Kesepuluh sajak yang dimuat dalam buku ini merupakan sepuluh sajak pilihan A. Teeuw. Sajak-sajak ini telah membuat A. Teeuw jatuh hati—ingin memahami mereka sedalam mungkin. Dia bahkan menganggap mereka sebagai sepuluh sajak terbaik dalam kesusastraan Indonesia modern.
Perlu ditekankan bahwa A. Teeuw memilih kesepuluh sajak ini secara subjektif. Sebagai pembaca, dia telah mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dari sajak-sajak ini. Sajak-sajak yang dimaksud adalah “Kawanku dan Aku” (Charil Anwar), “Si Anak Hilang” (Sitor Situmorang), “Jante Arkidam” (Ajip Rosidi), “Salju” (Subagio Sastrowardoyo), “Cocktail Party” (Toeti Heraty), “Pada Sebuah Pantai: Interlude” (Goenawan Mohamad), “Sajak Lisong” (Rendra), “Ombak Itulah” (Abdul Hadi W.M.), “Husspuss” (Sutardji Calzoum Bachri), dan tiga sajak yang dianggap satu kesatuan oleh A. Teeuw, yaitu “Saat Sebelum Berangkat”, “Berjalan di Belakang Jenazah”, “Sehabis Mengantar Jenazah” (Sapardi Djoko Damono).
A. Teeuw menganalisis sajak-sajak pilihannya ini kebanyakan dari sudut bahasa, isi, makna, dan bunyi/irama. Meskipun A. Teeuw beranggapan bahwa sajak sebuah karya sastra merupakan keseluruhan yang bulat dan otonom, latar belakang pengarang kadang kala juga dicari hubungannya.
orientalists's devotion to goenawan mohamad continues to mystify but teeuw at least recognized only toeti heraty understands what irony means. yes! go ibu toeti!
Saya mulai tertanya, bagaimana rupa kulit buku kumpulan sepuluh puisi Indonesia yang dianggap terbaik - dalam kesusasteraan Indonesia moden ketika itu - oleh tokoh penerima doktorat honorari dari Universitas Indonesia dan asal Belanda, A. Teeuw ini? Bukunya yang saya baca sudah dikoyak kulitnya (ajaib, kerana Goodreads juga tidak mempunyai imej kulit bukunya). Itupun saya masih cukup bersyukur kerana buku ini saya temui di rak perpustakaan umum dan mujur, isinya masih terpelihara.
Ternyata pilihan puisi A. Teeuw yang dimuat ke buku ini telah disaring dan dianalisis baik. Sepuluh puisi yang dimuat di sini memberitahu dengan jelas pendirian A. Teeuw yang menganggap sajak sebagai karya sastera merupakan keseluruhan yang bulat dan otonom (Azure Azalea,2013). Antara sajak yang terpilih adalah; “Kawanku dan Aku” (Charil Anwar), “Si Anak Hilang” (Sitor Situmorang), “Jante Arkidam” (Ajip Rosidi), “Salju” (Subagio Sastrowardoyo), “Cocktail Party” (Toeti Heraty), “Pada Sebuah Pantai: Interlude” (Goenawan Mohamad), “Sajak Sebatang Lisong” (WS Rendra), “Ombak Itulah” (Abdul Hadi W.M.), “Husspuss” (Sutardji Calzoum Bachri), dan tiga sajak yang dianggap satu kesatuan oleh A. Teeuw, iaitu “Saat Sebelum Berangkat”, “Berjalan di Belakang Jenazah”, “Sehabis Mengantar Jenazah” (Sapardi Djoko Damono).
Diterbitkan pada 1983 oleh Pustaka Jaya, saya agak beruntung kerana buku ini tidak pernah diulang cetak (kalau saya tidak salah), menjadikan buku ini berstatus 'rare'. Namun berasa rugi dan malang juga kerana buku 'rare' yang ada ini pun sudah dikoyak kulitnya, seolah tak terjaga di rak bacaan umum sana. Mungkin orang masih tak tahu bahawa nilai karya sastera melalui sajak/puisi itu 'Tergantung Pada Kata'nya.