Jump to ratings and reviews
Rate this book

Reruntuhan Musim Dingin: Cerita-cerita Pilihan

Rate this book
“Kupikir, sebaiknya kamu jangan jatuh cinta kepada penulis. Ia lebih banyak memeras kenangan, sebanyak mungkin dari dirimu, untuk kemudian ditinggalkan.”
Nalea tidak mendengarnya sebagai sebuah peringatan. Mereka tetap kian dekat. Nalea tidak paham apakah ia jatuh cinta atau tidak.
Reruntuhan Musim Dingin

“Saya benar-benar takut,” jawab wanita itu.
“Takut apa?”
“Saya takut tidak bisa merasakan ketakutan lagi sama sekali.”
Abnormaphobia

Seandainya bisa, kita akan memilih untuk menolak perjumpaan dengan sebagian orang dan menghalau perpisahan dengan sebagian yang lain dalam hidup. Sayangnya, hidup sejatinya mengenai perputaran perjumpaan dan perpisahan tanpa henti. Musim semi lirih berlalu, sementara musim dingin runtuh perlahan.

Dan meskipun tidak menginginkannya, kita terpaksa mengalaminya. Berjumpa dengan orang yang kemudian kita sesali, berpisah dengan orang yang tak mungkin ditemukan pengganti.

Seperti halnya perjumpaan dan perpisahan yang disuguhkan Sungging Raga. Tak terduga.

204 pages, Paperback

First published January 19, 2016

2 people are currently reading
19 people want to read

About the author

Sungging Raga

14 books7 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (19%)
4 stars
6 (19%)
3 stars
13 (41%)
2 stars
4 (12%)
1 star
2 (6%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for raafi.
930 reviews451 followers
February 23, 2016
Buku ini berisi 22 cerita pendek pengarang yang sebagian sudah diterbitkan di majalah dan koran nasional. "Reruntuhan Musim Dingin" adalah salah satu judul cerita pendek di dalamnya. Secara keseluruhan Sungging Raga memberikan cerita berciri surrealis dengan beberapa cerita yang mengusung perubahan alur cerita secara radikal, terutama pada paragraf-paragraf akhir. Oh ya, juga absurditas!

Ulasan lengkap dan giveaway hingga 28 Februari: http://bibliough.blogspot.co.id/2016/...
Profile Image for Wardah.
953 reviews172 followers
February 19, 2016
Unsur yang paling sering saya dapati dari cerpen-cerpen di Reruntuhan Musim Dingin adalah senja. Saya nggak menghitung, tapi cerpen-cerpen di awal itu rasanya serupa. Menyoal senja dan ada kereta, terminal, lalu perjalanan. Jujur, saya baru merasa 'kena' dengan cerpen-cerpen Sungging Raga di paruh akhir.

Mari saya coba jelaskan kenapa saya merasa cerpen-cerpen Sungging Raga di paruh awal terasa serupa.

Cerpen pertama yang akan kita temui contohnya, Selebrasi Perpisahan. Berkisah tentang seorang lelaki dan perempuan yang harus berpisah. Berlatar senja dan terminal. Dengan unsur hubungan cinta yang kandas.

Setelah kebersamaan yang begitu panjang, mengapa kini hanya tersisa setengah jam? Apakah cinta tidak bisa diisi ulang? (h. 29)


Lalu, cerpen kedua, Dermaga Patah Hati. Berkisah tentang seorang gadis yang menunggu di dermaga. Ada senja dan cinta. Meski cerpen ketiga, Melankolia Laba-laba, tidak mengandung senja, kereta, atau perjalanan; aspek cinta masih terasa nyata. Cerpen keempat, Serayu, Sepanjang Angin Akan Berhembus, ini yang memuncakkan rasa jemu saya pada paruh awal cerpen Sungging Raga.

Serayu, Sepanjang Angin Akan Berhembus berkisah tentang sepasang muda-mudi yang tengah melihat senja dari sungai Serayu. Dalam cerpen ini, lengkap sudah Sungging Raga menyuguhkan senja, kereta, perjalanan, dan cinta dalam satu kesatuan cerpen. Ketika mencapai cerpen ini saya merasa ... cerpen-cerpen Sungging Raga menjelma jadi repetisi yang menjemukkan.

Lalu, sampailah saya pada cerpen selanjutnya, Untuk Seseorang yang Kepadanya Rembulan Menangis. Nah, cerpen ini langsung menjungkir-balikkan perasaan jemu saya. Alih-alih merasa datar dan biasa saja seperti saat membaca empat cerpen sebelumnya, di cerpen ini saya merasakan unsur absurd!

