Jump to ratings and reviews
Rate this book

Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau

Rate this book

288 pages, Paperback

First published March 1, 2017

17 people are currently reading
178 people want to read

About the author

Haidar Bagir

38 books39 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
42 (41%)
4 stars
41 (40%)
3 stars
13 (12%)
2 stars
3 (2%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for Ferry Fadillah.
1 review3 followers
June 26, 2017
Banyak muslim dari Mahzab Sunni yang merasa ragu ketika akan membaca buku ini. Alasannya, penulis dan penerbitnya diindikasi terafiliasi dengan Mahzab Syiah. Dalam sebuah sesi wawancara oleh wartawan Madina Online di kantor Haidar Bagir sekitar Depok. Warsa Tarsono menanyakan, "Anda sendiri syiah atau sunni?" yang dijawab berikut: "Saya bukan Syiah dan bukan Sunni. Saya ini orang yang percaya bahwa orang non-Muslim yang baik dan tidak kafir, tidak menyangkal kebenaran saja bisa masuk surga. Bukan Syiah dan Sunni lagi. Saya pernah menulis bahwa non-Muslim tidak identik dengan kafir." Jawaban ini mengukuhkan manifestasi ke-Islam-an Haidar Bagir pada bagian pembuka, yaitu: keterbukaan, pluralisme, dan demokrasi.

Buku ini sebenarnya adalah jawaban dari merebaknya gerakan Islam konservatif yang menemukan panggung terbuka setelah kejatuhan Orde Baru. *1) Kemudian ada juga gerakan Islam trans-nasional yang berupaya mengubah dasar negara berdasarkan keyakinan bahwa tata negara islam (berdasarkan pemahamannya) adalah solusi segala permasalahan umat. Gerakan-gerakan tersebut dan gerakan senada lain dalam titik ekstrim tertentu memiliki dampak yang negatif bagi keutuhan bangsa Indonesia yang dibangun atas keragaman agama dan kepercayaan.

Padahal agama, setelah manusia merasakan manfaat besar dari kemajuan teknologi dan pengetahuan, adalah mata air yang sedang menjadi tujuan mayoritas manusia moderen. Hal ini senada dengan pendapat William James dalam Varieties of Religious Experience (1904), ".... meski "sains" boleh jadi akan melakukan apa saja yg melawan kecenderungan ini, manusia akan terus bersembahyang sampai akhir masa.. Dorangan naluriah untuk bersembahyang adalah konsekuensi niscaya dari fakta bahwa -meski bagian paling dalam dari diri- empirisnya adalah Diri yang bersifat sosial - ia hanya akan bisa menemukan Kawan yang menentramkannya (yakni, "Kawan-agung-Nya") dalam dunia ideal."

Tentu kita tidak mau, disaat musim pencarian agama, para pemuda kita terjebak dalam gerakan ekstrim. Seperti gerakan amar makruf nahi munkar penuh kekerasan, presekusi yg melecehkan hukum dan wibawa negara, agenda makar terhadap pemerintah bahkan ISIS yg belakangan menghancurkan Kota Marawi, Filipina.
...
Haidar Bagir dalam buku ini berusaha untuk mengajak para pemikir muslim kembali mengawinkan Agama dengan Filsafat (yg sempat mesra selama beberapa abad) untuk mendapatkan pemahaman Islam yg lebih spiritualistik-mistis dan holistik. Menurutnya, fokus kepada syariat (bukan meremehkan syariat) semata-mata tanpa dibarengi perubahan akhlak yang baik hanya akan menumbuh suburkan kelompok yang merasa benar sendiri di negeri ini.

Kita perlu belajar dari sejarah penyebaran Islam di negeri ini. Walaupun Sunan Takdir Alisyahbana menyatakan bahwa lapisan budaya Islam telah membawa rasionalisme keagamaan dan ilmu pengetahuan faktanya Islam mayoritas bangsa Indonesia tidak semodernis itu. Lapis Islam pun sesungguhnya masih banyak dikuasai spiritualisme, bahkan panteisme (monistik) yang menekankan kebersatuan manusia dengan alam selebihnya dan Tuhan. Itulah mengapa dakwah walisongo begitu mudah diterima oleh para masyarakat Hindu yang pada masa itu kental oleh mistisme dan wacana esoteris.

