Kau bacakah rinduku pada lengking klarinet sore hari. Jauh di seberang Kamogawa kala puluhan burung bangau meluncur senyap menyusuri kemilat kaca sungai ke utara. Ke Kitayama
Kau bacakah hasratku pada liuk rumpun ilalang. Yang tumbuh memanjang seperti siang musim gugur. Bergetar bersama angin. Menarikan irama ricik sungai
Seperti itulah, Nadia, jari jemariku bergetar. Seperti pertama kali lagi Menyusuri lekuk-lekuk malam. Mencari buah-buah ranum yang mereka rindu di peraduan Shugakuin
***
Mochtar Pabotinggi adalah seorang sastrawan sekaligus intelektual andal. Tulisan-tulisannya—baik fiksi maupun nonfiksi—telah banyak menghiasi halaman-halaman media, seperti Tempo, Kompas, dan majalah sastra Horison. Sejumlah puisinya pernah dipilih untuk diterjemahkan ke bahasa Inggris.
Konsierto di Kyoto merupakan buku kumpulan puisinya yang kedua. Berisikan puisi-puisi yang begitu personal, intim, sekaligus mendalam. Puisi Konsierto di Kyoto sendiri dipersembahkannya sebagai hadiah untuk istri tercinta.
Sampai pada tahap ini saya harus menyerah pada kemungkinan bahwa tidak setiap puisi harus dimengerti oleh para pembacanya. Membaca buku kumpulan puisi pak Mochtar Pabotingi ini menjadi salah satu hal yang harus saya rasakan demikian. Atau jika memang sebaliknya, hanya saya saja yang merasa sudah lama sekali tidak baca puisi dengan arif dan bijaksana. Secara keseluruhan mungkin puisi adalah sarana pemenuhan penulisnya akan hasrat berkata-kata yang indah, penghayatan atau menyampaikan pesan dengan wajah yang lain. Sehingga puisi tidak melulu harus mudah dimengerti oleh pembacanya. Dan cara yang paling mudah adalah dengan menghayatinya dan meresapi setiap permainan kata dan betapa bahasa Indonesia itu kaya sekali untuk digabungkan dalam rangkain bait puisi. Sebagai salah satu tokoh Indonesia yang cukup disegani, buku kumpulan puisi kedua pak Mochtar Pabotingi ini cukup menarik karena katamya dipersembahkannya untuk sang istri yang begitu dicintainya, seperti dalam salah satu baitnya yang menyebut-nyebut nama beliau. Dan kalau sudah begini, saya rasa puisi sudah cukup memenuhi kapasitasnya sebagai bentuk pemenuhan batin penulisnya sendiri, bukan?
“Aku adalah bagian dari hidupmu ribuan tahun silam. Ketika sekujur wujudmu masih bersit cahaya dan kalbumu belum dirasuk dahaga raga yang menggayuti seluruh pikiranmu.”
Benar kata Jokpin, Sajak milik Mochtar Pabottingi memang "Jernih dan dalam". Menikmati tulisan beliau kita dibawa menjelajah kemana-mana. Dari Korea sampai Swiss. Dari Yunani sampai Jepang, dari Kaliurang sampai Kyoto. Dipenuhi imaji dan metafora yang mengalir serta diksi-diksi yang unik dan ajaib. Pengalaman membacanya dipenuhi perjuangan. Salah satu buku yang membuat saya membuka KBBI berkali-kali.
Aku hanya akan terseret arus, sebenci apapun aku dengan pemilihan diksinya. Seperti leher ditarik ke mana-mana, tapi kau tidak bisa berbuat apa-apa karenanya.