Jump to ratings and reviews
Rate this book

Si Janggut Mengencingi Herucakra

Rate this book
“... mengembalikan kekuatan seni bercerita... kita menikmati bahasanya yang tersusun ketat dan tak berniat menjelas-jelaskan, tapi begitu kaya dengan perincian situasi dan peristiwa. Ceritanya selalu mengandung sikap kritis terhadap bentuk cerita itu sendiri. Pembaca akan terbawa oleh aliran cerita, namun pada akhirnya ia akan tersadar akan muslihat sang narator...." — Majalah Tempo


Kumpulan cerita karya A.S. Laksana ini akan memukau pembaca dengan kematangan teknik bercerita yang menjadi ciri khas kepenulisannya selama ini. Bergelut melawan dunia, melawan tokoh lain, dan melawan diri sendiri, tokoh-tokoh dalam kedua belas cerita ini menampakkan secara subtil sisi-sisi terbaik sekaligus mungkin ternaas dari hubungan kemanusiaan.

Kompleks tanpa berpretensi merumit-rumitkan diri, Si Janggut Mengencingi Herucakra kian mengokohkan kedudukan penulisnya dalam pentas sastra Indonesia.

133 pages, Paperback

First published October 1, 2015

2 people are currently reading
116 people want to read

About the author

A.S. Laksana

25 books59 followers
AS Laksana (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968) adalah seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia. Ia belajar Bahasa Indonesia di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang (kini Universitas Negeri Semarang) dan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Dia juga menjadi salah satu pendiri majalah Gorong Gorong Budaya.

Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, Tabloid Investigasi, dan kemudian mendirikan dan jadi pengajar sekolah penulisan kreatif Jakarta School. Kini dia aktif di bidang penerbitan.

Kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik 2004.

(wikipedia)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
21 (18%)
4 stars
53 (46%)
3 stars
36 (31%)
2 stars
4 (3%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 29 of 29 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
November 5, 2015
Aku merasa dikencingi oleh penulis. Di saatbanyak kelompokingin menjadi pendakwah lewat cerpen, Sulak hadir jenirh sebagai penulis dan menyajikan cerita yang cerita saja...
Paling suka cerpen Maulana.... dan Anjing Kecil di Teras Rumah
Apa akan menjadi buku sastra pilihan Tempo lagi? KLA? Aku hanya pembaca yang menanti buku-buku bagus semacam ini
Profile Image for Utami Pratiwi.
79 reviews7 followers
February 5, 2017
...dan kau tidak perlu berdebat dengan orang yang tidak percaya. yang bisa kaulakukan terhadapnya hanyalah memaafkan dan mendoakan agar ia tidak terjerumus ke lubang biawak. ("Lelaki Merah di Kaca Jendela", hlm. 96)

cerita-cerita A.S. Laksana termasuk cerpen yang dibaca kemudian diingat. di antaranya "Anjing Kecil di Teras Rumah", "Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya", dan "Perpisahan Baik-baik" (dilahirkan menjadi anak tunggal memang mempunyai tantangan tersendiri wkwkwkwk).

beberapa cerpen menggunakan sudut pandang lebih dari satu orang yang peralihannya tanpa tanda.
Profile Image for Steven S.
706 reviews66 followers
January 2, 2016
Kumcer terbaru AS Laksana ini lumayan. Sekedar lumayan.

Cerpen yang menjadi favorit di buku ini adalah "Anjing Kecil di Teras Rumah".
Profile Image for Arman Dhani.
49 reviews18 followers
November 9, 2020
Dulu saya dengan angkuh berpikir bahwa ekosistem cerita pendek kita sangat buruk, tolok ukurnya halaman sastra koran Minggu apapun menjadi tak lagi menarik dibaca. Ini tentu cara ukur yang salah. Tapi ini persoalan klasik. Dari tahun ke tahun selalu saja ada ketidakpuasan. Dari dulu pembaca sastra juga merasa kurang, dan merasa perlu ada regenerasi, penyelamatan, pembaruan, dan sebagainya dan sebagainya. Mirip diskusi Persma yang tak jauh dari "quo vadis" dan "reorientasi". Bedanya, banyak yang menganggap halaman sastra koran masih menjadi standar penting, bahwa penulisan yang baik masih bisa diakses publik dengan murah, karena buku masih mahal.

