What do you think?


The Political Ecology of Bananas: Contract Farming, Peasants, and Agrarian Change in the Eastern Caribbean
This study of banana contract farming in the Eastern Caribbean explores the forces that shape contract-farming enterprises everywhere-capital, the state, and the environment. Employing the increasingly popular framework of political ecology, which highlights the dynamic linkages between political-economic forces and human-environment relationships, Lawrence Grossman provides a new perspective on the history and contemporary trajectory of the Windward Islands banana industry. He reveals in rich detail the myriad impacts of banana production on the peasant laborers of St. Vincent and the Grenadines. Grossman challenges the conventional wisdom on three interrelated issues central to contract farming and political ecology. First, he analyzes the process of deskilling and the associated significance of control by capital and the state over peasant labor. Second, he investigates the impacts of contract farming for export on domestic food production and food import dependency. And third, he examines the often misunderstood problem of pesticide misuse. Grossman's findings lead to a reconsideration of broader debates concerning the relevance of research on industrial restructuring and globalization for the analysis of agrarian change. Most important, his work emphasizes that we must pay greater attention to the fundamental significance of the "environmental rootedness" of agriculture in studies of political ecology and contract farming.
292 pages, Paperback
First published January 1, 1998
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 1 of 1 review
October 6, 2023
Halo, Kerabat !
Studi kasus ini mendalami ekologi politik pertanian kontrak pisang di Kepulauan Windward, Karibia Timur. Penelitian ini, berdasarkan karya Lawrence Grossman, menggali dampak industri pisang terhadap petani, dengan fokus pada pertanian kontrak. Penelitian ini menyoroti tiga isu sentral: deskilling petani, dampak ekspor terhadap produksi pangan dalam negeri, dan penggunaan pestisida.
Penelitian menunjukkan bahwa pertanian kontrak, di mana petani menjual hasil pertanian mereka kepada pembeli dengan perjanjian sebelumnya, memberikan jaminan pasar tetap dan bantuan input pertanian. Meskipun memberi kepastian, skema ini menghadapi tantangan, termasuk ketidaksetaraan kekuatan tawar dan konflik kebijakan.
Dalam konteks pertanian kontrak pisang di Kepulauan Windward, penelitian menyoroti perubahan dalam produksi pangan lokal dan ketergantungan terhadap impor pangan. Keanggotaan dalam Pasar Tunggal Eropa (SEM) dan persaingan dengan impor Amerika Latin menyulitkan petani lokal. Keputusan SEM menghapuskan tarif preferensial yang melindungi produsen lokal, memberikan peluang lebih besar bagi produk pisang Amerika Latin. Ini menciptakan tantangan signifikan bagi ekonomi lokal.
Pertanian kontrak juga menyentuh aspek lingkungan. Penggunaan pestisida yang berlebihan dan pola produksi yang tidak beraturan menimbulkan risiko lingkungan. Kontrol modal dan negara atas praktik-produktivitas juga menyebabkan erosi tanah yang merugikan ekosistem. Pengelolaan lingkungan dalam pertanian kontrak sangat penting untuk mempertahankan keseimbangan ekologis.
Namun, penelitian juga menyoroti kompleksitas hubungan manusia-lingkungan. Pola produksi pisang tidak selalu mengikuti musim, dan petani memiliki kebebasan dalam fase produksi tertentu. Meskipun dampak globalisasi signifikan, analisis mengungkapkan bahwa pengaruh lokal dan kebijakan pemerintah memainkan peran penting dalam menentukan hasil pertanian.
Kesimpulannya, studi ini menyoroti ketegangan antara pertanian kontrak, ekonomi lokal, dan lingkungan. Sementara pertanian kontrak memberi jaminan pasar, ia juga menciptakan ketidakpastian dalam produksi pangan lokal dan risiko lingkungan. Dalam konteks globalisasi, pengelolaan pertanian kontrak membutuhkan pendekatan holistik yang mempertimbangkan keberlanjutan ekonomi dan lingkungan lokal.
Pentingnya melibatkan perspektif ekologi politik adalah kunci untuk memahami dinamika kompleks ini. Dengan mempertimbangkan interaksi manusia-lingkungan dan kekuatan politik-ekonomi yang mempengaruhi pertanian kontrak, kita dapat mengembangkan kebijakan yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang kompleksitas pertanian kontrak pisang di Kepulauan Windward, membantu memahami tantangan dan peluang yang dihadapi petani serta dampaknya pada lingkungan lokal.
Hatur nuhun.
Studi kasus ini mendalami ekologi politik pertanian kontrak pisang di Kepulauan Windward, Karibia Timur. Penelitian ini, berdasarkan karya Lawrence Grossman, menggali dampak industri pisang terhadap petani, dengan fokus pada pertanian kontrak. Penelitian ini menyoroti tiga isu sentral: deskilling petani, dampak ekspor terhadap produksi pangan dalam negeri, dan penggunaan pestisida.
Penelitian menunjukkan bahwa pertanian kontrak, di mana petani menjual hasil pertanian mereka kepada pembeli dengan perjanjian sebelumnya, memberikan jaminan pasar tetap dan bantuan input pertanian. Meskipun memberi kepastian, skema ini menghadapi tantangan, termasuk ketidaksetaraan kekuatan tawar dan konflik kebijakan.
Dalam konteks pertanian kontrak pisang di Kepulauan Windward, penelitian menyoroti perubahan dalam produksi pangan lokal dan ketergantungan terhadap impor pangan. Keanggotaan dalam Pasar Tunggal Eropa (SEM) dan persaingan dengan impor Amerika Latin menyulitkan petani lokal. Keputusan SEM menghapuskan tarif preferensial yang melindungi produsen lokal, memberikan peluang lebih besar bagi produk pisang Amerika Latin. Ini menciptakan tantangan signifikan bagi ekonomi lokal.
Pertanian kontrak juga menyentuh aspek lingkungan. Penggunaan pestisida yang berlebihan dan pola produksi yang tidak beraturan menimbulkan risiko lingkungan. Kontrol modal dan negara atas praktik-produktivitas juga menyebabkan erosi tanah yang merugikan ekosistem. Pengelolaan lingkungan dalam pertanian kontrak sangat penting untuk mempertahankan keseimbangan ekologis.
Namun, penelitian juga menyoroti kompleksitas hubungan manusia-lingkungan. Pola produksi pisang tidak selalu mengikuti musim, dan petani memiliki kebebasan dalam fase produksi tertentu. Meskipun dampak globalisasi signifikan, analisis mengungkapkan bahwa pengaruh lokal dan kebijakan pemerintah memainkan peran penting dalam menentukan hasil pertanian.
Kesimpulannya, studi ini menyoroti ketegangan antara pertanian kontrak, ekonomi lokal, dan lingkungan. Sementara pertanian kontrak memberi jaminan pasar, ia juga menciptakan ketidakpastian dalam produksi pangan lokal dan risiko lingkungan. Dalam konteks globalisasi, pengelolaan pertanian kontrak membutuhkan pendekatan holistik yang mempertimbangkan keberlanjutan ekonomi dan lingkungan lokal.
Pentingnya melibatkan perspektif ekologi politik adalah kunci untuk memahami dinamika kompleks ini. Dengan mempertimbangkan interaksi manusia-lingkungan dan kekuatan politik-ekonomi yang mempengaruhi pertanian kontrak, kita dapat mengembangkan kebijakan yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang kompleksitas pertanian kontrak pisang di Kepulauan Windward, membantu memahami tantangan dan peluang yang dihadapi petani serta dampaknya pada lingkungan lokal.
Hatur nuhun.
Displaying 1 - 1 of 1 review


