Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tenggelam di Langit

Rate this book
Aku bukan seseorang. Aku hanya pikiran yang memindahkan spasi. Mengendap datang di tengah malam, untuk kabur sebelum pagi. Membersihkan debu pada celah-celah otak yang lapuk. Tempat pembuangan miliaran informasi berupa serpihan tak terkoneksi. Beberapa abu-abu, beberapa layu, beberapa abstrak, dan beberapa… telah berkerak.

Aku tidak ingin kau menderita lebih lama, memasukkan lebih banyak sampah ke dalam kepala. Melelahkan, memberatkan. Jika diteruskan, kau akan terpikir untuk meletakkan otak di dalam kulkas. Untuk membuatnya beku, lantas menghancurkannya seperti es batu.

Lupakan saja untuk memastikan bahwa aku ada. Anggap saja, angin menerobos jendelamu untuk mengirim cerita. Paket dari sebuah kota yang tengah merana. Cerita nyata tentang mereka yang nama aslinya terlupa demi ketentraman dunia.

Pada hitungan dua napas dari sekarang, berhenti menjarah ranah yang bukan urusanmu. Kepedulian bukan wajah dari luapan rasa ingin tahu. Setiap manusia berhak mengunci memori. Penyimpanan harta bernama rahasia. Bagi sebagian orang, itu bukti bahwa Tuhan menyayangi mereka. Menyembunyikan aib-aib bisu yang haram untuk bersuara. Sebut saja kotak pandora.

Lebih baik diam, ketika kebaikan tidak mampu diterjemahkan. Karena alam tak berbahasa dengan aksara. Hati ke hati, satu perihal yang kini tersisa.

Benar tidak? Manusia terlalu lama berpura-pura amnesia. Tugas besar menunggu dan dianggapnya hanya bualan orang-orang terdahulu. Kekhilafan tercipta untuk menguji, bukan membodohi diri sendiri.

Sekerat nyawaku, terselip dalam palung kognisimu. Jika kau alpa, aku akan hilang tanpa mengucapkan sampai jumpa. Itu berarti sama dengan selamat tinggal. Aku akan beranjak keluar, menjadi angin yang pendiam. Tanpa bisikan, tanpa desiran, tanpa gerisik dedaunan.

Aku ingin datang pada jiwa yang mengerti cara memilih kalimat tanya. Manusia-manusia yang berhak atas jawaban, di tengah peradaban yang selalu salah menyimpulkan.

Apakah itu kamu? Aku harap begitu.

***

180 pages, Paperback

Published January 1, 2017

Loading...
Loading...

About the author

Tan Panama

1 book5 followers
I am not a person.
I am a thought, a wandering mind.

***

Aku bukan seseorang. Aku pikiran yang memindahkan spasi. Mengendap di tengah malam, untuk kabur sebelum pagi.

Aku ada untuk mereka yang paham cara bertanya. Manusia-manusia yang berhak atas jawaban, di tengah peradaban yang mudah menyimpulkan.

***

Jika aku benalu, kau bisa menemukanku pada sosok perempuan di pulau Jawa yang lahir pada 11 Rabiul Akhir 1414. Bermata gelap, dengan kornea pemeluk rahasia.

***

Kontak:
dialog.tanpanama@gmail.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (83%)
4 stars
1 (16%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Riapurwanti Jamin.
123 reviews8 followers
February 24, 2017
Dibawa berpikir dari setiap sudut pandang tokoh. Menemukan celah dan benang merah. Menemukan pandangan baru dari suatu masalah nyata di sosial lewat sebuah cerita.

Terharu dan sekaligus bangga,
pernah sempet kenalan sama Penulisnya :p
Profile Image for Lutfi Baiti.
1 review1 follower
January 11, 2017
Mengesankan, cara penulisan dari berbagai sudut pandang yang bisa membuat pembaca menyelami karakter tiap karakter. Novel ini juga membuat kita bisa melihat masalah dengan sudut pandang yang lebih luas. Nice book!
Displaying 1 - 3 of 3 reviews