Tapi bisakah kita percaya pada halaman koran minggu? Institusi yang sama yang melololoskan naskah plagiasi? Cerpen yang demikian buruk bisa lolos di halaman koran besar. Koran yang sama pernah kebobolan cerpen yang plagiat mirip Rashomon karya Ryunosuke Akutagawa. Kumpulan cerpen Mas Sulak saya kira adalah satu standar penting bagaimana sebuah cerpen mestinya ditulis. Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini dapat dinikmati seperti Indomie di tengah malam, enak tapi penuh dosa. Penuh dosa karena kita selama ini dikelilingi karya-karya yang demikian buruk, sehinga begitu ada karya yang bagus dikit aja udah kaget luar biasa.

Naksah ini membuat saya gembira karena ia tak punya tendensi untuk menjadi megah, menjadi mewah, menjadi kanon yang susah dipahami. Ceritanya mengalir, seperti kegiatan sehari-hari yang lempeng, tapi menulis begini demikian sulit. Percayalah, saya menulis 13 tahun dan sampai hari ini saya merasa tulisan saja jelek saja belum. Jika kamu ingin membaca cerita-cerita sederhana, tanpa harus diwajibkan untuk mendapat ending brilian. Endingnya sepele, tapi kemampuan ceritanya demikian mendebarkan.

Ini salah satu fragmen kutipannya.

"Aku tahu bahwa panggung sering memaksa kita membuat nama baru. Sebab ada sorot lampu dan sorot mata yang menimpa kita. Ada kehidupan lain yang tidak sama dengan kehidupan di rumah kita. Ada tabiat-tabiat lain yang berbeda dari tabiat kita sehari-hari."

Profile Image for Wirotomo Nofamilyname.
380 reviews52 followers
December 1, 2017
Buku #37 di tahun 2017.

Pertama yang harus diinformasikan adalah adanya beberapa nama yang sama di cerpen yang berbeda, yang sebenarnya orang berbeda. Ini sekadar informasi agar anda tidak bingung, bahwa Seto di cerpen ini bukan Seto yang di cerpen itu. Tapi walaupun begitu tetap ada kekecualian sih, ada nama Ratri dan Robi yang muncul di 2 buah cerpen yang ternyata memang orang yang sama.

Kedua, saya bingung mau buat review tentang cerpen-cerpen di buku ini. Nggak tahu ya, sepertinya cerpen ini diceritakan dengan biasa (memang ada beberapa hal-hal aneh, tapi tidak seaneh cerpennya Danarto) namun bisa membuat saya jadi kepikiran setelah membaca, dan sedikit bikin saya depresi. :-)

Ketiga, saya bisa bilang kedua belas cerpen di novel ini semuanya di atas rata-rata, tapi kalau saya ditanya mana yang terbaik menurut saya, saya pilih "Rashida Chairani". Saya yakin banyak yang nggak sependapat, tapi entah kenapa cerpen itu yang paling bikin saya kepikiran setelah selesai membacanya.

Keempat, saya beri kumcer ini bintang lima. Kumcer ini amazing buat saya. Ini salah satu kumcer indonesia terbaik yang pernah saya baca (baru 33 kumcer Indonesia sih yang saya baca hehehe). Pengalaman membaca kumcer ini mengingatkan saya pada saat saya membaca kumcer "Kuda Terbang Maria Pinto"nya Linda Christanty, yang juga saya baca tahun ini. Kumcer yang menggoreskan kesan yang kuat buat saya.

