Duduk bermandikan matahari sore bersamamu di Pantai Keelung, wahai cintaku, Halimah. Menerjemahkan diam yang tak pernah kumiliki. Jika pun pernah ada, kau menyembunyikannya dari gelisah burung camar di pagi hari. Aku tahu setiap gerak gemulai pohon, pertanda kau hadir membawakan rindu untukku. Itu tidak akan pernah usang, Halimah. Selembar senyummu terbang dibawa daun, melayang jatuh ke pelukanku. Luka bernanah itu, kau biarkan tertutup oleh cintamu. Setetes hingga kupeluk keabadianmu, berpendar menyatu dalam cahaya. Aku titip rinduku ini untukmu, menjadi cinta abadi, Halimah.
Tentang cinta yang hadir tak terduga. Tentang perjuangan perempuan cantik mempertaruhkan hidup sebagai buruh migran. Tentang segala yang membuat kita bertanya; ke mana hidup akan bermuara?
Judul : Gelisah Camar Terbang Pengarang : Gol A Gong Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2016 Urutan Cetakan : Cetakan pertama Ukuran Dimensi Buku : 135 mm x 200 mm Tebal/Jumlah Halaman : 232 hlm ISBN : 978-602-03-3421-9
Saya tertarik dengan cerita fiksi dalam buku ini. Suatu hari saya lihat di timeline twitter perihal buku ini, dan entah mengapa tiba-tiba saya malah ingin menjangkau buku ini karena penasaran dengan judulnya ditambah lagi covernya yang menampilkan seekor burung (sudah pasti burung camar) yang sedang terbang dengan sayap terbentang tampak samping yang memiliki background warna biru langit. Untuk mengurangi rasa penasaran, saya langsung searching sinopsis buku ini dan toko buku online karena di daerah tempat tinggal saya toko bukunya kurang lengkap.
Setelah novel ini berada dalam pelukan saya, aroma penasarannya semakin menguat dan langsung saja saya buka plastik sampulnya dan mulai membacanya.😚 ___________________________________________________________________________ Bagaimana seandainya kamu (pembaca) adalah seorang TKI di negara lain? Novel ini menceritakan apa yang kamu alami sehari-hari. Dimulai dari pekerjaan yang menumpuk dari pagi sampai malam, kemudian pulang dan langsung tidur karena kelelahan bekerja seharian, malam minggu berkumpul dengan Klub Jahe saling bertukar pikiran ala Indonesia. Bagian asyiknya adalah saat kamu masih bisa merasakan persahabatan dan cinta dari sesama TKI. Cinta yang tak bersyarat. Tidak harus sarjana, tidak peduli profesi pelayan restoran, pengasuh Amak (nenek) dan Akong (kakek), atau bahkan nyonya rumah.
Ada juga bagian di mana kenangan pahit akan diceritakan. Saat pekerjaanmu tidak sesuai harapan majikanmu mereka tak segan-segan menyakitimu, sampai-sampai kamu memilih melarikan diri dan menjadi TKI Kaburan yang dihantui rasa takut saat bertemu polisi dan saat pemutihan. Air mata mereka yang sudah kering. Batin merintih pedih. Entah ke siapa mereka harus mengadu. Ketika bekerja, mereka harus membayar fee bulanan. Ketika tidak cocok dan kabur untuk mengadu kepada agen penyalur, ternyata agen lebih memihak kepada majikan. Kenapa agen penyalur lebih suka angkat tangan pura-pura tidak tahu? Beginilah nasib TKI kaburan. Harus pandai-pandai mencuri dengar situasi terkini, apakah akan ada pemutihan atau penangkapan
Tetapi, setiap orang berhak memilih. Setiap orang berhak bahagia. Setiap orang berhak dicintai dan mencintai. Setiap orang berhak mengejar mimpi. Setiap orang berhak menggantungkan cita-citanya setinggi langit, karena kalau pun jatuh, dia akan jatuh diantara bintang-bintang.
