Menurut Benjamin Murray, seorang surfer blasteran Australia-Indonesia, hidup adalah petualangan tanpa henti. Maka dari itu, ketika dirinya mulai terlibat lebih jauh dalam kehidupan seorang gadis bernama Lila yang sedang mencari kakaknya, Ben semakin bersemangat untuk melanjutkan petualangannya. Pertemuan keduanya di Pulau Sipora, Sumatera Barat, dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan cukup untuk membentuk perasaan antara Ben dan Lila. Sayangnya, gadis berusia dua puluh satu tahun itu tidak mempunyai waktu lagi dalam hidupnya. Di sanalah perjalanan Ben dimulai.
Banyak menulis romansa remaja hingga dewasa muda. Kegiatan kesukaan selain menulis antara lain travelling, doodling, fotografi, dan journalling.
Buku: 1. Rekindled; Tentang Diri dan Bagaimana Ia Kembali (Penerbit Laksana, 2020) 2. Phone's Reminiscence (Grasindo, 2018) 3. Somewhere Called Home (DivaPress, 2016) 4. Hello After Goodbye (Grasindo, 2015)
Ben bertemu dengan Lila di Pulau Sipora, gadis tersebut walau terlihat lemah di mana kondisi kesehatannya memang tidak selalu baik, dia tidak patah semangat untuk mencari kakaknya. Lila membuka mata Ben yang selama ini hidupnya dihabiskan tanpa arah, bahwa seharunya dia memiliki mimpi, bukannya menghindari permasalahan yang seharusnya dia hadapi. Lila sedang mencari kakaknya yang hilang tanpa jejak, dia selalu pergi ke tempat yang dia mau, setelah orangtuanya bercerai, Lila dan Dila terpisah tanpa komunikasi yang baik. Namun, tiba-tiba saja Dila mengirimkan lima surat pendek yang berisi tentang perjalanannya. Lila pun mencoba mencari Dila dengan mendatangi tempat-tempat yang ada di surat tersebut, mencoba menemukannya, mengajaknya pulang.
Kehadiran Lila yang baru sebentar sangat membekas bagi Ben, gadis tersebut cukup menyita perhatiannya dan berhasil membuat Ben berjanji akan menggantikan Lila menemukan Dila. Ben pun mendatangi tempat-tempat kemungkinan Dila berada berdasarkan jurnal perjalanan yang ditulis Lila. Mulai dari Teluk Meranti di Bono, menerjang bahaya di Sungai Kampar, pergi ke Pulau Rinca dan menjadi sukarelawan di Taman Bacaan Pelangi, menemukan warna di Pink Beach, melarikan diri ke Tomohon, berselancar di Watu Karung, Karanganyar, yang juga merupakan kampung halaman ibunya, sampai dengan dia harus kembali lagi ke Sipora. Perjalanan untuk mencari seseorang yang belum pernah dia lihat dan kenal tersebut tanpa sengaja mempertemukannya dengan seorang gadis petualang bernama Ris dan membuka mata Ben akan mimpi dan menemukan makna rumah yang sebenarnya.
Keluarga, Dil, sekalipun terpisah jauh, berdiri berisisan dengan jarak dan waktu sebagai pemisah, mereka akan tetap disebut keluarga. Aku mungkin bisa punya mantan pacar, mantan sahabat, tapi tidak pernah ada mantan kakak, mantan adik, mantan ayah dan juga mantan ibu.
Kadang, ketika berada di suatu tempat, kamu nggak perlu repot berpikir bahwa kamu harus bersenang-senang. Yang kamu harus lakukan cuma duduk, pejamkan mata sekitar sepuluh detik, buka matamu dan lihat betapa indah tempat yang kamu kunjungi.
