“Feminisme menyadarkan kita akan ketidakadilan gender dalam masyarakat kita, di manapun kita berada. Kemudian tentu saja dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang mempersoalkan dan menganalisis ketidakadilan itu secara kritis, dan berusaha mengubah keadaan. Namun kalau kita sedang berada di tengah sebuah negara pascakolonial, alias di belahan dunia yang sering disebut dunia ketiga, kritik feminis semacam itu mudah menjadi buah simalakama. Di satu sisi, tentu saja kritik itu perlu dan relevan untuk menggugat ketidakadilan gender yang ada. Di sisi lain, saat kritik itu diutarakan, ia berpotensi dijadikan bagian dari wacana kolonial, yaitu sebagai bukti bahwa masyarakat setempat bersifat patriarkis, kolot, dan represif. Di situ kemudian kolonial sering mencitrakan masyarakat barat sebagai ‘lebih maju’, dalam arti lebih adil gender. Masyarakat dunia ketiga seakan-akan perlu dibimbing dan didampingi agar kemudian mencapai kemajuan yang sama seperti yang (konon) dimiliki dunia barat.”
Katrin Bandel lahir 29 Desember 1972 di Wuppertal, Jerman. Menyelesaikan doktor dalam sastra Indonesia pada tahun 2004 di Universitas Hamburg, Jerman, dengan topik “Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam Prosa Modern Indonesia”. Puisi, cerpen, dan eseinya dimuat di Cyber Graffiti, Ini...Sirkus Senyum, Graffiti Imaji, Dian Sastro For President!, Batu Merayu Rembulan, Esei-esei Bentara 2004, Sastra Pembebasan, Les Cyberlettres, On/Off, mejabudaya, Jurnal Cerpen Indonesia, Bentara, Horison, Basis, Kompas, Bernas, Minggu Pagi, Suara Merdeka, dan di situs sastra cyberpunk Indonesia www.cybersastra.net. Katrin juga seorang pelukis dan pernah berpameran tunggal di ViaVia Café Yogyakarta. Saat ini menetap di Yogyakarta dan menjadi dosen tamu mata kuliah “Teori-teori Budaya” dan “Gender Studies” di program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.[
Buku ini menyadarkan saya bahwa sesungguhnya kritik feminis merupakan hal yang dilematis, utamanya bagi masyarakat di dunia ketiga. Pasalnya, dengan adanya kritik ini, ia dapat menjadi sebuah wacana kolonial yang membuktikan bahwa negara dunia ketiga ternyata bersifat patriarkis. Dari sanalah wacana kolonial mencitrakan bahwa negara-negara di Barat sana lebih maju dan 'adil-gender', sementara negara dunia ketiga seolah membutuhkan bantuan mereka untuk dapat mencapai hal yang serupa. Feminis dunia ketiga seolah menjadi latah, ujug-ujug menyamakan gerakannya dengan feminisme yang ada di negara-negara Barat sana. Padahal apakah memang permasalahan yang kita hadapi benar-benar sama? Sepertinya tidak juga. Namun, sesungguhnya saya tak begitu ambil pusing. Sesungguhnya feminisme memang masih diperlukan dan relevan--tergantung konteks dan untuk apa dia digunakan--di negara dunia ketiga. Hal yang saya pribadi bisa lakukan adalah dengan terus belajar dan mencari tahu. Buku ini merupakan salah satu jalannya.
Bagian favorit saya dalam buku ini adalah bab dua, tentang gender dan posisionalitas. Ini merupakan salah satu hal terpenting--setidaknya bagi saya--saat ini dalam lingkaran kajian gender dan feminisme. Karena, ya, sepertinya memang sudah bukan zamannya lagi bila perempuan beraksi for the sake of perempuan saja. Karena bila kita mengutip bell hooks... (ya sudah, baca kutipan beliau yang sudah saya sukai di profil saya saja ya, biar gampang).
Kupikir aku bisa menghabiskan buku setebal sekitar 130 halaman ini hanya dalam satu-dua hari. Sayangnya, salah. Tulisan-tulisan di dalamnya menyajikan cerita dan teori yang butuh setidaknya beberapa jenak untuk membuka tab mesin pencarian demi aku yang awam ini bisa memahami lebih lanjut. Ditambah lagi, penulis sepertinya ingin "mengusik" pemikiran pembaca dengan pertanyaan-pertanyaan hipotesisnya.
Alasan membuka buku ini cukup sederhana, aku membuat daftar bacaan dengan tema tertentu selama tahun 2021 ini. Salah satu tema yang kuingin dalami yakni gender dan seksualitas. Buku ini ditulis oleh seorang yang berkecimpung langsung dalam kajian gender dan kajian pascakolonial sehingga ia bukan "penulis sok pakar". Buku ini juga menjadi rekomendasi nomor wahid pasanganku yang tentu saja aku tidak bisa berkata tidak membaca buku ini. Meski memang, perlu kepelan-pelanan dalam mencerna setiap tulisan di buku ini.
