Socrates adalah filsuf besar zaman Yunani kuno. Socrates dikenal sederhana, humoris, pandai bergaul, setia kawan, jujur, dan disiplin. Ia betul-betul mempraktikkan filsafat dalam kehidupannya. Kematian Socrates yang dihukum meminum racun dan tetap berpegang pada apa yang diyakininya semakin menguatkan kesan integritas moral filosof yang satu ini.
“Dia [Socrates] adalah filosof pertama yang sebenarnya. Jika Anda ingin mengetahui ‘Apa itu filsafat?’ salah satu jawaban yang bagus yaitu: ‘filsafat adalah apa yang dilakukan dan dimulai oleh Socrates’.”
Buku ini berusaha menyelami segi-segi kehidupan, pemikiran, dan kearifan Socrates sebagai sumber inspirasi dan pencerahan bagi kehidupan kita di masa sekarang ini. Betapa pun jauhnya jarak masa antara sang filosof dengan zaman kita, namun nilai-nilai penting dari kehidupan dan gagasannya tidaklah luntur. Gagasan Socrates tentang kebenaran dan kebaikan masih tetap relevan hingga saat ini.
☆ Arnold Toynbee : "Bunga terbaik Athena selama setengah abad bukanlah patung, bangunan, atau pertunjukan drama, tetapi jiwa: Socrates."
☆ Socrates : "Hanya satu yang aku tahu, yaitu bahwa aku tidak tahu."
☆ "Manusia perlu menyadari kebodohannya agar terus belajar."
☆ "Orang yang bijaksana bukan orang yang serba tahu, tetapi mereka sadar akan ketidaktahuannya, sadar akan kebodohannya, lalu mau terus belajar."
☆ "Sebelum sekolah kita serba ingin tahu. Ketika sekolah kita serba diberi tahu. Sesudah lulus sekolah kita tidak mau tahu."
☆ "Socrates adalah penyadar akan ketidaktahuan. Sebab tidak ada yang lebih fatal daripada meyakini bahwa Anda merasa tahu atas apa yang sebetulnya Anda tidak tahu. Tidak ada yang lebih esensial daripada membedakan apa yang Anda kira tahu dan apa yang betul-betul Anda tahu."
☆ "Orang yang tak bermakna, hidup hanya untuk makan dan minum. Orang yang bermakna, makan dan minum hanya untuk hidup."
▪︎Kebijaksanaan sesungguhnya adalah mengetahui bahwa kau tidak tahu apa-apa. (Saya penasaran, apakah "mengetahui" dan "menyadari" adalah dua hal yang berbeda? Saya skeptis jika Socrates tidak tahu bahwa dirinya mengetahui beberapa hal. Saya lebih berasumsi bahwa Socrates tahu bhw ia tau hal tertentu, namun sekaligus menyadari bahwa hal yang tidak diketahuinya jauh lebih banyak. Maka barangkali, seolah-olah, hal yang telah ia ketahui tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan yang tak diketahui. Namun, tidakkah "perbandingan yang tak berarti apa-apa" itu tetap berarti sesuatu?)
▪︎Pertanyakan segala hal. Bahkan, dan terlebih, kepercayaan-kepercayaan yang selalu kau anggap benar. (Terlalu sering mendengar nasihat ini ternyata belum juga cukup benar-benar menerapkannya. Terlalu sulit menekan ego yang terus meminta pembenaran alih-alih bersedia menerima kebenaran.)
▪︎Virtue is knowledge. Pengetahuan adalah pintu menuju kebajikan.
▪︎Hidup yang tak teruji adalah hidup yang tak bermakna. Kenalilah dirimu. Carilah makna kehidupan terdalam, lalu wujudkanlah menjadi kebajikan. (Bagi saya, memaknai kebajikan akan selalu jadi pekerjaan yang tak pernah usai. Berbuat baik secara langsung kepada orang lain, seperti berdonasi atau menjadi relawan, jelas sebuah kebajikan. Namun saya pikir, banyak juga kebajikan yang lebih tak terlihat, lebih tak terasa dampaknya, tapi tetap ada. Sejenis hal-hal yang menjadikanmu menjadi pribadi yang lebih baik, yang--meski butuh waktu entah berapa lama--dirimu versi lebih baik itulah yang nantinya akan bermanfaat secara langsung untuk orang lain.)