Islam Tuhan, Islam Manusia juga berarti bahwa Islam semenjak itu berada dalam ranah manusia tidak akan pernah lepas dari prakonsepsi budaya, kepercayaan, pendidikan dll akan selalu memiliki tafsir yang beragam. Tidak ada satupun ulama atau golongan, sepanjang mereka menggunakan cara ilmiah dalam menafsir, boleh menganggap tafsir yang berbeda darinya sesat atau bahkan kafir.

Terakhir, Haidar juga mempromosikan Islam cinta sebagai basis gerak. Kenyataannya memang begitu. Bukan saja Tuhannya Islam adalah Tuhan kasih sayang yang menyatakan"Kasih sayang-Ku meliputi apa saja" dan "Kasih sayang-Ku menundukan murka-Ku", tetapi juga sebagi al-rahman al rahim: Yang menyayangi seluruh makhluknya tanpa terkecuali dengan semua bekal yang memungkinkannya hidup berbahagia, dan memberikan kasih sayang khusus berupa petunjuk kepada manusia yang mau menapaki jalan-Nya.

Semoga buku yg apabila dibaca dengan kaca mata kritis ini dapat menjadi oase dari padang gurun huru-hara berlatar belakang agama yg kini merebak tidak hanya di Indonesia namun seluruh penjuru dunia ini. Amin.

1) fenomena konservatisme di bahas dalam majalah Tempo edisi 19-25 Juni 2017 dalam sesi liputan khusus bertajuk "Konservatisme dalam Banyak Segi"
Profile Image for Benz.
Author 20 books104 followers
October 7, 2021
(selesai sekali lagi membaca buku ini, akan dibaca lagi, dan akan dibuat reviu khusus di blog bukurepublik.blogspot.com)

Pertama sekali, dari sudut luaran, buku ini sangat bagus sekali. Baik dari sudut kertas serta kulit buku yang digunakan. Sangat seronok memegang ketika membacanya. Ini adalah hal-hal luaran yang patut dipentingkan dalam penghasilan buku ketikamana pada hari ini, dunia buku digempur dengan dahsyat oleh dron-dron gajet.

Kedua, isi buku ini memang mantap! Antara buku Haidar Bagir yang bagus sekali dibaca. Boleh dikatakan Haidar adalah pemikir Islam-Nusantara yang cemerlang dalam mengungkapkan pandangan-pemikirannya. Beliau tidak memilih mazhab mana yang hendak dikemukakan walaupun umum tahu beliau berkecenderungan Syi'ah. Beliau berani mengatakan yang non-Muslim yang baik jua bisa masuk ke dalam syurga, begitulah kurang lebih dikatakan beliau.

Ketiga dan seterusnya, buku ini boleh dikatakan pemikiran eklektik seorang Haidar yang menjangkaui banyak pemikiran dan tradisi, dan berjaya melompati isu Syi'ah-Sunnah. Bacaan beliau yang kaya juga membuatkan beliau boleh memetik banyak sumber tentang filosofi keagamaan.

Akhirnya, buku ini harus dibaca ulang, apatah lagi oleh Muslim di Malaysia yang ketandusan pemikir seperti Haidar.
Profile Image for M Mushthafa.
145 reviews17 followers
August 6, 2017
Meski dihimpun dari berbagai tulisan yang terbit dalam rentang tahun 1986 hingga 2016, alur pemikiran Haidar dalam buku ini terlihat jelas dan cukup sistematis. Apalagi, jalinan sistematika pembahasannya ditegaskan dalam pendahuluan sepanjang 13 halaman. Namun demikian, pada beberapa bagian gagasan yang dikemukakan memang tidak cukup mendalam. Wajar, kebanyakan tulisan dalam buku ini berasal dari media massa populer dengan ruang terbatas.

Upaya untuk menguatkan kiprah agama (Islam) di era kekinian tentu saja masih membutuhkan pemikiran dan aksi lebih jauh. Buku ini dapat dilihat sebagai semacam peta umum yang memuat beberapa gagasan kunci, meski mungkin juga belum cukup lengkap. Haidar, misalnya, belum secara cukup jelas menjelaskan posisi dan strategi Islam Cinta—yang juga mengusung nilai moderasi yang tentu sangat terkait dengan nilai keadilan—dalam menghadapi kapitalisme yang eksploitatif pada orang-orang lemah yang terpinggirkan.

