Sejak dulu ada serangkaian target yang dipasang oleh seorang Bakhtiar Rakhman (BR): selesaikan kuliah secepat mungkin, bekerja, pensiun pada usia muda, dan berkelana menjelajahi dunia. Ia berhasil.
Kini sebagai “anak motor”, petualangannya sudah bukan sekadar hobi iseng, ia hampir khatam jelajahi Nusantara: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Ternate dan Halmahera. Rute jelajahnya pun meluas hingga kawasan Asean, Nepal, perbatasan India dan Tiongkok, Afrika Utara, Pegunungan Alpen di Eropa, hingga Amerika Serikat. Selain tur dalam kelompok, BR menikmati perjalanan solo riding (iya, jalan-jalan motoran sendirian) menyusuri gurun dan gunung.
Setiap perjalanan mengajarinya untuk lebih mengenal diri sendiri, alam, keberagaman manusia, budaya, toleransi, dan menguatkan cinta kepada Sang Pencipta.
Beli buku ini dari promo salah satu seller di marketplace dengan harga yang sangat menarik. Pesan siang malam sudah sampai di rumah dan mulai dibaca.
Untuk saya, buku ini lebih ke jurnal daripada “buku” yang sebenarnya. Mengalir, tanpa ada pattern yang jelas, tetapi menyenangkan dan membuat mimpi-mimpi lama saya kembali lagi.
Kalau anda pecinta motor (apapun motornya) dan suka turing, kena banget deh… semua yang penulis ceritakan sangat aktual, seakan-akan kita ada di sana sedang naik motor yang dikendarai penulis.
Luar biasa banyak sisi yang bisa dieksplor dari perjalanan penulis dan saya rasa bisa lebih membuat buku ini lebih baik lagi. Tetapi sebagai bacaan ringan, sudah cukup buku ini untuk kembali menggoda saya menggali mimpi-mimpi riding yang sempat terlupakan.
Selama ini mindset saya terhadap pengendara moge cenderung negatif. Suara moge yang memekakkan-seakan mau teriak "Minggiiirrr, gue mau lewat!", perilaku petantang petenteng, menguasai jalan-apalagi kalau pakai vooreijder, huuhh. Setelah baca buku ini mindset saya berubah siih, tapi dikit, hehehe. Yah, namanya juga manusia, berubah yang baik itu perlahan lah :P.
Saya paham sih, nggak semua anak mode seperti itu. Ini juga yang disayangkan penulis di awal buku, sebagian masyarakat masih menganggap miring pengendara moge. Yah, karena nila setitik rusak susu sebelangan, masbro :D.
Buku ini sendiri bertutur tentang perjalanan penulis keliling Indonesia dan berbagai negara (dari Nepal, Maroko, Eropa, hingga Amerika) dengan mengendarai moge dari Kawasaki Versys, Royal Enfield, BMW GS1200, BMW F800GS --> ini merek moge. Cukup menarik penuturannya, meski kurang mendalam. Padahal kalau mau dieksplor sehingga unsur humanisnya berasa, bisa banget. Contohnya saat penulis bertemu dengan imam sebuah masjid di Poso, ia mendapat beberapa sudut pandang tentang kerusuhan Poso. Sayangnya penulis tidak menceritakan apa saja sudut pandang tsb. Kan menarik tuh kalau diceritakan. Apalagi penulis sering bercerita kalau dalam perjalanan yang ia sukai adalah persentuhan dengan orang lain.
Yang menarik buat saya dari perjalanan penulis sebagai biker adalah rasa yang berbeda dengan mengendarai mobil atau pesawat misalnya. Melintasi pegunungan, hutan, lembah, hingga gurun, dengan langsung merasakan angin membelai kulit, hujan atau salju menetes langsung dari langit ke tubuh, juga panas menyengat.
Yang juga menarik sebenarnya latar belakang penulis, yang dalam usia muda sudah sukses. Kalau usaha bagaimana dia bisa sukses lebih digali, diselang-seling atau diramu dengan cerita perjalanan sebagai biker, mungkin akan lebih menarik lagi. Duh, saya jadi pengen membonceng penulis #eh.... secara penulis rajin travel. Iri juga dengan istrinya, hahaha. Doa lagi ah (Ramadhan nih), semoga dapat suami yang suka traveling spontanitas (nggak harus moge) dan suka ngajak istrinya, hihi.