Menjadi penonton filn India di Indonesia sama seperti menjadi sudra: terlalu memalukan untuk diakui dan terlunta-lunta sendiri. Apa benar negara dengan produksi film tahunan terbanyak di seluruh dunia itu tak punya film-film yang membanggakan?
Mahfud Ikhwan lahir di Lamongan, 7 Mei 1980. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada, tahun 2003 dengan skripsi tentang cerpen-cerpen Kuntowijoyo. Menulis sejak kuliah, pernah menerbitkan cerpennya di Annida, Jawa Pos, Minggu Pagi, dan di beberapa buku antologi cerpen independen.
Bekerja di penerbitan buku sekolah antara 2005–2009 dan menghasilkan serial Sejarah Kebudayaan Islam untuk siswa MI berjudul Bertualang Bersama Tarikh (4 jilid, 2006) dan menulis cergam Seri Peperangan pada Zaman Nabi (3 jilid, 2008). Novelnya yang sudah terbit adalah Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009) dan Lari Gung! Lari! (2011). Novelnya yang ketiga, Kambing dan Hujan, memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014.
Selain menulis dan menjadi editor, sehari-harinya menulis ulasan sepakbola di belakang gawangdan ulasan film India di dushman duniya ka, serta menjadi fasilitator dalam Bengkel Menulis Gerakan Literasi Indonesia (GLI).
Ketimbang buku pertamanya, buku kedua ini bahasannya sedikit berat, karena terfokus ke film-film India terbaik dan wajib ditonton menurut penulis.
Karena hampir semua film rekomendasi itu dibahas per judul, jatuhnya buku ini memang jadi seperti buku kumpulan review film India.
Oleh sebab itu, saya merekomendasikan buku ini bagi pembaca yang memang ingin menonton film India dan butuh pegangan supaya tidak terjerumus menonton film India yang temanya cuma seputar cinta, dendam, serta tarian memutari pohon dan tiang.
Kalau kamu penyuka film India dan kamu butuh humor sekaligus menambah wawasan tentang film India, buku ini adalah bacaan yang wajib! Yang aneh dari saya adalah membaca buku kedua dulu baru mau mencari buku pertamanya. Hehe
Di buku kedua ini, 3 idiots (2009) ditulis dengan cara yang menyenangkan dan sering disebut-sebut di esai-esai selanjutnya. Amir Khan tidak hanya bisa tampil dalam film sejarah pemberontakan melawan Inggris dengan permainan kritket dalam Lagaan (2001), yang mungkin akan sulit menemukan film sejenis di Indonesia yang mengagungkan tentara, melainkan juga film tentang kritik atas sistem pendidikan. Film Indonesia masih berputar pada romantisasi kemiskinan dan wajib sekolah bagaimanapun caranya. Hal ini berbeda dengan 3 Idiots yang mengkritisi pendidikan yang hanya menciptakan seorang penghafal tanpa konteks dan para penjilat tanpa prinsip.
Selain itu, ulasan lain menarik adalah film Zahm (1998) yang menceritakan kompleksitas keluarga dengan beragam agama. Mahfud Ikhwan memberi judul ulasan film tersebut dengan pas: "Kisah seorang Kristen yang harus menghadapi adiknya yang Hindu agar bisa menguburkan Ibunya secara Islam". 3 agama tertaut dan saling tarik-menarik dalam satu narasi cerita, yang bisa jadi kita bisa banyak belajar tentang arti keberagaman yang sesungguhnya.
Hal-hal lain tentu saja tak kalah menarik seperti film-film Shahrukh Khan yang mesti ditonton sebelum ia terkenal dengan film-film bucin dan menjual air mata. Dan tentu saja esai-esai lain yang tak kalah menarik, jika kamu adalah seorang penonton film India.
Kalau di buku pertama lebih banyak menceritakan pengalaman dan perkenalan si penulis dengan film India, di buku kedua ini lebih banyak pembahasan (dan resensi) film India dan relevansinya dengan (politik, budaya, sosial dan sinema) Indonesia. Masih tetap menarik untuk dibaca!