Pada titik ini, paling tidak buku ini ikut mengingatkan para intelektual muslim dan tokoh-tokoh agama lainnya untuk bersama-sama berefleksi dan membaca ulang agama secara kritis demi menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.
https://rindupulang.blogspot.co.id/20...
Profile Image for Rangga EF.
15 reviews
June 23, 2018
Ku pikir kita butuh orang-orang yang dapat berpikir secara luas dalam beragama. Perbedaan Mahzab seharusnya membawa kepada kebaikan setiap individu untuk menerima perbedaan tanpa melihat keburukan. Dalam buku ini banyak disebutkan kata keadilan, ketaqwaan, dan rasionalitas. Keadilan, ketaqwaan, rasionalitas yang seperti apa yang mesti kita cari sebagai jalan kehidupan, hingga perdebatan-perdebatan yang substansial dalam tubuh umat Islam dari jaman Nabi Muhammad hingga saat ini.

Seperti riview orang pada buku ini sebelumnya, benar bahasa yang digunakan sangat mengalir. Tidak ada loncatan pemikiran yang terkadang membuat saya sebagai pembaca awam kebingungan akan maksud penulis. Pembahasan mengenai hadist dan tafsir quran tidak dimaknai sempit, dan mampu menempatkan apa yang semestinya dilakukan.

Jika Haidar Bagir tidak mau dikatakan sebagai Sunni atau Syiah. Ia mesti dikatakan seorang yang Liberal dalam pemikiran. Namun sayang, dia menampik semua perbedaan Mahzab. Baginya, Islam turun sebagai agama tanpa bermahzab. “Kalau seorang seperti saya ditanya, maka saya akan menjawab memang islam tidak mengajarkan Mahzab” (Hal: 173)
Profile Image for Yulio Adi candra.
45 reviews3 followers
July 14, 2017
Buku Islam Tuhan Islam Manusia ini sangat bagus, bahasa yang di gunakan dalam bukuini juga teras lembut dan mengalir. Saat membaca buku ini, kita di ajarkan mengenai islam yang rahmatan lil alamin, islam yang penuh cinta dan kasih sayang. Haidar Bagir juga menyentuh pertanyaan-pertanyaan yang sering ada di benak kita - yang mungkin sulit ditemukan jawabannya. Pertanyaan yang sering mengusik , juga dijelaskan dengan sangat baik dan halus, seakan membaca buku ini seperti berbicara langsung dengan si penulis. Membaca buku harus dengan pikiran yang terbuka, jika tidak bisa terbuka pikirannya, maka pesan dari penulis tak akan tersampaikan dengan baik-malah bisa membuat si pembaca salah paham
Profile Image for Rina.
35 reviews2 followers
December 28, 2020
Buku ini menjadi salah satu buku yang dapat menjawab tantangan dan persoalan beragama Islam di masa kini, di zaman modern.

Islam Tuhan Islam Manusia, menguraikan seluk beluk Islam dari permasalahan yang ada di zaman kacau, khazanah pemikiran Islam, pendekatan2 dalam menjawab permasalahan melalui dialog intra Islam serta dialog budaya dan peradaban yang menghantarkan pembaca pada solusi-solusi dari sudut pandang penulis, yaitu melalui spiritualitas dan Islam Cinta.

Melalui buku ini, menjadikan saya ingin tahu lebih banyak tentang hal-hal esensial mengapa beragama. Lebih spesifik lagi, keterkaitannya dengan filsafat Islam.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
November 12, 2017
Sebuah buku pengantar tentang agam dan spiritualitas di zaman yang kacau yang dikemas dengan efisien dan tak kalah menariknya untuk dijadikan bahan diskusi lebih lanjut bagi para pemuda zaman now. Pak Haidar dengan landasan keilmuan dan penelitian yang cukup komprehensif membuat kumpulan tulisannya ini menjadi layak sebagai sebuah renungan bagi bangsa yang kacau saat ini. Kita perlu lebih banyak belajar dari beliau tentang hakikat kita beragama dan hubungan dengan alam semesta juga manusianya. Semoga dengan membacanya semakin bertambah keilmuan kita dan kesadaran kita akan hakikat beragama.
Profile Image for asih simanis.
207 reviews133 followers
July 4, 2019
If I had read this 10 years ago, it would probably had helped me build a better view of my own religion. Alas, because for so many years I was introduced to Islam from a more rigid and forceful perspective, over the years I’ve lost interest in it.

