Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata Yvonne Ridley, seorang wartawati feminis asal Inggris yang pernah mengejutkan dunia ketika dikabarkan ditangkap oleh tentara Taliban di perbatasan Afghanistan-Pakistan. Dia ditangkap saat melakukan reportase dalam penyamaran menjelang serangan Amerika Serikat dan para sekutunya terhadap Afghanistan pada akhir 2001.
Setelah ditahan selama sepuluh hari oleh penguasa Taliban, Yvonne Ridley akhirnya dibebaskan. Namun, pengalaman tersebut sangat membekas dalam kalbunya dan mengubah jalan hidupnya. Sekembalinya ke Inggris, Yvonne mulai mempelajari Al-Quran. Dua tahun kemudian ibu seorang putri yang sebelumnya penganut hidup bebas ini menyatakan diri masuk Islam. Dia berhenti merokok dan minum alkohol, serta meninggalkan kehidupan malam yang semula akrab digaulinya. Kini, dia mengenakan busana muslimah dalam kesehariannya dan dikenal luas sebagai seorang kolumnis yang vokal dalam membela Islam dari serangan Barat, selain sebagai aktivis perdamaian.
Buku ini mengungkap ziarah batin Yvonne sebagai seorang anak manusia yang tersaruk-saruk bergulat menyusuri jalan hidup penuh liku dalam menemukan cahaya kebenaran.
Kisah hidup Yvonne Ridley adalah cermin bagi kita bahwa pintu-pintu kebaikan bisa terkuak dari celah yang tak pernah kita duga, bahwa tiada harapan dan doa yang sia-sia jika kita percaya pada Yang Mahakuasa, dan betapa cinta merupakan kekuatan yang luar biasa.
Anton Kurnia (lahir di Bandung, Jawa Barat, 9 Agustus 1974; umur 35 tahun) adalah seorang cerpenis, esais, penerjemah, dan editor. Ia pernah kuliah di jurusan Teknik Geologi ITB dan Ilmu Jurnalistik IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kini ia tinggal di Jakarta, selain menulis, ia bekerja sebagai Chief Editor di penerbit Serambi, Jakarta.
Karya-karyanya, berupa cerpen, esai, dan terjemahan karya sastra, dimuat oleh berbagai koran, majalah, dan jurnal, termasuk majalah sastra Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Kompas, Tempo, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Jawa Pos, The Jakarta Post, dan Asia Literary Review. Sejumlah cerpennya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, antara lain dipublikasikan dalam antologi Menagerie 5 (editor John H. McGlynn—Lontar Foundation, 2003).
Satu lagi kisah benar yang menjadi bukti jelas bahawa sesungguhnya hidayah itu milik Allah. Hanya milik mutlak-Nya sahaja, diberi pada yang layak tidak kira bila masa & suasana.
Untuk insan yang bertuah yang berpeluang menerimanya, pasti mereka tidak pernah terfikirkan akan tempat, suasana mahupun situasi di mana ianya terjadi. Kadangkala di tempat yang paling tidak mereka ingini. Dan untuk kisah di dalam buku ini, ketika di penjara di salah satu negara yang paling ditakuti sekali.
Kisah Yvonne Ridley, seorang wartawan veteran ini, amat mempersonakan. Kerana ghairah beliau untuk membongkar kepincangan Islam sejurus tragedi 9/11, beliau menyusup masuk ke Afghanistan secara haram. Negara yang menjadi pelindung Osama bin Laden, penyebab tragedi besar itu kononnya, harus diselidiki oleh beliau bagi mendapatkan satu berita yang eksklusif buat dunia.
Malangnya beliau ditangkap oleh puak Taliban, dan dari situlah bermula segalanya. Saat yang membuatkan kehidupannya berubah 360°.
Kisah pengIslaman beliau yang menarik untuk diambil pengajaran darinya. Bagaimana beliau yang masih baru dengan Islam tetap berusaha dengan kepakaran yang ada padanya untuk cuba mengubah persepsi Barat, tempat asal-usulnya, mengenai agama & cara hidup yang indah ini.