Ada 10 esai reflektif dalam buku ini. Kubilang reflektif karena hampir setiap tulisannya terselip pengalaman-pengalaman penulis yang dihubung-hubungkan dengan topik yang sedang dibicarakan. Unsur seperti ini menurutku penting karena pendalaman sebuah esai akan lebih kuat bila ada unsur pribadi/personal dari pembuatnya. Satu contohnya yaitu esai "Dilema Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial" yang diawali dengan cerita penulis bertemu dengan seorang wartawan kulit putih Eropa yang mempertanyakan keislaman Indonesia yang semakin masif padahal sedang membicarakan dunia sastra Indonesia.
Sepertinya sudah jelas apa yang menjadi benang merah buku ini: kajian gender yang dihubungkan dengan keilmuan pascakolonial. Aku yang sama sekali belum tahu tentang apa itu pascakolonialisme seperti terbangunkan dengan definisi, ciri-ciri, dan dampaknya. Kartu as dalam membicarakan pascakolonialisme yakni wacana kolonial. Sederhananya, wacana kolonial memberikan gambaran bahwa penjajah (masyarakat dunia pertama) perlu membantu mereka yang terjajah (masyarakat dunia ketiga). Meski setiap tulisan mengangkat topik berbeda, wacana kolonial ini hampir tidak pernah absen dijabarkan di sana-sini. Tendensi ini sepertinya merupakan kesengajaan penulis agar pembaca lebih paham akan wacana kolonial dalam dunia pascakolonial.
Satu esai reflektif yang jadi favorit yaitu "Apa Itu, Seksualitas yang Normal?" Keseluruhannya menjelaskan tentang sejarah normal/abnormal seksualitas dari yang dulu sepertinya begitu fluid, kini menjadi terkotak-kotakkan. Mari berterima kasih kepada wacana kedokteran Barat abad ke-19. Dari semuanya, yang membuat tulisan ini begitu dekat denganku yakni opini seorang laki-laki gay asal Australia yang terheran-heran dengan hubungan dua laki-laki Indonesia yang tinggal dalam satu rumah.
Begitu banyak istilah-istilah, teori-teori, tokoh-tokoh yang disebutkan oleh penulis dalam buku ini. Dari relasi kuasa, posisionalitas, marketplace masculinity, sampai Foucault, Spivak, dan Bhabha. Rasanya semua itu bagai peluru-peluru yang ditembakkan langsung ke hipokampusku.
Meski begitu kaya, buku ini dibawakan dengan pelan-pelan. Buku ini seperti seorang nenek yang menceritakan hal-hal penting kepada cucunya melalui dongeng sebelum tidur yang melenakan.
Membaca buku ini, saya merasa ingin meledak sekaligus tertantang karena membicarakan isu gender dengan perspektif pascakolonial memang rumit dan dilematis. Membicarakan hal tersebut memicu pertanyaan seperti bagaimana agar tidak terjebak ke snobbism satu nilai atas nilai lainnya sembari tetap menggunakan cara pandang yang adil gender. Walaupun sekarang kita secara umum menganggap penjajahan sebagai sesuatu dari masa lalu, toh sisa-sisa warisan darinya masih hidup dalam benak kita secara kolektif. Wacana kolonial terus direproduksi secara tidak sadar dan terus menerus dengan pilihan-pilihan yang (nampaknya) berada di ranah privat; pilihan untuk memakai/tidak memakai kerudung atau pilihan untuk bersikap terbuka dengan seks atau tidak.
Adalah sebuah aktivitas yang bersifat cathartic membaca buku ini karena, secara aneh atau kebetulan, beberapa hal yang disinggung dalam esai-esai yang ada seakan menjawab kebimbangan serta dilema personal yang saya rasakan awal tahun ini. Saya bisa melihat identitas saya yang terombang-ambing dalam arus deras modernisasi dan menolak untuk dikotak-kotakkan melewati esai-esai ini.
Esai favorit saya dari buku ini adalah tentang perihal membicarakan seks dalam sastra di Indonesia. Ada kecenderungan di dunia sastra maupun di kalangan masyarakat tertentu untuk mengaitkan seks dengan liberasi diri; seks seakan-akan bersinonim dengan "kehidupan yang lebih berarti dan merdeka". Di saat yang bersamaan, mereka yang mempunyai sikap tertutup dengan seks selalu dilabeli sebagai kolot dan terperangkap dalam budaya yang 'represif'. Yang kerap kali nihil dalam percakapan ini adalah bagaimana sikap 'modern' terhadap seks itu tidak terbentuk dalam ruang hampa begitu saja, ia menjadi berkembang berkat produk-produk budaya yang kita konsumsi dan juga lingkungan kita. Sikap 'modern' yang kita kira sebagai perilaku progresif ini bisa mengkungkung alam pikir sendiri apabila kita tidak secara aktif mempertanyakan agenda neokolonial yang diusungnya.
