“Adik-adikmu tak akan pernah membencimu, Ngger. Mereka semua justru sangat menyayangimu.”
“Mereka semua kini menentangku.”
“Aku tahu Wibisana memang sejak kecil selalu melawanmu, tapi kalau kowe mau sedikit berpikir, dia sebenarnya adalah akal dari keberanianmu.”
“Dan kini Kumbakarna juga tak mau bicara denganku,” kata Dasamuka, terdengar seperti meratap.
“Bila kowe mau sedikit berpikir, Kumbakarna bisa menjadi perasaan bagi kekuatanmu.”
“Hanya Sarpakenaka yang tak pernah melawanku, tapi dia tak banyak membantu.”
“Dia juga istimewa, Ngger. Hidupnya terbelenggu oleh nafsu. Kita semua prihatin dengan takdirnya yang memimpin diri saja dia tidak mampu.”
“Apa yang harus kulakukan, Eyang?”
*** Dia bernama Rahwana. Kemudian nama itu berganti menjadi Dasamuka. Merupakan anak sulung dari pasangan yang telanjur melakukan kesalahan, Wisrawa dan Sukesi. Tapi mungkin tak sepenuhnya salah, karena ilmu Sastrajendra memang selalu membawa hal-hal yang sulit dimengerti.
Takdir telah mengikat mereka, empat bersaudara. Sampai kemudian rasa cinta itu tumbuh. Cinta yang justru membawa perpecahan di antara mereka. Cinta yang mereka definisikan berbeda. Begitu erat mereka pegang meski harus mati.
Membaca, membuatnya tergerak untuk juga menuangkan ide, pikiran dan gagasannya dalam bentuk tulisan. Sejak tahun 1997 dia banyak menulis artikel yang lebih banyak bertema pemberdayaan diri terutama dalam lingkup diri dan keluarga. Sejak tahun 2006, Pitoyo mulai menulis buku yang mengangkat kembali falsafah dan nilai kearifan budaya Jawa yang tersalut dalam kisah-kisah Dunia Wayang.... profil selengkapnya
Kisah asmara Rahwana itu ndak sependek pamornya yang dominan ujug ujug cinta mati nyulik Sinta terus perang membabi buta. Tentu disertai variasi versi ceritanya.
Rahwana meski diklasifikasikan raksasa, ia termasuk yang luput dari kebodohan. Genetiknya lungsuran ilmuwan manut orang tuanya (putri yang haus pengetahuan dan mahaguru resi). Rahwana itu perlambangan diri kita yang semua mua karep dan semau maunya kehendak harus tunai. Tidak ada penghalang antara dirinya dengan tujuannya, rencana dewa sekalipun dikritisinya.
Awalnya Rahwana tertarik dengan Widowati (si jomblo tengah alas). Lantas karena ngeri dipersunting raksasa, menghindar juga nggak mungkin Widowati menyabet obor dan membakar tubuhnya sendiri.
Tahun kepungkur, stalking berjalan Rahwana menemukan wanita yang parasnya setara Widowati; Dewi Sukaslaya nama lain dari Citrawati. Nah, yang ini hampir jomblo karena sudah mau tunangan sama Harjuna Sasrabahu raja Maespati (Asmara segitiga patih Swanda aka Sumantri-Citrawati-Harjuna bisa baca novel grafis "gugur cinta di maespati" jiwotejo). Dia juga kabur dibarengi patih Swanda. Kemudian di tengah alas Rahwana ditilap. Dewi Sukaslaya yang diboyongnya ke Alengkadiraja tak lain artifisial yang dibimsalabim oleh dewa dari sebatang sunduk ronce sang dewi.
Tau betul akan kebohongan itu. Rahwana ngambah jumantara ke jongring saloka (kahyangan). Manut skrip dalang. Siasat ini disengaja oleh batara guru yang nantinya pas Rahwana gugat, bakal istri Rahwana dah ready. Kebetulan dari anaknya dewa indra kalau nggak salah. Iya, Dewi Tari.
Maksud hati memeluk gunung sudah kesampaian. Gugatan Rahwana sudah impas. Ketika Dewi Tari hendak melahirkan, dewa sudah nyusun rencana yang lahir bakal cewek. Nah, mulai tuh dalang pusing lagi dan berimajinasi betapa kecantikannya akan mengintimidasi hasrat Rahwana. Bayinya ditukar dengan sengaja. Sehingga indrajit yang diasuh selama ini.
Dan akhirul kalam. Manut oleh fakta begitu lama. Rahwana haqqul yakin bahwa cah ayu Sinta di negeri seberang itu adalah putrinya.
Saya seperti tertipu, tertipu oleh penampilan luar Rahwana, sosok bangsa raksasa yang biasanya kasar dan brangasan. Sosok Raja yang kejam dan semena-mena. Tapi Rahwana di novel ini digambarkan sebagai sosok yang benar-benar selalu berani, selalu berfikir dan merencanakan segalanya dengan sangat matang. Hanya saja, Rahwana adalah sosok yang lebih gemar bertindak daripada berbicara sehingga sering kali menimbulkan kesalahpahaman yang akhirnya berujung pada pengkhiatantan dan juga perang besar yang seharusnya tidak perlu terjadi.