buku ini merupakan kisah lain tentang sosok yang begitu mempengaruhi saya: MAW. Brouwer OFM.
pater brouwer adalah kolumnis di kompas, tahun 80-an. tulisan pendeknya muncul tiap hari selasa di halaman 4 harian itu. mengenai berbagai hal, tapi pada umumnya diulas dari sudut psikologi fenomenologis. caranya menulis ringkas, padat dan lucu sekali. pak mahbub junaedi [alm.:] merasa bahwa yang paham tulisan pater brouwer itu hanya beliau dan pater saja, saya kira tidak terlalu tepat [he..he..:] saya sangat kecanduan dengan tulisan-tulisan beliau sehingga masih nyimpan hampir semua tulisan di halaman 4 harian itu.
buku ini bercerita sisi lain dari sang pater. biarawan fransiskan dari ordo saudara dina [OFM:]. yang meski mampu memberi nasihat macam-macam, ternyata juga mengalami rasa takut mati. pengalaman-pengalaman personalnya direkam oleh sahabatnya, ibu myra sidharta, yang rasanya adalah salah satu orang yang paling mengerti pater brouwer ini. ada sisi lain yang ditampilkan, yakni sisi personal dari tokoh yang secara publik sudah punya cap tertentu. [istilah 'cap' atau 'peran' ini juga saya dapatkan dari ulasan beliau mengenai sosiolog yang sering dikutipnya dalam tulisan-tulisannya: peter ludwig berger. berger menggunakan istilah 'typification' dalam buku-bukunya]
pernah suatu ketika, beliau berjalan di jalan merdeka bandung, melewati asrama tempat saya menginap. saya ikuti dia, saya ikuti sampai berhenti di aliance francais, dan kami nonton konser berdua di sana. tanpa kata. saya kehabisan kata-kata dalam berhadapan dengan orang yang saya hormati ini, yang kata-katanya ringkas padat tanpa bunga-bunga bila kita baca artikelnya.
melihat buku ini muncul di GR, saya jadi kangen dengan kolom-kolom beliau..
pater, "in paradisum deducant te angeli, in tuo adventu suscipiuant te martyres.." ada yang masih merindukan tulisan-tulisan anda loh...
Edi Sudarjat, “Biografi Tulen MAW Brouwer, Suara Karya, Jumat, 25 November 1994.
“Dalam bahasa Belanda proses pembuatan bir disebut brouwen; orangnya dinamakan Brouwer. Dari sinilah namaku berasal; nenek moyangku suka minum bir dan menjadi kaya karena bir. Itulah sebabnya akupun senang bir!” Demikian Brouwer menuturkan riwayat hidupnya sambil terbahak-bahak dan meneguk bir dari gelasnya” (hlm. 11)
Sesungguhnya di balik popularitasnya sebagai pastor dan psikolog kreatif, sosok manusia Brouwer dikenal juga sebagai seorang periang, penyenda gurau, dan pencerita kelas wahid yang berwawasan luas. Sebagai manusia, ia pun dapat berubah menjadi seorang yang murung, acap kali menggerutu dan kadang mudah tersinggung. Itulah sebagian gambaran pastor kelahiran Delft, 14 Mei 1923, yang diangkat Myra Sidharta dengan amat mengesankan.
Nama Brouwer, bagi kita, memang sudah tak asing lagi. Sejumlah artikelnya sering muncul di harian Kompas selama 20 tahun. Di dalam artikel itu ia menyelipkan kritik sosialnya yang tajam yang ternyata ciri khasnya itu disukai banyak pembaca.
Tak heran jika saat wafatnya di Belanda, 19 Agustus 1991, banyak orang merasa kehilangan. Hampir semua media massa ibukota memuat artikel tentang kepergiannya menuju Sang Pencipta. * * * Tiga tahun setelah meninggalnya, Myra Sidharta, mantan dosennya di Fakultas Psikologi UI, yang kemudian menjadi rekan sekerja dan sahabatnya, mengangkat kehidupan Martinus Anthonius Weselinus Brouwer dalam bentuk biografi yang disajikan dengan lancara dan amat menarik.
Berbagai informasi, mulai dari wawancara langsung dengan Brouwer semasa hidupnya, kesan dan pandangan rekan-rekan sejawatnya, arsip-arsip kotapraja Delft guna menelusuri silsilah keluarga Brouwer, karya-karyanya yang tersimpan di perpustakaan, sampai ke surat-surat pribadi Brouwer dan keluarganya, dimanfaatkan Myra dengan baik.
Hasil kerja kerasnya itu, tampak jelas dengan keberhasilannya menguak perjalanan sosok pribadi Brouwer sejak masa kecil (Bab II) hingga hari-hari terakhirnya (Bab XI), tanpa meninggalkan muatan sosiokultural yang telah melahirkan dan membesarkannya. Gambaran ini lalu dilengkapi pula “Krisis-krisis dalam kehidupan Brouwer” (Epilog).