Ketemu dengan buku ini ketika sedang berkunjung ke sebuah toko buku independen di Jogja. Tertarik dengan judulnya karena kebetulan sedang tertarik seputar gender.
Selama membaca buku ini sampai habis, pendapat saya bermacam-macam. Di bab pertama saya dibuat tertegun dengan pemaparan seputar wacana kolonial-yang membuat kajian-kajian semacam ini menjadi kompleks. Bab pertama ini sebenarnya sangat berguna bagi saya pribadi sebagai seorang pengajar yang hendak memaparkan seputar orientalisme di satu pertemuan. Namun beranjak ke bab-bab selanjutnya saya menemukan buku ini lebih merupakan kumpulan esei studi kasus yang hampir acak dari budaya populer, disatukan oleh tema besar. Yang mana tidak masalah, sih, tapi secara pribadi jadi agak terkecoh ketika membacanya, terlebih bab-bab tersebut ntah kenapa diberi penomoran.
Hal lain, karena saya agak kuper mungkin dan baru menemukan Bu Katrin melalui buku ini. Saya juga tidak menyangka bahwa di buku ini dapat ditemukan pemikiran Islam seputar berbagai hal (khususnya konteks pascakolonial). Hal yang masih menjadi hal yang menarik buat saya pribadi yang mencari berbagai bacaan seputar hal tersebut.
Entah bagaimana ceritanya, buku kumpulan esai "Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial" karya Katrin Bandel bisa dibilang ialah buku kumpulan esai pertama yang bisa benar-benar saya selesaikan dan telaah pembacaannya. Mungkin faktor utama bisa terselesaikannya pembacaan buku ini dikarenakan memang saya sedang dalam minat pembaca kajian gender. Akan tetapi, setelah saya selami buku ini, ternyata yang membuat saya tertarik bukan semata-mata materinya saja, melainkan juga bagaimana cara Katrin menyampaikan ide gagasannya dalam esai. Bahasa tulis yang diungkapkan Katrin sangat komunikatif sehingga kita orang awam pun ketika mungkin tidak memahami kata-katanya akan tersihir untuk mencari tahu "ini kata apa sih?", semacam itu. Saya pikir ketika 10 esai ini selesai saya baca, saya akan terdoktrinasi oleh pandangan-pandangan tertentu. Ternyata, justru melali 10 esai tersebut, saya sangat terbantu untuk menelisik kedalaman diri akan pemahaman gender konteks pascakolonial dengan pikiran, "Itu menurutnya, lha bagaimana kalau menurut saya yaa?"
Satu hal yang selama ini saya pahami dengan salah adalah bahwa feminism global menuntut hal yang sama yakni kesetaraan gender tanpa konteks budaya. Pemahaman akan konteks budaya ini sangat krusial terlebih bagi Negara bekas jajahan yang selalu menjadi ‘anak asuh’ dari Negara koloninya/ Barat. Sehingga relasi kekuasaan global tidak dapat dipisahkan dalam feminism dan kajian gender, yang dalam hal ini melahirkan wacana colonial dengan konteks budaya yang berbeda.
Sebagai pembaca awam kajian gender, buku ini pengantar yang sangat baik dalam memahami ambivalensi feminism global. Dimana praktik-praktik feminism dan pemahaman seksualitas bisa menjadi bagian dari wacana kolnial.
Menyenangkan sekali membacanya. Berangkat dari refleksi-refleksi keseharian penulis lalu dianalisa dengan kritis. Memberikan suntikan semangat baru hanya dengan membaca bab pertamanya; untuk tidak limbung pada rasa frustasi dan sikap pesimis dalam memandang berbagai persoalan mengenai Kajian Gender.
Ehm.. Lewat kumpulan esai ini, saya jadi tahu kalau diskursus/kritik feminisme di negara dunia ketiga, seperti Indonesia, adalah wacana yg cukup dilematis. Di satu sisi kita mengharap sistem dan birokrasi yg adil gender di segala bidang, di sisi lain, pikiran kita juga masih dibayang-bayangi oleh anggapan bahwa ras kulit putih adalah manusia dengan peradaban pikir paling maju dibandingkan dengan yg lainnya.
Ini bacaan bagus buat siapa saja yg tertarik belajar soal kajian gender.