Kelima, walaupun saya suka dan memuji kumcer ini setinggi langit, tapi umur tidak menipu, menurut saya kumcer indonesia terbaik tetap "Robohnya Surau Kami"nya A.A. Navis... hahaha. Umur... umur... Saya tetap memilih yang lebih familiar buat saya. :-)

Gituuu....
Profile Image for Willy Alfarius.
95 reviews9 followers
January 26, 2021
Sangat jarang sebenarnya saya membaca cerita fiksi yang benar-benar fiksi, dalam artian tidak dihubungkan dengan suatu realita atau fakta yang sungguh pernah terjadi. Saya membaca buku ini lebih karena penasaran seperti apa A.S. Laksana menulis fiksi. Selama ini saya lebih sering membaca tulisan esainya yang dulu rutin nongol nyaris tiap minggu di Beritagar. Semua esainya dalam laman berita itu akhirnya saya salin dan pindahkan ke laptop sekitar seminggu sebelum akhirnya Beritagar berganti nama dan isi.

Ada 12 cerita dalam buku kecil ini dan kesemuanya bercerita tentang kesedihan dan kemuraman manusia. Tidak benar-benar sedih dan muram memang, hanya saja sangat sulit menemukan cerita yang berakhir dengan gembira atau bahagia. Isi ceritanya mulai dari rumah tangga yang kandas, aktivis yang gugur, perpisahan, kematian, dsb. Namun yang jelas dari kumpulan cerita ini saya lebih banyak belajar proses membuat susunan kalimat yang tepat dan sederhana untuk dibaca. Saya menganggapnya sebagai sebuah kelas menulis gratis dan otodidak meski jelas saya tidak akan pernah menjadi penulis kisah fiksi. Saya pikir, ilmu ini akan berguna untuk hal-hal lain, paling minimal dalam menulis makalah kuliah. Heuheu.
Profile Image for Ageng Indra.
119 reviews24 followers
September 1, 2017
Selalu kehabisan buku ini sejak awal 2017, akhirnya dapat pinjam dari Nermi Sylaban. Kata beliau, Mas Sulak salah satu ini rujukan terbaik soal penguasaan teknik. Semua cerpennya membikin ingin ngumpat. Permainan waktu dan sudut pandangnya rapih tapi tetap mengejutkan. "Dijual: Rumah Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya" bercerita soal perpisahan suami istri dengan penekanan di permainan runtutan waktu. Mas Sulak mempertahankan emosi yang setingkat di cerpen terakhir, "Perpisahan Baik-Baik" yang juga soal perpisahan, hanya saja dengan teknik sudut pandang. Biarpun buat saya, Dijual lebih meninggalkan kesan karena kecenderungan serba mengambang ala cerpen Hemingway. Tokoh perempuan di Dijual tak bilang, "sebenarnya aku mencintainya", seperti di Perpisahan, tapi ia tidak jadi berangkat ke kantor dan kembali tidur di samping suaminya, dan itu sama saja. "Cerita Ababil" adalah eksplorasi realisme magis ala Rulfo yang membuat terkencing-kencing, seperti Si Janggut. Dan aku malas melanjutkan ini karena akan jadi terlalu panjang dan omong kosong.
Profile Image for Sevma.
70 reviews14 followers
July 23, 2020
Bagaimana pun, buku ini mampu membuat saya bersedih dan saya takut kisah cinta saya berjalan menggelikan sebagaimana tokoh-tokoh pada hampir semua cerita Sulak dan kupikir kau pun mungkin mengalami ketakutan yang sama sepertiku.
Profile Image for Bimo Pratama.
93 reviews2 followers
February 15, 2019
Keren2 nih ceritanya, berkesan bgd, menggambarkan keadaan masyarakat saat ini
Paling suka judul cerita ababil, orang ketiga dimalam hari, rashida chairani, sumur ke seribu tiga
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
October 15, 2016
Bergelut melawan dunia, melawan tokoh lain, dan melawan diri sendiri, tokoh-tokoh dalam kedua belas cerita ini menampakkan secara subtil sisi-sisi terbaik sekaligus mungkin ternaas dari hubungan kemanusiaan.


Kalimat blurb di cover belakang kumcer ini tampaknya sudah sangat tepat menggambarkan isinya. Semua(!) cerpen yang termuat, 12 cerpen total, mengisahkan tokoh-tokohnya yang sedang berada dalam episode paling menyedihkan dalam hidup mereka. Naas. Yup, sangat naas.

