“Yetti A. KA membawa suara-suara perempuan dalam cerpennya, dan itu bukan suara sumbang atau teriakan bising semata, saya merasa ada kelembutan yang serta-merta mengajak lelaki macam saya untuk mendengarnya dengan nikmat.” Faisal Oddang, penulis
Ada yang berkata, wanita lahir tiga kali: Sebagai anak, istri, dan suami. Cerpen-cerpen Yetti A. KA mengabarkan perubahan-perubahan yang dialami wanita pada tiap kelahirannya, yang mungkin selama ini tidak disadari bahkan oleh wanita itu sendiri.
Orang yang tidak bahagia akan padam perlahan-lahan. —Catatan Musim Buah
Sudah lama banget, saya nggak mengalami bookgasm. Terakhir Cerita Buat Para Kekasih-nya Agus Noor mungkin, atau Jatuh Cinta Bunuh Diri (sort of)-nya Bensbara. Habis itu, nggak pernah lagi.
Gejala bookgasm pada saya adalah ketika saya sedang membaca buku, pikiran saya langsung bisa menyusun plot flashfiction atau langsung bisa saya visualkan dalam sketsa. Iya, itu 2 ciri saya mengalami bookgasm.
Ndilalah, saya lagi ikutan #NulisRandom2017-nya Nulisbuku dan Mas Brilliant Yotenega. Tiba-tiba lancar saja gitu flashfiction mengalir ke beranda Facebook, seiring saya membaca buku ini.
Cerita-cerita yang sangat kental tentang Perempuan. Bila ada yang bilang bahwa wanita lahir tiga kali, anak, isteri dan ibu. Maka Yetti berhasil menceritakan semua segi dalam hal yang positif. Aku suka gaya bahasa dan penceritaan penulis. Seaakan hasil dari perenungan yang matang.
Keseluruhan isi buku metafora bngtt, bahasa ada yg tinggi ada yg mudah dipahami. Saat baca buku ini, pembaca diajak untuk menciptakan fantasinya sendiri membayangkan cerita tersebut. Bagusss untuk dibaca :)
Beberapa cerpen endingnya manis, beberapa lainnya bikin bingung. Bagiku, banyak yang cenderung sureal dan bisa jadi, daya imajinasiku yang nggak selevel sama cerpennya, makanya bingung.
Buku yang cukup bagus. Bercerita tentang kisah-kisah perempuan dengan segala mitos, kesulitan maupun bentuk-bentuk penyelesaian terhadap persoalan yang mereka hadapi. Sedikit rumit, tapi jika sabar kita bisa memahami alur cerita yang dibuat oleh penulis. :) :)
Cerpen-cerpen di buku ini bisa dibilang sangat 'perempuan' dalam arti yang positif. Penulisnya sendiri menyatakan kalau seluruh tokoh utama di buku ini adalah perempuan karena:
Yetti A.KA: "Tak ada yang sebaik perempuan dalam menyuarakan apa yang sesungguhnya terjadi atas dirinya, dunianya. Dunia perempuan dibangun atas pelabelan-pelabelan, misal, prempuan itu biasa menyembunyikan perasaan & pikiran, itu yang aku "lawan."
Membaca cerpen-cerpen Yetti A. KA, kita seperti diajak sendiri membuktikan upaya sang penulis dalam memperjuangkan impiannya lewat karya sastra.
Yetti A.KA: "Aku ingin perempuan mengenal dirinya; perasaan dan pikirannya. Lewat cerpen (baca: sastra) aku memulai impian itu."
Didominasi oleh cerita-cerita bernada muram namun entah kenapa tidak terasa menyesakkan, sungguh adalah sebuah kelegaan ketika saya menjumpai cerita penutupnya lumayan manis yang tidak melenakan. Tiga bintang untuk kalimat-kalimatnya yang indah.
Salah seorang sastrawati asal pulaub sumatra yang perlu diikuti menurut saya.
Kumpulan cerita ini bertemakan tentang suasana batin anak yang ditinggalkan orang tua, anak yang melihat kekerasan ortunya, atau lebih tepatnya dampak dari sebuah situasi ketidakakuran atau ketidakberesan orang tuanya.
Memang ada cerita yg tak mengandung keprihatinan anak. Ada satu cerita tentang seorang kakak yang kehilangan adiknya sehingga membuatnya seolah menjadi pedofilia.
Yetty A.KA, sebagaimana biasa, menghadirkan pelbagai banyak kisah perempuan dalam kumpulan cerita ini, dengan sudut pandang yang tak awam. Narasinya yang lincah dan suguhan metafora yang indah, membuat saya menamatkan buku ini dalam rentang waktu yang tak terasa.