Kedekatan Myra dengan Brouwer ternyata tidak pula membuatnya kehilangan sikap obyektif. Ia tetap menjaga jarak dengan obyeknya.
Dengan empati yang cukup kuat, ia juga berhasil melukiskan konflik-konflik yang dihadapi pastor dari Ordo Fransiskan ini. Bahkan diungkapkan pula konflik Brouwer dengan dirinya. Dengan demikian, dapat dipahami mengapa Brouwer memilih bergabung dengan misi dan bertugas di tempat yang jaih dari kampung halamannya. Rupanya ada faktor lain, yaitu hasrat melepaskan diri dari “cengkeraman” ibunya yang sering memamerkan kesalehan dan kepastoran sang anak.
Myra Sidharta juga berhasil memaparkan rasa kesal dan kecewanya ketika mesti pensiun dari Unpad tanpa sempat menjadi guru besar. Sayang, lantaran kewarganegaraan Brouwer yang masih Belanda dan gelar doktor yang belum diraihnya, gelar guru besar tidak berhasil dirahihnya. “Saya akan kembali menggembala” (hlm. 113), begitulah bunyi artikelnya sehubungan masa pensiunnya.
Perjuangan Brouwer melewati hari-hari terakhirnya juga digambarkan dengan baik. “Menurut sesama biarawannya, seluruh penampilannya mencerminkan keputusasaan… ia terus dilanda rasa takut akan kematian.” (hlm. 132).
Menjelang akhir hayatnya, ia menjadi pemurung, selalu menggerutu, mudah tersinggung, duduk termenung dan hanya memikirkan penyakitnya. Ia tak berdaya melepaskan diri dari depresi yang melanda batinnya.
Padahal Brouwer seorang psikolog. Pada waktu membuka klinik konsultasi psikologi di Bandung, kliniknya selalu dipenuhi orang karena ia dapat memberi jalan keluar yang tepat terhadap kesulitan yang dialami pasiennya. “Memang sulit untuk memberi solusi yang baik bagi seorang yang mengalami depresi. Pandangan mereka ditutup awan gelap dan mereka tidak dapat menemukan jalan keluar.” (hlm. 131).
Mesti diakui, berbagai usaha yang telah dilakukan Fr. Renald Brouwer—namanya di biara Fransiskan—tetaplah menampakannya sebagai seorang besar. Ia telah menyumbangkan begitu banyak kepada bangsa ini. Dan kita tetaplah akan mengenangnya dengan takzim, mengingat tidak sedikit karya yang telah dihasilkannya; artikel yang tersebut di media massa, buku filsafat, psikologi dan budaya; para sarjana hasil bimbingannya, serta klinik konsultasi yang dibukanya di sejumlah Rumah Sakit di Bandung. Itulah ungkapan rasa cintanya yang luar biasa terhadap bangsa Indonesia. * * * Dibanding buku sejenis, biografi ini jelas punya nilai lebih; ada keunggulan tersendiri. Ini buku biografi tulen yang berhasil mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan yang melekat pada diri obyeknya; bukan semacam hagiografi yang cenderung berisi pemujaan terhadap tokohnya.
Yang menarik, deskripsi mengeni kondisi poleksosbud yang terjadi di Kota Delft, yang mengagawali biografi ini, ternyata bukan sekeadar ilustrasi, melainkan sebagai bahan yang justru membantu pemahaman kita mengenal wadah struktural tempat Brouwer dilahirkan dan dibesarkan. Pada gilirannya, membantu kita untuk memahami sikap, cara berpikir, dan pilihan-pilihan hidupnya yang sangat dipengaruhi berbagai faktor sosiokultural itu.
Kemampuan Myra menyelami kepribadian Brouwer, yang dalam metodologi sejarah disebut hermeneutika—memungkinannya memahami perubahan yang terjadi dalam diri obyeknya. Dalam bab XI “Hari-hari Terakhir” misalnya, Myra mencermati adanya perubahan bentuk tulisan tangannya. “Tulisannya memberikan suatu petunjuk tentang keadaan batinnya; hurufnya makin lama makin kecil, baris-barisnya makin pendek; ia seolah-olah tak berani menyentuh pinggir kanan kertas dan sudah berhenti di tengah-tengah baris” (hlm. 131). Disiplin ilmu yang disebut graphologi ini berguna dalam penulisan riwayat hidup seseorang, yang dalam banyak buku biografi jarang dimanfaatkan penulisnya.
Myra menyimpulkan sahabatnya seperti ini: “Sejak kecil ia dikofrontasi dengan banyak masalah—yang harus dilawan dan dilupakan—yang tidak pernah dialami manusia biasa… ia seorang yang problematis…” (hlm. 157).
Di luar persoalan itu, biografi yang disasjikan dengan bagus ini, sayang sekali kurang didukung kecermatan editor buku ini yang mestinya mampu membersihkan salah cetak.***