Orang-orang menyebutnya "Wali", tapi tampak ia seperti pencari. Ia pengelana yang berjumpa ragam peristiwa. Termasuk kabar buruk dengan segala rupanya.
Dilihatnya pelacur yang puaskan dahaga dengan air kehidupan yang diberikan dua malaikat penjaga kubur. Ia juga berjumpa dengan anjing jelmaan Jibril yang membawakannya ganja Darussalam di malam 17 Ramadan. Ada juga perempuan korban permaduan kiai, yang kemudian mendendam dan ingin membunuh Sang Nabi di sisa hayatnya.
Kabar buruk dan nasib buruk kemudian terus menghantuinya. Tatkala ia memasukkan anjing ke dalam masjid di hari Jumat yang kudus, ia pun menerima surat pengusiran
Muhidin M Dahlan lahir di Donggala, Sulawesi Tengah, pada tahun 1978. Sempat beberapa waktu mengampuh ilmu di Teknik Bangunan Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jogjakarta dan Sejarah Peradaban Islam IAIN Kalijaga Jogjakarta. Kedua-duanya tak selesai. Mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Menulis empat novel dan terlibat sebagai tim editor buku-buku Pramoedya Ananta Toer di lentera Dipantara sejak 2003, spesial penulis "Pengantar Penerbit" dan sampul belakang.
Sekarang menjadi kerani menengah di Indonesia Buku (I:BOEKOE) dan pernah ditugasi sebagai koordinator penulisan riset, seperti Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Kronik seabad Kebangkitan Indonesia (1908-2008), 1001 Saksi Mata Sejarah Republik.
Kabar Buruk dari Langit - Muhidin M. Dahlan (2005) Diterbitkan oleh ScriPtaManent 562 halaman, SC ISBN 979-99461-0-7
Sudah lama punya buku ini, beli karena judulnya yang menggelitik. Kabar buruk dari langit. Memangnya, seburuk apa kabar itu?
Dan setelah baca, hem... buruk sekali rupanya. 😅
Begini kabar itu: Seorang pengelmu muda berangkat ke negeri seberang untuk memperdalam ilmu agama. Disana dia bertemu dengan orang-orang ternama dan para ahli kitab. Cukup tidak cukup, masa 10 tahun yang diberikan habis sudah, dan tibalah saatnya untuk kembali.
Namun, saat kembali dia melihat dan berjumpa beragam peristiwa.
Dilihatnya pelacur yang puaskan dahaga 2 malaikat penjaga kubur. Dia juga berjumpa dengan Jibril yang membawakannya ganja Darussalam di malam 17 Ramadan. Ada juga perempuan korban permaduan Kiai, yang kemudian mendendam dan ingin membunuh Sang Nabi di sisa hayatnya.
Kabar buruk dan nasib buruk terus menghantuinya. Tatkala dia memasukkan anjing ke dalam Masjid di hari Jumat yang Kudus.
Diusir, dia mendirikan pemujaan di Bukit Makrifat. Tempat yang diberkati, tempat dimana dia menjadi seorang begawan arif dan agung yang mengajarkan ilmu makrifat. Namun mereka yang bernama Tentara Tuhan, bergerak untuk menangkapnya.
Akhirnya dia menyeberang lautan. Mencari cinta dan hakikatnya. Ditemuinya seorang Gadis Biara. Dan demi si Gadis Biara, dia membakar Kitab Sucinya, menjadi peternak babi, dan berpindah agama.
Perjalanannya belum selesai, dia ternyata bukan seorang wali, tapi seorang pencari, seorang pengelana. Nasib mengharuskannya untuk kembali ke tempat dimana semua bermula.
Dewan Tahkim menjatuhkan vonis: mati di tiang gantungan pada 24 Djulhijjah atau 14 Februari di penanggalan masehi.
Jasadnya dihanyutkan di sungai, sementara kepalanya digantung di alun-alun untuk peringatan: jangan pernah bermain-main dengan agama dengan segala watak penganutnya.
=== 😬 Buruk sekali bukan? Buat teman-teman yang ingin baca, pastikan kalian orang yang berpikiran terbuka ya, karena kalau tidak, aku jamin kalian bakal DNF. 😅
Menggunakan POV 2 tunggal (kau) buku ini begitu menyengat saya. Di antara yang sungguh langka, novel menggunakan POV 2, novel ini begitu menyengat dengan tema pencarian terhadap Tuhan. Sang tokoh mengalami lekuk liku di antara jalan yang terjal. Ia menjadi murtad, memelihara babi, membakar Al Qur an, dan seterusnya dan seterusnya. Hanya saja novel ini jadi kurang baku, saat ada pergantian POV yang bukan lagi 'kau' tanpa arahan, isyarat, dan petunjuk yang pasti, mengapa kemudian berganti arah kembali ke posisi penceritaan 'kau' menjelang akhir cerita.
Jangan terlalu dipikirkan nanti kepalamu bisa terbakar. Lihatlah itu, jidatmu sampai gosong begitu. Kutipan kalimat dari novel fiksi kabar buruk dari langit yg akan selalu gw ingat.