Jump to ratings and reviews
Rate this book

Secercah Cahaya Illahi

Rate this book
Buku ini berkeinginan mengajak para pembacanya untuk hidup bersama Al-Qur'an atau berperilaku dalam naungan cahaya (nûr) Allah Swt. Sebagaimana karya-karya best-seller pengarang buku ini-seperti Lentera Hati, "Membumikan" Al-Qur'an dan Wawasan Al-Qur'an-yang "bercahaya", buku Secercah Cahaya Ilahi ini ditulis dan dikemas secara efektif untuk menyamai kesuksesan buku-buku sebelumnya tersebut.

Keunikan buku ini terletak di antara keistimewaan buku Lentera Hati dan Wawasan Al-Qur'an. Topik-topiknya dikembangkan lebih dalam dan luas ketimbang Lentera Hati dan gaya penulisannya disajikan secara mengalir dan enak sebagaimana Lentera Hati, namun pembahasannya tidak sepelik buku Wawasan Al-Qur'an.

Menikmati buku ini bagaikan menikmati sebuah hidangan yang membangkitkan selera karena diberi "bumbu"-seperti aktualitas masalah, penekanan pada problem sosial yang lebih banyak dan kekayaan ilustrasi yang tepat-mengena-yang amat bervariasi.

544 pages, Paperback

First published January 1, 2008

8 people are currently reading
75 people want to read

About the author

M. Quraish Shihab

81 books438 followers
Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA adalah seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al Qur’an dan mantan Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII(1998).

Ia dilahirkan di Rappang, pada tanggal 16 Februari 1944. Orangtua Quraish Shihab adalah Bapak Abdurrahman Shihab dan Ibu Asma Aburisyi. Quraish adalah putra ke-empat dari 12 bersaudara. Tiga kakaknya, Nur, Ali dan Umar serta dua adiknya, Wardah dan Alwi Shihab, juga lahir di Rappang. Tujuh adik lainnya yaitu Nina, Sida Nizar, Abdul Mutalib, Salwa dan adik kembar Ulfa dan Latifah, lahir di Kampung Buton.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang, ia melanjutkan pendidikan tingkat menengah di Malang, yang ia lakukan sambil menyantri di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah.

Pada tahun 1958 Ia berangkat ke Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyah Al-Azhar. Tahun 1967, dia meraih gelar Lc (S-1) pada fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir dan Hadits Universitas Al Azhar. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di fakultas yang sama dan pada tahun 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir Al Qur’an dengan tesis berjudul Al-I’jaz Al-Tasyri’i li Al-Qur’an Al-Karim.

Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercaya untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, Ia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam lingkungan kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia Bagian Timur, maupun di luar kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujung Pandang, Ia juga sempat melakukan beberapa penelitian; antara lain, penelitian dengan tema “Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur” (1975) dan “Masalah Wakaf Sulawesi Selatan” (1978).

Quraish Shihab menikah dengan Fatmawaty Assegaf pada 2 Februari 1975 di Solo. Mereka dikaruniai lima orang anak, Najelaa, Najwa, Nasywa, Ahmad dan Nahla. Najelaa menikah dengan Ahmad Fikri Assegaf dan memiliki tiga anak, Fathi, Nishrin dan Nihlah. Putri kedua, Najwa Shihab menikah dengan Ibrahim Syarief Assegaf dan memiliki dua orang anak, Izzat dan almarhumah Namiya. Putri ke tiga Nasywa, menikah dengan Muhammad Riza Alaydrus, dan memiliki dua orang putri, Naziha dan Nuha. Ahmad Shihab, satu-satunya anak laki-laki dari Quraish Shihab, menikah dengan Sidah Al Hadad.

Tahun 1980 , Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikan di almamater lamanya. Tahun 1982 Ia meraih doktornya dalam bidang ilmu-ilmu Al Qur’an dengan disertasi yang berjudul Nazhm Al-Durar li Al-Biqa’iy, Tahqiq wa Dirasah, Ia lulus dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (mumtaz ma`a martabat al-syaraf al-’ula).

Sekembalinya ke Indonesia, sejak 1984 Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selain itu, di luar kampus, Ia juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan. Antara lain: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984); Anggota Lajnah Pentashbih Al Qur’an Departemen Agama (sejak 1989); Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (sejak 1989).

Quraish Shihab juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional; antara lain: Pengurus Perhimpunan Ilmu-Ilmu Syari`ah; Pengurus Konsorsium Ilmu-Ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Saat ini, Quraish Shihab aktif menulis artikel, buku dan karya-karyanya diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati. Salah satu karanya yang terkenal adalah Tafsir al-Mishbah, yaitu tafsir lengkap yang terdiri dari 15 volume dan telah diterbitkan sejak 2003.

Selain sebagai penulis, sehari-hari Quraish Shihab memimpin Pusat Studi al-Qur’an, lembaga non profit yang bertujuan untuk membumikan al-Qur’an kepada masyarakat yang pluralistik dan menciptakan kader mufasir (ahli tafsir) al-Qur’an yang profesional.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
20 (47%)
4 stars
18 (42%)
3 stars
4 (9%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
23 reviews
September 17, 2024
Buku hidup bersama al-quran tidak ana berisi pertanyaan dan jawaban topik keagamaan, tapi juga berisi pemaaman esensial berikut dalil-dalil terkait, untuk membangun kebiasaan baru berlajar dan mengajar islam yang konseptual, positif, aktif, dan relevan.

Buku ini menjelaskan bahwa ibadah bukan hanya tentang hati atau manfaat diri, tapi juga transformasi kehidupan sehari-hari. Konsep pendidikan sesuai tahap perkembangannya.

Al-quran dimaknai bukan hanya sebagai kitab, tapi juga media pengajaran, penyembuhan, petunjuk dan rahmat bagi umat manusia. Dalam Al-quran, terlulis kisa terdahulu, dan gambaran dimasa yang akan datang. Dengan membacanya secara utuhh kita bisa memaknai kata dengan kata dengan baik, contoh kata "jihad" tidak selalu dimaknai dengan peperangan, salah satunya bisa dimaknai dengan melawan nafsu yang ada pada diri sendiri.

Allah SWT menciptakan manusia beserta tuntunan dalam kehidupannya, supaya ia tidak tersesat, ia memberi tahu mana yang baik dan buruk , mana jalan yang benar dan jalan yang salah, mana jalan yang aman dan jalan yang berbahaya. Oleh karenanya kita mengimani Al-quran harus secara utuh.

Profile Image for Nurul Azizah.
12 reviews
November 24, 2014
sama seperti judulnya, buku ini memberi secercah pengetahuan tentang al quran..
ternyata hidup bersama al quran bisa begitu menyenangkan dan menenangkan...

suka gaya bahasa m. quraish shihab, tidak mendikte..
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.