Rembulan terus menangis sepanjang malam ini, bahkan ia juga sesenggukan, suara sesenggukan itu pun bisa terdengar kalau kita naik ke tempat tinggi yang cukup sepi, di bukit St. Andrews misalnya. (h. 57)


Cerpen ini membawa saya pada pengalaman yang berbeda dengan cerpen-cerpen sebelumnya. Meski absurd, Sungging Raga mengisahkan dengan biasa saja. Seperti rembulan yang menangis itu bukan hal besar. Maksudnya, dalam cerpen memang dianggap hal besar, tapi gaya menulis dan pilihan kata Sungging Raga membuat hal itu terasa lebih biasa dari seharusnya.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati cerpen-cerpen Sungging Raga ini. Rasanya datar tapi anehnya ajaib. Meski memang banyak yang mengangkat tema cinta, tapi gaya bercerita Sungging Raga ini akan membuat cerpennya berasa beda.

Ulasan lebih lengkap silakan baca di sini.
Profile Image for Pringadi Abdi.
Author 21 books78 followers
June 7, 2016
Sebenarnya ada 2 penerbit yang buku-bukunya nggak mau kubaca lagi karena kekecewaanku dengan kerja editor dan proofreadernya. Pertama, Selasar (dalam kasur Selasar sebenarnya lebih ke terjemehannya) dan kemudian, penerbit buku ini.

Tapi karena ini Sungging Raga, aku harus baca. Bisa dibilang aku ngefans sama Sungging. Ekspektasiku kepadanya selalu besar. Dengan Sarelgaz, aku kecewa sekali. Tapi Reruntuhan Musim Dingin ini aku suka. Cuma belum suka sekali.

Profile Image for yanti.
117 reviews2 followers
March 13, 2017
Kisah cinta dalam dunia cerpen adalah hal biasa tetapi melalui cerita-cerita yang disampaikan oleh Sungging Raga kisah cinta tidak membuatnya klise. Alur cerita yang berkelok-kelok, naik turun, terkadang pembaca juga dikejutkan dengan tikungan yang menukik tajam. Hingga di akhir cerita pembaca bisa tersenyum,terdiam,atau bahkan menangis. Tata bahasa yang indah dan absurd menjadi daya tarik pembaca, seperti terlihat dari judul-judul : Selebrasi Perpisahan, Dermaga Patah hati, Melankolia Laba-Laba, Abnormaphobia, Lovelornia

Ada 22 cerita dalam kumcer ini, dan semuanya mempunyai tema sama yaitu cinta , tetapi Sungging Raga mengemas cerita dalam tokoh,setting dan kisah yang berbeda keabsurdannya. Seperti cerita Rayuan Sungai Serayu , dikisahkan tentang kehebohan Sungai Serayu yang tiba-tiba raib, jalur sungai bukan hanya mengering,tetapi juga tanahnya menjadi datar seperti tanah biasa. Hal tersebut dikarenakan Sungai Serayu telah berubah wujud menjadi seorang gadis cantik. Gadis itu sedang merayu seorang pemuda, yang tidak percaya, bagaimana mungkin sungai dapat berbicara seperti layaknya manusia.Kisah cinta yang absurd antara sebuah sungai dengan manusia. Kisah yang mirip pada cerita Melankolia Laba-Laba, kisah seekor Laba-laba yang mencintai seorang manusia yang selalu dilihatnya di kamarnya.Di akhir kisah ketika manusia itu mati, berubah menjadi laba-laba . Atau kisah bunga Edelweis dalam cerita Sihir Edelweis, seorang pemuda yang mencintai perempuan jelmaan dari bunga edelweis

Kisah lain yang kuanggap absurd yaitu Biografi Sepasang Rangka; berkisah tentang kehidupan mayat di kuburan yang sudah menjadi rangka. Kisah cinta sepasang rangka hingga mereka menikah, kuburan menjadi ramai karena pesta pernikahan yang dilaksanakan seperti halnya pernikahan di dunia nyata ada musik,lampu,makanan. Untuk cerita terakhir ini, jangankan berimajinasi perihal kisah cinta seperti sepasang rangka tersebut, membayangkan dunia kematian saja rasanya tidak sanggup. Padahal itu adalah satu-satunya hal yang pasti di kehidupan ini sesuai pesan yang terkandung dalam cerita Tak ada Kematian di Alaska.