▪︎Socrates percaya bahwa manusia dapat melahirkan pengetahuan melalui proses berpikir. (Saya sepakat. Namun jika dengan menyepakati ini artinya kita tidak perlu diajari atau belajar dari siapa pun, saya rasa keliru. Pengajaran itu memantik proses berpikir.)
▪︎Jangan hanya ingin jadi serba tahu, tapi resapi dan maknailah segala sesuatu dengan lebih mendalam dan menyeluruh. (Jika penekanannya adalah "selain jadi banyak tahu, maknailah beberapa yang kau anggap paling berarti", maka lagi-lagi saya sepakat. Namun jika justru dimaknai sebagai harus "belajar sedikit saja", hmm... mungkin harus saya pikirkan lebih jauh suatu saat nanti. Untuk hari ini, saya masih senang mengeksplorasi banyak hal dari permukaannya. Sekadar untuk mencicipi sensasinya, untuk menyerap sarinya.)
▪︎Kecerdasan spiritual adalah pusat paling mendasar dari kecerdasan lain, karena dia menjadi sumber bimbingan. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas.
▪︎Halvorson dalam bukunya menulis, "Mempercayai bahwa Anda memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan merupakan hal yang penting. Banyak dari kita percaya bahwa bakat, kecerdasan, kepribadian, dan fisik kita bersifat tetap--tak peduli apa pun yang kita lakukan, kita tidak akan mengalami peningkatan." Untungnya, kata Halvorson, penelitian telah membuktikan bahwa kemampuan manusia bersifat tetap, betul-betul salah. Kemampuan itu bersifat sangat lentur. ______________
Jika diminta merangkum apa yang nyantol di saya dari buku ini, kurang lebih adalah daftar di atas. Tak terlalu banyak bicara sepak terjang hidup Socrates, buku ini lebih seperti menyuguhkan intisari dari prinsip-prinsip hidup yang dicontohkan maupun diajarkan oleh Socrates. Sebagian besar sebenarnya terdengar amat familiar. Hampir seluruhnya adalah wejangan-wejangan populer yang bertebaran di seluruh jagat maya. Shg bagi saya, apa yang dikatakan dalam buku tidak terlalu spesial. Hanya saja, penulis mendukung 'keabsahan' buku ini dengan mengutip ujaran-ujaran berbagai tokoh dunia, mulai dari Steve Jobs sampai Stephen Covey. Buat saya hal ini cukup menarik. Kemampuan penulis menyelami berbagai sumber informasi, kemudian menuliskannya kembali dengan menemukan benang merah yang menghubungkan mereka semua, jelas patut diapresiasi. Pun entah bagaimana, penulis berhasil menyampaikan satu hal yang mungkin paling penting dari semua pesan Socrates, yaitu "terus, tetap, dan selalulah berpikir". Saya dibuat secara konsisten berhenti sejenak dan berpikir sendiri setelah membaca beberapa kalimat atau setidaknya sesudah menyelesaikan satu bab. Selamat, Pak Penulis, misi Anda berhasil.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebagai siswa SMA yang masih dalam proses mencari jati diri dan cara memandang hidup, membaca buku ini terasa cukup membuka sudut pandang baru. Buku ini membahas sosok Socrates sebagai seorang filsuf Yunani kuno yang dikenal sederhana, humoris, setia kawan, serta berani mempertahankan prinsipnya. Penulis berusaha menghadirkan pemikiran Socrates dengan bahasa yang ringan sehingga pembaca muda seperti saya tetap bisa mengikuti alurnya tanpa merasa terlalu terbebani dengan istilah filsafat yang rumit.
Selama membaca, saya merasa buku ini tidak hanya menceritakan sejarah tokoh, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan makna hidup, kebenaran, serta pentingnya bersikap jujur terhadap diri sendiri. Kisah tentang bagaimana Socrates tetap teguh pada keyakinannya hingga akhir hayat memberikan kesan yang kuat. Ada banyak bagian yang membuat saya berpikir tentang bagaimana selama ini kita sering menerima sesuatu tanpa benar-benar mempertanyakannya. Buku ini seakan mengingatkan bahwa berpikir kritis adalah hal penting, bahkan untuk hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Dari segi bahasa, buku ini terasa cukup ramah bagi pembaca remaja. Penulis mencoba mengaitkan pemikiran Socrates dengan kondisi zaman sekarang sehingga terasa relevan. Saya juga merasa buku ini memberi motivasi untuk menjalani hidup dengan lebih sadar dan tidak sekadar mengikuti arus. Cara penyampaiannya yang tidak terlalu berat membuat saya bisa memahami ide-ide dasar filsafat tanpa merasa takut atau bingung.
