skandal, bisa menghancurkan karier dirinya dan ayahnya, Presiden Raymizard.
Asha Kharisma hanya seorang gadis muda yang mulai merajut impian rumah tangga bahagia. Namun, di malam pernikahan, lelaki yang menikahinya hilang jejak, Asha malah menemukan pria lain seranjang dengannya. Siapa sangka pernikahan yang dia agungkan menarik dirinya dalam intrik, konspirasi tingkat tinggi untuk menjungkalkan kekuasaan. Harga diri serta keselamatannya terancam.
Mandala harus berpacu dengan waktu. Banyak yang harus dia lindungi. Nama baiknya dan keluarga, juga menghentikan rencana musuh politik sang ayah. Lalu bagaimana nasib Asha, gadis tak berdosa yang terseret konspirasi politik itu. Siapa yang akan melindungi dan menyelamatkannya?
Baca kisah Asha dan Mandala ini emang selalu takjub sama pemikiran 2 orang ini. Ceritanya mengalir, versi buku ini lebih rapi. Secara garis besar hampir sama kayak di wp (tapi agak lupa2 jg sih cerita di wp gimana).
Konfliknya rumit, plot twist tidak terduga. Eksekusinya apik. Endingnya suka dan puas.
Kesan pertama saat melihat novel. Bagian cover : duh, ada tulisan 'telah dibaca blablabla' (hehe, agak kapok baca novel yang ada tulisan ini di covernya :')). Di bagian belakang : wih, menarik juga! Dan, ketika membaca Bab 1 : oke, novel ini nggak bisa ditinggalin. Mari dilanjut baca.
Tidak dapat dipungkiri, tulisan di novel ini bagus banget. Diksi yang beragam benar-benar memperindah isi novelnya. Rangkaian kata yang dibuat sungguh bersatu padu dengan baik, membangun cerita yang sulit dilepaskan begitu saja. Selain itu, pembaca bukan hanya disuguhi cerita, tapi banyak ilmu dan nilai-nilai baik yang bisa dipetik dalam kehidupan. Terutama nasihat-nasihat agama. Dan meskipun berisi nasihat, (Mbak/Kak) Susan Arisanti merangkai nasihat-nasihat ini dalam dialog yang mengalir begitu saja, jadi nggak kerasa maksa. Jangan lupa juga, deskpripsi dan dialog ditulis dengan kadar sepadan. Nice!
Mengenai penokohan, dari awal sampai akhir pengembangannya cukup baik. Misal, Mandala yang awalnya nggak kenal shalat, makin ke sini jadi rajin shalat bahkan semakin paham ilmu agama. Untuk ukhti-ukhti yang membaca cerita ini, 99% pasti bakal nganu banget ke Mandala. Oh iya, ada adegan yang benar-benar ngena di hati, yakni, saat Purna ngasihin cincin di detik-detik kemodaran, serta ingatan Mandala soal percakapan mereka tentang kematian dan surga.
Adapun bagian yang dirasa kurang sreg (menurut saya) adalah : Asha dan Athaya kayaknya terlalu akrab sebagai orang yang baru bertemu. Apalagi mereka baru tahu kalau mereka sodaraan, kan? Mungkin kalau dieksplor lagi (terutama di bagian respon Asha) semua itu akan lebih pas. Selain itu alasan ortu tiri Asha menerima lamaran Harun juga agak gimana gitu. Mungkin kalau ditekankan lagi kausalitasnya, pembaca bisa lebih menerima. Sehingga kesan 'nikah karena Allah' tepat sasaran bagi orang awam. Oh iya, sejujurnya kalau boleh sotoy lagi, ada beberapa(banyak bahkan) penulisan format dialog yang kurang tepat. Mengenai watak tokoh, rasanya sudah terlalu banyak dijumpai di banyak cerita (baca : lelaki berhati dingin dan gadis ceroboh) jadi kesannya kurang spesial. Menuju ending, rasanya juga agak flat. Mungkin karena disajikan dalam jumlah halaman yang berlebihan.
Well, overall, novel ini bagus dan bisa dinikmati. Mengenai hal kurang sreg yang tertulis di atas, itu semua tak lebih dari opini saya. Semoga (Mbak/Kak) Susan Arisanti terus melahirkan karya-karya sebagus (bahkan lebih bagus) dari ini.