Dari cerita yang disampaikan satu sama lain ada keterkaitan , misalnya nama tokoh perempuan yang selalu sama di setiap cerita, penulis selalu memberi nama Nalea. Setting yang digunakan juga banyak yang sama seperti suasana senja atau kereta api, sering digunakan dalam beberapa ceritanya. Latar geografi juga menjadi pembahasan tersendiri bagi penulis; Sungai Serayu dan daerah Jawa tengah dalam cerita Rayuan Sungai Serayu, Serayu Sepanjang Angin Berhembus, Sidareja Sebuah Alkisah. Sepertinya penulis mempunyai kisah tersendiri tentang tempat tersebut.

Review lengkap https://jendeladuniaku2015.wordpress....
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
February 9, 2016

Sastra adalah seni yang memangsa dan menjarah. Apa yang dijarahnya adalah kehidupan." (hlm.11)

Tia Setiadi, dalam pengantarnya di buku ini menyebut bahwa tidak ada sastra yang ditulis dari ruang hampa. Sastra selalu ditulis dengan berpijak pada kehidupan manusia yang terlukis dalam kanvas kenyataan. Dalam kata lain, sastra bisa diibaratkan sebagai lukisan kenyataan yang digelar dalam cat kata-kata dan kanvas lembaran kertas. Sastra, sejatinya adalah upaya pengarang dalam merefleksikan cara pandang dan hasil perenungannya pada kehidupan lewat medium tulisan. Seperti yang dilakukan Sungging Raga dalam buku ini, yang memilih tema besar cinta sebagai bahan-bahan yang tak akan pernah habis untuk diolah sebagai cerita-cerita indah.

"Senja mungkin sebentar, tapi ia lebih indah dari waktu-waktu yang lain," kata perempuan itu. Barangkali.
"Tapi kau lebih indah dari senja, Sayang, dan kau tidak sebentar."


Tema cinta mungkin sudah terlalu sering dituliskan, tapi sejatinya memang tidak ada cerita baru di dunia ini, yang ada hanya hal-hal lama yang dikisahkan dengan cara baru. Saya setuju dengan Tia Setiadi, tema cinta memang klise tapi Sungging Raga tidak membuatnya klise di kumcernya ini. Tidak hanya dari alurnya yang berkelok-kelok cantik seperti Sungai Serayu, namun juga dari caranya memuntir kata, menubrukkan logika-kata, serta membiarkan kata-kata meliar namun tetap terdengar cantik saat dibacanya.

"Wanita itu bernama Kunnaila. Hidupnya meliuk seperti ilalang, penderitaannya setebal hujan."

Seno G.A pernah menyebut mengenai hak pengarang untuk berkelahi dengan kata-kata. Dan, itulah yang dilakukan oleh Sungging Raga. Dibenturkannya kata-kata yang jarang berakrab ria dalam kenyataannya, yang kemudian menciptakan semacam keindahan baru yang jarang kita temukan dalam kalimat-kalimat yang biasa. Inilah licencia poetica yang dimiliki pengarang, hak untuk melabrak batasan bahasa demi menghasilkan makna baru dalam berbahasa. Dan, memang inilah salah satu tugas pengarang dan penulis, mereka mengelola bahasa, menjelajahinya hingga batas-batas yang masih dimungkinkan agar bahasa manusia semakin kaya dan bermakna. Bahkan hal sederhana semacam kompor pun bisa jadi keren begini di tangan seorang penulis.

"Ah, kompor adalah benda yang tenang, mengeluarkan api tapi tak membakar dirinya sendiri, melawan filosofi lilin, romantis sekali."

Saya terutama menyukai cerpen 'Rayuan Sungai Serayu' di halaman 80. Bayangkan apabila ada sebuah sungai menjelma jadi manusia karena dia merasa jemu dan lelah mengalirkan air. Sungai yang memberontak pada takdirnya, atau pada ketetapan nasibnya. Terlepas dari tema besarnya yang mengingatkan saya pada buku-buku fantasi karangan Rick Riordan (ketika Gaea, ibu pertiwi, digambarkan menjelma sosok layaknya manusia), cerpen ini sangat unik karena Sungging Raga tidak tanggung-tanggung dalam mengolah kisah ini. Tidak hanya indah, namun juga penuh cinta. Silakan dibaca sendiri deh.