Membaca kisah beliau dari pandangan mata ketiga (penulis lain) tidak sama rasanya dengan membaca dari hasil nukilan beliau sendiri. Buku-buku lain serta artikel-artikel oleh beliau sendiri perlu dicari selepas ini.
walaupun Anton Kurnia menceritakannya secara kesimpulan dan dirasa melompat-lompat, tapi bisa dirasa seorang Yvonne adalah wanita pekerja, berdedikasi tinggi, independent, bergaya hidup bebas, berani sekaligus nekad, penganut nasrani taat sekaligus seorang feminist sekuler.. menjadi muslim dan tetap memperjuangkan hak-hak wanita secara radikal. Ia menemukan sisi lain dalam dirinya yaitu kelembutan yg terkuak dgn melihat keras dan pahitnya kehidupan manuasia yg tidak beruntung dibelahan dunia lain. Rasanya tulisan aslinya dlm buku In The Hands of Taliban lebih keren daripada saduran Anton Kurnia ini. tapi over all..Yvone keren!
Buku ini berkisah ttg Yvonne Ridley seorg jurnalis feminis inggris yg sempat mengejutkan dunia krn tertangkap oleh taliban.tp pengalaman ktk ditawan itu membekas pd dirix.sekembalix ke inggris ia mempelajari al quran n msk islam. Kini ia dikenal sbg aktivis perdamaian nm pembela islam
Yvonne Ridley tak pernah menyangka bahwa ia diperlakukan dengan baik saat ia ditawan di penjara Taliban karena masuk ke Afghanistan secara ilegal. Ia selalu membayangkan bahwa suatu saat akan datang orang-orang dengan alat siksa yang menakutkan ke selnya. Bayangan ini jelas terjadi karena inilah gambaran yang dialami para penghuni penjara Guantanamo, Abu Ghraib, dan sebagainya. Namun itu tak pernah menimpanya. Memang adakalanya Yvonne diintimidasi dengan pertanyaan-pertanyaan oleh dinas intelejen. Namun, tak pernah disiksa secara fisik. Ia diperlakukan dengan hormat. Orang-orang Taliban kebingungan saat Yvonne mogok makan dan memintanya untuk makan. Ia dibiarkan melakukan yoga di halaman penjara.
Bahkan saat Yvonne akhirnya lelah menghadapi pertanyaan dan berkata, "Aku datang ke Afghanistan untuk bergabung dengan Taliban!", orang-orang itu malah tertawa. Rasa humor yang justru mengherankan Yvonne.
Suatu ketika datang seorang mullah ke selnya, dan bertanya apa pendapatnya tentang Islam. Yvonne agak ketakutan dengan pertanyaan itu. Ia menjawab bahwa Islam agama yang mengagumkan. Lalu sang mullah bertanya apakah Yvonne bersedia masuk Islam. Dengan ketakutan juga Yvonne mengatakan ia tak bisa memutuskan dalam keadaan tertekan di penjara. Ia berjanji jika dibebaskan, ia akan mempelajari Islam begitu kembali ke London.
Sang mullah hanya tersenyum, lalu keluar.
Yvonne menepati janjinya. Setelah dibebaskan, ia mempelajari Islam dari berbagai tokoh dan komunitas di Inggris. Yvonne mempelajari Al-Qur'an, berharap akan menemukan ayat-ayat yang bernada menekan perempuan. Namun, ia justru menemukan bahwa kedudukan perempuan dimuliakan di Al-Qur'an. Ia akhirnya mengambil kesimpulan. Ketika beberapa negara seperti Afghanistan begitu membatasi kaum perempuan secara berlebihan (hingga tak boleh sekolah dan bekerja ke luar yang merupakan proses pemiskinan), itu hanyalah bagian dari kultural, dan bukan ajaran Islam sebenarnya.
Butuh sekitar dua tahun bagi Yvonne sebelum akhirnya ia memantapkan hati untuk memeluk Islam. Ia langsung mengenakan jilbab. Dan berkata bahwa jilbab adalah cara para perempuan muslim menunjukkan identitas kemuslimannya dan menolak gaya hidup barat yang negatif. Dengan jilbab perempuan dinilai dari otaknya. Bukan dari ukuran dada, kemolekan tubuh, atau pakaian apa yang ia kenakan. Begitu kata Yvonne.
