Buku bersampul biru ini memuat 44 sajak penyair M Aan Mansyur. Sebagian besar puisi di dalam buku ini adalah puisi pendek, yang mengingatkan kita pada kuatrin-kuatrin penyair-penyair Jepang.
Buku puisi pertama M. Aan Mansyur yang saya baca dan saya miliki. Juga buku puisi pertama yang menjadi referensi utama saya memulai ketertarikan pada penulisan puisi.
Puisi-puisi di sini tidak seberat puisi-puisi Aan di koran-koran besar Ibukota. Mungkin karena ini adalah buku puisi tunggal pertamanya, atau mungkin juga karena puisi-puisinya ditulis pendek-pendek.
Dan saya sukak puisi-puisi pendek itu. Makanya, saat pindah sementara ke Bandung-pun, Hujan Rintih-Rintih saya boyong bersama. :D
Salah satu bagian puisi yang saya sukak itu, begini:
setiap kau sampai pada hujan buatlah payung dari tangan-tangan perempuan sebab kegelisahan sungguh-sungguh nyata memata-matai kepulangan pada yang mana ... (setiap kau sampai pada hujan, hal. 32)
Culikan yang sudah dikembalikan. -Kalo gak salah- ini buku puisi penyair indonesia pertama yang saya baca, setelah hampir beberapa tahun saya tidak membaca buku puisi penyair negri ini. Puisi disini bikin nagih buat dibaca lagi..lagi..dan lagi ;)