Ikuti blogtour dan giveawaynya pekan ini (8 - 14 Februari 2016) di
http://dionyulianto.blogspot.co.id/20...
Profile Image for Rizki Wulandari.
125 reviews3 followers
March 12, 2016
Ada 22 kisah yang terangkum di buku ini. Masing-masing kisah memiliki alurnya sendiri dan tidak saling tumpang tindih. Meski demikian, antara cerpen yang satu dan lainnya bisa kita tarik benang merahnya. Bisa dikatakan semua cerpen tersebut berbicara tentang cinta. Namun cinta-cinta tersebut memiliki wujud sendiri-sendiri. Ada yang mewakili kesedihan atau tragedi dalam cinta, ada juga yang mewakili harapan, kerinduan, dan ke-universal-an cinta. Alurnya mengalir mulus. Ada beberapa cerpen yang bisa tertebak ending-nya, namun ada pula yang ending-nya dipelintir sedemikian rupa, menyisakan ketidaknyamanan di hati. Contoh yang memelintir hatiku adalah cerpen ketiga yang berjudul “Melankolia Laba-laba. Cerpen ini berakhir ke arah yang tidak kusangka dan menyisakan kegeraman terhadap kebodohan tokohnya setelah di bagian awal aku bersimpati dengan tulus, haha. (-__-)

Selain mengenai alur dan ending yang penuh dengan twist tak terkira, ada ke-khas-an lain yang menyertai kumcer ini yaitu perihal unsur alam dan nama-nama tokoh. Jika bisa aku memilah-milah atau mengelompokkan cerpen di dalam buku ini, aku bisa mengelompokkan mereka berdasarkan unsur alam dan/atau berdasarkan nama tokoh yang dipakai. Penulis buku ini sering memasukkan unsur alam semisal sungai, pepohonan, pantai, gunung, dsb. Namun akan sangat banyak kategorinya. Oleh karena itu unsur alam ini bisa disingkat menjadi dua saja; pertama, cerpen yang berisi kisah cinta normal antara manusia dan manusia lainnya, lalu kedua, beberapa cerpen lainnya yang mengandung kisah cinta antara manusia dan alam. Tidak perlu heran, penulisnya memiliki imajinasi yang sangat luas. Dia menuliskan cinta seekor laba-laba kepada manusia (Melankolia Laba-laba); dan ada pula kisah cinta sungai yang menjelma menjadi seorang gadis manis nan ayu dengan seorang lelaki manusia (Rayuan Sungai Serayu).

Meski demikian, aku lebih suka mengelompokkan cerpen-cerpen ini berdasarkan nama para tokohnya. Haha, penulisnya sangat irit dalam memilih nama tokoh. Dan ada satu nama yang dipakai berulang-ulang. Ada yang tahu? Ya, nama itu adalah Nalea. Aku membaca namanya pertama kali pada cerpen ketiga. Namun kemudian aku menjadi heran saat nama Nalea muncul lagi dalam cerpen kelima, keenam, ketujuh, dsb. Haha, siapa, sih Nalea ini? Mungkin penjelasan absurd dan menggelikan bisa kita dapatkan di pertengahan buku, pada cerpen kesembilan yang berjudul “Sepasang Semut dan Gadis Kecil yang Sedih”.

“Saya bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan seluler. Kadang juga bekerja sampingan sebagai tokoh cerita pendek.” (Nalea, hal. 93)

Dan mengenai alasan penulis buku ini begitu irit dalam memilih nama tokoh, boleh jadi bisa kita temukan di cerpen keenambelas yang berjudul Biografi Kunnaila.

Gadis itu bernama Kunnaila…. Sebenarnya tidak penting penyebutan nama karena tidak berpengaruh pada jalan cerita secara keseluruhan. (hal. 158)

Baca selengkapnya di:
http://bukulova.blogspot.co.id/2016/0...
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
March 6, 2017
Sebagaimana dituliskan oleh Tia Setiadi dalam Kata Pengantar, "Sastra adalah seni yang memangsa dan menjarah. Apa yang dijarahnya adalah kehidupan.", penulis memeras kenangan dari kehidupannya maupun segala makhluk di sekitarnya demi melahirkan karya sastra. Gaya penulisan yang dimeriahkan oleh teknik, simbol, dan metafora, pemerasan kenyataan itu menjadi tersamarkan. Dalam cerpen-cerpennya, Sungging menggunakan bahasa yang lugas, padat, dan efektif, tapi tak lepas dari jerat metafora yang kadang tak terduga.