Awalnya saya kira buku ini bercerita tentang travelling atau perjalanan sang tokoh utama ke destinasi alam di Indonesia, tapi ternyata lebih bertema ke self dicovery atau perjalanan untuk menemukan jati diri dan sarat makna. Memang bagian travelling ke destinasi indah di Indonesia cukup menarik untuk disimak, walau tidak dijelaskan secara rinci, penulis lebih menekankan akan makna perjalanan bagi Ben, sang tokoh utama di mana kehidupannya ternyata tidak sesederhana kelihatannya, bahwa dia memiliki masalah keluarga yang cukup kompleks sehingga Ben lebih memilih hidup nomaden menjadi seorang traveler. Ada kisah cinta tapi tidak menjadi fokus utama, kehadiran Lila dan Dila memang menambah warna bagi kehidupan Ben, tapi peran keduanya hanya sebagai penggerak apa yang harus dilakukan Ben dengan hidupnya.
Sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga dan epistolari dipilih untuk menyuarakan bagian Lila, alurnya maju, tapi kita juga akan mendapati adegan flashback ketika membahas masa kecil Lila bersama kakaknya. Untuk segi penokohan, saya menyukai karakter Ben, secara fisik dia juga digambarkan sebagai cowok blasteran yang tampan. Untuk gaya bercerita, saya cukup menikmati tulisan Dhamala Shobita, ini adalah kali pertama saya mencicipi karyanya, cukup detail di bagian yang memang membutuhkan penjelasan lebih dalam, misalkan saja ketika berselancar, saya jadi bisa merasakan bagaimana berselancar itu karena tidak mungkin saya alami sendiri.
Kekurangan buku ini, penggambaran latar dan tokohnya kurang digali lebih dalam lagi, tempat yang dipilih penulis sebenarnya menarik tapi kurang ditampilkan sehingga hanya terasa sambil lewat saja, untuk twistnya bisa saya tebak dengan mudah. Ben memang karakter yang paling dominan dan konflik yang dia alami dengan mudah dirasakan, tentang kecewanya dengan ibunya sehingga dia tidak lagi merasakan apa yang namanya rumah, kemudian memilih tempat pelarian yang membuatnya dirasa nyaman, saya juga berharap penulis akan mengupas tentang kehidupan seorang surfer atau istilah-istilah yang bisa membuat saya lebih mengenal akan profesi tersebut. Lila pun sebenarnya karakter yang cukup berperan, permasalahan yang dia hadapi, akan kerinduannya terhadap sang kakak dan ingin menemukan alasan apa yang sebenarnya melanda pecahnya keluarga mereka, hal inilah yang kurang dibahas penulis, belum ada penyelesaian masalah sampai tuntas, karakter Ris pun latar belakangnya juga tidak dijelaskan secara detail.
Overall, walau masih ada beberapa kekurangan, buku ini bisa menambah daftar self dicovery yang jarang dilirik penulis lain, bahwa dalam perjalanan pun kadang kita bisa menemukan jawaban yang selama ini kita cari, kita bisa menemukan makna hidup, dalam sebuah perjalanan kita bisa menemukan rumah yang sebenarnya.
"Semua orang akan menghilang pada waktunya, Ben. Seperti Dila, seperti ayahku, begitu pun aku."
Dila dan Lila adalah sepasang kakak beradik yang terpisah karena perpisahan kedua orang tuanya. Keluarga mereka yang awalnya baik-baik saja, akhirnya harus berpisah. Dila mengikuti ayahnya, sedangkan Lila mengikuti ibunya.
"Keluarga, Dil, sekalipun terpisah jauh, berdiri bersisian dengan jarak dan waktu sebagai pemisah, mereka akan tetap disebut keluarga. Aku mungkin bisa punya mantan pacar, mantan sahabat, tapi tidak pernah ada mantan kekasih, mantan adik, mantan ayah dan juga mantan ibu."
Perpisahan kakak beradik ini sungguh menyakitkan. Lila tidak pernah tahu, kenapa Dila lebih memilih ikut ayahnya daripada ibunya. Komunikasi pun terputus begitu saja. Bertahun-tahun berlalu, Lila hanya menyimpan kerinduan kepada kakaknya, Dila. Dila seakan menghilang tanpa jejak, namun tiba-tiba kembali dengan datangnya lima suratnya yang pendek. Surat yang berisi cerita perjalanannya ke beberapa tempat.
"Kita tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi keluarga kita, Dil. Harmonis atau nggak, bahagia atau nggak, nggak ada satu orang pun yang bisa memilih akan dilahirkan di keluarga yang kaya saja, atau yang memiliki reputasi baik di masyarakat juga."