This book however introduces us to a more tolerant, kind and open minded Islam. A more spiritual Islam, which perhaps is more suitable to modern times—perhaps not only is it more suitable, but even necessary.

Haidar Bagir wrote so humbly, and through his writing, perhaps you will also find a new way of seeing Islam.
Profile Image for putri.
15 reviews
October 3, 2018
Buku ini (sejauh ini) menurut saya adalah buku terbaik untuk mempelajari agama Islam dari akarnya. Penulis juga mencoba untuk menjawab pertanyaan2 sederhana yg masih sering diperdebatkan antar umat muslim hingga sekarang. Yang saya kagumi lagi dari sang penulis ialah kejujurannya dan kerendahan hatinya untuk mengakui bahwa apa yg ditulisnya di buku ini bisa saja tidak sepenuhnya benar.
126 reviews14 followers
February 20, 2019
3.5/5. haidar bagir, cendekiawan muslim moderat dengan wawasan barat. cukup memancing pertanyaan2 batin atas fenomena beragama akhir2 ini. faktual, kaya perujukan ilmuan2 modern maupun tradisional.. menarik sekali...
Profile Image for M Ibnu.
1 review
December 7, 2017
bagus banget
This entire review has been hidden because of spoilers.
34 reviews4 followers
March 26, 2018
Sudah sejak dekade 1900an William James, filsuf & psikolog Amerika sudah meramalkan kebangkit kembali era agama di abad ke-21 ini. Ya manusia modern mengalami kehampaan spiritual, krisis makna, kehilangan visi & keterasingan (alineasi) terhadap diri sendiri. Sehingga manusia modern dihadapkan pada pertanyaan tentang nilai moral & persepsinya tentang makna kehidupan dirinya sendiri (human mind) --Marlyn Fergusson. Memahami agama menjadi hal yang menarik bagi manusia modern.

Masalahnya ajaran agama tak muncul begitu saja. Agama yang notabene dari langit (Tuhan) turun ke bumi. Tugas manusia membumikannya (pribumisasi) agar diterima secara universal. Pada pribumisasi itulah proses budaya terjadi, budaya adalah soal menjadi manusia. Maka masuklah entitas keagamaan itu ke dalam dimensi kemanusiaan. Bisa dalam bentuk pemahaman, penafsiran, & pemaknaan terhadap ajaran agama yang direfleksikan menjadi budaya baru.

Lalu dalam beragama (berislam) bagaimana harus bersikap? Pada intinya berislam harus senantiasa berprinsip pada nilai-nilai ketauhidan (monoteisme), spiritual, & etik. Karena sejatinya berislam adalah terus mencari kebenaran menuju kedamaian yang hakiki.
Profile Image for Wawan Kurn.
Author 20 books36 followers
January 23, 2019
Membantu saya menemukan beberapa bacaan baru dan melanjutkan pertanyaan lain tentang agama dan spiritualitas.
Profile Image for Shariman Arifin.
23 reviews3 followers
October 14, 2019
“Tidak lain dan tidak bukan, aku diutuskan bagi memuliakan akhlak manusia” - Muhammad S.A.W

3 reviews
February 29, 2020
Banyak wawasan yang saya dapati dalam buku ini. Buku ini menawarkan jalan damai antar agama dan khususnya dengan berbagai madzhab Islam.
Profile Image for Rulfhi Alimudin Pratama.
79 reviews
September 22, 2017
Cukup memerlukan waktu lama untuk menghabiskan buku ini. Terlebih dalam buku ini terdapat banyak sekali nukilan yang membuat saya harus membuka referensi. Namun buku ini telah menjelaskan kenapa radikalisme bisa begitu mudah tumbuh subur dikalangan umat islam ataupun masyarakat. Ini disebabkan karena kurangnya pemahaman yang dalam dan komplit mengenai suatu penjelasan ataupun tafsir
Displaying 1 - 19 of 19 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.