Ia mengaku, sejak memeluk Islam dan memakai jilbab hatinya menjadi lebih tenang. Melalui proses yang panjang ia akhirnya bisa berhenti merokok dan minum-minuman keras. Padahal, sebelumnya ia dikenal sebagai biang pesta. Keluarganya tadinya menentang. Apalagi teman-temannya. Tapi lambat laun mereka bisa menerima setelah melihat Yvonne benar-benar bahagia dengan pilihannya. Yvonne berkata bahwa ibunya bahkan senang karena Yvonne akhirnya bisa lepas dari ketergantungan alkohol.
Yvonne pun berkata bahwa dirinya tak lagi gelisah menunggu telepon dari lelaki setiap hari. Islam memberinya ketenangan. Ia tak lagi merasa risau untuk memiliki hubungan dengan lelaki atau menikah. Perlu diketahui Yvonne pernah menikah 3 kali dan semuanya berakhir dengan perceraian. Ia pun pernah berhubungan dengan Daud Zaourra, seorang anggota PLO Palestina. Dan hubungan itu membuahkan seorang anak perempuan bernama Daisy. Daisy juga yang membuat alasan awal Yvonne untuk sedikit mengurangi alkohol dan pesta. Kebanyakan laki-laki itu tak bisa menerima pekerjaan Yvonne yang seorang jurnalis. Ada yang cemburu berlebihan, ada juga yang menganggap jurnalistik adalah pekerjaan yang kotor.
Setelah semakin yakin dengan keislamannya, Yvonne terus menulis artikel dan kolom-kolom opini di berbagai koran di barat. Berusaha meluruskan kesalahpahaman orang barat terhadap Islam. Ia juga menjadi aktivis antiperang.
(mungkin akan diedit lagi nanti)
Terimakasih untuk pinjaman bukunya, perpustakaan Masjid Sabilillah.
Adakah Telaga Biru kekurangan penterjemah Malaysia sehingga menggunakan penterjemah Indonesia untuk pasaran Malaysia?Saya tiada masalah walau dengan penterjemah Indonesia tetapi ini melambangkan tidak profesionalnya Telaga Biru.Juga dengan cerita yang ringkas dan boleh dibaca secara online.apabila pembaca membeli satu-satu buku maka mereka menjangkakan maklumatnya cukup teliti dan tidak secara semberono sahaja.Buku ini diteritkan pada 2011 tetapi kisah Yvonne sendiri tidak dikemaskini.Mungkin pembaca lain perlu membeli tulisannya yang asli dalam bahasa Inggeris.Walaubagaimanapun saya masih mendapat ilmu/maklumat melalui buku ini.setelah sekian lama membaca karya yang mengutuk Taliban utuk pertama kali membaca pujian seseorang kepada Taliban walau pengalamannya sebenarnya tidak melayakkannya kerana beliau hanya ditahan selama sepuluh tahun.dalamhal ini saya lebih emmpercayai rakyat Afghan yang diperintah oleh Taliban.tetapi saya menyambut baik tindakkan memeluk agama Islam walau saya tidak bersetuju dengan pandangan beliau mengenai pengebom berani mati.Pemecatannya daripada Al-Jazeera juga mengesahkan keraguaanku terhadap media itu.Keseluruhannya saya merasa Telaga Biru perlu membuat kajian yang lebih baik sebelum menerbitkan sesebuah buku bukan tangkap muat sahaja.Malah kalau dilihat senarai Bibliografi pun hanya sekadar 5 buku sahaja.
Catatan pengalaman seorang wartawan bernama Yvone Ridley yang berada di dalam tahanan Taliban selama 10 hari. Layanan Taliban yang sangat baik walaupun Ridley bersikap kasar terhadap mereka amatlah mengejutkan Ridley. Akhirnya dengan izin Allah jua Ridley memeluk islam dan kini menjadi seorang pembela islam yang aktif di barat. Subhanallah.