Mereka lalu berbagi cerita tanpa menginginkan apapun dari pembacanya, tanpa kejutan, tanpa twist (eh, kecuali Anjing Kecil di Teras Rumah, yang itu twist kecilnya bikin kaget sedikit ^.^), hanya berbagi cerita. Jika setelah mendengar (membaca) cerita ini lalu pembaca ingin merenung dan merefleksikannya kembali, maka itu adalah privilege yang diberikan kumcer ini.

Fav-ku adalah kisah pembukanya, Dijual: Rumah Dua Lantai dan Seluruh Kenangan di Dalamnya. Cerita ini sangat-sangat menyentuh dan real, tanpa ada kesan mendayu-dayu. Endingnya pun... yah bagaimana pun sang istri juga sebenarnya tidak setabah yang ditampilkannya, bukan?

Cerpen lain yang sangat menyentuh bagiku adalah Lelaki Merah di Kaca Jendela. Sedikit sentuhan surealism yang memberi nafas magis bagi cerita ini, membuatnya sulit terlupakan.

Meskipun begitu, keanggunan tema-tema yang diangkat di sini terkalahkan oleh keindahan pemilihan diksi yang digunakan pada kumcer ASL sebelumnya, Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu. Tapi mungkin itulah poin pentingnya, kesederhanaan cerita dan kesederhanaan penyampaiannya.


NB: kepo berat dengan kelanjutan cerita Robi dan Ratri.
.
Profile Image for Bimana Novantara.
283 reviews29 followers
July 31, 2016
Kalimat-kalimat buatan A.S. Laksana dalam cerpen-cerpennya selalu berhasil membuat saya takjub karena kelancaran penyampaiannya dan kejutan-kejutan yang ada di dalamnya. Kadar ngelantur dalam kalimat buatannya sungguh tinggi tetapi tetap saja kalimatnya jernih mengalir dan sebab-akibatnya tetap terjaga. Mungkin cerpen-cerpen Laksana contoh baik yang dimaksud dengan istilah "clean prose" yang kalau tidak salah disebutkan oleh Hemingway.

Tema cerpen dalam buku ini beberapa bercerita tentang hantu, walau hantu dalam cerita Laksana lebih menyimbolkan sebuah gagasan atau ide ketimbang hantu yang menyeramkan. Tema lain adalah perpisahan, hubungan anak-ibu, dan balas dendam. Cerita tentang hantu dan hubungan anak-ibu itu erat kaitannya dengan balas dendam. Secara keseluruhan, kesan yang paling kuat dari seluruh cerpen adalah kegetiran, dan cerpen yang paling getir adalah yang judulnya sama dengan judul kumcer ini. Saya sangat menikmati semua cerita di kumcer ini dan saya rasa ini adalah kumcer terbaik dibanding dua kumcer Laksana sebelumnya.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
April 17, 2017
Tak diragukan lagi A.S. Laksana adalah salah satu cerpenis terbaik Indonesia saat ini. Beberapa cerita di dalam buku ini sudah saya baca sebelumnya di beberapa koran minggu, dan selalu menemukan kesenangan baru begitu membaca ulang. Dua cerita pembuka dan Anjing Kecil di Teras rumah merupakan cerita favorit saya, yang lain pun memiliki kualitas yang tak jauh berbeda. Buku kumpulan cerita ini baru saja terpilih masuk nominasi KLA, kian mengokohkan A.S Laksana sebagai cerpenis paling menonjol di pentas kesusastraan kita.
Profile Image for Ayunda Nurvitasari.
5 reviews9 followers
February 3, 2016
I wasn't hooked by the first story; it wasn't as deep, as sharp as I thought it should be. But by the time I read the one with the same title as the book - I realized I was wrong. Criticizing and challenging traditional notions by capturing every day lives scene and spicing it up with metaphors needs a strong skill, and A S. Laksana certainly has it. Best: Rashida Chairani (duh), Si Janggut Mengencingi Herucakra, Cerita Ababil/Pada Sebuah Kuil
Profile Image for Wahyudha.
450 reviews1 follower
October 7, 2023
Baca lagi, karena penasaran. Para tokohnya memang dibangun untuk menjadi naas.POV unik untuk melandaskan cerita.