Namun, ada beberapa hal yang menurut saya masih menjadi kekurangan. Pembahasan di beberapa bagian terasa cukup umum dan tidak terlalu mendalam, sehingga mungkin kurang memuaskan bagi pembaca yang sudah terbiasa dengan buku filsafat yang lebih serius. Selain itu, sudut pandangnya cenderung memuji Socrates tanpa banyak menampilkan kritik atau pandangan lain, sehingga terasa agak satu sisi. Ada juga beberapa bagian yang terasa berulang karena menekankan nilai moral yang sama dengan cara yang mirip.
Secara keseluruhan, buku ini menurut saya cocok untuk pelajar atau pembaca pemula yang ingin mengenal filsafat dari sudut pandang yang ringan dan inspiratif. Walaupun tidak terlalu akademis, buku ini tetap memberikan banyak pelajaran tentang integritas, keberanian berpikir, dan usaha mencari makna hidup. Sebagai siswa SMA, saya merasa buku ini bisa menjadi langkah awal yang baik untuk mulai tertarik pada filsafat tanpa merasa terintimidasi oleh kesan bahwa filsafat itu selalu sulit dan membingungkan.
Beli buku ini awalnya karena emang penasaran banget sama tokoh Socrates yang menjadi salah satu tokoh dari Kastrat/Kajian Strategis alias kepo kenapa beliau bisa dikenal sebagai filsuf terkait kastrat—ternyata karena memang beliau tipe yang selalu mempertanyakan sesuatu dengan kritis-sebagaimana arah gerak dari kastrat itu sendiri
tapi di buku ini tidak terlalu banyak histori dari socrates itu sendiri, yang bahkan memang di buku ini jg disebutkan bahwa beliau memang tdk mengeluarkan karya dalam bentuk buku namun memang cukup sering di singgung oleh para filsuf mendunia lain. saya jg sempat membaca bahwa socrates merupakan salah satu tokoh yang menginspirasi filsuf filsuf lain/memulai gerakan awal dalam langkah berpikir.
saya sempat menonton ytb ttg story dri socrates sendiri yang terkait pandangannya terhadap “demokrasi” sehingga itu yg membuat saya benar benar ingin lebih tahu bagaimana pikiran dan hidupnya hingga mencapai sebuah kata demokrasi tsb. tapi sayangnya buku ini tidak menjelaskan, krn buku ini memang lebih ke arah point out apa saja yang diajarkan oleh Socrates dalam kehidupan-yang speerti wejangan yg cukup populer—namun jg ditambahkan dengan bukti/kutipan lain yang mendukung ajaran socrates ini
cukup membuat saya agak kehilangan minat, namun ttp saya usahakan baca (dan sempat kesindir bbrp kali sehingga merenung bbrp kali jg dalam prosesnya) but… its not badd!! walaupun bukan spti ekspetasi sy pada awalnya.. tpi cukup membuat saya paham ((dikasih paham))
awalnya saya merasa mengapa buku ini setidaknya saya baca ketika hidup saya gonjang ganjing di semester lalu sebelumnya, sptinya saya akan menjalani hidup dalam bbrp keputusan yg lebih bijak lagi hehe
membaca buku ini awalnya karena materi perkuliahan yang membuatku ingin tahu lebih dalam siapa itu Socrates. Di awal buku sesuai dugaan isinya adalah kehidupan Socrates, tapi lambat laun menurutku buku ini bertele-tele dan banyak topik yang sama dibahas secara berkali-kali. ini yang membuat saya membutuhkan waktu satu bulan untuk membaca buku ini.
For those who have their own interest toward philosophy. This could be the introduction to know more about one of the most influential persons in the history of philosophy. The author uses mild language to make readers understand easier and can correlate with daily routines.
Sebetulnya ini buku bagus, membahas tentang pemikiran Socrates secara ringan. Namun ada kalimat yang menurut saya kurang elok yaitu, "Untuk pengertian masing- masing, silahkan di cari di Google..."