Lila pun memutuskan untuk mencari Dila. Satu keinginan Lila ingin mengajak Dila pulang bersamanya. Banyak hal yang ingin ditanyakan kepada Dila, hal-hal yang hingga saat ini belum dimengerti dan hanya Dila yang bisa menjawab semuanya.
Lila pun melakukan perjalanan demi perjalanan yang ada di surat yang Dila kirimkan. Sayangnya Lila tidak berhasil bertemu dengan Dila. Seakan Dila hilang ditelan bumi. Lila malah menemukan perjalanan baru, menemukan kehidupan baru dan menemukan sesuatu yang mungkin saja tidak akan pernah dialaminya jika ia tidak memutuskan untuk pergi. Semua cerita perjalanan dan pencariannya terhadap Dila pun akhirnya dituangkannya dalam sebuah jurnal coklat.
Lila pun tak kuasa lagi mencari Dila. Akhirnya jurnal coklat itu pun beralih ke Ben, seorang teman yang akhir-akhir ini sering menghabiskan waktu bersamanya. Ben pun berjanji akan menemukan Dila untuk Lila. Akankah Ben berhasil bertemu dengan Dila?
"Kalau lo travelling cuma buat mencari orang, lebih baik lo berhenti. You can't enjoy the trip if there's such a pressure".
Ini bukan pertama kalinya aku membaca karya Dhamala. Rasanya sungguh menyenangkan sekali membaca karya terbarunya ini yang mengharukan tentang keluarga dan perjalanan.
Membaca kisah Ben dan Lila ini, membuka pemahaman baru tentang perjalanan. Bagaimana sebuah perjalanan bisa membawa sebuah makna tersendiri. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dan temui dari perjalanan yang kita temui, hal-hal yang mungkin saja tidak akan pernah kita dapatkan seandainya kita tidak melakukan sebuah perjalanan.
Hal inilah yang dialami Ben, si tokoh utama. Berbekal sebuah jurnal coklat milik Lila, Ben pun melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang disebutkan oleh Lila, dimulai dari Pantai Mapaddegat, Teluk Meranti, Pulau Rinca, Labuan Bajo, Bukit Doa Tomohon hingga Sipora. Ben bertemu orang-orang baru, lingkungan baru hingga kebiasaan setempat. Tanpa disadari perjalanan ini mengubah Ben, menyadarkan Ben arti keluarga dan rumah.
Perjalanan Ben tidak hanya untuk mencari Dila, sesuai janjinya terhadap Lila. Tetapi perjalanan Ben ini semacam perenungan bagi dirinya, yang mengubah hidupnya sedemikian rupa.
"Kalau buat gue, doa itu seperti mengisi ulang kekuatan, meluruskan benang-benang yang sudah terlalu lama kusut di pikiran, dan melapangkan hati yang tadinya penuh, entah dipenuhi oleh apa."
Diceritakan dari sudut pandang orang ketiga dan sedikit flashback kehidupan Lila dan Dila semasa kecil, kita akan dibawa memasuki kehidupan Ben dan perjalanan yang dilakukannya berbekal jurnal coklat milik Lila. Jurnal Lila inilah yang menjadi panduan bagi Ben untuk menemukan jejak Dila di tempat-tempat yang disebutkan di dalam jurnalnya. Aku cukup menikmati perjalanan Ben ini, banyak tempat yang disebutkan disini yang membuatku penasaran dan tertarik ingin berkunjung kesana. Sayangnya, setting tempat sendiri kurang dieksplor terlalu jauh.
Dari segi tokoh, aku jatuh cinta dengan sosok Ben. Sejak awal Ben digambarkan sebagai sosok pria yang tampan. Ben dengan ikhlas membantu Lila menemukan Dila padahal Ben tidak pernah bertemu dengannya bahkan kemungkinannya sangat kecil sekali. Di balik itu semua, hidup Ben ternyata tidak kalah rumit. Konflik yang mendera kehidupan Ben ternyata cukup kompleks,yang membuat Ben lebih memilih bepergian dari satu tempat ke tempat lain, bukannya pulang ke rumahnya.