MEmang dapat kesan yang apik untuk cerita pendek berjudul :
1.Anjing kecil di teras rumah
2. Pada sebuah kuil
Dan dua cerpen yang sebenarnya saling berkaitan atau saat sadar membacanya ini sebenarnya saling melengkapi sebuah kisah.
Judulnya :
Tentang Maulana dan upaya memperindah Purnama
dengan
Perpisahab baik-baik
Profile Image for Panji.
64 reviews33 followers
June 1, 2016
Kumpulan 12 cerpen dengan kualitas setara. Sama-sama bagus dan mendalam.

Hasil penghayatan pengarang akan kehidupan, dan pemikiran tentangnya. Kalau cermat, ada hal yang secara konsisten diperolok di tiap cerita.

Mengandung permainan yang digunakan penulis, menggunakan narator dengan memanfaatkan kekuatan medium sastra dan cerita pendek.

Getir, dalam, dan kompleks.
Profile Image for Isti Bani.
27 reviews29 followers
January 9, 2016
beberapa cerpen lebih halus dan lebih enak dibaca dari versi surat kabar. as laksana, smooth as usual. harus dibilang buku ini lebih berani (dengan caranya sendiri) daripada kakaknya bidadari yang mengembara atau murjangkung~
Profile Image for Diana.
60 reviews13 followers
March 20, 2016
Kisah-kisah yang tak usai, memberikan pikiran kesempatan untuk berandai. Kadang saya perlu baca beberapa kali cerpen-cerpennya AS Laksana, dan dalam setiap pembacaan ulang, saya merasa menemukan rasa baru, penafsiran baru.
Profile Image for Permata Ariani.
7 reviews2 followers
April 10, 2016
waktu pertama tahu ada kumpulan cerpen AS Laksana yang diterbitkan marjin kiri, saya langsung mikir: Wah, AS Laksana kenapa nih?
karena penasaran dan akhirnya beli bukunya saya jadi bertanya balik, Marjin Kiri kenapa nih?
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
June 18, 2016
Untuk teknik bercerita, tentu saja AS Laksana patut diacungi jempol, tapi soal penggunaan gaya yang merubah sudut pandang 'aku' dalam tiap cerpennya terlalu kebanyakan dan bikin bosan, ditambah temanya yg hampir seragam (bukan sesuatu yg salah sih).
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,095 reviews17 followers
March 13, 2020
Kumpulan cerpen ketiga AS Laksana yang saya baca. Meskipun tak segereget dua kumcer sebelumnya, saya tetap menikmati setiap ceritanya. Dua judul yang menjadi favorit saya adalah 'Anjing di Teras Rumah' dan 'Perpisahan Baik-baik'.
Profile Image for Fitria Mayrani.
522 reviews25 followers
November 30, 2015
Mengapa selalu ada Seto di setiap kumpulan cerpen A. S. Laksana? Cerpen favorit jatuh pada 'Pada Sebuah Kuil' dan 'Anjing Kecil di Teras Rumah'.
Profile Image for Pringadi Abdi.
Author 21 books78 followers
December 14, 2015
Antara menikmati dan tidak menikmati. Kritik-kritik AS Laksana di cerpen ini yanh meski sangat samar, sangat menggangguku. Mau dianggap apapun, buku ini bukan jenis buku yang akan laku.
Profile Image for Adek.
195 reviews4 followers
February 26, 2016
Percayalah, cerpen-cerpen AS Laksana takkan pernah mengecewakan. Setidaknya buat saya.
Profile Image for Djaloe Pradibtya.
7 reviews6 followers
April 14, 2016
Buku bagus pembaca selalu di ajak berfikir tentang ending cerpen tersebut, penulisan nya memiliki karakter yang kuat. Wajib baca cerpen A.S Laksana
Displaying 1 - 29 of 29 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.