Di sini aku ingin belajar pada kelembutan kabut yang bergerak Tanpa mengusik. Aku ingin berguru pada gunung yang tahan Menyimpan dan merawat kerinduannya bertahun-tahun
Aku ingin belajar pada kesabaran magma yang tahu kapan Saatnya harus bicara. Aku ingin berguru pada ketulusan rindu Yang tak pernah berontak pada waktu yang memendamnya
Selulus SMA di Pesantren As-Syafi'iyah ia masuk FSRD ITB dan selesai pada 1987. Tahun 1991-1993 ia belajar di Universita' Italiana per Stranieri, Italia, atas beasiswa dari pemerintah Itali.
Selain sebagai pelukis, ia lebih dikenal sebagai penyair. Sajak-sajaknya dipublikasikan di berbagai media sastra Jakarta, Bandung, dan Malaysia. Selain itu, juga dimuat dalam banyak antologi sajak, antara lain Tonggak IV, Dari Kota Hujan, dan Ketika Kata Ketika Warna.
Tahun 1995 ia mengikuti The 2nd ASEAN Writers Conference di Singapura dan Istiqlal International Poetry Reading di Jakarta. Kini ia giat memotori Sanggar Sastra Tasik.
Puisi-puisi di buku ini memiliki perpaduan keindahan lukisan dengan kemeriahan permainan kata-kata. Pantas saja, selain berpuisi, penyairnya ternyata pelukis yang produktif. Keren ya bisa menggambarkan keindahan ke dalam dua media: kata dan rupa.
Keanggunan dipunyai gelombang Dengan tariannya yang lentur Ketabahan dimiliki karang Yang tulus menerima setiap debur
Keteguhan dipegang ufuk Sebagai pembatas ruang dan waktu Kematangan digenggam matahari Yang rela tenggelam untuk terbit kembali
Sepertinya sederhana, tetapi menyiratkan kedalaman seni lukisan dari bait-baitnya. Sedikit ulasan yang agak panjang silakan dibaca di https://dionyulianto.blogspot.co.id/2...
1. Cinta adalah buku tebal Yang tak pernah akan selesai Aku baca
2. Cinta yang maha besar Hanya mampu diungkapkan Lewat puisi pendek
2014 hal. 36- 37
Buku Berguru Kepada Rindu adalah buku perdana yang aku baca dari penyair Acep Zamzam Noor (sangat telat, ya!). Buku tersebut terdiri dari 60 puisi yang ditulis dalam rentang tahun 2014- 2016. Walaupun terdapat variasi latar dalam kumpulan puisi tersebut, rerata memang mengekspresikan kerinduan yang dalam. Banyak puisi yang begitu dengan konsep cinta, rindu, perpisahan, pertemuan; dan memang pesan- pesan tersebut adalah pesan yang sangat dekat dengan emosi dan perasaan setiap manusia. Kita diajak berkaca bahwa kita banyak meletakkan aspek tersebut dalam keseharian sehingga membuat ekspresi yang begitu hidup. Diksi dan metafora yang sederhana, latar alam, pesan; menjadikan kumpulan puisi ini adalah sebuah kompilasi utuh yang mengajak kita kembali untuk menyelami kerinduan.
Kental dengan diksi natural. Citraan terhadap alam. Dan sangking kalem dan sederhananya, kesahajaannya semakin menguat. . Kumpulan puisi berguru pada rindu adalah puisinya orang yang mengalah. Perlawananpun dieja begitu lembut. . Tapi banyak hal yang penulis dalami dari artikulasi alam. Sehingga ia menjadi kaya terhadap hikmah hikmah. . It, :::: Pada kubangan kubangan tambang akhirnya aku berkaca Betapa berkilaunya sunyi yang digali dari kedalaman tanah Seperti setitik kuarsa di tengah tumpukan lumpur dan pasir . Jika suatu saat aku benar benar ditinggalkan dunia Akan kukubur dalam dalam semua hal ihwal tentang kita Sebatangkara membuatku tak merasa kehilangan apa apa
Dalam buku ini, AZN cukup banyak memberikan pandangannya tentang apa dan bagaimana puisi itu sebenarnya. Sejumlah metafora sederhana tentang rindu dan beberapa hal lain yang mungkin akan lebih baik jika anda temukan sendiri.