Saya tidak tahu bagaimana harus mereview sebuah biografi. Kalau memang unsur kecintaan kepada tokoh boleh dilibatkan, saya memberi 5 bintang bahkan lebih untuk 'guru spriritual' saya ini.
Namun, jika review hanya terbatas pada tulisan dalam buku, saya harus memberi 4 bintang karena ada beberapa paragraf yang diulang. Copy paste tanpa editing.
Sosok Prof. Quraish adalah sosok yang saya segani sejak SMA. Dahulu sebagai remaja, yang seperti kebanyakan suka menyepelekan urusan agama, saya dibuat takjub oleh ceramah Pak Quraish. Kok beda ya? pikir saya waktu itu. Isinya ilmiah, analoginya mudah dipahami, dan yang terpenting disampaikan secara serius.
Mungkin saya bukan satu-satunya orang yang merasa jengah dengan ceramah yang berbalut humor, sering kebanyakan humornya, isinya 'menghukum' dan analoginya tak mudah dipahami.
Pertama kali menonton ceramah beliau pada waktu sahur, saya tercengang. Mengapa penceramah lain tidak seperti ini?
Sejak SMP saya mempunyai pertanyaan-pertanyaan 'nakal' yang saya sendiri tidak akan pernah punya nyali untuk menanyakan kepada guru ngaji saya. Pertanyaan tersebut seperti: Mengapa manusia tidak bisa melihat Allah? Mengapa Al Qur'an berbahasa Arab, bukan bahasa Inggris atau Indonesia saja? Mengapa semua nabi itu laki-laki?
Sebulan penuh saya menonton acara beliau dan saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan 'nakal' saya diatas. Terlebih, Pak Quraish menjelaskannya dengan santai, logis (menurut ukuran manusia), dan seperti berkata 'itu pertanyaan yang wajar ditanyakan, tidak ada hukuman untuk penanyanya'.
Hingga kini, saya selalu rajin membaca buku-buku beliau terlebih kitab tafsirnya -meski sebatas Al Lubab, tafsir versi ringkasnya-. Hadirnya buku ini menggembirakan saya yang sejak remaja mengagumi beliau.
Terima kasih pada para penulis buku ini. Saya seperti telah mengenal beliau lama setelah membacanya.
Buku biografi yang cukup mencerahkan. Menceritakan bagaimana kisah hidup Pak Quraish Shihab sampai menjadi ahli tafsir Quran. Buku ini membahas bagaimana masa kecil, keluarga, pendidikan, pernikahan, dan perjalanan karir beliau. Kisah yang menurut saya menarik adalah bagaimana perjuangan Pak Quraish Shihab untuk menggapai mimpinya menjadi doktor, kisah pernikahan beliau dengan istrinya, dan peran beliau dalam pemerintahan orde baru.
Buku ini sedikit memberi klarifikasi kontroversi beliau, seperti masalah jilbab dan tuduhan syiah. Selain itu ada juga kata-kata pengantar dari tokoh-tokoh nasional seperti Pak Anies Baswedan, Romo Franz Magnis Suseno, almarhum Pak BJ. Habibie, dll tentang Pak Quraish Shihab. Secara tidak langsung buku ini adalah sebagai bukti bahwa Pak Quraish Shihab adalah cendekiawan yang berpengaruh dan diakui keilmuannya oleh tokoh nasional bahkan dunia internasional.
Sudah lama saya mengagumi sosok Abi Quraish dari ceramah-ceramah beliau yang moderat dan bijaksana. Saya juga kagum pada kiprah putri-putrinya di bidang mereka masing-masing. Ketika membaca buku ini, saya jadi lebih memahami bagaimana beliau dididik dan kemudian mendidik anak-anaknya. Banyak pelajaran parenting yang bisa diambil dari buku biografi ini karena menurut saya ajarannya sangat baik dan telah melampui jamannya. Baik parenting dari orangtua Abi Quraish dan cara beliau mendidik putra putrinya. Saya juga baru tau bahwa ternyata beliau telah menulis banyak sekali buku, selama ini saya hanya tau sebagian kecilnya saja. Buku biografi dengan tokohnya sendiri yang sudah bisa diteladani perbuatan & pemikirannya oleh para muslimin maupun nonmuslim sehingga membuat keseluruhan buku jadi wajib dibaca.
Sebagai seorang 'slowreader', Menamatkan buku ini ga bisa dikatakan mudah. Ada beberapa part dari setiap bab yang masih butuh pemahaman lebih untukku mengerti(opini pribadi). Tapi secara keseluruhan buku ini menjabarkan dari awal kehidupan Abi Quraish Shihab semasa kecil sampai sekarang, tentang perjalanan pendidikannya mulai dari Makassar,Malang, hingga ke Mesir, sampai menyangkut pengabdian kepada negara sebagai Menteri Agama hingga menjawab kontroversial-kontroversial yang pernah terjadi.