Aku dibuat penasaran dengan akhir dari kisah perjalanan Ben,akankah dia berhasil memenuhi janjinya dan menemukan Dila. Walaupun twist yang hadir cukup bisa tertebak, tapi aku sangat menikmati kisah ini.
Overall, sebuah kisah perjalanan yang mengharukan dan sarat makna. Melalui novel ini, kita akan belajar untuk memaafkan, berdamai dengan masa lalu dan kembali menyadarkan kita akan arti rumah dan keluarga.
"Kita semua takut akan masa depan dan segala yang akan terjadi di dalamnya, oleh karena itu kita mulai berhenti melakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang."
Sampul novelnya sangat manis. Saya pribadi yang suka warna biru namun lebih senang dengan aksesori berwarna cokelat sangat menyukai sampul novel ini. Warna cokelatnya benar-benar menggugah selera, dan jurnal Lila sebagai pemandu bagi Ben sudah sangat tergambarkan dari sampulnya.
Untuk blurb awalnya membuat saya menduga bahwa saya akan disajikan cerita yang mengharu biru dan sarat dengan kesedihan. Lila yang tak lagi memiliki banyak waktu dalam hidupnya telah terlebih dahulu membunyikan alarm di kepala saya bahwa gadis itu tidak akan bisa menemani Ben hingga cerita ini berakhir, dan ternyata benar demikian. Akan tetapi, dugaan bahwa akan ada banyak air mata karena kematian ternyata salah besar. Meski keberadaannya tidak lagi nyata, Lila tetap hidup dalam jurnal-jurnal yang ditinggalkannya untuk Ben. Ben adalah laki-laki yang cukup tabah, tidak banyak bertanya meski hampir tidak tahu apa-apa. Dan saya suka bagaimana jurnal-jurnal tesebut menggambarkan karakter Lila dengan sangat baik. Gadis yang lemah lembut, penyayang, namun pantang menyerah. Jurnal-jurnal Lila juga berhasil memberikan feel yang pas tentang rasa iri seseorang terhadap saudaranya yang dianggap selalu berlebih dalam segala hal.
Keberadaan karakter lain yang membuat Ben lebih bisa menikmati perjalananya meski hampir tanpa hasil juga sangat saya sukai. Konflik yang terbentuk dalam novel ini bagi saya rapi, tidak lari kesana kemari dan tidak mengandung drama yang berlebihan. Namun, saya sedikit kebingungan dalam memahami konflik keluarga Ben yang sebenarnya karena sejak awal hingga menjelang akhir hanya disajikan garis-garis besar yang tidak secara gamblang diceritakan. Meski pada akhirnya saya dapat memahaminya, saya senang dengan adanya penjelasan lebih lanjut karena itu artinya penulis tidak dengan sengaja membuat pembaca menebak dan kebingungan hingga bukunya selesai dibaca.
Jurnal-jurnal Lila juga meski memang hanya buku catatan harian dan surat yang tidak kesampaian, mengalami perkembangan isi dimana awalnya Lila hanya terpaku pada pencarian akan kakaknya, menjadi mencari sambil menimati waktu-waktu dan kemewahan berjalan-jalan yang jarang sekali ia dapatkan. Karakter Ben juga berkembang dan menyesuaikan berdasarkan situasi dan kondisinya. Dari Ben yang tidak peduli menjadi Ben yang pada akhirnya lebih berusaha peka dan memikirkan perasaan orang-orang di sekelilingnya, terutama keluarganya.
Kemudian destinasi atau tempat-tempat tujuan dalam rangka menuntaskan misi pencarian terhadap Dila. Tempat-tempat indah ini juga dideskripsikan dengan baik, juga ada tambahan menarik seperti bagaiamana cara kita menghabiskan waku dan bersennag-senang menikmati pemandangan alam yang ada. Dari kesemua tempat tujuan, yang paling menarik perhatian saya adalah Bono, Pantai Pink dan Bukit Doa. Jujur saja, saya tidak pernah melihat pemandangan pertemuan sungai dan laut yang indah seperti yang digambarkan tentang Bono jadi saya sangat penasaran untuk dapat melihatnya langsung.
Yang kedua adalah Pantai Pink. Dalam pikiran saya, pink hanya identik dengan benda-benda lucu dan girly seperti Hello Kitty, balon dan pernak pernik Naughty. Dari novel inilah saya mengenal Pantai Pink dan sangat tertarik untuk mengunjungi pantai tersebut. Pasir putih, air yang biru dan kehijau-hijauan, karang-karang yang dapat dilihat dari atas lautan, pulau yang cantik dengan langitnya yang biru semua sudah pernah saya nikmati. Tapi pantai pink, dari buku inilah yang pertama kali.
Kemudian Bukit Doa. Ini adalah salah satu destinasi wisata saya di Minahasa setelah Bukit Kasih yang sampai sekarang belum kesampaian. Padahal kalau dipikir jaraknya dari rumah hanya kurang lebih 4-6 jam, karena dari rumah ke Manado membutuhkan waktu 4 jam, dan dari Manado ke Tomohon kalau nggak salah hitung dan belum berubah hitungannya itu membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Saya super iri sama Ben dan Ris yang punya kesempatan untuk ke Bukit Doa, suatu saat nanti saya harus kesana, tentu saja mampir dulu ke Bukit Kasih :D
Ada banyak pesan yang dapat kita petik dari novel ini, tapi satu yang paling menonjol yakni tentang pentingnya menjaga keutuhan keluarga serta mensyukurinya. Karena di luar sana banyak sekali orang-orang yang tidak lagi bisa membuat keluarganya lengkap berkumpul dan makan malam bersama, menonton TV bersama dan bercengkerama. Bukan karena Tuhan tak lagi mengizinkan tapi karena keadaan yang membuat mereka terpaksa harus berpisah. The most memorable scene dari novel ini adalah saat Ben berbicara kepada Ayahnya terakhir kalinya. Bagi saya, adegan itu benar-benar menceritakan rasa cinta yang sesungguhnya.
Somewhere Called Home saya rekomendasikan bagi siapa saja yang gemar membaca dan suka dengan konflik keluarga atau manisnya cinta yang tidak terlontar lewat kata-kata. Meski pada beberapa bagian saya temukan typo, novel ini tetap asyik untuk dinikmati.
Honestly, yang paling bikin saya tertarik untuk membaca Somewhere Called Home adalah cover dan judulnya yang oh-sungguh-sangat-menggiurkan. Manis. Trus ada gambar surat gitu. Dan dibukalah halaman demi halamannya. Ternyata, novel ini disajikan dari 2 sudut pandang, 2 gaya penceritaan: PoV 1 jurnal harian Lila serta PoV 3 perjalanan Ben. Saya paling suka baca novel yang di dalamnya ada lampiran surat/jurnal gitu. Suka bangeeeettt. Bagi saya, yang seperti itu selalu sukses untuk bikin pembaca makin baper dan masuk ke dalam ceritanya. Iya, saya suka. Cuma karna di sini kutipan jurnalnya kan banyak dan memegang peranan penting banget, saya jadi agak terganggu karna tidak ada pembeda antara catatan Lila dan perjalanan Ben. Kalau misalnya catatan Lila disajikan dalam font yang berbeda atau satu layout khusus serupa buku harian gitu, dijamin feelnya bakal dapet banget! Soalnya, novel ini layoutingnya bagus, ada gambar gitu dan bingkai di beberapa halamannya. Rasanya akan lebih manis menempatkan gambar-bingkai tersebut di setiap bagian jurnal Lila. Well, tapi ya itu untuk memanjakan visual sih. Cuma berpendapat^^ Idenya apik, manis. Bahasanya sederhana dan mudah dipahami, walau ada beberapa dialog yang rasanya terlalu kaku, rasa terjemahan gitu. Yang bagian dialog ya, kutipan langsung, bukan jurnal. Twistednya hmmmmm ternyata! Mulai tengah dikit ke belakang agak bisa nebak sih, "kayaknya.... iya deh...." dan bener hohohoo *apasihput* tapi sebel sih sama Ben. Dia se-enggak-peka itu, apa? hih, gemes! Akhir kata, walau ada dobel halaman 225-240—8 lembar yang bikin tebel wkwk—saya lumayan menikmati novel kedua Mala ini. Dan bersiap untuk membaca novel pertamanya xD Salam sukses yaa~
Perjalan Ben dimulai dari pertemuan dengan seorang gadis bernama Lila di Sipora. Saat itu Ben sedang ada acara dengan teman-temannya, tetapi Ben justru lebih sering menghabiskan waktu bersama Lila. Dari kebersamaan itu, Ben mendapati mimpi Lila untuk menemukan Dila, kakaknya yang terpisah sejak tujuh tahun lalu. Mimpi yang dilanjutkan oleh Ben ketika suatu hari yang mendadak Lila menghilang dari resort dan tidak akan pernah kembali.