Oh ya, seperti judulnya “Gelisah Camar Terbang”, banyak bercerita tentang kegelisahan yang berkesinambungan antara anak, ibu, ayah, tunangan, dan para TKI di Taiwan. Kegelisahan yang tak tertulis tapi tersirat, sehingga kita harus pandai-pandai dalam memaknainya.
Novel ini asyik dibolak-balik walau hanya untuk mencari quotesnya saja, yang memang maknanya sangat dalam. Tapi, saya yakin pembaca juga akan tertarik untuk membaca semua ceritanya yang pada akhirnya akan berakhir bahagia, diiringi rasa haru juga.😂
Tentang cinta yang hadir tak terduga. Tentang perjuangan perempuan cantik mempertaruhkan hidup sebagai buruh migran. Tentang segala yang membuat kita bertanya; ke mana hidup akan bermuara?
Hidup sebagai TKW adalah pilihan yang tidak mudah, namun alasan untuk memperbaiki ekonomi keluarga lebih utama. Dibalik itu ada beban kerja yang menanti dan dialami oleh para TKW ; direndahkan majikan, diperas agensi, kekerasan seksual, jauh dari keluarga, atau yang sudah menikah ditinggal selingkuh, kerja dan ambil paket A, B, C agar dikemudian hari pulang ke tanah air tidak dianggap rendah dalam tanda kutip "hanya menjadi pembantu", jam kerja, ada perasaan TKW ketika pulang ke tanah air tidak diapresiasi atau disambut pemerintah, diancam dan ditahan paspor oleh majikan. Ini baru sebagai beban yang diceritakan.
Halimah, sosok yang jelas diceritakan bagaimana perjuangan seorang TKW, apalagi sebagai TKW kaburan dan fakta di lapangan TKW kaburan ternyata banyak. Chairul semakin terbuka bahwa TKI terdapat sisi kelam yang dialami para korban. Semoga dengan adanya perbaikan pendidikan dan juga skill set TKW memiliki nilai tambah tersendiri.
"Nak, ketika cahaya cinta itu datang, kamu tidak perlu menanyakan asalnya. Justru yang harus kamu pedulikan, sanggupkah pikiranmu menampung luapan-luapannya. Hati kadang kala mudah ditipu. Tapi pikiran tidak."
Hibah dari mas Teguh. Salah satu serunya membaca karya Heri Hendrayana Harris ini adalah cara berceritanya yang mampu membuat kita seolah-oleh berada dalam kisah. Cinta memang begitu, dating dan pergi semaunya.
Bercerita ttg kisah percintaan yang tak sengaja dengan perbedaan kastaa. Bagi penikmat novel ringan, novel ini mudah dicerna dan dpt menjadi hiburan menggelitik peruuut
Aku suka dengan ide 'kuliah di Taiwan' nya. Kerasa beda nya disitu. Dan ngangkat tentang kehidupan TKI di Taiwan sana, cukup memberikan gambaran. Cuman aku ngerasa, pesan utama yang ingin disampaikan buku ini gak begitu tersampaikan dengan baik. Semuanya terasa terlalu 'terburu-buru'.
bukan sebuah cerita yang luar biasa, seperti kisah para TKI yang sederhana nan menderita. Mereka mengobarkan segalanya termasuk harga diri untuk keluarga mereka di Tanah Air.
Sentilan-sentilan tipis terhadap sikap pemerintah terhadap TKI juga menambah bumbu intimasi didalam kisah romansa Chairul & Halimah. Karakterisasi yang dibangun untuk dua karakter utama sudah cukup kuat mewakili keseluruhan plot termasuk Klub Jahe dan beberapa anggotanya, semua disajikan secara pas sehingga tidak menganggu kisah utama yang coba diceritakan.
Walaupun buku ini berupa fiksi, setidaknya begitulah gambaran kehidupan TKW yang mungkin tak kita (sebagai orang yang hidup nyaman di tanah kelahiran) ketahui di luar sana.
Sebuah kutipan di akhir halaman yang menarik dari Mas Gong:
"Aku mencintai kepedihanmu, tapi aku tak bisa memilikimu."