Awal musim semi tahun 1581. Pasukan sekutu Oda dan Tokugawa menyerang dataran rendah negeri Kai. Klan Takeda tersingkir. Wilayah paling gemilang diantara empat wilayah selama 26 generasi sejak Shinra Saburou itu pun terpuruk dalam kecamuk. Desa-desa terpencil maupun kota-kota dilanda kekacauan besar.
Banyak samurai berdedikasi tinggi hidup tanpa majikan. Dalam situasi hidup tak menentu itu, sayup-sayup mereka mendengar kalau masih tersisa sebutir benih keturunan langsung dari Klan Takeda. Reputasi kecerdasan dan tempaan dari Pendeta Kai Sen di Kuil E Rin kian menarik simpati para samurai ke sosok pangeran ini. Dialah Inamaru, cucu Takeda Shingen, yang disebut-sebut sebagai Dewa Kesatria.
Pangeran Inamaru terus diburu. Perampok gunung hingga perompak Perahu Pahan berlomba mengejar hadiah besar untuk kepala Inamaru. Para samurai dan pendeta pun tak tinggal diam. Kejadian demi kejadian, secara terencana maupun kebetulan, mempertemukan mereka dalam misi penyelamatan. Siasat terpendam, penyamaran, dan konflik para ahli tombak, panah, seruling, tongkat besi, hingga telapati dan taktik militer dikisahkan semakin tersatu dalam kesamaan tujuan. Akankah bendera berlambang kotak trapesium milik keluarga Takeda ini berkibar?
Jauh dari sekedar kisah petualangan dan aksi persilatan, novel besutan Eiji Yoshikawa ini menyuguhi kita akar dan makna terdalam dari kesetiaan zaman samurai. Makna simbolik dari tempat, benda, disiplin, keberanian, dan harakiri yang hingga kini menjadi rahasia kemajuan bangsa Jepang.
Pen-name of Yoshikawa Hidetsugu. Yoshikawa is well-known for his work as a Japanese historical fiction novelist, and a number of re-makes have been spawned off his work.
In 1960, he received the Order of Cultural Merit. Eiji Yoshikawa (吉川 英治, August 11, 1892 – September 7, 1962) was a Japanese historical novelist. Among his best-known novels, most are revisions of older classics. He was mainly influenced by classics such as The Tale of the Heike, Tale of Genji, Outlaws of the Marsh, and Romance of the Three Kingdoms, many of which he retold in his own style. As an example, the original manuscript of Taiko is 15 volumes; Yoshikawa took up to retell it in a more accessible tone, and reduced it to only two volumes. His other books also serve similar purposes and, although most of his novels are not original works, he created a huge amount of work and a renewed interest in the past. He was awarded the Cultural Order of Merit in 1960 (the highest award for a man of letters in Japan), the Order of the Sacred Treasure and the Mainichi Art Award just before his death from cancer in 1962. He is cited as one of the best historical novelists in Japan.
Ini buku aksi yang seru banget!!!!! Setiap bab selalu deg2an nunggu apa yang terjadi. Makin ngefans sama Yoshikawa sensei. Sekarang baca buku keduanya!