Yang Ternoda, buku yang aku pilih karena baca sinopsisnya. Jujur, “Tentara Satuan Khusus TNI AD” kalimat ini yang menyeretku untuk meng-keep buku jualanku sendiri, padahal bukunya tinggal satu. Erg... inilah nggak enaknya penjual buku yang hobi baca buku. Kemarin abis baca Dilanika, tokohnya – si Dilan – punya latar belakang pekerjaan sebagai Polisi di bagian kriminal. Dan aku jatuh cinta pada sosoknya. Aku berharap, aku bisa menemukan hal serupa di novel ini. Bagian pertamanya cukup menarik, dimana tiba-tiba Asha terbangun disisi pria yang bukan suaminya. Wah, langsung menantang ini. Namun, saat aku mencoba mengidentifikasi beberapa hal di awal, ada beberapa yang janggal.
Aku baca novel ini karena tidak sengaja menemukannya di salah satu toko buku. Kulihat penulisnya kak Susan, jadi kuputuskan untuk membeli. Ternyata ceritanya tentang Mandala. Penggambaran tokoh yang penulis lakukan tidak jauh beda dengan novelnya yang lain. Entah ya, sepertinya aku hafal nyawa apa yang diberikan oleh penulis kepada setiap tokoh laki-lakinya. Aku suka alur ceritanya. Tapi kenapa akhirannya cuma menggantung ya? Aku butuh melihat bagaimana akhirnya mereka menikah. Apakah mereka masih suka cek cok atau bagiamana?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini memuat banyak nilai kehidupan dan aku menyukainya, tidak hanya tentang cinta tapi juga tentang agama, politik, bisnis dan romantisme anak remaja yang jatuh hati pada orang lebih tua. Jika aku seperti Asha mungkin aku tidak sanggup, aku akan melarikan diri dan memilih tidak terlibat dalam urusan keluarga gila itu, ya aku sebut mereka gila karena benar-benar menyimpan rahasia yang begitu mendebarkan... Dan Mandala benar-benar membuatku gila ketika dia mulai jatuh cinta dengan Asha...
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel ini mengajak pembaca berkelana di dunia politik, dengan intrik dan romansa yang dibalut aroma reliji, juga diselingi dengan beberapa hal seputar sains yang memang selalu ada dalam novel-novel Kak Susan. Banyak pelajaran dan pengetahuan yang didapat, tidak melulu mengenai romasa dua tokoh yang sedang jatuh cinta. Banyak perputaran emosi dan plot twists yang membuat pembaca geregetan. Kata-kata disusun manis, kadang ilmiah, kadang retoris, tidak jarang juga puitis. Oke, itu kelebihannya.
Kekurangannya? Jadi, Novel ini ditulis dengan PoV 3. Sudut pandang fav saya, tbh. Tapi yang terjadi di novel ini adalah, dalam satu kejadian/ scene terlalu banyak sudut pandang yang digunakan. Di paragraf satu menggunakan PoV Asha, di paragraf selanjutnya PoV Mandala. Bahkan tak jarang dalam 1 paragraf menggunkan PoV lebih dari 1 tokoh. Dan kadang ada beberapa scene yang menggunakan PoV tokoh2 minor. Oke, itu memang gaya dan hak penulis. Tapi bagi saya itu cukup mengganggu. Alangkah lebih baiknya satu scene diceritakan menggunakan PoV 1 tokoh, baru ketika berpindah scene ganti PoV. Saya tahu betul kesulitan membawakan PoV 3 dalam bahasa Indonesia adalah kata ganti orang ketiga laki2 dan perempuan sama2 dia, dan untuk bisa konsisten menceritakan 1 scene dengan 1 sudut pandang tanpa berubah-ubah memang sangat sulit, tapi saya rasa Kak Susan bisa melakukan itu.
But overall, novel ini bikin aku nggak bisa move on. I blame my high expectation in man to writer like Kak Susan. Serius, tokoh pria se-villain apapun bisa diolah menjadi pria idaman oleh jari-jari Kak Susan.
cerita bagus saya suka,konflik yg berasa masuk cerita thriller tpi bukan.njelimet konfliknyah,daaann ini cerita spiritual romance yg daebaaaakkkk😘.gk heran sih.authornya emang ahlinya genre ini.