Kancah diplomasi bukan hanya milik para diplomat, melainkan milik seluruh anggota keluarga yang berjuang memantaskan diri menjadi agen diplomasi. Tak terkecuali para istri diplomat yang tak hanya berperan di balik layar, tetapi dituntut untuk berpartisipasi di hadapan publik. Mulai dari menjadi pengajar kelas Bahasa Indonesia di kedutaan, menjadi “ibu” pertama tempat para TKI korban kekerasan mengadu, memulihkan situasi pasca dua kali peristiwa ledakan bom di KBRI Prancis, hingga mengatasi kepanikan saat terjebak di negara yang sedang berkonflik seperti Suriah.
Melalui ketujuh pendamping diplomat yang menuangkan pikirannya di buku ini, kita diajak mengintip isi “dapur” misi diplomatik Indonesia, yang tidak melulu berisi hura-hura, tetapi juga mengandung risiko dan bahaya.
Di Balik Gerbang: Inspirasi dari Kisah 7 Pendamping Diplomat [2016] [13-30]
Saat menapati buku ini berada deretan buku diskon Mizanstore, aku langsung tertarik untuk beli. Maklum, dulu sempat punya keinginan jadi diplomat. Maka, walau buku ini "hanya" bercerita tentang pendamping, aku pikir akan banyak informasi menarik yang aku dapatkan.
Tapi, belum apa-apa aku udah kecele. Eh ini kecele dalam artian positif (baca: aku rapopo) haha. Kenapa? karena tadinya aku kira ini yang nulis para staf yang mendampingi diplomat.
Semacam buku Pasti Bisa! yang ditulis Dino Patti Djalal yang menceritakan tentang pengalamannya saat jadi jubir SBY, atau bahkan kayak bukuk Mr.Ambassador: Dari Waryawan Foto Menjadi Duta Besar yang ditulis oleh Pak Indro Yudono.
Intinya, karena profesi semacam itu jauh dari jangkauanku, makanya baca buku semacam ini menurutku memperkaya.
Oke kembali ke buku Di Balik Gerbang. Alih-alih ditulis oleh staf duta besar atau staf diplomat, ternyata kata "pendamping" di sini berarti istri.
Ada 7 orang istri diplomat yang keroyokan menulis buku ini (bisa jadi, salah satu dari mereka kontakku di FB atau bahkan ada temen FB yang kenal mereka hehe).
Dan, kisah yang ditulis pun jadi bevariasi dan unik. Buku ini terbagi menjadi beberapa bab besar. Misalnya saja bab saat mereka ikut serta dalam tugas suami di KBRI yang membantu mengurusi konsumi saat ada acara.
Yang paling unik kisah saat Bu Megawati Soekarnoputri yang datang ke Korea Utara. Karena bahan makanan di sana terbatas, ibu-ibu ini harus membeli bahan yang diperlukan sampai ke Cina dengan menempuh perjalanan kereta 4 jam sekali jalan.
Adalagi kisah yang mengingatkan aku terhadap tragedi kecelakaan helikopter di Pakistan yang menewaskan istri duta besar dan juga duta besar (meninggal kemudian setelah dirawat di RS).
Trus ada lagi kisah saat ketegangan Indonesia dan Portugal saputar Timor Timur di mana ternyata mereka saat itu harus meninggalkan Portugal dalam waktu 1 x 24 jam.
Menarik banget!
Kisah yang ada di bab lain lebih banyak menyoroti tentang serba-serbi keluarga diplomat beradaptasi kayak soal bahasa, mencari sekolah anak dsb, dan juga diselipi tentang jalan-jalan.
Buku yang menarik! walaupun, sebagaimana buku antologi, ya. Ada yang kemampuan menulisnya nampak menonjol, namun ada juga yang biasa saja.
Sebagai hiburan yang informatif, buku yang masih didiskon di mizanstore ini boleh juga.
Buku yang sangat menarik karena menceritakan kisah-kisah para istri diplomat selama mendampingi suami dinas di luar negeri.
Sebelumnya saya pernah membaca buku Voila La France karangan Lona Hutapea. Di dalam buku ini beliau juga merupakan salah satu pemrakarsa sekaligus penulis buku ini.
Karena dulu cita-cita saya adalah bekerja di Kemenlu dan bertugas di KBRI, buku ini benar-benar asyik untuk dibaca. Kita jadi mengetahui kehidupan keluarga diplomat diperantauan. Tidak melulu asyik tapi juga perjuangan mereka untuk beradaptasi, mengatasi culture shock, mempersiapkan kedatangan Presiden RI beserta rombongan dan masih banyak kisah-kisah inspiratif penuh ilmu lainnya.
Semoga makin banyak buku semacam ini yang diproduksi oleh kaum wanita khususnya ibu-ibu sehingga memberikan pencerahan sekaligus motivasi bagi sesama kaum perempuan.
Buku yang inspiratif karena bisa melihat lebih dekat betapa dinamisnya profesi diplomat. Alangkah lebih baik kalau foto-foto yang ada di dalam buku dibuat berwarna.
Buku ini bercerita tentang pengalaman 7 orang pendamping diplomat di seluruh dunia. Gaya bahasanya seperti diary, overall menambah wawasan terutama tentang kebudayaan dan dunia diplomat.
Namun sayang dalam buku cetaknya gambar yang disertakan seperti ngeblur / kurang presisi. Lumayan lah buat bacaan waktu senggang yang menambah wawasan