Dalam rangka ngabisin stok bacaan di rak buku, akhirnya melipirlah ke Kemeja Flanel Rian. Lagi, saya beneran penasaran kapan jempol saya order novel ini. Tahu-tahu udah ada di rak buku. Hadeh, mesti gara-gara dirayu diskonan.
Lihat dari kovernya, simpel. Blurb-nya juga gambarin kalau cerita ini termasuk ringan. Syukur, deh, soalnya saya udah kenyang sama bad boy tawuran geng-gengan.
Baca bab satu, dua, tiga... saya menemukan gaya bercerita si penulis enak diikuti. Ini agak mirip sama style teenlit Gramedia. Sebagai pembaca kasual, saya bisa bedain ciri khas penulis satu dengan yang lain. Kak Nabilla Azarine punya potensi. Saya bersyukur bisa nemu salah satu karyanya.
Pengarakteran Aldrian dan Ola sangat manusiawi. Aldrian berkacamata, enggak neko-neko, suka gambar, cinta kemeja, tampang rata-rata, pinter juga enggak, dan suka Ola. Diimbangi sama Ola yang tahu diri, pendiem, pinter, cewek banget, pemalu, couple ini bener-bener khas remaja.
Berawal dari robekin kemeja akhirnya ketemu cinta. Ha-ha, ini garis besar ceritanya. Saya suka Ola, saya suka Aldrian dan sohib recehnya, saya suka cara mereka mengekspresikan perasaan, naksir-naksiran, dan sudut pandang yang disesuaikan dengan umur tokohnya. Alur ceritanya pun ringan.
Namun, yang saya sayangkan itu eksekusi konfliknya. Dari awal, masalah Ola sama Aldrian itu dua belas hadiah buat ganti kemeja Rian yang sobek. Hampir dua ratus halaman juga menceritakan apa aja sih hadiah yang Ola kasih. Nah, begitu Aldrian udah nerima semuanya, dia otomatis merasa takut kehilangan alasan ketemu Ola lagi. Lalu, seolah prasangkanya bener, Ola mendadak berubah cuek ke Rian.
Adegan Aldrian nembak Ola ada sebagai hasilnya. Sayangnya terlalu terburu-buru. Semacam ada bridge yang dihilangkan dan efeknya terasa sekali. Padahal ini bisa jadi bumbu konflik yang bagus kalau diolah bener-bener. Kenapa malah nyelimur ke konflik mamanya Ola punya gebetan, narkobanya Kemal, keengganan Farrel punya saudari tiri, padahal build actions dari awal itu demikian?
Jumlah bab ceritanya juga... wow. Novel kurang dari 300 halaman punya 52 bab. Too much. Satu bab terdiri dari 5 halaman pula. Kenapa enggak digabungkan saja adegan-adegan yang punya sedikit halaman buat menghemat jumlah bab?
Daftar hal berharga milik Rian:
1. Mama dan Papa.
2. Ola.
3. Raka dan Farrel.
In the end, cerita ini berakhir dengan bersatunya Ola dan Rian. Walaupun masih ada banyak hal yang perlu diperdalam lagi pembahasannya terutama cabang konflik, saya lumayan menikmati pengalaman membaca kali ini. Good job buat penulisnya.