Jump to ratings and reviews
Rate this book

Syair Lautan Jilbab

Rate this book
'Lautan Jilbab' adalah sebuah puisi mendadak yang ditulis Emha Ainun ketika harus merespon dan tampil di acara Pentas Seni Ramadhan Jamaah Shalahuddin UGM, Yogya, 1986. Puisi ini sendiri telah mengalami berbagai revisi dan modifikasi.

Kumpulan ini terdiri dari 33 puisi dan beberapa kali pernah dipentaskan di kota-kota besar di Indonesia.

59 pages, Paperback

First published August 1, 1989

Loading...
Loading...

About the author

Emha Ainun Nadjib

94 books486 followers
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
50 (49%)
4 stars
30 (29%)
3 stars
19 (18%)
2 stars
0 (0%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books176 followers
April 25, 2008
Bila membaca kembali puisi-puisi dalam buku ini, mengingatkan perjuangan para muslimah (juga muslim) "hanya" untuk mengenakan jilbab di awal 80-an. Mereka rela dikeluarkan dari sekolah, dikucilkan oleh masyarakat, diusir oleh orangtua, dituduh macam-macam. Kalau sudah begini, betapa saya "begitu mudah" mengenakan jilbab. Semoga makna jilbab tak berhenti pada sehelai kain di atas kepala, tapi lebih dalam lagi, bahwa jilbab adalah bentuk syajaah kita untuk berkata bahwa: I'm a Muslim.
Profile Image for Andri.
137 reviews
October 11, 2008
Buku ini pernah menjadi fenomena, terutama karena adanya drama yang dibuat melengkapi buku ini. Ini jaman jilbab masih jadi kontroversi di negeri ini, keberadaan dan penyebarannya masih di fase-fase awal. Sekitar thn 90-91-92 gitu lah.. kalo gak salah. Kumpulan puisi.
Profile Image for Nanto.
702 reviews104 followers
April 15, 2008
Membaca buku ini, ingatnya kepada Malioboro dan Soping dan sekitarnya. Mulai dari siang sampai sore saya sempatkan kurilingan sebelum kemudian pergi ke kontrakan teman di Banguntapan. Seharian di jantungnya Yogya, beberapa buku didapat, salah satunya buku ini.

Pernah ketika masih senang membandingkan pasar buku Bandung dan Yogya. Hanya ada beberapa buku yang gampang dicari di Yogya dan juga sebaliknya. Seperti tiap cabang Gramedia berbeda koleksinya, mungkin koleksi kota lain juga berbeda.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews