Jump to ratings and reviews
Rate this book

Guru Sejati dan Muridnya

Rate this book
This book describes the intimate relationship between a truly realized teacher, or true Sheikh, and his disciples. He explains the trust that one must have in a teacher, and the dedication to removing one s flaws and cultivating the divine qualities exhibited by such a teacher. A student who really wishes to progress must prepare his heart with faith, determination, and patience for whatever difficulties may come on this journey. This unique explanation reveals the extraordinary subtlety of this unique relationship.

154 pages, paperback

First published January 1, 1983

9 people are currently reading
103 people want to read

About the author

M.R. Bawa Muhaiyaddeen

66 books42 followers
Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen, a Sufi mystic, can best be remembered for his efforts to bring unity through understanding to the faithful of all religions.

Little is known of his early personal history. Records of his life began in the early 1900's when religious pilgrims traveling through the jungles of Sri Lanka first caught glimpse of a holy man. They were overwhelmed by the depth of divine knowledge that he imparted.

Sometime later a pilgrim invited him to a nearby village, and with that began his public life as a teacher of wisdom.

Throughout Sri Lanka, people from all religious and ethnic traditions would listen to his public discourses. Many consulted him on how to conduct life's affairs, including public figures, politicians, the poor, and the learned.

In 1971 Bawa Muhaiyaddeen accepted an invitation to visit the United States. Here, once again, people from all religious, social and ethnic backgrounds would join to hear him speak. Across the United States, Canada and England, he won recognition from religious scholars, journalists, educators and world leaders. The United Nation's Assistant Secretary General, Robert Muller, asked for Bawa Muhaiyaddeen's guidance on behalf of all mankind. Time Magazine turned to him for clarification during the hostage crisis in 1980. Thousands more were touched by his wise words when interviewed in Psychology Today, the Harvard Divinity Bulletin, the Philadelphia Inquirer, and the Pittsburgh Press.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
31 (72%)
4 stars
8 (18%)
3 stars
1 (2%)
2 stars
1 (2%)
1 star
2 (4%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Herry Mardian.
2 reviews7 followers
February 21, 2008
“…Buku ini langka karena di masa ini cukup sulit bagi kita untuk mendapatkan literatur konkrit tentang cara seorang Mursyid sejati dalam memberikan bimbingan kepada para muridnya, dengan muatan yang mampu menggambarkan interaksi mereka dengan baik. Umumnya literatur yang tersedia dalam mengulas hal tersebut, biasanya ada dalam konteks masa Islam klasik, dengan gaya bahasa maupun istilah yang tidak mudah dipahami oleh pembaca umum. Kadang bimbingannya ditulis dalam bentuk hikayat. Selain itu, karena perbedaan masa yang terpaut jauh dengan masa kita sekarang, biasanya buku-buku tersebut memerlukan interpretasi yang lebih dalam lagi untuk bisa diturunkan dalam level kehidupan kita sehari-hari di masa kini.

Ketiadaan hal-hal tersebut justru menjadikan buku ini unik karena tidak ada pembicaraan mengenai teori dan dalil. Buku ini juga tidak membicarakan siksa yang harus Anda terima kelak bila tidak melakukan ini dan itu, juga tidak membicarakan kisah para sufi di masa lalu yang tampak tidak lazim, yang sulit kita hubungkan dengan kehidupan di masa kita sekarang.

Buku ini merupakan rekaman interaksi dan bimbingan seorang Mursyid sejati yang memberikan pengajaran kepada murid-muridnya di abad ke-20, tidak jauh dari masa kita sekarang. Murid-muridnya pun terdiri dari kalangan bangsa Amerika dan Eropa, yang sedikit banyak mempunyai pola pikir dan pola budaya yang masih memiliki sekian kadar kesamaan dengan kita, sehingga mudah untuk ditempatkan dalam konteks kehidupan kita sekarang. Bahasa yang disampaikan adalah bahasa nasihat, sebuah rekaman dialog seorang guru kepada murid-muridnya di dalam sebuah forum kecil.

Bakat yang paling istimewa dari seorang Bawa Muhaiyaddeen adalah kemampuannya untuk memudahkan murid-muridnya dalam memahami esensi. Konsep-konsep spiritual yang beliau sampaikan, sebenarnya adalah konsep yang rumit dan sangat dalam jika disampaikan dalam istilah maupun bahasa sufisme klasik. Akan tetapi, beliau mampu menyempaikannya dengan bahasa yang lugas dan amat sederhana, disertai contoh dan kisah yang teramat mudah dipahami. Sedemikian sederhana dan mudahnya, hingga semua bahasan mendalam dan teoretik dari para sufi klasik itu menjelma menjadi seakan-akan hanyalah sebuah nasihat biasa. Padahal, esensi yang beliau sampaikan dibandingkan dengan esensi yang diajarkan para sufi klasik melalui pembahasan yang tampak rumit, sebenarnya adalah sama.

Bawa Muhaiyaddeen tidak mendidik muridnya untuk menjadi Islamolog maupun pengkaji tasawuf yang hafal pelbagai istilah rumit, dan menjadikan para muridnya menang dalam setiap perdebatan ilmiah. Yang Bawa lakukan adalah mendidik para muridnya untuk hidup dan ‘bernafas’ dalam teori-teori tersebut sehingga esensinya mampu ditangkap oleh murid-muridnya. Kami kira, analogi yang baik untuk Beliau adalah, ia tidak mengajarkan teori tentang laut kepada ikan-ikan. Ia mengajarkan ikan-ikan untuk hidup dengan benar di dalam laut, dengan tetap membawa jati dirinya masing-masing.

Hal yang luar biasa, adalah fakta bahwa beliau seorang muslim buta huruf sederhana, yang melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam hutan-hutan di Sri Lanka. Akan tetapi kedalaman ilmunya membuatnya kemudian dikenal masyarakat di Amerika sehingga Beliau dibawa ke negeri mereka untuk menjadi pembimbingnya di sana. Sangat menarik melihat murid-muridnya—yang sebagian besar merupakan masyarakat kulit putih dengan tingkat pendidikan yang tinggi—menerima pengajaran dari seorang yang biasa hidup bersahaja di pedalaman hutan Sri Lanka. …”
17 reviews
May 22, 2008
kesadaran diri akan entitas yang lebih sejati mesti dikawal seorang Guru sejati...jangan sampai tersesat sendirian...
Profile Image for widya atmaja.
9 reviews29 followers
Currently reading
June 6, 2011
pusing....

awal dari ilmu adalah sabar,
sabar d baca ampe akhir

semangat....
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.