“Lo pikir seberapa suci lo sampai-sampai nggak mau ingkar janji sama cewek yang sudah mati.” (h. 75)
Perjalanan Ben mencari Dila tidaklah mudah. Bekal yang dimiliki Ben hanyalah jurnal berisi perjalanan Lila mencari Dila, serta sebuah foto lama. Hanya itu. Meski demikian, Ben tetap melakukan perjalanan mustahil tersebut.
Selama perjalanannya menelusuri jejak-jejak Lila—yang mengikuti Dila—Ben bertemu seorang gadis. Ris, namanya. Entah bagaimana, gadis ini selalu ada di tempat-tempat yang dikunjungi Ben. Dan entah bagaimana, gadis itu perlahan membuat Ben melepaskan kenangan Lila, juga mengurai benang kusut di tempat yang disebut rumah.
Lama juga nih bacanya haha. Ini ceritanya menarik. Yang suka cerita travelling, cerita cinta tapi tenang, cerita sejenis buku harian/jurnal, you must read it! Setelah merangkum apa yang perlu kumasukan di resensi, gileee quote-nya banyak bangeet. Favorutku tuh kalimat retoriknya: "Hidup semacam remote control itu nggak semenyenangkan yang orang-orang bayangkan."—hlm. 225
"Lebih nggak enak mana dibandingkan hiduo dengan tanpa arahan?"—hlm. 226
Review lengkap di redbluestory.wordpress.com 2 bulan lagi!
Entah kenapa gue berharap adanya twist yang akan gue temukan sepanjang membaca kisah ini. Tapi gak ada. Atau emang karena gue terlalu mudah menebak isi ceritanya? Tapi gue suka bagaimana gaya penulisan Dhamala.
Begitu saya melihat cover novel ini, saya langsung membayangkan akan diajak penulis untuk menjelajah. Dan benar saja, begitu masuk awal cerita, saya sudah berada di Pulau Sipora, Sumatra Barat, dengan seorang surfer (yang dalam imajinasi saya—ganteng.) bernama Ben. Di Pulau Sipora, Ben bertemu dengan Lila. Di sanalah awal impian ‘gila’ Lila yang juga merupakan awal perjalanan Ben.
Lila ingin mencari Dila, kakaknya yang telah lama menghilang sejak perpisahan orangtua mereka. Dan Ben, turut andil dalam mewujudkan impian itu, dengan berbekal sebuah jurnal milik Lila. Jangan salah, Ben berusaha mewujudkan impian Lila bukan karena hidupnya terlalu ‘selo’. Justru kehidupan Ben lebih rumit daripada Lila. Keluarganya yang ‘seakan’ baik-baik saja membuat Ben tidak betak di rumah.
Membaca novel ini, membuat saya seperti sedang melakukan traveling saja. Sang penulis, secara terselubung mengajak para pembacanya untuk berkeliling di suatu tempat, tanpa sang pembaca sadari sebelumnya. Hanya saja, ada satu hal yang agak saya sayangkan. Saya merasa eksplorasi latar tempatnya masih kurang, sehingga suasana yang dibangun pun kurang hidup.
ceritanya dikemas secara manis, dan penulis juga mampu membawa pembaca membayangkan tempat2 yang ada di dalam. Karakter tiap cerita menurut saya cukup kuat. and I love this book