"Wajah perempuan itu memang cantik, ia memiliki senyum yang begitu tipis dan ringan, berat senyumnya hanya satu miligram, seperti judul lagu From Autumn to Ashes, 'Milligram Smile', tapi senyum itu begitu memukau." (Dermaga Patah Hati, hlm. 38)

'Karena senja seperti dirimu, pendiam, tapi menyenangkan.'" (Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus, hlm. 49)

"Wanita itu bernama Kunnaila. Hidupnya meliuk seperti ilalang, penderitaannya setebal hujan." (Biografi Kunnaila, hlm. 153)

Sungging pun gemar memainkan emosi pembaca. Gaya tuturnya melemparkan pembaca, yang sebelumnya telanjur terisap dalam jagat fiksi, kembali ke kenyataan. Seperti ulasan Tia Setiadi dalam kata pengantarnya (hlm. 12), yang menyebut teknik ini sebagai "pembocoran"...

Baca selengkapnya di: http://kimfricung.blogspot.co.id/2016...
Profile Image for Aliftya Amarilisyariningtyas.
113 reviews7 followers
February 2, 2016
Menurut saya pribadi, aspek yang dijual pada sebagian besar cerpen di dalamnya lebih ke jalan cerita, bukan akhir cerita. Untuk tema sendiri, mayoritas kisah-kisahnya berbicara mengenai cinta dan perpisahan. Menariknya, meski bertema mainstream, kisah-kisah tersebut tidak terkesan picisan.

Cerita menarik versi saya adalah Abnormaphobia. Dikisahkan seorang gadis bernama Nalea yang secara tiba-tiba kehilangan rasa takut. Ia tak takut lagi dengan kecoa dan anjing tetangganya. Tak juga takut dimarahi oleh atasannya jika dirinya terlambat bekerja. Anehnya, hilangnya rasa takut tersebut justru membuatnya takut. Ia takut jika kemudian hari rasa takut itu tidak kembali sehingga dirinya tidak bisa merasakan takut lagi. Singkat cerita, datanglah ia ke seorang psikiater, dan melakukan apa yang disarankan oleh sang psikiater. Nah, bagian yang saya suka dari cerpen beralurkan maju ini ada pada ending-nya. Ada twist besar yang tak saya sangka.

Ulasan lebih lengkap dapat dibaca di http://aredjournal.blogspot.com/2016/...
Profile Image for DIVA Press.
26 reviews21 followers
Read
December 27, 2016
"Semesta ciptaan Sungging Raga ini dengan nada yang kurang-lebih sama menghadirkan fragmen hidup sejumlah tokoh yang bertempat pada semesta yang mungkin telah begitu kita akrabi: urban, kini, generasi baru. Mereka memang memiliki problematikanya masing-masing namun berkisar pada serangkaian tindakan menyikapi satu-dua hal yang sama. Hal ini semakin terasa ketika dalam sejumlah cerita muncul tokoh-tokoh dengan nama sama yang tidak mengacu pada sosok tunggal. Mereka juga hadir sebagai manusia periferi dalam hal perasaan, ada yang secara terus-menerus ditepikan sedemikian rupa bahkan tidak diperkenankan untuk mereka rasakan sehingga mereka tidak mengalami kerusakan atau semakin parah. Saya pun mau tidak mau membayangkan semesta paralel yang dihuni oleh orang-orang berbeda sekaligus sama."

Baca juga esai rasa ulasan karya Bramantio tentang kumcer indah ini di
http://basabasi.co/melankolia-penceri...
Profile Image for Arintya Widodo.
60 reviews31 followers
February 15, 2016
“Barangkali, tidak ada perpisahan yang lebih menyenangkan untuk dirayakan daripada sepasang kekasih yang berpisah dalam keadaan masih saling mencintai.”—Selebrasi Perpisahan, hal. 25

Well, “Reruntuhan Musim Gugur” ini merupakan kumpulan cerita-cerita pilihan dari Sungging Raga. Setelah saya kepo-kepo dari blog beliau, ternyata “Reruntuhan Musim Dingin” adalah karya-karyanya yang sebagian sudah pernah dipublikasikan dan sebagian lagi belum. Dan yang menarik lagi, setiap cerita disisipi sebuah ilustrasi yang kadang membuat saya berpikir, adakah hubungannya dengan cerita? Karena memang beberapa ilustrasi kurang menyatu dengan cerita :)

Review selengkapnya bisa dilihat di sini : http://wp.me/p2vrYm-el
Profile Image for Utami Pratiwi.
79 reviews7 followers
May 29, 2016
cerpen awal, saya mengumpat kurang ajar. ih, gini banget sih endingnya. lama-kelamaan, ternyata cerita semakin ada manis-manisnya gitu. bisa bikin eneg, juga diabetes.
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.